Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Zirah yang Tertinggal di Ambang Pintu
Temuan Bripka Anton tentang ID Card dewan direksi itu memaksa kami mengubah seluruh strategi. Selama empat puluh delapan jam berikutnya, rumah sakit berubah menjadi benteng militer. Kombes Herman melipatgandakan penjagaan sementara tim auditku bekerja gila-gilaan melacak siapa pemilik ID Card tersebut. Kini, setelah krisis akut itu perlahan mereda dan Sifa dinyatakan aman melewati masa kritis keduanya, keheningan akhirnya turun menyelimuti koridor Rumah Sakit. Di dalam ruang perawatan VIP yang terang dan steril, Sifa tertidur pulas. Napasnya teratur, dan yang paling penting, monitor jantung di sebelahnya berdetak dengan ritme kehidupan yang stabil.
Lukman beserta para preman sewaannya sedang diproses oleh kepolisian di bawah pengawasan langsung Kombes Herman. Penyelidikan mengenai siapa 'Bos Besar' di balik layar masih berlangsung secara tertutup, namun untuk malam ini, setidaknya maut telah menyingkir dari keluarga kami.
Aku berdiri di balik kaca ruangan, bersandar dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Pakaianku berantakan—blus sutra mahalku kusut dan bernoda debu pabrik, sementara kakiku masih terbalut kain kotor sobekan kemeja suamiku.
"Nak Aruna," panggil sebuah suara yang lembut.
Aku menoleh. Hajah Fatimah berjalan menghampiriku. Wajah tuanya terlihat sangat lelah, namun matanya memancarkan kelegaan yang tak terhingga. Tanpa aba-aba, beliau memelukku.
Aku sedikit tersentak, tidak terbiasa dengan kontak fisik yang begitu intim dari sosok seorang ibu. Ibuku sendiri meninggal saat aku masih kecil, dan keluarga suamiku yang dulu hanya menyentuhku saat bersalaman di depan kamera media. Namun, pelukan Hajah Fatimah terasa begitu hangat, murni, dan penuh penerimaan.
"Terima kasih, Nak," bisiknya dengan suara bergetar. "Ibu melihat semuanya dari luar kaca tadi. Kamu mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan Sifa. Kamu membela kami."
Dengusan tawa yang pahit lolos dari bibirku. "Saya hanya menggunakan sedikit ancaman pada dokter itu, Bu. Bumi yang melakukan hal yang jauh lebih berbahaya di luar sana."
Hajah Fatimah melepaskan pelukannya, menatapku dengan senyum teduh. "Bumi selalu menjadi pelindung keluarga ini. Tapi hari ini, Ibu melihat sesuatu yang berbeda. Ibu melihat bahwa putra Ibu kini juga memiliki pelindungnya sendiri. Pulanglah, Nak. Istirahat. Biar Ibu yang menjaga Sifa malam ini. Kalian berdua sudah menanggung terlalu banyak beban."
Tepat saat itu, Bumi muncul dari arah lift. Dia baru saja selesai memberikan keterangan tambahan kepada petugas polisi. Penampilannya tak kalah kacaunya denganku. Kemejanya kotor, ujung pelipisnya menampakkan luka goresan yang sudah mengering, dan kantung matanya menghitam.
Namun, saat matanya bertemu dengan mataku, ada sepercik kelegaan yang membuat ketegangan di wajahnya mengendur.
"Polisi sudah menempatkan dua personel intel berpakaian preman di lantai ini," lapor Bumi pada ibunya, suaranya parau karena kelelahan. "Sifa aman, Bu."
"Alhamdulillah. Sekarang, bawa istrimu pulang, Le," titah Hajah Fatimah. "Lihat kakinya. Dia tidak bisa berjalan jauh dengan keadaan seperti itu."
Bumi menunduk, menatap telapak kakiku. Wajahnya seketika diliputi rasa bersalah. Tanpa mengatakan apa pun, pria bertubuh tegap itu membalikkan badannya membelakangiku, lalu sedikit merendahkan tubuhnya.
