Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN DI TENGAH MALAM
Malam itu sunyi senyap. Hanya suara angin yang berhembus pelan melewati celah-celah jendela, dan suara detak jam dinding yang terdengar teratur di seluruh ruangan. Semua orang sudah terlelap, lelah setelah melewati hari-hari yang penuh ketegangan dan peristiwa berat. Hanya beberapa orang yang bertugas berjaga saja yang masih terjaga, berjalan mondar-mandir di sekitar gedung, memeriksa setiap sudut dengan hati-hati.
Tapi ketenangan itu hanya semu belaka. Di luar sana, di balik kegelapan yang menyelimuti, ada gerakan-gerakan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Orang-orang yang datang dengan niat buruk itu sudah sampai di sekitar gedung. Mereka bergerak sangat pelan dan terlatih, seperti bayangan-bayangan yang hidup. Mereka tahu betul tempat ini, tahu letak penjagaan, tahu jalan-jalan yang bisa dilalui, seolah-olah mereka sudah mempelajari semuanya sejak lama.
Di dalam kamar tidurnya, Raka juga belum tidur. Ia duduk di dekat jendela, menatap ke luar dengan pandangan yang waspada. Perasaan tidak enak yang muncul sejak tadi belum juga hilang, malah makin terasa kuat. Ia sudah memberi perintah untuk memperketat penjagaan, sudah menyiapkan segala kemungkinan, tapi tetap saja hatinya terasa gelisah. Seolah-olah ada sesuatu yang buruk sedang akan terjadi, sesuatu yang jauh lebih berat dari apa yang pernah ia hadapi sebelumnya.
Tiba-tiba, suara bunyi yang samar tapi jelas terdengar dari arah bagian belakang gedung. Suara itu pendek, tapi cukup untuk membuat Raka langsung berdiri tegak. Ia tahu betul apa arti suara itu—ada yang berhasil menerobos pertahanan luar, dan mereka sudah masuk ke dalam wilayah yang dijaga.
Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung bergerak. Ia berlari keluar kamar, dan sesampainya di lorong, ia sudah melihat orang-orang kepercayaannya yang juga bergerak cepat menuju sumber suara.
“Mereka sudah datang!” seru Raka dengan suara yang tegas.
“Perkuat pertahanan, pastikan tidak ada yang bisa masuk lebih dalam lagi. Dan utamakan keselamatan orang-orang yang ada di dalam, terutama Alana dan Gubernur!”
“Baik, Tuan!” jawab mereka serempak, lalu berpisah menuju tempat masing-masing.
><>><><><
Sementara itu, di kamar Alana, ia juga sudah terbangun karena mendengar suara-suara itu. Ia bangkit dari tempat tidur, dan saat ia hendak membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi, pintu itu sudah terbuka dari luar. Raka berdiri di sana, wajahnya sudah kembali penuh kewaspadaan dan ketegasan, tapi saat matanya bertemu dengan mata Alana, ada rasa khawatir yang terlihat jelas.
“Tetap di sini, dan jangan keluar sama sekali,” katanya cepat.
“Mereka sudah datang, dan keadaan sedang tidak aman.”
Alana menatapnya dengan mata yang lebar, tapi ia tidak terlihat takut seperti dulu. Ia hanya mengangguk, lalu bertanya, “Bagaimana dengan Ayah? Apakah dia juga aman?”
“Ada orang yang menjaganya. Tenang saja, kita sudah menyiapkan semuanya,” jawab Raka. Ia berjalan mendekat, memeriksa keadaan di sekitar kamar, lalu kembali menatap Alana.
“Ingat, apapun yang terjadi, apapun yang kau dengar atau kau lihat, tetaplah di tempat ini. Ini demi keselamatanmu, dan aku tidak akan bisa tenang kalau kau tidak menuruti perkataanku.”
“Kau juga harus berhati-hati, ya?” kata Alana, suaranya terdengar lembut tapi tegas.
“Janji padaku, kau akan kembali padaku dalam keadaan selamat.”
Raka tersenyum kecil, lalu mengusap pipi Alana dengan lembut. “Aku berjanji. Aku tidak akan pergi ke mana pun tanpa kembali menemuimu.”
Setelah itu ia bergegas pergi, menutup dan mengunci pintu dari luar, supaya tidak ada orang asing yang bisa masuk ke dalam.
