NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Layar ponsel di tangan Siham akhirnya meredup setelah ia menekan tombol power hingga benar-benar mati. Tidak ada lagi pesan perintah dari Dewangga, tidak ada lagi panggilan telepon tentang dokumen rumah baru, dan tidak ada lagi suara dunia luar yang menuntutnya untuk menjadi sempurna. Malam ini, ia hanya ingin menjadi anak dari seorang pria yang sedang tertawa kecil melihat rintik hujan.

​"Kenapa dimatikan, Ham?" tanya Ayah pelan sembari menyesap kopi hitamnya.

​Siham tersenyum, menyandarkan kepalanya pada pilar kayu teras yang kokoh.

"Siham ingin menemani Ayah tanpa gangguan malam ini. Boleh kan, Siham menginap di sini?"

​Mata Ayah berbinar, guratan di wajah tuanya seolah menghilang digantikan kebahagiaan yang murni. "Tentu saja boleh, sayang. Ayah malah senang sekali. Sudah lama rumah ini tidak terasa senyawa ini."

​Hujan turun dengan ritme yang menenangkan, membasahi tanah kering di halaman luas itu. Aroma tanah yang terkena air petrichor membawa suasana melankolis yang kental. Mereka berdua duduk di kursi rotan tua di teras, mendengarkan simfoni alam yang harmonis.

​"Ayah..." panggil Siham lirih. "Kenapa Ayah selalu membela Mas Dewangga dan keluarganya, bahkan saat mereka terlihat begitu jauh dari kita?"

​Ayah terdiam sejenak, menatap ke arah kegelapan taman di depan mereka. Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang membawa ingatan puluhan tahun ke belakang.

​"Ham, kamu mungkin sudah lupa karena saat itu kamu masih sibuk dengan skripsimu," buka Ayah dengan suara rendah. "Tapi Ayah tidak akan pernah lupa bagaimana posisi kita dulu. Ayah hanya seorang satpam yang menjaga gerbang rumah mereka, dan Bundamu... Bunda adalah orang yang memastikan lantai rumah mereka selalu bersih dan makanan selalu tersedia di meja mereka."

​Siham menunduk, meremas jemarinya sendiri. Ia tahu sejarah itu, tapi ia tidak pernah benar-benar mendengarnya dari sudut pandang Ayahnya sedalam ini.

​"Saat Bunda divonis sakit keras dulu," lanjut Ayah, suaranya mulai bergetar. "Ayah hancur. Kita tidak punya tabungan, dan gaji satpam Ayah tidak akan cukup bahkan untuk biaya pendaftaran rumah sakit. Tapi, Papa dan Mama Dewangga... mereka tidak memecat kita. Mereka justru memindahkan Bunda ke kamar rumah sakit terbaik. Mereka membiayai semua pengobatan, kemoterapi, hingga obat-obatan paling mahal sekalipun."

​Siham memejamkan mata. Ia ingat saat itu ia bisa fokus menyelesaikan pendidikannya karena Ayah bilang "semua sudah ada yang mengatur". Ternyata, pengatur itu adalah keluarga Dewangga.

​"Sampai di detik-detik terakhir Bunda menyerah," Ayah mengusap sudut matanya yang basah. "Mama Dewangga menggenggam tangan Bunda. Bunda berpesan, dia ingin melihatmu hidup terjamin. Bunda takut jika dia pergi, kamu akan kesulitan seperti kami. Dan saat itulah, Mama Dewangga mengusulkan agar kamu menjadi menantu mereka. Mereka bilang, mereka sudah mengenalmu sejak kecil dan tahu kamu anak yang baik dan pintar."

​Ayah menoleh ke arah Siham, menatapnya dengan penuh rasa syukur. "Pernikahan ini adalah permohonan terakhir Bundamu, Ham. Bagi Ayah, keluarga Dewangga bukan hanya majikan, mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan keluarga kita. Itulah kenapa Ayah selalu bilang, sabarlah menghadapi Dewangga. Dia mungkin kaku, tapi dia berasal dari orang tua yang hatinya seluas samudera."

​Hati Siham terasa seperti dihantam palu besar. Jadi, inilah naskah yang selama ini ia jalani. Pernikahannya bukan berdasarkan cinta, melainkan sebuah kontrak balas budi yang ditandatangani di atas ranjang kematian Bundanya. Ia adalah pembayaran atas nyawa dan pengobatan Bundanya.

​Sakit. Rasa sakit itu kini berlipat ganda. Di satu sisi, ia merasa tercekik oleh hutang budi yang tak akan pernah lunas. Di sisi lain, ia sadar bahwa Dewangga mungkin juga merasa terpaksa menikahi anak seorang asisten rumah tangga demi menuruti kemauan orang tuanya yang menjelaskan kenapa pria itu lebih memilih menyimpan Agata di dalam kotak bludru daripada memberikan ruang untuk Siham.

​"Ayah tahu kamu sering sedih," gumam Ayah lagi, memecah kesunyian. "Tapi ingatlah kebaikan mereka, Nak. Itu yang membuat kita tetap harus berdiri tegak di depan mereka."

​Siham tidak menjawab. Ia hanya menatap hujan yang semakin lebat. Di dalam benaknya, ia menyadari sesuatu yang sangat pahit. Kebaikan orang tua Dewangga adalah emas, tapi pernikahan dengan Dewangga adalah penjara bawah tanah yang dingin.

​"Kebaikan mereka telah menyelamatkan raga Bunda, tapi pernikahan ini telah membunuh jiwaku, Yah," batin Siham dalam diam.

​Malam itu, setelah Ayah masuk ke kamar untuk beristirahat, Siham tetap di teras. Ia tidak menyalakan ponselnya. Ia justru mengambil sebuah buku catatan kecil dari tasnya. Ia mulai menulis dengan tinta hitam, namun kali ini tulisannya terasa lebih berat.

​"Aku adalah harga yang dibayarkan untuk sebuah nyawa. Aku adalah tumbal dari sebuah hutang budi yang tidak pernah aku tanda tangani. Ayah melihat mereka sebagai malaikat, sementara aku melihat mereka sebagai pemilik yang telah membeli seluruh sisa hidupku."

​Siham menyadari, perlawanannya kini menjadi jauh lebih rumit. Ia tidak hanya melawan Dewangga yang dingin, tapi ia sedang melawan tembok besar bernama balas budi. Namun, justru kenyataan inilah yang akan menjadi bab paling emosional dalam bukunya nanti.

​Siham masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan masuk ke kamar lamanya. Ia berbaring di kasur tuanya, menatap langit-langit kamar. Esok, ia harus kembali menjadi editor yang kuat, namun malam ini, di bawah atap rumah yang dibangun dari peluh Ayah sebagai satpam, Siham menangis tanpa suara. Menangisi dirinya yang ternyata hanyalah sebuah "transaksi" yang dianggap indah oleh semua orang, kecuali dirinya sendiri.

1
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
Uthie
Nangisssss 😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!