TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 18: Armada Penelan Bintang
DUARRRRRR!
Pagi harinya, cakram raksasa itu melepaskan ribuan kapal tempur kecil yang menyerupai serangga logam. Mereka mulai menembakkan sinar laser hitam yang bisa melenyapkan sebuah kota dalam sekejap.
Raka melesat ke langit, diikuti oleh Bumi yang kini mengenakan zirah tempur emas.
"Ayah, biarkan aku membantu!" seru Bumi.
"Tetap di belakangku, Bumi! Ini bukan level Leluhur lagi. Mereka adalah Hegemoni Abadi, ras pemangsa galaksi!"
Raka mengangkat tangannya ke arah armada musuh. Matahari Asal Tahap Kelima: Ledakan Supernova.
BOOOOOMMMMM!
Sebuah gelombang api emas putih menyapu ribuan kapal musuh, menghancurkan mereka menjadi atom dalam hitungan detik. Namun, dari cakram raksasa itu, muncul satu sosok pria yang mengenakan jubah mekanis canggih. Ia memegang sebuah pedang yang terbuat dari fragmen bintang neutron.
"Raka... subjek eksperimen nomor 0-0-1," pria itu bersuara lewat transmisi telepati.
"Aku adalah Xerxes, Jenderal dari Hegemoni Abadi. Kami datang untuk mengambil kembali Baterai Asal yang tertanam di dadamu."
"Rahasia Pencipta Pertama" Raka tertegun. "Eksperimen? Baterai? Apa maksudmu?!"
Xerxes tertawa dingin, suaranya seperti mesin yang bergesekan.
"Kau pikir kau lahir secara alami? Kau diciptakan di lab galaksi kami jutaan tahun lalu, lalu diselundupkan oleh kakekmu, seorang ilmuwan pemberontak ke planet primitif ini. Kekuatan Mataharimu adalah teknologi kami yang paling rahasia!"
Xerxes melesat dengan kecepatan warp.
Syuuuttt!
Pedang bintang neutronnya beradu dengan Pedang Surya Raka. Benturan itu menciptakan ledakan energi yang cukup kuat untuk menggetarkan seluruh tata surya.
Raka terdorong mundur. Ia merasakan kekuatan Xerxes sangat asing. Itu bukan tenaga dalam atau sihir, tapi manipulasi fisika murni pada tingkat atom.
"Raka, kita harus melampaui level ini," bisik Vanya. "Kau harus membangkitkan Matahari ke-11... Matahari Kehampaan (The Void Sun). Hanya dengan itu kau bisa memanipulasi hukum fisika mereka!"
Raka menyadari bahwa bumi tidak akan aman selama Hegemoni Abadi masih mengincarnya. Ia harus membawa peperangan ini ke markas mereka.
"Bumi, jaga ibumu dan planet ini. Ayah akan mengakhiri ini di sumbernya," ucap Raka pada putranya.
"Ayah, aku akan menunggu!" Bumi berjanji dengan mata emas yang berapi-api.
Raka menatap kapal raksasa itu, lalu tubuhnya mulai memudar menjadi lubang hitam kecil. Dengan satu loncatan ruang, ia masuk ke dalam jantung kapal musuh.
Di sana, Raka melihat sesuatu yang mengerikan: ribuan bayi yang tabung-tabungnya mirip dengan tempat ia "dilahirkan", semuanya memiliki tanda naga di dada mereka. Ia bukan satu-satunya. Ia adalah prototipe yang paling sukses.
"Saatnya menghancurkan pabrik tuhan ini," gumam Raka.
Pertempuran antar galaksi dimulai. Raka kini harus berhadapan dengan pasukan teknologi dewa, sambil berusaha mencari tahu siapa sebenarnya dirinya?"
seorang pahlawan, atau hanya senjata biologis yang gagal dimusnahkan!?."
"Rahim Bintang dan Sang Ibu Segala Senjata, Raka melangkah lebih dalam ke jantung kapal raksasa Hegemoni Abadi. Koridor yang ia lalui tidak lagi terbuat dari logam dingin, melainkan jaringan organik yang berdenyut dengan cairan neon biru.
Dug-dug... "Suara itu bukan mesin, melainkan detak jantung raksasa dari kapal yang merupakan makhluk hidup hibrida.
Di sisi kiri dan kanannya, jutaan tabung inkubasi berjejer. Di dalamnya, janin-janin dengan tanda naga di dadanya tampak mengambang. Raka mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol.
Krakkk!
"Jadi, aku hanyalah salah satu dari mereka? Sebuah produk massal?" geram Raka.
"Jangan biarkan mereka meracuni pikiranmu, Raka," suara Vanya bergema, mencoba menstabilkan emosi Raka yang mulai memicu Matahari Kesepuluh. "Kau memiliki jiwa yang mereka tidak miliki. Kau memiliki cinta Sekar dan Bumi."
Tiba-tiba, koridor itu terbuka lebar menuju sebuah ruangan berbentuk kubah raksasa yang disebut Rahim Bintang. Di tengah ruangan, melayang sebuah singgasana yang terbuat dari jalinan saraf perak. Di sana, duduk seorang wanita yang kecantikannya melampaui segala deskripsi manusia. Ia memiliki kulit sepucat rembulan, rambut yang terbuat dari jalinan serat optik bercahaya, dan sepasang mata yang mengandung galaksi yang berputar.
