Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Ruangan kecil itu terasa lebih sunyi setelah ucapan Han barusan. Arga yang tadi setengah bercanda sekarang ikut terdiam. Bahkan suara dengung kulkas kecil di sudut ruangan jadi lebih terdengar dengan jelas. Nara menatap amplop coklat tipis di tangan Han. Sudutnya sudah sedikit rusak seperti terlalu sering dibuka tutup lalu disimpan kembali.
“Alasan kamu keluar?” ulangnya pelan.
Han tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada amplop itu, seolah benda kecil itu jauh lebih berat daripada kelihatannya. Arga berdiri dari dekat kulkas.
“Han.”
Nada suaranya berubah lebih hati-hati sekarang.
“Kita ngga harus bahas itu malam ini.”
Han mengangkat pandangannya perlahan.
“Aku tahu.”
Han tidak menyimpan amplop itu kembali. Ia berjalan menuju meja lalu duduk perlahan. Nara memperhatikan gerakannya. Ia melihat kalau Han agak ragu bukan takut tapi lebih kepada seseorang yang tidak yakin apakah membuka masa lalu sendiri adalah ide bagus.
“Aku ngga akan maksa kalau kamu ngga mau cerita,” kata Nara pelan.
Han cuma tesenyum kecil.
“Aneh.”
Nara mengernyit, “…aneh kenapa?”
“Kamu masih peduli soal itu.” Kata Han sambil menatapnya. “Padahal aku datang buat membunuhmu.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali terasa canggung. Arga menyela dengan cepat.
“Oke, kita jangan bikin suasana disini makin depresi.”
Han menghela napas pelan lalu membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar foto dan satu dokumen lusuh. Nara melihat Han berhenti sepersekian detik sebelum mengeluarkan salah satu foto. Wajahnya langsung berubah lebih dingin.
Ia meletakkan foto itu di meja. Nara langsung melihat ke foto itu. Foto seorang anak laki-laki, mungkin berumur tujuh atau delapan tahun. Sedang duduk di bangku rumah sakit sambil tersenyum kecil ke kamera.
Nara mengerutkan dahi.
“Itu siapa?”
Han diam beberapa detik.
“…adikku.”
“Namanya Rian,” lanjut Han pelan. “Dia sakit waktu kecil.”
Nara terdiam, Arga memalingkan wajahnya perlahan seolah sudah tahu sebagian dari cerita ini. Han berbicara dengan nada yang datar. Tapi justru itu yang membuat cerita itu terasa lebih berat.
“Waktu itu aku masih muda. Bodoh.” Han tersenyum tipis tanpa humor. “Dan butuh uang.”
Nara mulai mengerti arah cerita ini, perutnya mulai terasa tidak nyaman.
“Helios datang,” kata Han. “Mereka bilang bisa bantu biaya pengobatan.”
Ruangan kembali sunyi hanya suara hujan di luar yang terdengar samar.
“Mereka bantu?” tanya Nara hati-hati.
Han mengangguk kecil.
“Awalnya.”
Ia mengambil foto lain dari amplop. Foto gedung rumah sakit besar. Logo kecil berbentuk lingkaran dengan garis vertikal samar terlihat di sudut papan nama.
Helios.
“Mereka selalu mulai dengan bantuan,” gumam Arga.
Han melanjutkan,
“Aku kerja buat mereka.” Tatapannya turun ke meja. “mulai hal kecil dulu. Antar barang. Awasi orang. Sampai akhirnya…” Ia berhenti sebentar. “…aku terlalu dalam.”
Nara memperhatikan wajah Han. Tidak ada drama berlebihan atau nada sedih. Justru itu yang membuat semuanya terasa nyata.
“Terus adikmu?” tanyanya pelan.
Beberapa detik Han tidak menjawab. Lalu ia mengeluarkan lembar terakhir dari amplop. Dokumen kematian rumah sakit. Napas Nara langsung tertahan.
“Dia mati sepuluh tahun lalu,” kata Han.
Arga menunduk pelan.
“Han…”
“Mereka bilang penyakitnya makin parah.” Han tersenyum kecil lagi. “Aku percaya.”
Ruangan terasa makin dingin.
“Tapi ternyata?” tanya Nara hati-hati.
Han menatap dokumen itu lama.
“Aku menemukan file internal mereka.”
Jantung Nara langsung berdetak lebih keras. Han melanjutkan pelan, tatapannya berubah jauh lebih gelap sekarang.
“Rian bukan gagal diselamatkan.”
“…tapi mereka sengaja menghentikan pengobatannya.”
Semua terdiam, Nara bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Itu…” suaranya mengecil. “…kenapa?”
Han tertawa pendek tanpa emosi.
“Karena mereka butuh aku untuk tetap patuh.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Arga mengusap wajahnya dengan kasar.
“Bajingan.”
Han tetap memandang dokumen di tangannya.
“Mereka tahu kalau selama Rian hidup…” suaranya rendah, “…aku ngga akan berubah.”
Nara menatap Han tanpa sadar lebih lama. Tiba-tiba banyak hal mulai masuk akalnya. Cara Han hidup, caranya yang selalu siap. Caranya yang nyaris tidak percaya siapa pun. Bukan karena ia terlahir dingin, tapi karena sesuatu di dalam dirinya yang dihancurkan pelan-pelan.
