NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Distorsi di Balik Kaca Kantin

Pagi itu, atmosfer Universitas Wikerta terasa sedikit lebih gerah dari biasanya, setidaknya begitulah yang dirasakan Kirana. Setelah kejadian di kantin kemarin—di mana Bima dengan begitu "gentle" mengembalikan ikat rambutnya tepat di depan Danu—perasaan Kirana seperti mesin yang baru saja dipacu kencang: panas, berisik, dan bergetar tak keruan.

Sebenarnya, Kirana terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa sosok Bima yang kasar dan sekaku kunci inggris itu justru lebih sering menyita ruang di kepalanya dibandingkan Danu yang nyaris sempurna? Bersama Danu, semuanya terasa seperti naskah puisi yang sudah rapi; manis, terukur, dan menenangkan. Danu adalah zona nyaman yang tidak pernah mengejutkannya. Namun, Bima? Bima adalah anomali.

Ada sesuatu pada Bima yang membuatnya menarik untuk dipikirkan. Bukan karena Kirana suka, bukan. Tapi karena Bima adalah kejutan yang nyata.

Danu memberikan apa yang Kirana inginkan, tapi Bima seolah memberikan apa yang Kirana butuhkan tanpa ia sadari—seperti perlindungan yang tegas dan kejujuran yang tidak dibungkus pemanis buatan.

Kirana berjalan menuju kantin pusat dengan niat mencari segelas es teh manis untuk mendinginkan kepalanya. Maya dan Sari mengekor di belakang. Namun, langkah Kirana mendadak kaku tepat di ambang pintu masuk kantin.

Di pojok tembok, Kirana melihat Bima. Kali ini dia tidak sendirian. Di hadapannya duduk Sheila, mahasiswi Komunikasi yang kecantikannya dielu-elukan seantero kampus.

Sheila memang luar biasa; wajahnya adorable dan selalu tampil berkelas. Namun, Sheila dikenal memiliki sisi pick-me yang cukup kuat—ia sering bersikap seolah dialah satu-satunya perempuan yang paling mengerti dunia laki-laki, dan seringkali bersikap sedikit jutek atau memandang rendah mahasiswi lain, terutama adik tingkat perempuan.

Kirana sendiri sebenarnya memiliki kecantikan yang soft dan tenang. Dia bukan tipe mahasiswi yang haus popularitas atau hobi pamer di media sosial. Kirana lebih suka bersembunyi di balik buku-buku sastra, menjadikannya sosok yang misterius.

Namun, sekalinya orang benar-benar menatap matanya dan melihat senyum manisnya yang langka, mereka akan langsung tersadar bahwa ada daya tarik yang sangat kuat di sana. Kirana hanyalah "permata tersembunyi" di kampus, berbeda dengan Sheila yang memang sudah "dipajang" di etalase popularitas.

"Wah, gila... itu kan Kak Sheila! Gila ya, serasi banget mereka berdua!" seru Maya tanpa filter, matanya membelalak kagum. "Tapi denger-denger gosipnya sih, keluarga mereka emang udah kenal lama banget. Kayak ada hubungan bisnis atau urusan keluarga besar gitu, Ra."

Di sudut kantin itu, Bima sebenarnya merasa sangat tidak nyaman. Sheila terus membicarakan perihal pertemuan antar keluarga yang sudah dijadwalkan minggu depan. Bima ingin cepat-cepat pergi, namun etikanya sebagai laki-laki menahan dia untuk tetap duduk setidaknya sampai perbincangan itu berakhir dengan sopan.

Tiba-tiba, Sheila sengaja mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Bima, mencoba menarik perhatian cowok itu lebih dalam. Refleks, Bima langsung menarik tangannya menjauh dengan gerakan tegas, menunjukkan bahwa dia tidak suka kontak fisik tersebut.

Namun sialnya, saat Bima menarik tangannya, Kirana sudah lebih dulu membuang muka dan berbalik badan dengan perasaan hancur. Kirana tidak sempat melihat penolakan halus dari Bima; yang terekam di matanya hanyalah pemandangan Sheila yang sedang "memegang" Bima dengan intim.

"Udah ah, nggak jadi laper. Gue balik ke perpus aja," ucap Kirana ketus dengan suara bergetar. Ia melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Maya yang masih asyik dengan analisanya.

Sepanjang sore, Kirana kembali ke mode "benteng besi". Ia menjadi jauh lebih jutek dari biasanya. Saat Danu datang menghampirinya di perpustakaan membawa sekotak camilan, Kirana menerimanya dengan senyum paksa yang terlihat sangat lelah. Dia juga tidak tahu kenapa moodnya bisatba-tiba berubah seperti ini.

Di markas Teknik, Bima juga sedang dalam mood yang sangat buruk.

"Bim, kenapa muka lu? Habis ketemu Sheila bukannya seneng malah kayak mau ngajak berantem," ledek Adit yang sedang memoles motornya.

