Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11- MCI 11
Yang sebenarnya terjadi di luar adalah, Diandra sangat lega bisa keluar dari restoran itu.
"Hais, ya ampun. Pria itu menyebalkan sekali. Kenapa aku lebih suka dia yang tidak banyak bicara tapi banyak bergerak. Daripada dia sedikit bergerak, tapi banyak bicara. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, mengandung racun semua! bisa mati tercekikk tanpa tersentuh aku di dalam. Kenapa pemuda baik seperti Max, punya paman mengerikan seperti itu?"
Diandra harus menggerutu sambil berjalan dengan cepat ke arah mobilnya. Sekitar 4 meteran lagi dia akan sampai ke mobilnya. Dia benar-benar akan meninggalkan tempat ini. Diandra mempercepat langkahnya.
Sayangnya, sedikit lagi dia mau sampai ke mobilnya. Dua orang pria bertubuh kekar dengan balutan jas hitam tanpa dasi menghadang jalannya.
'Apalagi sih ini?' batin Diandra.
"Ikut kami ke mobil! tuan Raez ingin bertemu dengan anda!"
Mata Diandra melebar. Dia menoleh ke arah belakang. Kenapa sekarang dia benar-benar berharap Max mengejarnya.
"Aku, aku kebelett... nanti saja...!"
Diandra berbalik mau kabur, tapi dua penjaga lagi menghadangnya dari belakang.
'Oh ya ampun, habislah aku!' batin Diandra.
"Silahkan nona!" kata salah satunya menunjukkan jalan pada Diandra.
Diandra sekali lagi menoleh ke arah pintu keluar, Max tak kunjung terlihat. Padahal dia yakin sekali Max pasti mengejarnya.
"Nona!"
Diandra tak punya pilihan lain. Dia mengikuti penjaga itu, dan berjalan ke sebuah mobil Range Rover hitam yang terparkir di tempat khusus. Ada tulisan VIP di atas langit-langit tempat parkir itu.
Diandra memperlambat jalannya. Wanita itu melihat ke sekelilingnya.
'Bukankah ini restoran, kenapa sepi sekali?' batin Diandra bingung.
"Nona cepatlah, tuan bilang kalau nona tidak masuk ke dalam mobil dalam sepuluh menit. Kami akan angkat paksa..."
"Heh, tidak perlu!" sela Diandra sambil melambaikan tangannya beberapa kali ke arah para penjaga itu, "tidak usah repot-repot!" lanjutnya lagi.
Diandra sudah sampai di depan pintu mobil, rasanya enggan sekali. Sebenarnya bukan hanya enggan saja, tapi takut, ngeri, sawan, semuanya bercampur menjadi satu. Jadilah dia ketar-ketir.
Pintu mobil itu terbuka dari dalam, jangan tanya seperti apa aura yang keluar dari dalam mobil. Pokoknya aur-auran.
"Masuk!"
Suara itu berat, datar, dingin, tapi mampu memberikan sugesti bagi yang mendengarnya. Kaki Diandra sampai sedikit terhuyung ke belakang. Tapi tangannya langsung ditarik oleh Raez sampai masuk ke dalam mobil begitu saja.
Deg
Diandra tak berani bergerak, di bawah sana ada yang mengeras. Kalau kata author Kohapu 'ada yang tegak, tapi itu bukan keadilan'. Benda itu benar-benar tak nyaman untuk di duduki.
'Dia sudah mengerass begini, jangan-jangan dia mau melakukan itu, di sini....'
"Sepertinya aku tidak perlu lagi jelaskan, apa mauku"
Diandra menatap kesal pada Raez.
"Tuan Raezwell Dave Mahendra yang terhormat, kalau anda lupa maka saya sebagai mantan sugar baby anda yang baik, akan mengingatkan anda kembali. Anda sendiri yang sudah memutuskan hubungan saling menguntungkan kita. Aku tidak mau... aghkkk!"
