Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : UNGKAPAN DI TENGAH MALAM
Kirana masih belum bisa tidur. Selimut tipis yang menutupi tubuhnya terasa panas, padahal udara di kamar cukup dingin. Bukan karena cuaca, tapi karena kata “sayang” yang keluar dari bibir Arga tadi malam di meja makan masih terus berputar di kepalanya.
Di sofa seberang, Arga juga belum memejamkan mata. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sepuluh tahun lalu, Pak Harsono yang menemukan dia di panti asuhan dan mengajaknya tinggal di rumah besar ini. Dari anak yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa, menjadi bagian dari keluarga Harsono.
Tapi sekarang, rasa terima kasih itu bercampur dengan perasaan yang tidak seharusnya ada. Perasaan yang membuat dadanya sesak setiap kali ia menatap Kirana.
Tiba-tiba ponsel Arga bergetar pelan di atas meja. Ia menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. Nama “Ibu Hana” terpampang di layar.
Arga langsung bangkit dan berjalan keluar kamar dengan langkah pelan. Ia tidak mau membangunkan Kirana. Pintu kamar ditutup rapat, lalu ia menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo, Bu Hana,” ucap Arga pelan, suaranya diturunkan hampir berbisik.
“Arga, kamu baik-baik saja kan Nak?” suara Ibu Hana terdengar hangat tapi khawatir dari seberang. “Sudah seminggu Ibu tidak dengar kabar kamu. Gimana pernikahan kamu dengan Nona Kirana Ga...?Kamu baik baik saja kan..?”
Arga tersenyum kecil. "Saya baik-baik saja kok Bu. Kerjaan juga lancar. Pak Harsono baik sama saya.”
Ibu Hana terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya pelan. “Terus… gimana sama Nona Kirana? Kalian baik-baik saja kan?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Ia menatap pintu kamar Kirana yang tertutup rapat. “Kami… Kami baik, Bu. Nona Kirana orangnya Baik. Cuma… sedikit keras kepala.”
Ibu Hana tertawa kecil. “Keras kepala ya? Itu wajar, Nak. Dia anak orang kaya. Tapi kamu jangan nyerah, Arga. Ibu yakin kamu bisa bikin Nona Kirana luluh sama kamu.”
Arga mengerutkan dahi. “Maksud Ibu apa? Saya kan cuma suami kontraknya Bu.”
Ibu Hana terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih serius. “Arga, Ibu sudah kenal kamu sejak kamu masih kecil. Ibu yang gendong kamu waktu kamu nangis karena kangen orang tua kamu. Ibu tahu tatapan kamu kalau kamu lagi sayang sama seseorang. Dan tatapan kamu ke Nona Kirana itu… beda, Nak. Beda banget.”
Jantung Arga langsung berdetak kencang. Ia tidak menyangka Ibu Hana bisa membaca perasaannya sejauh itu. “Bu Hana, jangan salah paham. Saya… saya cuma ingin menjaga Nona Kirana. Itu saja.”
“Iya, Ibu ngerti,” jawab Ibu Hana pelan. “Tapi Arga, ingat satu hal. Cinta itu tidak kenal status sosial. Kamu itu anak baik, Arga. Pak Harsono juga bukan orang yang sempit pikirannya. Kalau kamu benar-benar sayang sama Nona Kirana dan kamu tulus, Pak Harsono pasti akan mendukung kamu.”
Arga terdiam. Kata-kata Ibu Hana itu menusuk hatinya. Ia memang menyayangi Kirana. Tapi ia juga takut. Takut ditolak. Takut dianggap tidak tahu diri. Takut hatinya terlampau berharap banyak, takut hatinya kecewa.
“Bu Hana… saya..saya cuma takut,” ucap Arga pelan. Suaranya bergetar. “Saya takut kalau aku tidak bisa melindungi Non Kirana, takut membuat nya tak bahagia , takut melihat nya menangis. Saya takut membuat Tuan kecewa sama saya.”
Ibu Hana terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata lembut. “Kalau kamu tidak mencoba, kamu tidak akan pernah tahu, Nak. Pak Harsono yang dulu itu yang ngajak kamu keluar dari panti karena dia lihat kamu anak yang bertanggung jawab. Sekarang kamu juga harus berani bertanggung jawab sama perasaan kamu sendiri. Dan satu lagi… jangan biarkan rasa takut itu membuat kamu menyesal seumur hidup.”
Telepon itu akhirnya dimatikan. Arga berdiri di depan pintu kamar Kirana dengan ponsel masih di tangannya. Kata-kata Ibu Hana masih terngiang di kepalanya. Jangan biarkan rasa takut itu membuat kamu menyesal seumur hidup.
Di dalam kamar, Kirana yang sebenarnya belum sepenuhnya tidur mendengar suara Arga dari luar. Ia mengerutkan dahi dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan pelan menuju pintu dan membukanya sedikit saja. Dari celah pintu itu, ia bisa melihat punggung Arga yang berdiri kaku. Suara Arga terdengar samar, tapi ada kesedihan yang tidak bisa ia abaikan.