"Naiklah," ucapnya pelan.
Aku mengerjapkan mata, syok. "A-apa? Bumi, jangan konyol. Ini rumah sakit. Banyak orang melihat."
"Dan orang-orang akan lebih aneh melihat seorang suami membiarkan istrinya berjalan tanpa alas kaki dengan luka lecet berdarah," balasnya tenang, namun dengan nada mutlak yang tidak menerima penolakan. "Naik, Aruna."
Pipiku memanas. Semburat merah menjalar dari leher hingga ke wajahku. Seumur hidupku, aku selalu berjalan tegap dengan sepatu hak tinggi, menolak terlihat lemah di depan siapa pun. Tapi malam ini, di hadapan pria ini, keangkuhanku luruh tak bersisa.
Dengan ragu, aku mengalungkan kedua lenganku ke lehernya. Bumi segera menopang kedua pahaku dan mengangkat tubuhku dengan mudah, seolah aku tidak memiliki berat sama sekali.
Aroma tubuhnya—campuran antara debu, keringat, dan wangi kasturi yang samar—langsung memenuhi indra penciumanku. Aku menyembunyikan wajahku di bahunya yang lebar saat kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju mobil. Jantungku berdebar tak karuan. Ini bukan debaran adrenalin karena takut. Ini adalah debaran asing yang membuat perutku dipenuhi kepakan sayap kupu-kupu.
Perjalanan kembali ke penthouse-ku di kawasan SCBD berlangsung dalam keheningan yang tebal.
Aku duduk di kursi penumpang, mencuri pandang ke arah Bumi yang sedang menyetir. Di bawah temaram lampu jalanan Jakarta yang berkelebat, profil wajahnya terlihat keras dan maskulin. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya yang selalu melantunkan zikir itu kini terkatup rapat.
Tiba-tiba, realita menamparku dengan keras.
Krisis telah usai. Maut telah berlalu. Dan sekarang... kami akan pulang ke satu rumah.
Di rumah sakit, kami disatukan oleh keputusasaan dan naluri bertahan hidup. Namun di bawah atap apartemenku, tanpa ada musuh yang harus dilawan, kami hanyalah dua orang asing yang terikat oleh selembar kertas kontrak senilai dua miliar rupiah.
Pintu penthouse tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus saat kami memasukinya.
Udara di apartemenku terasa sangat dingin dan kosong. Dominasi warna monokrom, perabotan impor dari Italia, dan jendela kaca raksasa yang memamerkan kelap-kelip lampu kota. Tidak ada kehangatan di sini. Tidak ada bingkai foto keluarga, tidak ada aroma masakan.
Aku berdiri canggung di area foyer (ruang depan). Bumi berdiri satu meter di sebelahku. Pria yang tadi menggendongku dengan penuh otoritas itu, kini tampak mengecil, salah tingkah di tengah kemewahan ruang tamuku.
Dia membungkuk, melepas sepatu sneakers kusamnya yang sudah pudar warnanya. Dia memegangnya sejenak, tampak ragu ke mana harus meletakkannya. Matanya melirik ke arah rak sepatu kaca miliku yang memamerkan deretan stiletto, wedges, dan pantofel desainer. Sepatu kets murahnya terlihat seperti penyusup dari planet lain.
"Taruh... taruh di lantai situ saja, tidak apa-apa," gumamku gugup. Aku, CEO yang bisa memecat manajer senior tanpa berkedip, mendadak bingung bagaimana cara berbicara dengan suamiku sendiri.
"Terima kasih," jawab Bumi pelan, meletakkan sepatunya dengan sangat hati-hati di sudut paling ujung.
"Kau bisa duduk di sofa," ucapku refleks, menggunakan nada 'profesional'-ku. Aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Dia suamimu, Aruna. Bukan tamu bisnis!
Bumi mengangguk kaku. Dia berjalan menuju sofa raksasaku, namun alih-alih bersandar nyaman, dia hanya duduk di ujung bantal sofa. Punggungnya tegak lurus bak sedang mengikuti ujian wawancara kerja. Tangannya diletakkan rapi di atas paha. Dia benar-benar menjaga pandangannya, menatap meja kaca di depannya alih-alih menatapku.
