NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Pertemuan Sesungguhnya.

Tiga ketukan.

Pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup masker dan topi hitam melekat di kepala kembali mengetuk pintu dengan cara yang ...aneh.

Tiga ketukan pendek-cepat ...tiga ketukan lambat ...tiga ketukan pendek-cepat.

"Kode morse Jerman. SOS," batin Lea.

Satu tangan Lea sudah mendarat di gagang pintu. Ragu untuk membuka. Kode ketukan itu sangat jelas, tapi penampilan pria di depan pintu membuat ia memikirkan ulang tindakannya; apakah membuka pintu adalah langkah yang tepat?

Pria itu berhenti mengetuk, menunggu jawaban. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh napasnya yang berat. Sementara Lea masih bergeming di balik pintu, berpikir.

Haruskah ia membuka pintu?

Lea menghembuskan napas cepat, memutar kunci, lalu membuka pintu. Sosok pria itu kini berdiri tepat di depannya. Mata Lea menyipit, menelisik penampilan pria di depannya dari atas sampai bawah.

"Kau ..." Lea mendesis kesal, segera mengenali siapa tamunya. "Harus sekali ya mengetuk pintu menggunakan kode morse?"

Pria itu menurunkan masker, menyeringai tipis. Menikmati ekspresi Lea yang terlihat ingin membunuh seseorang.

"Hanya ingin memastikan apakah kau akan tetap membuka pintu atau berpura-pura tidak berada di rumah seperti caramu mengusir dua orang sebelumnya," sahutnya santai.

"Bagaimana kau bisa tahu rumahku?" tanya Lea menggeser tubuhnya, membiarkan tamu tak diundang itu masuk: Angkasa -yang memperkenalkan diri sebagai Marco pada Lea-. Menyalakan satu lampu hemat daya di ruang tamu.

"Jika aku bisa tahu kau adalah seorang pelajar saat kau datang ke klub malam, mengetahui alamatmu bukan hal sulit untuk kudapatkan," jawab Angkasa santai.

"Rumah guamu terlihat ...nyaman." komentar Angkasa mengedarkan pandangan, menyusuri tiap sudut ruang tamu berpencahayaan redup yang luasnya hanya setengah dari kamar pribadinya.

Sederhana namun nyaman. Gelap namun hangat. Hanya ada satu sofa panjang serta satu sofa single dengan meja kecil di depannya, dan semua perabot sederhana yang ada di sana tersusun rapi.

Lea menghela napas panjang, berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil dua kaleng minuman yang salah satunya segera ia lemparkan pada Angkasa.

"Jangan harap aku membuatkanmu minuman." ucap Lea datar, membuka kaleng minumannya sendiri, lalu duduk di sofa.

Angkasa melakukan hal sama. Sesaat setelah tangannya sigap menangkap kaleng, ia membukanya, kemudian duduk di sofa berbeda dengan Lea. Meneguk minuman seolah ia sedang berada di rumahnya sendiri.

"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Lea tanpa basa-basi. Tatapannya menyelidik, mencari tahu apa yang Angkasa sembunyikan dari penampilannya yang serba hitam.

"Hanya 'kunjungan' malam. Aku tidak akan lama. Setelah malam ini, mungkin undangan akan segera kau dapatkan." kata Angkasa menenangkan, kembali meneguk minuman kalengnya.

"Tapi ..." suara Angkasa berubah tajam, tatapannya menusuk. "Aku ingin tahu, apa yang bisa kau berikan jika bos-ku menerimamu?"

Lea menggoyang kaleng di tangannya, menatap Angkasa sekilas, lalu memalingkan wajah seolah tidak ada siapapun di sana.

"Aku memberimu waktu sepuluh menit untuk melihat ruang tamu, dapur dan toilet dapur. Jika kau temukan sesuatu, aku akan berbicara," jawab Lea.

Angkasa menaikkan alis. "Kau memerintahku?"

"Menantangmu," koreksi Lea. "Hanya jika kau menerimanya, jika tidak silakan pergi. Rumahku bukan tempat singgah. Ada urusan katakan, tidak ada silakan angkat kaki."

Senyum di bibir Angkasa lenyap. Tatapannya predator, tetapi tetap bangun dari duduknya, berjalan dengan langkah pelan di sekitar ruang tamu, dapur dan toilet. Tanpa menyalakan lampu, kemudian kembali duduk di sofa sebelum tepat di menit kesepuluh.

"Botol kecap di samping botol minyak, hanya itu yang aku temukan," ucap Angkasa.

Lea tersenyum miring. "Pelumpuh saraf."

Kedua mata Angkasa melebar singkat, sedetik kemudian kembali datar.

"Kau menyimpan obat seperti itu di rumahmu? Untuk apa?" tanya Angkasa.

"Bukan menyimpan, tapi membuat." ralat Lea kembali meneguk sisa minuman kaleng di tangannya. "Dan untuk apa? Sudah jelas kan, itu untuk melumpuhkan saraf. Saraf manusia. Perlindungan diri."

Tatapan mereka bertemu, pertemuan antara dua dominasi. Lea tetap duduk di sofanya.

"Kau sudah tahu apa fungsiku. Sekarang pergilah, aku butuh tidur," kata Lea lagi seolah mengusir bawahan.

Rahang Angkasa mengeras. Baru kali ini ia turun tangan sendiri menemui orang yang ingin bertemu dengannya dan ia justru diusir? Kegelapan di hatinya terusik, tapi ia memilih menahan diri. Pernyataan wanita di depannya tentang membuat 'pelumpuh saraf' membuat dirinya tertarik lebih jauh.