"Gue males banget tadi. Sheila maksa bahas urusan keluarga besar yang menurut gue nggak penting-penting amat di kantin," gerutu Bima sambil membanting kunci inggrisnya ke meja kerja dengan dentang keras yang membuat Adit terlonjak.

"Gue sempet liat Kirana tadi di pintu kantin, tapi pas gue mau nyamperin dia setelah urusan sama Sheila kelar, eh dia udah ilang. Mana gue mau nanya nomor HP-nya juga nggak sempet." Bima mengacak rambutnya frustrasi, meninggalkan noda oli tipis di dahinya.

Malamnya, "Geng Kirana" berkumpul di teras rumah Kirana. Suasana seharusnya tenang, tapi Kirana sedari tadi hanya mengaduk-aduk minumannya dengan wajah yang lebih buntu daripada skripsi semester akhir. Pikirannya macet, hatinya terasa kesal tanpa alasan yang mau ia akui.

Maya yang sedang sibuk menguncir rambut, tiba-tiba menoleh. "Ra, lo kenapa sih? Dari tadi ditekuk mulu itu muka. Masih kepikiran kejadian di kantin tadi ya? Yang soal Kak Sheila itu?"

Kirana tersentak, lalu mendengus kencang. "Apaan sih, May! Enggak lah. Ngapain juga gue mikirin si tukang bengkel itu sama Kak Sheila. Nggak penting banget," jawab Kirana cepat, nada suaranya naik satu oktav—ciri khas kalau dia sedang mencoba menutupi sesuatu.

Sari yang sedang membaca buku di sebelah Kirana menurunkan kacamata, menatap sahabatnya dengan tatapan "gue-tahu-lo-bohong" yang sangat tenang. "Ya udah kalau nggak mikirin. Tapi daripada lo cemberut terus bikin suasana jadi horor, mending kita have fun aja malam ini. Mumpung besok kita semua nggak ada kelas pagi."

"Bener banget!" seru Maya semangat. "Mending kita ngelakuin sesuatu yang berfaedah buat perut dan hati. Kita masak mie instan pake telur sama kornet, gimana?"

Kirana akhirnya tersenyum tipis. "Boleh deh. Gue laper juga."

Dapur rumah Kirana mendadak riuh. Sambil menunggu mie matang, mereka tertawa-tawa membahas hal-hal random, mulai dari dosen yang hobi kasih tugas mendadak sampai novel terbaru yang sedang Kirana garap.

Setelah perut kenyang, ritual berlanjut. Mereka menyalakan speaker bluetooth dan mulai karaokean di ruang tengah, menyanyikan lagu-lagu galau dengan suara sumbang yang mengundang tawa.

Malam semakin larut, tapi energi mereka justru bertambah. Ritual terakhir adalah maskeran bareng. Dengan wajah penuh krim masker putih, mereka rebahan di karpet bulu. Di situlah curhat sampai subuh dimulai.

Pagi yang Berbeda di Kampus

Besok paginya, Kirana berangkat dengan perasaan yang lebih ringan berkat dukungan sahabat-sahabatnya.

Namun, di sisi lain, Bima justru sedang didera rasa sesak yang asing. Pagi tadi, saat ia hendak menuju laboratorium, langkahnya terhenti kaku di koridor utama. Matanya yang tajam menangkap pemandangan yang seketika membuat suhu tubuhnya naik. Di sana, di dekat pilar besar yang teduh, Kirana sedang berdiri sangat dekat dengan Danu.

Bima tertegun melihat bagaimana Danu dengan begitu berani merapikan anak rambut Kirana yang tertiup angin, sementara Kirana hanya diam, wajahnya tertunduk malu dengan senyuman manis yang merekah lebar.

Dari sudut pandang Bima yang berdiri di kejauhan, posisi mereka terlihat sangat intim, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Kirana yang semalam dipikirkan Bima sampai sulit tidur—memikirkan bagaimana cara memulai obrolan lagi—sekarang sedang tertawa manis sekali di depan Danu. Itu adalah senyuman yang belum pernah Bima dapatkan secara cuma-cuma, senyuman yang biasanya harus ia pancing dengan perdebatan panjang atau ejekan ketus.

Rahang Bima mengeras. Ia melihat bagaimana Kirana seolah sengaja tidak melihat keberadaannya, seolah sosok Bima hanyalah gangguan yang tidak lebih penting dari kancing kemeja Danu yang rapi.

Tanpa sepatah kata, Bima langsung membuang muka dan berjalan melewati mereka begitu saja dengan mode cuek yang lebih ekstrem dari biasanya. Ia merasa tidak perlu lagi mencoba memperbaiki apa pun kalau Kirana sudah tampak sangat bahagia di dunianya yang "sempurna" bersama Danu.

Distorsi itu kini makin lebar. Kirana merasa sudah berhasil "melupakan" kekesalannya dengan bersikap biasa saja di depan Danu, sementara Bima justru merasa semakin jauh karena merasa diabaikan.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!