"Biar kulihat kakimu," ucapnya tiba-tiba, memecah kecanggungan.
"T-tidak usah. Aku bisa membersihkannya sendiri saat mandi," tolakku cepat, mundur selangkah.
Namun Bumi sudah berdiri dan berjalan mendekatiku. "Kain itu kotor. Jika ada pecahan kaca yang tertinggal dan Anda basuh dengan air keran biasa, lukanya bisa infeksi. Tolong, duduklah sebentar."
Suaranya sangat lembut, namun penuh ketegasan. Aku mengalah, duduk di pinggir sofa. Bumi pergi ke arah dapur, entah mencari apa, lalu kembali membawa baskom kecil berisi air hangat, handuk bersih, dan kotak P3K yang entah sejak kapan ia ketahui letaknya di apartemenku.
Bumi berlutut di lantai, tepat di hadapanku.
Dengan gerakan yang luar biasa berhati-hati, jemarinya membuka ikatan kain kotor di pergelangan kakiku. Sentuhan kulitnya pada kulitku mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuatku menahan napas.
"Maaf jika sedikit perih," gumamnya, mulai membersihkan telapak kakiku dengan handuk hangat yang sudah diberi cairan antiseptik.
Aku menatap puncak kepalanya. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan embusan napasnya di sekitar lututku. Dia memperlakukan kakiku—bagian tubuhku yang paling kotor saat ini—dengan penuh penghormatan, seolah sedang membersihkan sesuatu yang sangat berharga.
"Di luar sana..." bisikku, tak mampu lagi menahan kata-kata yang mendesak di tenggorokanku. "Kau mendeklarasikan bahwa aku adalah bagian dari keluargamu. Kau mengancam preman itu demi diriku. Tapi di sini... kau bahkan tidak berani menatap mataku, Bumi."
Gerakan tangan Bumi terhenti. Air di baskom itu mendadak tenang.
Perlahan, dia mendongak. Matanya yang gelap akhirnya bertemu dengan mataku. Ada badai emosi yang tertahan di sana.
"Di luar sana, Aruna... saya adalah tameng Anda," ucap Bumi, suaranya berat dan serak. "Adalah kewajiban saya untuk menunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang boleh merendahkan istri saya. Tapi di dalam sini..."
Bumi menelan ludah, jakunnya bergerak turun naik. Matanya perlahan turun, menghindari tatapanku lagi.
"Di dalam sini, kita berdua tahu bagaimana pernikahan ini bermula. Saya tidak menatap Kamu bukan karena saya tidak peduli. Saya tidak menatap Anda karena saya menghormati batasan kita. Kamu belum mencintai saya, dan saya tidak akan memaksakan diri masuk ke dalam hati Anda, hanya karena selembar kertas akad."
Duniaku seakan berhenti berputar.
Kata-katanya menamparku dengan sebuah realita yang menyakitkan. Bumi adalah pria yang sangat memegang teguh agamanya. Baginya, menyentuh dan menatap istri dengan syahwat adalah haknya, namun ia memilih menahan hak tersebut karena ia tidak ingin menyakitiku. Ia sadar betul bahwa aku membelinya karena keputusasaan.
Ada rasa perih yang aneh menyelinap di dadaku. Dulu, Adrian tidak pernah peduli apakah aku sedang sedih atau kelelahan; jika ia menginginkanku, ia akan mengambilnya. Tapi pria yang ada di hadapanku ini... dia merelakan haknya demi kenyamananku.
"Lukanya tidak terlalu dalam," Bumi kembali bersuara, memecah lamunanku. Dia menempelkan plester medis ke beberapa titik di telapak kakiku, lalu berdiri. "Sudah selesai. Anda bisa mandi sekarang. Saya akan tidur di kamar tamu ujung."
Aku mengangguk kaku, menarik kakiku menjauh. "Terima kasih, Bumi."
"Selamat malam, Aruna."
