Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Merayakan Kemenangan
Malam harinya, di dalam sebuah apartemen mewah yang tenang, Arnold melempar map cokelat tua berisi surat pendaftaran pernikahan itu ke atas meja kaca. Langkah kakinya terasa begitu ringan saat ia melangkah menuju sofa, melonggarkan dasinya dengan satu sentakan luwes.
"Yesss! Eikeh menang banyak, Cyiiin!" pekik Arnold heboh, menjatuhkan dirinya ke sofa empuk. Suara berat berwibawa yang ia gunakan di depan pasien di Klinik Kejiwaan, menguap tanpa bekas, digantikan oleh suara melengking ringannya bila berada di situasi santai.
Dev sedang asyik menonton televisi sambil mengunyah camilan, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Arnold. Sebagai satu-satunya orang yang mengetahui segala sisi rahasia dan karakter asli sang psikiater, Dev sudah tidak heran lagi.
"Jangan bilang ... kamu beneran dukun, Nold? Kok bisa tu cewek langsung tanda tangan?" tanya Dev tidak percaya, melirik map di atas meja.
"Ih, sembarangan! Ini namanya pesona dokter spesialis kejiwaan paling paripurna se-jagat raya!" Arnold mencibir, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari khusus miliknya.
Dengan gerakan luwes, ia mengambil sepasang high heels berwarna merah menyala setinggi sepuluh sentimeter, lalu memasukkan kakinya ke sana dengan sangat ahli.
"Taktik eikeh tuh jitu banget, kan Dev?" ucap Arnold berjalan berlenggok-lenggok di atas marmer apartemennya untuk meregangkan otot kaki, lalu melentikkan jemari tangannya meniru gerakan tari India kegemarannya.
"Pakai drama kecil, terus eikeh keluarin jurus dokter penuh empati. Ibunya langsung menangis terharu. Ya otomatis si Adik Kecil itu nggak punya pilihan selain nurut demi ibunya."
Dev mendecih, melempar sebuah bantal sofa kecil ke arah Arnold yang langsung ditangkap pria itu dengan anggun. "Kamu itu manipulatif banget ya. Kasihan tahu, anak orang lagi trauma malah kamu pepet jadiin tameng buat dapet warisan Papamu."
"Loh, kan ini simbiosis mutualisme, Dev. Dia butuh terapi biar sembuh, dan eikeh butuh status kawin biar harta Papa nggak jatuh ke tangan Nenek Lampir yang rakus itu," balas Arnold santai. Ia melepas sepatu hak tingginya, kembali duduk di samping Dev, lalu meraih ponselnya.
Senyum misterius yang dingin terukir di bibir merah Arnold. Menggunakan nomor Teddy yang ia dapat dari seseorang yang ia bayar, Arnold mengetik sebuah pesan singkat dengan gerakan jemari yang sangat cepat.
"Biarin aja cowok yang naksir dia itu tahu. Justru makin cepat dia tahu, makin bagus. Biar dia sadar kalau posisinya sebagai 'pahlawan' di hidup Lova ... udah resmi eikeh, rebut" gumam Arnold dengan nada santai namun sarat dalam tekad mutlak, lalu menekan tombol kirim.
Di belahan lain di kota ini, malam yang dingin itu seketika terasa membakar bagi Teddy.
Brak!
Tangannya refleks menggebrak kemudi mobil setelah membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai Dokter Arnold dari Klinik Kejiwaan.
"Pernikahan medis?! Sialan, apa-apaan ini?!" geram Teddy dengan suara rendah yang bergetar penuh kemurkaan.
Selama bertahun-tahun, Teddy menjaga Lova dengan penuh kehati-hatian. Ia menjaga jarak, menahan diri untuk tidak egois demi menghargai trauma gadis itu. Lalu tiba-tiba, seorang dokter yang baru ditemui Lova kemarin berani mengumumkan pernikahan kontrak?
Teddy langsung menancap gas dalam-dalam. Tujuannya bukan rumah sakit tempat Arnold bekerja karena ini sudah malam. Dalam kepalanya, ingin segera sampai di rumah Lova. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari cintanya itu.
Sesampainya di halaman rumah Lova, Teddy mengetuk pintu dengan ritme yang memburu.
Di dalam rumah, Lova yang sedang melamun di kamarnya tersentak. Ia seakan bisa menebak siapa yang datang. Dengan perasaan berkecamuk dan dada yang mulai berdebar gundah, Lova menguatkan diri. Ucapan Arnold tentang 'terapi lingkungan' dan desakan ibunya membuat Lova merasa harus mulai menghadapi dunianya.
Klek.
Pintu depan terbuka. Teddy langsung menegakkan tubuhnya, namun amarah yang memuncak di kepalanya, mendadak terkunci di tenggorokan saat melihat sosok Lova yang berdiri di ambang pintu.
Lova melangkah keluar satu pijakan ke teras. Kepalanya tertunduk dengan dalam, menatap lantai ubin. Jemari tangannya meremas ujung bajunya sendiri dengan sangat erat hingga memutih. Ia tidak berani mendongak, apalagi bicara menatap langsung ke dalam manik mata Teddy. Batasan trauma itu masih mengurungnya dengan kuat.
"Ted-Teddy ..." bisik Lova, suaranya sangat lirih, bergetar di antara angin malam.
Melihat Lova yang begitu rapuh tetapi memaksakan diri untuk keluar menemuinya, kemarahan Teddy perlahan luruh, digantikan oleh rasa perih yang teramat sangat.
"Lova ..."
Teddy melangkah maju satu tapak, suaranya melembut namun hatinya ingin menuntut sikap yang harus ia berikan padanya.
"Tadi, seseorang yang mengaku Psikiatri kamu, mengirim pesan padaku. Namun, aku tak mengerti apa yang ia katakan. Tolong katakan padaku jika itu semua bohong, Lova. Kenapa kamu mendadak mau menikah dengan pria yang baru kamu kenal?"
Lova tetap bergeming dalam tundukannya. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, merasa bersalah karena harus menyakiti pria setulus Teddy. Namun, bayangan wajah ibunya yang menangis memohon tadi pagi membuat keputusan Lova sudah bulat.
"Maaf, Teddy ..." suara Lova nyaris tercekat. "Ini ... ini satu-satunya caraku untuk sembuh."
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