Ia adalah Xaria, Matriark Agung Hegemoni Abadi. "Selamat datang kembali, Putraku," suara Xaria terdengar sangat merdu, namun tanpa emosi, seperti nyanyian mesin yang sempurna.
Xaria turun dari singgasananya, melayang mendekati Raka. Ia tidak mengenakan pakaian tradisional," tubuhnya dibalut oleh lapisan tipis nanobot yang berkilauan, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang sempurna tanpa cacat.
"Putraku? Aku bukan putramu. "Aku adalah manusia dari Bumi!" Raka menghunuskan Pedang Surya Sejati-nya.
Xaria tersenyum tipis. Ia melambaikan tangannya, dan tiba-tiba Raka merasakan tubuhnya lumpuh.
Bukan oleh sihir, tapi oleh perintah protokol biokimia yang tertanam di dalam selnya. Xaria mendekat, jemarinya yang dingin mengusap pipi Raka, lalu turun ke dadanya, tepat di atas tanda naga.
"Kau diciptakan dari sel telurku yang digabungkan dengan energi Matahari Asal," bisik Xaria. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Raka, napasnya berbau seperti oksigen murni dan ozon.
"Kakekmu mencurimu karena ia ingin kau memiliki emosi. Tapi emosi hanyalah dalam sistemmu, Raka. Biarkan aku memperbaikinya."
Xaria menarik Raka ke dalam sebuah "Tautan Neural".
Tiba-tiba, lingkungan di sekitar mereka berubah menjadi sebuah taman bunga digital yang sangat indah dan panas. Di dalam dimensi mental ini, Xaria mencoba menaklukkan Raka bukan dengan senjata, tapi dengan kenikmatan yang melampaui batas fisik.
Saat Xaria melepaskan lapisan nanobotnya. Di dunia mental ini, sentuhan Xaria terasa sepuluh kali lebih intens. Ia mencumbu Raka dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pencipta yang mengetahui setiap titik saraf ciptaannya.
Tangan Xaria meraba tubuh Raka dengan presisi yang mematikan, membangkitkan gairah yang begitu hebat hingga Raka hampir kehilangan kesadarannya.
Raka terjebak dalam dilema antara kenikmatan yang memabukkan dan jati diri yang ia pertahankan. Namun, di tengah puncak rayuan Xaria, kesadaran Vanya meledak.
Vanya muncul di dalam dimensi mental tersebut sebagai sosok dewi perak yang murka.
"Jauhkan tangan busukmu dari lelakiku, Matriark!" teriak Vanya."
Kebangkitannya Matahari ke-11: Matahari Kehampaan
Cemburu dan kemarahan Vanya bersatu dengan harga diri Raka. Di dalam pelukan Xaria namun berbisa, Raka justru menemukan titik balik. Ia menyadari bahwa kekuatannya bukan berasal dari teknologi Hegemoni, tapi dari kemampuannya untuk menolak menjadi sekadar alat.
Duar!
Dimensi mental Xaria pecah berkeping-keping. Raka mendorong Xaria menjauh. Di belakang punggung Raka, matahari kesepuluh yang berwarna ungu emas mulai menyusut, tertelan oleh sebuah lubang hitam kecil yang sangat pekat.
Matahari ke-11: Matahari Kehampaan (The Void Sun). "Sekeliling Raka mendadak menjadi hening. Cahaya di ruangan itu tersedot masuk ke tubuhnya. Xaria terbelalak ngeri.
"Tidak mungkin... protokol keamanan harusnya menghancurkanmu sebelum kau mencapai tahap ini!"
"Kau menciptakan tubuhku, Xaria. Tapi hidupku milikku sendiri," ucap Raka dengan suara yang kini terdengar seperti kekosongan ruang angkasa.
Raka mengangkat tangannya. Sebuah bola hitam kecil melesat dari telapak tangannya.
Syuuuuutttt!
Bola itu menghantam sistem penyokong hidup Xaria. Seketika, seluruh teknologi canggih di ruangan itu mulai berkarat dan hancur dalam hitungan detik.
Kekuatan Matahari Kehampaan adalah membatalkan segala hukum fisika dan teknologi.
"Aku akan menghancurkan seluruh armada ini, dan aku akan membawamu ke Bumi untuk diadili sebagai manusia, bukan sebagai tuhan!" tegas Raka.
Xaria tertawa gila, rambut serat optiknya berkedip-kedip merah.
"Kau pikir aku adalah pemimpin tertinggi? Aku hanyalah satu dari seribu Matriark! Armada yang sebenarnya sedang menuju ke sini dari pusat galaksi Andromeda!"
Blar!
Kapal raksasa itu mulai berguncang hebat. Raka meraih leher Xaria dan melesat keluar menembus dinding kapal menuju ruang angkasa yang hampa. Di luar sana, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti, ribuan kapal yang lebih besar dari yang baru saja ia lawan mulai muncul dari gerbang warp.
"Vanya, bersiaplah," ucap Raka sambil menatap lautan kapal musuh. "Sepertinya kita akan butuh lebih dari sekadar 11 matahari."
Raka kini berdiri sendirian di tengah ruang hampa, memegang Matriark sebagai tawanan, menghadapi armada yang bisa menghancurkan seluruh tata surya dalam satu kedipan mata.
Peperangan di galaksi dimulai."
Bersambung....