Bumi berbalik, mengambil ranselnya, dan melangkah menuju kamar tamu. Pintu tertutup, menyisakan diriku sendirian di ruang tamu yang kembali terasa sepi. Aku menyentuh plester di kakiku. Sentuhannya masih terasa hangat.
Di dalam hatiku, sebuah monolog panjang mulai bergaung. Kau merencanakan pernikahan ini untuk mengendalikan keadaan, Aruna. Tapi mengapa rasanya... kau yang sedang perlahan-lahan dikendalikan oleh kebaikannya?
Keesokan paginya.
Cahaya matahari pagi menembus celah gorden vertikal apartemenku, menyilaukan mata. Aku terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Setelah memaksakan diri mandi dan berpakaian dengan setelan blazer hitam yang elegan, aku berjalan keluar kamar.
Aroma kopi segar dan roti panggang langsung menyambutku.
Bumi sedang berada di dapur pantry. Dia sudah rapi, mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang dan celana bahan yang entah dari mana ia dapatkan. Meskipun kemeja itu bukan merek desainer mahal, postur tubuhnya yang tegap dan pundaknya yang lebar membuatnya terlihat luar biasa berwibawa.
"Selamat pagi," sapanya, meletakkan secangkir espresso dan sepiring roti gandum dengan telur orak-arik di atas meja marmer. "Saya tidak tahu selera sarapan Anda, jadi saya membuat yang paling sederhana."
"Pagi. Ini... sempurna. Terima kasih," jawabku, duduk di kursi pantry.
Keheningan canggung kembali terjadi saat kami menyantap sarapan. Suara denting sendok terasa terlalu keras.
"Bumi!," aku meletakkan cangkir kopiku. Waktunya kembali ke dunia nyata. Dunia korporat. "Berita tentang penangkapan Lukman sudah menjadi headline nasional pagi ini. Pasar saham pasti bergejolak. Dewan direksi akan mengadakan rapat darurat pukul sepuluh nanti."
Bumi mengangguk, meletakkan lapisi rotinya. Zirah programmer-nya tampak kembali terpasang. "Mereka akan menuntut penjelasan tentang pernikahan kita. Meskipun Lukman sudah ditangkap, gosip bahwa saya 'dipaksa' menikah dengan Kamu untuk mengamankan kekuasaan Kamu tidak akan hilang begitu saja."
"Tepat sekali," aku melipat tangan di atas meja. "Oleh karena itu, kau tidak bisa kembali ke divisi Back-end sebagai Junior Programmer. Itu akan memperkuat narasi bahwa aku memanipulasi bawahan yang lemah. Mulai hari ini, posisimu adalah Staf Khusus CEO bidang Keamanan Siber dan Strategi Data."
Bumi sedikit terkejut. "Melompati lima jenjang jabatan sekaligus?! Itu akan memancing kecemburuan luar biasa dari jajaran manajer senior."
Aku tersenyum tipis, senyum sinis khas seorang CEO yang sudah kembali menemukan taringnya. "Kecemburuan mereka adalah urusan mereka. Keselamatanku adalah urusanku. Aku butuh kau di sisiku, Bumi. Bukan hanya sebagai suami di atas kertas, tapi sebagai pelindung di medan perang Kantorku."
Mata Bumi menatapku dalam-dalam. "Anda yakin saya bisa menghadapi hiu-hiu berdasi di rapat direksi nanti?"
"Kau baru saja mengalahkan tiga preman bersenjata," balasku. "Hiu berdasi tidak akan menakutimu."
Bumi menghela napas, lalu tersenyum—senyum tulus yang membuat kedua sudut matanya sedikit berkerut. "Baik, Bos. Saya siap."
Kami berangkat bersama menggunakan mobil cadanganku, karena SUV hitamku masih hancur di kantor polisi. Saat mobil mewah kami berhenti di lobi utama gedung Wiratmadja Tech, ratusan pasang mata karyawan yang sedang berlalu-lalang seketika tertuju pada kami.
Bisik-bisik langsung terdengar bagai dengungan lebah.