><><><><
Di tempat lain, Gubernur William juga sudah terbangun dan sudah bersiap-siap. Ia bertemu dengan Raka di lorong utama, dan keduanya saling bertukar pandangan. Tidak ada kata-kata yang terucap, tapi keduanya sama-sama mengerti apa yang harus dilakukan. Untuk saat ini, mereka adalah satu kesatuan, sama-sama berjuang melawan musuh yang sama, sama-sama berusaha melindungi orang-orang yang mereka sayangi.
Serangan itu datang dengan cepat dan tiba-tiba. Orang-orang penyerang itu bergerak dengan lincah dan terorganisir, seolah-olah mereka sudah sering melakukan hal seperti ini sebelumnya. Mereka tidak hanya menyerang dari satu arah saja, tapi dari beberapa sisi sekaligus, membuat orang-orang yang bertahan harus berpecah dan terbagi kekuatannya. Suara benturan, suara tembakan, dan suara teriakan memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana yang sangat kacau dan mencekam.
Raka dan Gubernur William bergerak di garis depan, memimpin orang-orang di bawah mereka untuk melawan serangan itu. Keduanya sama-sama berjuang dengan sekuat tenaga, saling melindungi dan saling membantu saat salah satu dari mereka terdesak. Meskipun sebelumnya mereka adalah musuh bebuyutan, tapi saat ini mereka bekerja sama dengan sangat baik, seolah-olah mereka sudah terbiasa melakukan hal ini bersama-sama selama bertahun-tahun.
Tapi meski demikian, kekuatan musuh ternyata jauh lebih besar dan lebih terlatih dari apa yang mereka duga. Satu per satu orang-orang yang ada di sisi mereka mulai jatuh, ada yang terluka, ada yang tidak mampu lagi berjuang. Gedung itu perlahan-lahan mulai dikuasai oleh penyerang, dan keadaan makin lama makin berbahaya.
Di tengah kekacauan itu, seseorang bergerak diam-diam, melewati lorong-lorong yang sepi dan menghindari tempat-tempat yang sedang terjadi pertempuran. Orang itu bergerak dengan sangat hati-hati, dan tujuan yang ia tuju hanya satu: kamar tempat Alana berada.
Orang itu berhasil sampai di depan kamar itu, dan dengan cepat ia membuka kuncinya menggunakan alat khusus yang dibawanya. Pintu terbuka perlahan, dan ia masuk ke dalam.
Alana yang sejak tadi duduk menunggu, langsung berdiri dan mundur ke belakang saat melihat ada orang asing yang masuk ke dalam. Orang itu berpakaian serupa dengan orang-orang yang menyerang, wajahnya tertutup sebagian, dan tatapan matanya terlihat dingin dan kejam.
“Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Alana dengan suara yang bergetar, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat takut.
Orang itu tertawa kecil, suaranya terdengar kasar dan tidak menyenangkan. “Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang penting, kau harus ikut bersamaku. Itu perintah dari atasanku.”
Ia melangkah mendekat, hendak menangkap Alana. Tapi sebelum ia sempat menyentuh gadis itu, tiba-tiba seseorang muncul dari balik tirai jendela dan langsung menerjang orang itu ke lantai.
Ternyata itu adalah salah satu orang kepercayaan Raka yang ditugaskan khusus untuk menjaga Alana. Ia sejak tadi bersembunyi di sana, siap bertindak kalau ada bahaya yang datang.
Keduanya bergulat di lantai, berusaha mengalahkan satu sama lain. Pertarungan itu berlangsung cepat dan sengit, tapi karena orang asing itu memiliki kekuatan dan kemampuan yang lebih baik, akhirnya orang yang menjaga itu berhasil dikalahkan dan terbaring lemas di lantai.
Orang itu kembali berdiri, dan kali ini ia langsung mendekat dan menangkap tangan Alana dengan kasar.
“Cukup sudah! Ikut aku saja, atau kau akan menyesal!” bentaknya.
Ia menarik tangan Alana dan membawanya keluar kamar. Alana berusaha berontak, berusaha melepaskan diri, tapi kekuatannya tidak seberapa dibandingkan orang itu. Ia hanya bisa berteriak sekuat tenaga, berharap ada orang yang mendengar dan datang menolongnya.
“Raka! Tolong aku! Raka!” teriak Alana sekuat tenaga.
Suara teriakannya itu terdengar sampai ke tempat pertempuran berlangsung. Raka yang sedang sibuk melawan orang-orang di depannya, langsung menoleh ke arah suara itu. Wajahnya seketika berubah menjadi sangat menakutkan, dan rasa takut yang luar biasa menyelimuti hatinya.
