Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Plak!
Plak!
Plak!
Rania membanting diri di sofa, jus buah dan camilan disediakan Mayra di atas meja saat ia turun atas perintah Rasya. Di hadapannya, para pelayan saling berhadapan, saling menampar satu sama lain. Sementara kepala pelayan, melihat pemandangan itu dengan rasa takut yang teramat.
"Bagaimana dia memperlakukan anakku?" tanyanya kepada Mayra yang masih berdiri di sisi sofa.
Gadis pelayan itu menatap ngeri rekan-rekannya yang saling menyakiti satu sama lain. Ia juga menatap iba pada kepala pelayan yang tangannya terkulai. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat. Menangis tiada henti.
"Nyonya, mereka memperlakukan tuan muda seperti binatang. Jika mereka ingin memukul, mereka akan memukul. Jika mereka ingin menyiramnya dengan air, mereka akan membawa air es atau bahkan air kotoran. Saya benar-benar tidak mengerti mengapa mereka tega melakukan itu pada seorang anak kecil?" ucap Mayra geram.
Rania melirik gadis di sampingnya, kedua tangannya mengepal kuat hingga Rania melihatnya memutih. Rahang gadis itu mengeras, matanya penuh kebencian dan berair. Mayra menangis tanpa sadar mengingat perlakuan mereka yang sangat kejam terhadap Rasya.
"Mayra, apa yang kau katakan? Seolah-olah kau tidak pernah melakukannya. Kau sama saja dengan kami!" bentak kepala pelayan itu, tak terima karena Mayra sendiri yang selamat dari hukuman Rania.
Mayra maju selangkah, menatap rekan-rekannya yang masih saling menampar satu sama lain meski pipi mereka sudah memerah dan darah merembes di sudut bibir.
"Aku tidak seperti kalian yang tega menyiksa tuan muda di rumahnya sendiri. Aku dan tukang kebun diam-diam selalu membantu tuan muda, mengirim makanan di saat kalian tidur. Sayangnya, tukang kebun bernasib malang. Kalian siksa dia tanpa perasaan, tubuhnya yang sudah renta tak mampu menahan setiap pukulan. Dia mati di depan mata kalian, tapi kalian justru tertawa melihat itu. Apa hidup kalian tenang setelah itu?" cerocos Mayra dengan suara bergetar.
Bayangan kematian si tukang kebun masih tersimpan di dalam hati dan pikirannya. Tidak akan pernah dia lupakan. Suatu saat dia ingin melampiaskan dendam laki-laki tua itu.
Mendengar itu, Rania menegang. Lelaki tua yang dia pekerjakan sebagai tukang kebun di rumahnya. Lelaki yang dianggapnya seperti ayah sendiri, laki-laki baik yang selalu memberi nasihat di sore hari. Menemani hari-harinya merawat tanaman.
Tanpa sadar, air matanya jatuh. Hatinya sakit terasa dihantam godam berduri. Bayangan senyumnya yang tulus setiap kali Rania menyuguhkan minuman juga camilan di sela-sela ia bekerja di taman, seperti ribuan sembilu menyayat hati. Tak menduga, lelaki baik itu mati di tangan mereka.
"Mayra! Kau pengkhianat!" kecam kepala pelayan dengan wajah memerah penuh amarah.
Rekan-rekan Mayra juga menoleh kepadanya dengan tatapan tajam. Terbesit keinginan untuk memukuli gadis itu, tapi tatapan Rania membuat nyali mereka menciut.
"Kenapa berhenti! Aku belum puas!" bentak Rania membuat mereka terlonjak.
Lalu, kembali saling menampar satu sama lain. Suara pekikan kesakitan, jeritan rasa nyeri, bercampur dengan suara tamparan yang menggema saling bersahutan. Membuat Mayra puas karenanya.
"Hukuman ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah kalian perbuat. Tuan Muda sudah menceritakan semuanya kepadaku, kalian sering mengurungnya di gubuk belakang berhari-hari tanpa memberinya makan dan minum. Kalian pantas meminta ampun? Kalian pantas membela diri?" Suara Mayra kembali terdengar semakin membuat Rania bergejolak.
"Diam kau, Mayra!" bentak kepala pelayan geram.
Bugh!