“Jadi kamu kabur setelah itu?” tanya Nara.
Han mengangguk kecil.
“Aku membunuh satu orang sebelum pergi.”
Arga langsung mendesah.
“Nah. Itu bagian yang biasanya bikin organisasi rahasia dendam.”
Han tidak membantah. Nara memperhatikan amplop di meja.
“Itu sebabnya mereka masih nyari kamu?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
Han mengangkat pandangan ke arahnya.
“Mereka ngga suka kehilangan aset.”
Caranya menyebut dirinya sendiri membuat dada Nara terasa aneh. Seolah Han bahkan tidak menganggap dirinya manusia lagi.
Ruangan kembali hening. Tidak ada suara selain dengung kulkas kecil di sudut ruangan dan suara hujan yang mulai mereda di luar sana.
Nara masih menatap dokumen kematian itu di atas meja. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Mungkin karena Han menceritakan semuanya dengan terlalu tenang. Seolah rasa sakit itu sudah terlalu lama disimpan sampai akhirnya kehilangan bentuk.
Arga menghela napas panjang lalu mengambil mi instannya yang mulai dingin.
“Gue ngga tahu harus ngomong apa.”
“Itu baru pertama kali dalam hidupmu,” gumam Han pelan.
Arga menunjuknya malas.
“Nah.. Itu. Sarkasmu dah balik lagi. Artinya suasana sedikit membaik.”
Nara tanpa sadar tersenyum tipis. Kecil sekali tapi Han melihatnya. Dan anehnya, ia tidak langsung memalingkan wajah seperti biasanya.
Selama beberapa detik mereka hanya diam. Untuk pertama kalinya, malam itu, tidak ada yang larian. Tidak ada suara tembakan dan tidak ada langkah kaki yang mengejar. Hanya tiga orang asing yang sama-sama merasa lelah. Han akhirnya memasukkan kembali foto dan dokumen itu ke dalam amplop coklat. Gerakannya jauh lebih pelan dibanding saat pertama membukanya, seolah takut kenangan di dalamnya akan rusak.
Nara memperhatikannya lalu berkata dengan pelan, “Adikmu pasti senang kamu sudah keluar dari sana.”
Tangan Han berhenti sesaat.Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berat dari yang diperkirakan Nara sendiri. Han menatap amplop di tangannya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. Sangat tipis, wajahnya terlihat lelah.
“…aku harap begitu.”
Itu pertama kalinya Nara mendengar suara Han yang terdengar seperti benar-benar manusia. Bukan pembunuh, bukan orang yang dingin. Hanya seseorang yang kelelahan membawa masa lalunya. Arga berdiri sambil meregangkan badannya.
“Oke.” Ia menunjuk sofa. “Kalau kita belum mati malam ini, gue mau tidur dulu.”
“Kamu masih bisa tidur di situasi begini?” tanya Nara tidak percaya.
“Aku besar di kontrakan pinggir rel.” Arga langsung menjatuhkan tubuhya ke sofa. “Kalau capek, manusia bisa tidur di mana aja.”
Beberapa detik kemudian, pria itu benar-benar mulai terdengar mendengkur.
Nara melongo, “Itu… dia, cepat sekali udah tidur lagi.”
“Bakat alami,” kata Han, sambil melirik Arga
Suasana mendadak terasa aneh, lebih tenang. Dan justru karena tenang itu rasa kelelahan mulai menyerang tubuh Nara. Ia bersandar di kursi sambil memijat pelipisnya.
“Kepalaku masih ngga percaya kalau semua ini nyata.”
Han berdiri lalu berjalan ke dapur kecil di sudut ruangan.
“Kamu lapar?”
“Kamu bisa masak?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa tanya?”
Han membuka lemari kecil.
“Masih ada roti.”
“…itu bukan masak.”
Han menyerahkan sebungkus roti tawar ke arahnya.
“Bertahan hidup itu tidak selalu menarik.”
Nara menerima roti itu sambil tertawa kecil tanpa sadar. Dan lagi-lagi, suara kecil itu membuat Han terdiam sepersekian detik. Karena ia merasa aneh. Sudah lama sekali sejak ruangan yang ia tempati ini, terdengar seperti ini.
Normal.
Hangat.
Manusiawi.
Han berjalan mendekati jendela kecil di sisi ruangan. Hujan hampir berhenti di luar. Jalanan distrik lama di bawah tampak kosong dan gelap. Tapi matanya menangkap sesuatu. Sebuah mobil hitam melintas pelan di ujung jalan.
Tidak berhenti.
Hanya lewat. Namun beberapa detik kemudian, mobil itu kembali melewati jalan yang sama.
Pelan.
Terlalu pelan.
Tatapan Han langsung berubah dingin dan waspada.
Di belakangnya, Nara masih memakan roti sambil menahan kantuk, dan tidak menyadari perubahan situasi kecil itu. Dan malam itu, Han mulai berpikir, mungkin tempat ini tidak akan aman sesuai dengan yang ia harapkan.