“Alana!” serunya.
Tanpa memedulikan orang-orang yang masih menyerangnya, ia langsung berlari menuju sumber suara itu. Ia bergerak secepat kilat, melompati benda-benda yang ada di depannya, menghindari serangan yang datang ke arahnya. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah menyelamatkan orang yang paling ia cintai itu, apa pun yang harus ia korbankan.
Gubernur William yang melihat apa yang terjadi, juga langsung mengikuti langkah Raka. Ia juga mendengar suara putrinya, dan rasa cemas yang mendalam memenuhi seluruh hatinya.
Keduanya berlari cepat, dan tidak lama kemudian mereka melihat apa yang terjadi. Di ujung lorong, terlihat orang yang sedang membawa serta Alana, dan sudah hampir sampai di pintu keluar.
“Berhenti di sana!” teriak Raka dengan suara yang menggema di seluruh tempat itu.
Orang itu berhenti sejenak, lalu menoleh. Ia tersenyum miring, seolah-olah apa yang sedang ia lakukan ini adalah hal yang biasa saja.
“Terlambat, Tuan Raka. Kita akan bertemu lagi nanti, dan saat itu aku harap kau sudah siap menerima konsekuensinya,” katanya dengan nada mengejek.
Ia lalu bergerak kembali, hendak melarikan diri. Tapi sebelum ia bisa bergerak lebih jauh, Raka sudah sampai di hadapannya. Ia menyerang dengan sekuat tenaga, dan pertarungan pun terjadi di antara mereka.
Orang itu ternyata bukan orang sembarangan. Kemampuan bertarungnya sangat hebat, dan ia bisa mengimbangi gerakan Raka bahkan hampir menyamai kekuatannya. Mereka bergerak cepat, saling menyerang dan saling menghindari, menciptakan pemandangan yang sangat menegangkan dan berbahaya.
Di tengah pertarungan itu, Gubernur William juga sudah sampai. Ia langsung mendekat dan berusaha membebaskan Alana dari cengkeraman orang itu. Melihat ada kesempatan, Alana pun berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, dan akhirnya ia berhasil. Ia langsung berlari menjauh dan berlindung di belakang ayahnya.
Melihat apa yang terjadi, orang itu tahu ia tidak akan bisa membawa pergi Alana lagi. Tapi ia juga tidak mau tertangkap hidup-hidup. Dengan gerakan yang cepat, ia mundur ke belakang, dan sambil terus melawan, ia perlahan-lahan bergerak menuju pintu keluar.
Raka yang melihat itu, berusaha mencegahnya, tapi tiba-tiba orang itu mengeluarkan benda yang sama seperti yang pernah dimiliki oleh Marco sebelumnya. Sebuah alat peledak.
“Jangan dekati aku! Kalau tidak, kita akan hancur bersama-sama!” teriaknya dengan suara yang keras dan mengancam.
Semua orang yang ada di situ langsung berhenti bergerak. Mereka tahu betul bahaya yang ada di hadapan mereka. Alat itu sudah diaktifkan, dan waktunya hanya tersisa beberapa detik saja.
“Kau pikir kau bisa lari dari sini dengan membawa benda itu?” kata Raka dengan suara yang dingin.
“Kau tidak akan bisa kemana-mana, dan kau juga tidak akan bisa menghancurkan kita semua. Aku tidak akan membiarkannya terjadi.”
“Coba saja hentikan aku kalau kau mampu!” seru orang itu lagi.
Ia lalu berlari keluar, tapi ia tidak lari menjauh. Ia justru berlari menuju ruangan yang berisi peralatan dan bahan-bahan yang mudah terbakar dan meledak. Ia berniat untuk meledakkan tempat itu, supaya semuanya ikut hancur bersama-sama.
Raka melihat apa yang ia maksud, dan ia tahu kalau itu terjadi, maka seluruh gedung ini akan hancur, dan tidak ada satu pun orang yang ada di dalamnya yang akan selamat. Ia tidak punya waktu untuk berpikir panjang lagi. Ia harus melakukan sesuatu, dan ia harus melakukannya sekarang juga.
Ia langsung berlari mengejar orang itu, lebih cepat dari sebelumnya. Ia harus menghentikannya, apapun yang terjadi.
“Raka! Jangan pergi! Itu terlalu berbahaya!” teriak Alana dari belakang, air matanya mengalir deras.