Argh!
Dia diam saat sebuah majalah menghantam kepalanya cukup kuat. Sudut tebal buku itu mengenai pelipisnya hingga robek. Lemparan Rania tidak pernah meleset.
"Kau yang diam! Kalian menikmati uang suamiku, tapi memperlakukan anakku tidak seperti manusia. Mayra, apa kau memiliki bukti untuk menjerat mereka semua?" ucap Rania.
Suaranya penuh penekanan, mereka menoleh serentak, tapi tak berani berkomentar. Ketakutan semakin jelas terlihat di wajah mereka.
"Ada, Nyonya. Saya merekam setiap apa yang mereka lakukan," katanya seraya menyerahkan ponsel kepada Rania.
Kepala pelayan menganga dengan mata terbuka lebar. Diikuti para pelayan lain yang juga tak menyangka bahwa gadis Mayra bisa melakukan itu.
"Mayra, kau ...." Tak ada lagi yang perlu dikatakan untuk membela diri.
"Aku melakukan ini karena yakin suatu saat nanti pertolongan akan datang untuk tuan muda. Kalian memang menyuruhku untuk menyiksa tuan muda, tapi aku tidak pernah benar-benar melakukannya. Jeritan yang kalian dengar selama ini hanyalah permainan antara aku dan tuan muda agar kalian percaya aku sama saja seperti kalian," ujar Mayra menatap penuh benci kepada mereka semua.
"Kau ...." Tak satu pun kata keluar dari mulut kepala pelayan itu.
Brak!
Rania memukul meja, seraya berdiri dari duduknya setelah melihat beberapa video perundungan anaknya. Ia menatap kepala pelayan dan yang lainnya dengan tajam. Mereka menunduk seketika, menunggu hukuman yang lebih kejam lagi.
"Kalian ... tidak akan pernah aku lepaskan!" desisnya menyeramkan semakin membuat mereka mengkerut ketakutan.
"Mayra, bukankah rumah ini dipasangi cctv setiap sudutnya?" tanya Rania tanpa mengalihkan tatapan dari mereka semua.
"Semuanya tidak berfungsi, Nyonya. Shakira yang telah menyuntingnya untuk mengelabui tuan," jawab Mayra sesuai yang dia tahu.
"Mayra!" jerit kepala pelayan dengan geram, napasnya memburu berat, semua rahasia diungkapkan Mayra dengan gamblang.
Darah membasahi wajahnya, tapi ia sendiri masih tidak menerima kesalahannya.
"Kenapa kalian berhenti!" sentak Rania kepada mereka yang berhenti saling menampar.
"Nyonya, ampuni kami! Semua itu atas perintah nyonya Shakira. Kami terpaksa melakukannya karena jika tidak melakukannya kami akan bernasib sama seperti tukang kebun itu," ucap salah satu dari mereka mewakili yang lain.
Mereka bersimpuh di hadapan Rania, dengan wajah memar bekas tamparan.
"Jika begitu, tunjukkan kesungguhan kalian! Satu per satu dari kalian berikan tamparan terbaik kalian untuknya," titah Rania melirik kepala pelayan yang seketika kembali memucat.
"Baik, Nyonya!" Mereka bangkit, dua orang menahan tubuh kepala pelayan itu, dan satu per satu menamparnya dengan sangat kuat.
"Apa yang kalian lakukan? Dia palsu! Dia bukan nyonya Rania! Lepaskan aku!" Dia memberontak, meminta dilepaskan, tapi mereka tak mengindahkan.
Hukuman Rania jauh lebih mereka takuti dari pada ancamannya. Meski mereka tahu bahwa Shakira pun termasuk orang yang kejam.
Mayra tersenyum puas, tapi hatinya tetap sakit jika membayangkan siksaan yang diterima tukang kebun malam itu.
"Cukup!" Rania menyudahi setelah melihat keadaan kepala pelayan yang sudah tak berdaya.
"Panggil Shakira! Katakan, sahabat lama ingin bertemu," titahnya kepada kepala pelayan yang sudah babak belur oleh bawahannya sendiri.
Ia melakukan panggilan, meminta Shakira untuk datang. Rania menunggu, ingin melihat seperti apa rupa sahabat lamanya itu.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