NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Tidak Ada Lagi Penjelasan

Udara malam di luar hotel terasa jauh lebih dingin dibandingkan beberapa menit lalu.

Bella melangkah keluar dengan tenang, meski dadanya terasa seperti sedang diremas sesuatu yang tak terlihat. Suara pintu kaca hotel menutup di belakangnya, memisahkan dirinya dari pemandangan yang baru saja menghancurkan sisa-sisa keyakinannya.

Ia tidak menangis.

Bukan karena tidak sakit.

Justru karena rasa sakit itu terlalu besar, terlalu penuh, sampai air mata seolah tidak lagi cukup untuk mewakilinya.

Langkahnya terus berjalan menuruni tangga kecil di depan hotel. Lampu jalan memantulkan bayangannya di trotoar yang basah setelah hujan sore tadi. Kota tetap hidup seperti biasa—mobil berlalu, orang-orang berjalan, lampu-lampu gedung menyala terang.

Lucunya, dunia tidak berhenti hanya karena dunianya baru saja runtuh.

“Bella!”

Suara Dominic terdengar dari belakang.

Langkah Bella tidak langsung berhenti.

Ia hanya menarik napas pelan, lalu terus berjalan.

“Bella, tunggu!”

Kali ini suara itu lebih dekat, diiringi langkah kaki yang terburu-buru.

Sebelum Bella sempat melangkah lebih jauh, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya.

Sentuhan itu membuatnya berhenti.

Perlahan, Bella menoleh.

Dominic berdiri di depannya dengan napas yang sedikit terengah. Wajah pria itu tegang, matanya mencari sesuatu di wajah Bella—kemarahan, tangisan, atau mungkin kesempatan untuk menjelaskan.

Namun yang ia temukan hanya ketenangan yang asing.

“Lepas.”

Satu kata.

Pelan.

Dingin.

Dominic tidak langsung melepaskan.

“Bella, dengarkan aku dulu.”

Bella menatap tangan yang masih mencengkeram pergelangannya, lalu kembali mengangkat wajahnya.

“Aku bilang lepas.”

Kali ini suaranya sedikit lebih tegas.

Dominic akhirnya melepas tangannya, meski tubuhnya tetap berdiri menghalangi langkah Bella.

“Itu nggak seperti yang kamu pikir.”

Kalimat itu.

Kalimat yang terlalu sering ada dalam cerita pengkhianatan.

Bella tersenyum tipis.

Bukan senyum yang hangat.

Melainkan senyum yang lelah.

“Kalimat itu bahkan terdengar lucu sekarang.”

Dominic menghela napas, tangannya bergerak gelisah ke rambutnya.

“Bella, aku bisa jelasin.”

Bella memandangnya cukup lama.

Lampu jalan menerangi wajah pria itu, memperjelas garis tegang di rahangnya, sorot panik yang jarang sekali ia lihat selama mereka menikah.

“Jelasin apa?” tanya Bella akhirnya.

Dominic membuka mulut, tapi tidak ada kata yang langsung keluar.

Bella melanjutkan, suaranya tetap tenang.

“Jelasin kenapa kamu ada di kamar hotel sama mantan kamu?”

Sunyi.

“Jelasin kenapa dia kirim pesan ke aku?”

Dominic terdiam.

“Atau jelasin kenapa aku harus jadi orang terakhir yang tahu?”

Setiap kalimat keluar pelan, namun menghantam jauh lebih keras daripada teriakan.

Dominic mengusap wajahnya kasar.

“Diana ngajak ketemu buat bahas proyek.”

Bella tertawa kecil.

Suara tawanya pelan, hampir pahit.

“Di kamar hotel?”

Dominic membeku.

“Dom…” Bella menggeleng pelan, “bahkan kamu sendiri nggak percaya sama alasan kamu.”

Pria itu mengatupkan rahangnya.

“Aku nggak ngapa-ngapain sama dia.”

Kalimat itu membuat Bella terdiam sesaat.

Lalu ia menatap Dominic lurus-lurus.

“Dan kamu pikir itu cukup?”

Dominic mengernyit.