Diandra baru mau menjelaskan, baru mau memberikan penolakan. Tapi pria itu sudah lebih dulu membuatnya terbaring di jok kursi sebelahnya.
"Lepaskan!" kata Diandra yang kedua tangannya kembali di cekal oleh Raez.
"Siapa suruh kamu menggodaku di restoran!"
Mata Diandra membelalak lebar.
"Menggoda? kapan aku menggoda... empptt!"
Diandra tidak bisa melanjutkan ucapannya. Bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Raez. Pria itu baru makan siang, tapi meraup bibir Diandra seperti orang kelaparan.
Diandra tak bisa bergerak, tempat ini terlalu tidak nyaman.
Raez yang merasa Diandra terus memberontak, melepaskan ciumannya.
"Terus saja bergerak, aku akan tendang pintunya. Kamu mau semua penjaga melihat kita?" gertak Raez.
"Tidak tahu malu!" pekik Diandra marah.
"500 juta, menurut lah!"
Diandra baru mau membuka mulut, untuk kembali memaki Raez. Tapi mendengar pria itu menawarkan padanya 500 juta. Dan berpikir kalau uang itu akan sangat berguna untuk tambahan membeli saham keluarga Wicaksana. Diandra pun berhenti memberontak.
"Jangan robek bajuku..."
Raez, tak bisa menunggu. Dia sendiri juga heran, kenapa hanya menghirup aroma tubuh Diandra, membuatnya langsung terangsangg.
Brekk
"Kamu..." geram Diandra, baru juga dia bilang jangan robek bajunya. Pria itu malah melakukannya.
"Diam, dan nikmati saja!"
Suara Raez makin serak, pria itu mencium leher Diandra, perlahan dan semakin turun ke dadanya.
'Dasar orang gilaa! bagaimana ini, aghkkk!'
Dari luar, mobil yang sebenarnya tahan segala medan itu juga bergoyang karena aktifitas yang terlalu mengguncang dari dalam.
Para penjaga hanya bisa memastikan tidak ada yang lewat di tempat itu. Tidak juga Max, karena tadi Raez sudah menghubunginya dan minta dia memimpin meeting di perusahaan.
Hampir satu jam berlalu, Raez akhirnya selesai dengan urusannya. Pria itu mengenakan jasnya di tubuh Diandra.
"Aku akan mengantarmu pulang!" kata Raez.
Pria itu turun dari dalam mobil, dan memberitahu semua penjaganya, kalau dia akan mengemudikan mobilnya itu sendiri.
Diandra hanya bisa mendengus kesal. Pria itu merobek bajunya, untung roknya tidak. Kalau roknya juga sobek, bagaimana dia akan berjalan dari mobil ke pintu rumahnya.
Sementara Raez mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia lihat wajah Diandra tampak lelah sekali.
"Jangan tidur, kalau kamu tidur, aku akan buang kamu di pinggir jalan!"
Mata Diandra yang tadinya memang tinggal 10 Watt mendadak melebar, terbuka lebar. Terbelalak karena ucapan Raez yang menurut Diandra sangat menyebalkan.
'Cih, dasar pria. Baru saja beberapa menit yang lalu dia terus menciumku, mencumbu dan menyebut namaku dengan lembut. Seorang dia berubah menjadi alien beracun lagi! menyebalkan!' batin Diandra yang memalingkan wajahnya dari Raez.
Raez hanya tersenyum tipis. Entah kenapa membuat Diandra kesal dan merajuk, justru menjadi salah satu hal yang selalu ingin dia lakukan.
Tak lama keduanya sudah sampai di depan rumah Diandra. Diandra sudah memegang handel pintu mobil, tapi kemudian dia merasa ada yang terlupa.
"Jangan lupa kirim uangnya!" ujarnya yang langsung membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil tanpa menoleh ke arah Raez hingga dia masuk rumah dan menutup pintu.
Sementara Raez memukul setir kemudinya dengan kesal.
"Dasar materialistis!" gerutunya kesal.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