Aku melangkah keluar lebih dulu. Bumi menyusul dari sisi lain, berjalan di sampingku. Sesuai kesepakatan, kami tidak berpegangan tangan untuk menjaga profesionalisme, namun jarak bahu kami sangat rapat, menunjukkan kedekatan yang tidak bisa dibantah.
Saat kami hendak masuk ke dalam lift khusus eksekutif, langkah kami dihalangi oleh seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan senyum merendahkan. Pak Haris, Direktur Operasional yang selama ini dikenal sebagai "anjing peliharaan" Lukman.
"Wah, wah... Ibu Aruna," sapa Haris dengan suara keras yang sengaja ditujukan agar seluruh lobi mendengarnya. "Selamat atas penangkapan Pak Lukman. Anda bermain sangat rapi. Tapi... membawa 'peliharaan' baru Anda ke lantai eksekutif? Bukankah SOP perusahaan menyatakan karyawan level Junior dilarang menggunakan lift ini?"
Haris menatap Bumi dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. Beberapa karyawan di lobi mulai terkikik pelan.
Darahku mendidih. Aku baru saja membuka mulut untuk menghancurkan karier Haris detik itu juga, namun Bumi lebih dulu mengangkat tangannya, menghentikanku.
Bumi melangkah maju, memangkas jarak dengan Haris hingga direktur buncit itu harus mendongak sedikit.
Bumi tidak marah. Ekspresinya sangat tenang, namun memancarkan intimidasi yang luar biasa.
"Selamat pagi, Pak Haris," sapa Bumi dengan nada sangat sopan, namun mematikan. "Berdasarkan Pasal 14 ayat 2 Peraturan Perusahaan Wiratmadja Tech, pendamping sah dari Dewan Direksi Utama memiliki izin keamanan tingkat A-1. Hal itu mencakup akses tanpa batas ke seluruh fasilitas gedung, termasuk akses ke log audit keuangan Divisi Operasional yang kebetulan sedang saya review datanya sejak subuh tadi."
Wajah Haris seketika memucat pasi seputih kertas. Log audit keuangan adalah rahasia terbesar Divisi Operasional yang penuh dengan penggelapan.
"A-apa maksudmu?" gagap Haris, senyum merendahkannya lenyap tak bersisa.
Bumi memiringkan kepalanya sedikit, tersenyum tipis. "Maksud saya, Bapak tidak perlu mengkhawatirkan lift mana yang saya gunakan. Bapak sebaiknya mengkhawatirkan alasan mengapa ada dana sebesar tiga miliar rupiah yang mengalir ke rekening perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman bulan lalu. Saya rasa itu topik yang lebih menarik untuk rapat direksi nanti."
Hening seketika mencekam seluruh lobi. Rahang Haris nyaris jatuh ke lantai.
Tanpa mempedulikan Haris yang mematung ketakutan, Bumi menoleh ke arahku, menekan tombol lift, dan membukakan jalannya dengan elegan. "Silakan masuk, Ibu Aruna. Rapat kita menunggu."
Aku melangkah masuk ke dalam lift dengan dada yang membusung penuh kebanggaan. Saat pintu lift tertutup, menyembunyikan kami dari pandangan dunia luar, aku menoleh ke arah pria di sebelahku.
Suamiku bukan hanya seorang pelindung. Dia adalah senjata paling mematikan yang pernah kumiliki. Dan perang kantor ini... baru saja menjadi sangat menyenangkan.
____________________________________________
Di dalam lift yang bergerak naik, keheningan tiba-tiba dipecahkan oleh suara Bumi yang setengah berbisik. "Aruna, ada satu hal lagi yang harus Anda tahu sebelum kita masuk ke ruang rapat," ucapnya, wajahnya tiba-tiba menjadi sangat serius. "Saat saya meretas data keuangan Haris tadi pagi... saya menemukan aliran dana yang mencurigakan masuk ke rekening pribadi Sekretaris Anda, Mbak Sarah. Uang itu dikirim tepat pada malam sebelum Adrian meninggal."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