Bella menarik napas panjang.

“Masalahnya bukan cuma apa yang kamu lakukan malam ini.” Suaranya melembut, tapi justru terasa lebih menyakitkan. “Masalahnya adalah semua hal kecil sebelum ini.”

Tatapan Dominic berubah.

“Aku lihat semua perubahan itu, Dom.”

Bella menunduk sesaat, lalu mengangkat wajahnya lagi.

“Kamu makin jarang pulang. Kamu makin sering bohong. Kamu makin sering bawa dia masuk ke rumah kita.”

Kata rumah kita terdengar begitu berat di antara mereka.

Bella melanjutkan, “Dan yang paling menyakitkan… kamu membuat aku merasa seperti tamu di rumahku sendiri.”

Kalimat itu membuat Dominic terdiam lebih lama.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang tampak seperti rasa bersalah.

“Bella…”

Namun wanita itu menggeleng.

“Jangan.”

Suara itu memotong.

Lembut, tapi tegas.

“Jangan pakai nada itu sekarang.”

Dominic memandangnya tanpa berkedip.

Bella tersenyum tipis, matanya mulai berkaca, tapi tetap tegak.

“Aku sudah terlalu sering diam, Dom.”

Angin malam meniup rambutnya pelan.

Ia tidak berusaha merapikannya.

“Aku diam waktu kamu makin jauh. Aku diam waktu dia mulai masuk ke hidup kita. Aku diam waktu kamu mulai berhenti melihat aku.”

Suaranya bergetar sedikit di akhir kalimat, tapi ia tetap melanjutkan.

“Tapi malam ini…” Bella menatapnya lurus, “aku capek.”

Dada Dominic naik turun lebih berat.

“Aku nggak pernah berniat nyakitin kamu.”

Bella menghela napas.

“Nyatanya aku tetap sakit.”

Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tak bisa dibantah.

Tidak ada pembelaan yang cukup.

Tidak ada alasan yang bisa memperbaiki.

Karena rasa sakit itu sudah terjadi.

Nyata.

Di antara mereka.

Dominic melangkah satu langkah mendekat.

“Bella, pulang sama aku.”

Bella menatapnya.

“Pulang?”

Ia tersenyum tipis lagi.

“Kamu masih nyebut tempat itu rumah?”

Dominic terdiam.

Bella memalingkan wajah sebentar, menatap jalanan di depan.

“Aku bahkan nggak tahu kapan terakhir kali tempat itu terasa seperti rumah buat aku.”

Kalimat itu membuat sesuatu di wajah Dominic runtuh.

Pria itu kembali mendekat, kali ini lebih pelan.

“Aku akan perbaiki semuanya.”

Bella tertawa kecil.

Tawanya hampir seperti desahan.

“Kamu tahu apa yang paling lucu?”

Dominic diam.

“Aku dulu bakal percaya sama kalimat itu.”

Tatapan mereka bertemu.

“Tapi sekarang… aku bahkan nggak tahu harus percaya yang mana dari kamu.”

Sunyi.

Hanya suara kendaraan yang lewat di kejauhan.

Bella menunduk sebentar, lalu mengangkat tas di bahunya.

“Aku mau sendiri dulu.”

Dominic refleks menggeleng.

“Jangan pergi.”

Ada sesuatu dalam nada suaranya.

Ketakutan.

Nyata.

Namun Bella hanya menatapnya dengan sorot yang jauh.

“Aku nggak pergi.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku cuma… berhenti tinggal di tempat yang bikin aku terus terluka.”

Dan kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada kata perpisahan.

Bella berbalik.

Kali ini Dominic tidak menahannya.

Ia hanya berdiri di tempat, memandang wanita itu berjalan menjauh di bawah cahaya lampu jalan.

Langkah Bella tidak cepat.

Tidak juga goyah.

Namun setiap langkahnya terasa seperti sesuatu yang perlahan tercabut dari hidup Dominic.

Dan untuk pertama kalinya…

Pria itu merasa takut.

Takut kehilangan sesuatu yang selama ini ia pikir akan selalu ada.

END BAB 11 🔥

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!