Tapi Raka tidak berhenti berlari. Ia hanya menoleh sebentar, dan menatap gadis itu dengan pandangan yang penuh dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Tetaplah hidup, dan tunggu aku kembali!” teriaknya sebagai jawaban.
Ia terus berlari, dan tidak lama kemudian ia sudah sampai di tempat itu. Orang itu sudah berada di dalam, dan ia sudah siap untuk meledakkan semuanya.
Keduanya bertemu di sana, dan pertarungan terakhir pun terjadi. Mereka berdua sama-sama berjuang dengan sekuat tenaga, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau mundur. Dan di tengah pertarungan itu, suara bunyi yang pendek terdengar. Alat itu sudah meledak.
Sinar cahaya yang terang memancar, diikuti dengan suara letusan yang sangat keras, dan hembusan angin yang kuat menerpa ke segala arah. Semua orang yang ada di luar terlempar ke belakang, dan asap tebal serta debu memenuhi seluruh ruangan. Suasana menjadi gelap dan kacau, dan tidak ada yang bisa melihat apa-apa karena tertutup oleh asap dan debu yang tebal itu.
Alana langsung bangkit dan berlari menuju ke tempat itu, meski napasnya terasa sesak dan pandangannya terhalang. Ia terus berjalan, memanggil nama orang yang ia cintai itu berulang kali, tapi tidak ada jawaban yang terdengar.
“Raka! Raka di mana kau? Jawab aku, Raka!” teriaknya, suaranya sudah parau dan habis tenaga.
Ia sampai di tempat itu, dan apa yang ia lihat di sana membuatnya seketika berhenti bergerak, dan rasanya seluruh darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir. Di hadapannya, ada puing-puing dan reruntuhan yang berceceran, dan di tengah-tengahnya, terlihat tubuh Raka yang terbaring tak bergerak, tertutup oleh debu dan luka-luka yang terlihat jelas di sekujur tubuhnya.
“Tidak... ini tidak benar... ini tidak bisa terjadi...” bisik Alana, suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia berlari mendekat, berlutut di samping tubuh Raka, dan memegang tangan orang itu dengan tangan yang gemetar hebat. Air matanya jatuh membasahi wajah dan tangan Raka, tapi orang itu tidak bergerak sedikit pun, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat sama sekali.
“Bangunlah, Raka... kumohon bangunlah... jangan tinggalkan aku sendirian... aku belum sempat mengatakan semuanya padamu... aku belum sempat mengatakan bahwa aku juga mencintaimu...” rintihnya, tangisannya terdengar begitu sedih dan menyayat hati.
Di belakangnya, Gubernur William juga sudah sampai. Ia berdiri diam di tempat, menatap pemandangan di hadapannya dengan pandangan yang penuh rasa sedih dan haru. Ia tahu, orang yang terbaring di sana itu adalah orang yang pernah ia benci, orang yang pernah ia anggap sebagai musuh terbesarnya. Tapi sekarang, orang itu telah mengorbankan dirinya demi keselamatan mereka semua, demi keselamatan putrinya. Dan ia sadar, bahwa orang ini memang layak ada di samping putrinya, layak dicintai dan dihormati.
“Raka... terima kasih...” bisiknya pelan.
Tapi saat itu juga, jari tangan Raka yang dipegang oleh Alana itu bergerak sedikit. Gerakannya sangat kecil, hampir tidak terasa, tapi cukup untuk membuat Alana langsung terkejut dan mengangkat wajahnya.
Ia melihat mata Raka perlahan-lahan terbuka, meski pandangannya masih kabur dan lemah. Bibirnya bergerak-gerak, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya sangat lemah dan hampir tidak terdengar.
Alana mendekatkan telinganya ke mulut Raka, berusaha mendengar apa yang ingin dikatakannya.
“Aku... aku janji... aku tidak akan pergi ke mana pun... aku masih ada di sini... bersamamu...” bisiknya pelan, dan senyum kecil terukir di bibirnya meski wajahnya terlihat sangat lemah dan kesakitan.
Air mata Alana yang tadinya mengalir karena kesedihan, kini berubah menjadi air mata kebahagiaan. Ia mencium tangan Raka dengan lembut, dan berkata dengan suara yang bergetar tapi penuh rasa syukur.
“Ya... aku tahu... aku tahu kau akan menepati janjimu... dan aku juga ada di sini... aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu juga...”