"Baiklah." Angkasa melangkah menuju pintu, kepalanya menoleh tanpa membalikan badan saat satu tangannya memegang gagang pintu.

"Kita akan bertemu lagi, Lea," ujarnya sebelum pintu itu dibuka, kemudian menutup kembali.

Meninggalkan Lea dalam keheningan.

Lea termenung, dahinya berkerut tipis, mencoba mengingat.

"Rasanya aku pernah melihat wajahnya sebelum di klub malam, tapi kapan dan dimana?"

.

.

.

Pria bertato setinggi hampir dua meter itu mengetuk pintu rumah Lea saat hari masih sangat pagi.

Drtt...

Ponsel di saku jaketnya bergetar panjang, mengubah ekspresinya yang sebelumnya datar setelah ia membaca sebaris pesan yang baru saja masuk.

"Bawa dia padaku."

Dia kembali mengetuk pintu dengan tidak sabar. Kali ketiga ia mengetuk dan masih belum mendapatkan jawaban dari pemilik rumah, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, membuka pintu rumah dengan mudah menggunakan kunci cadangan, kemudian menerobos masuk.

Di sana, ia melihat Lea masih terlelap di atas tempat tidur seolah suara ketukan pintu tak pernah ada. Satu tangannya terulur, bersiap untuk menarik tangan Lea untuk membangunkan wanita itu sekaligus membawanya paksa.

Namun, sebelum tangannya berhasil menyentuh lengan Lea, tangan Lea bergerak lebih cepat meraih pergelangan tangan si pria.

Kedua mata Lea terbuka lebar, alarm kewaspadaan menyala. Gerakannya cekatan menarik tangan di genggamannya, memutar ke belakang dan menekan tubuh pria itu hingga tubuh besarnya terhempas kasar ke kasur.

Situasi berubah, Lea mengunci kedua tangan orang asing yang menerobos masuk ke kamarnya ke belakang punggung pria itu. Menekannya kuat ke kasur.

"Siapa kau?" desis Lea berbahaya.

Pria itu terkesiap, tidak siap dengan serangan yang datang tiba-tiba.

"Aku datang atas perintah bos-ku," ujarnya, berusaha bagun, tapi gagal. Kuncian Lea menguat.

"Bos?"

"Tuan Angkasa Kalvandra Costa, Tuan mengatakan kamu ingin masuk, ijin sudah diberikan, aku datang untuk menjemputmu," jawabnya.

Lea mendengus. "Apa kau tidak memiliki aturan? Datang pagi-pagi dan menerobos masuk seperti ini? Kau pikir rumahku pasar?" geramnya menambah tekanan pada kuncian tangannya.

Dia mengerang kesakitan.

"Tuan tidak suka menunggu."

"Dan aku tidak suka diganggu," balas Lea sengit, ia beci paginya diusik.

"Aku minta maaf," ucapnya lirih.

Lea melepaskan kuncian, melangkah mundur. Sementara pria itu segera berdiri, merapikan pakaiannya.

"Kita harus pergi sekarang."

"Beri aku waktu untuk bersiap," sahut Lea.

Dia mengangguk, tapi matanya tak henti-hentinya melihat jam tangan. Menunggu di sofa ruang tamu. Gelisah.

Lea keluar kamar dengan jaket hodie favoritnya, memasang topi ke kepala, lalu menatap pria yang masih menunggu. Tak sampai lima menit, mobil yang Lea tumpangi sudah melaju meninggalkan rumah.

"Apakah kau keberatan jika aku bertanya siapa namamu?" tanya Lea memecah keheningan.

"Marco," dia menjawab singkat.

Lea menoleh cepat, dahinya berkerut tipis. "Apakah ada dua nama Marco di sana?"

Marco meoleh, lalu kembali fokus mengemudi. "Hanya aku."

Lea angkat bahu tak acuh. Kembali hening.

Mobil itu memasuki gerbang mansion, berhenti di depan pintu utama. Marco tidak mengatakan apapun, hanya menatap Lea singkat, kemudian keluar mobil yang segera diikuti Lea. Dan kemewahan segera menyambut keduanya.

Pandangan Lea menyapu sekeliling, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket. Mewah namun suram.

"Tuan akan turun sebentar lagi," ucap Marco datar.

Tak sampai satu menit setelah kalimat itu selesai, suara lagkah seseorang menuruni tangga menggema, menarik perhatian Lea untuk menoleh ke sumber suara. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Pria yang baru beberapa jam lalu bertemu dengannya melangkah menuruni tangga dengan aura berbeda. Bukan wibawa, tapi pemangsa. Seolah sudah banyak nyawa yang dihilangkan mengunakan tangannya yang terselip di saku celana.

"Kita bertemu lagi ..." Angkasa menyeringai tipis, tatapannya gelap. "Lea La Bertha."

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Zhu Yun💫
Makanya jangan mata keranjang 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Angkasa kebakaran jenggot nggak tuh ntar kalau lihat ini 🤭🤭🤭
Zhu Yun💫
Yah jiwa kepo Vito meronta-ronta 🤭🤭🤣🤣
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Ya itu kan modusnya Angkasa juga 🤣🤣🤣
Zenun
hayolooo, nanti Lea dilirik sama bos lain
〈⎳ FT. Zira: hayolooo🤣
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sepertinya mulai anuuuhhh
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂
total 4 replies
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!