Kirana terdiam. Mendengar ucapan Arga Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Arga yang biasanya tenang dan kuat, sekarang terdengar rapuh. "Apakah sebegitu takutnya kamu sama papa Ga" . Tanpa sadar, ia melangkah keluar kamar dan berdiri beberapa langkah di belakang Arga.
“Arga…” panggil Kirana pelan.
Arga tersentak dan langsung berbalik. Ia kaget melihat Kirana berdiri di sana dengan rambut terurai dan piyama tipis. “No..Nona… kenapa belum tidur?” tanya Arga cepat, suaranya sedikit gugup.
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan tatapan dalam. “Kamu ngomong sama siapa?” tanya Kirana pelan.
Arga terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Ibu Hana, Nona. Ibu pengasuh saya di panti asuhan dulu.”
Kirana mengangguk pelan. Ia melangkah lebih dekat. “Kamu kenapa? Kamu kelihatan… sedih.”
Arga menunduk. “Saya tidak apa-apa, Nona. Jangan khawatir.”
Kirana menghela napas. “Jangan panggil aku Nona terus, Arga. Aku bilang panggil aku Kirana.”
Arga mengangkat kepala dan menatap Kirana. Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Kirana bisa melihat kesedihan, keraguan, dan harapan di mata Arga. Tatapan itu membuat jantung Kirana berdebar lebih cepat.
“Ki..Kirana…” panggil Arga pelan. Nama itu keluar dari bibirnya hampir berbisik. “Maaf kalau aku membuat kamu tidak nyaman.”
Kirana menggeleng. “Kamu tidak membuatku tidak nyaman, Arga. Aku… aku hanya bingung.”
Kirana terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan. “Aku… aku bingung kenapa kamu bersikap baik padaku.? "
Kalimat itu membuat Arga terdiam. Ia menatap Kirana dengan hati-hati. “maksud Kirana..?”
Kirana menghela napas dan menyilangkan tangan di dada. “Bukan apa apa, sudahlah..."
"Aku hanya nggak bisa tidur...Suara kamu kebetulan kedengeran sampai ke dalam kamar.” Ia sedikit memalingkan wajahnya.
Arga menunduk. “maafkan saya kalau saya mengganggu tidurmu Nona”
Kirana mengerutkan dahi. “Jangan panggil aku Nona terus, Arga. Aku sudah bilang panggil aku Kirana.” Suaranya masih datar, tapi ada sedikit kelembutan yang tidak ia sadari.
Arga mengangkat kepala dan menatap Kirana. “Baik… Kirana.” Nama itu keluar dari bibirnya dengan hati-hati, seolah ia takut membuat Kirana mundur lagi.
Kirana menatap Arga dalam-dalam. “Kamu takut apa, Arga? Sampai suaramu bergetar begitu waktu telepon tadi.”
Arga terdiam. Ia tidak menyangka Kirana akan bertanya sejauh itu. “Aku… aku takut mengecewakan orang yang sudah baik sama aku,” jawab Arga pelan.
Kirana terdiam. Jawaban itu membuat dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia tidak mau menunjukkannya. “Huh… dramatis banget,” gumam Kirana pelan sambil mengalihkan pandangan. “Kamu itu kuat, Arga. Nggak perlu takut-takutan.”
Arga tersenyum kecil mendengar itu. “Kuat bukan berarti tidak punya rasa takut, Kirana.”
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara datar. “Sudahlah, kamu kembali ke sofamu. Udah larut. Besok kita masih harus kerja.”
Arga mengangguk pelan. “Baik, Kirana. Kamu juga istirahat.”
Kirana mengangguk kecil, tapi ia tidak langsung masuk kamar. Ia berdiri di sana beberapa detik, menatap punggung Arga yang berjalan kembali ke sofa. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa terganggu dengan kehadiran Arga. Bahkan… ada rasa tenang yang aneh.
Malam itu langit mulai dipenuhi bintang-bintang kecil yang berkelip pelan. Di koridor rumah Pak Harsono, dua orang itu masih berdiri dengan jarak beberapa langkah. Tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman tangan. Hanya ada tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya.
Arga menatap Kirana dari kejauhan. “Tidur yang nyenyak, Kirana. Besok aku akan tetap di sampingmu.”
Kirana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya masuk ke kamar dan menutup pintu pelan.
Arga berdiri di tempatnya beberapa detik, menatap pintu kamar yang sudah tertutup. Bibirnya membentuk senyum kecil. "Sedikit… tapi itu sudah cukup."
Mereka kemudian kembali ke tempat masing-masing. Kirana ke ranjangnya, Arga ke sofanya. Jarak di antara mereka masih ada. Tapi untuk pertama kalinya, jarak itu tidak terasa dingin.
[ BERSAMBUNG.. ]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"