Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11.
Lucas tidak menanggapi gerutuan Adel Ia hanya fokus pada pekerjaannya yang banyak.
Mobil hitam yang membawa mereka berdua, masuk ke dalam pekarangan rumah besar dengan taman yang luas.
Mobil hitam itu berhenti tepat di teras rumah yang megah itu, Lucas keluar dari Mobil Ia merapikan kemejanya dan dasinya yang sedikit longgar, Ia membukakan pintu Mobil untuk Adel.
Adel menatapnya dengan wajah yang di tekuk, Ia tak segera keluar, Adel hanya melihat Lucas saja.
" Apa kau tidak ingin keluar? " tanya Lucas.
" kenapa kita datang ke sini?... bukannya kita akan ke london? " tanya Adel.
" sudah aku katakan, besok kita ke london, malam ini kita akan menginap di rumah orang tuaku " jawab Lucas.
Adel terdiam, bukannya Ia tidak mau tapi menginap di rumah ini terasa sangat menyiksa dan berat, Ia yakin dirinya akan bertemu deng mantan kekasihnya Devan.
Dan hatinya pasti tidak akan bisa Ia tahan, rasanya menyiksa melihat Devan pria yang Ia cintai melihatnya bersama kakaknya kandungnya.
" Kau ingin terus di sini? " tanya Lucas dengan nada dingin.
Adel pun keluar dengan terpaksa, di wajahnya tidak ada kelembutan dan senyum manis lagi, setelah menikah dengan Lucas wajah Adel terlihat lebih dingin.
Lucas menutup pintu mobil, Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Adel yang masih di belakang.
Sesampainya di depan pintu mereka di sambut oleh seorang pelayan wanita paruh baya, dia tersenyum tipis melihat kedatangan mereka.
" Selama datang kembali tuan dan nona " ucap sopan wanita paruh baya itu, dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
" Apa mama dan pa-pa belum datang? " tanya Lucas datar dan kaku.
" belum tuan, tuan besar masih di kantor sedangkan nyonya dia pergi dan belum kembali " jawab wanita paruh baya itu.
Lucas hanya mengangguk pelan, Ia melangkah masuk tanpa menunggu Adel.
Adel yang melihat dirinya di tinggalkan lagi, Ia hanya bisa menghela nafas kasar lalu mengikuti Lucas dari belakang.
" Tuan Lucas, apa ada yang anda butuhkan " tanya wanita paruh baya itu dengan sopan.
" Tolong buatkan aku secangkir kopi hitam " ucap Lucas.
" Baik tuan " jawab pelayan wanita paruh baya itu, Ia pun kembali ke belakang.
Sesampainya di pintu kayu besar itu, Lucas membukanya dengan perlahan Ia melangkah masuk.
Adel masih berdiri di ambang pintu sambil mengamati seisi kamar Lucas yang kini menjadi suaminya, Ia bisa melihat kamar yang luas, di dominasi dengan warna coklat dan gelap dengan sentuhan yang elegant, rapi, dingin, hampir tidak memiliki jejak kehangatan, seperti pemiliknya.
Adel akhirnya masuk perlahan, pintu di belakangnya tertutup pelan menyisakan keheningan di antara mereka.
" Malam ini aku tidak akan mengalah " ucap Lucas tiba-tiba.
Adel mengerutkan keningnya, Ia tidak mengerti apa yang di bicarakan Lucas.
" Apa yang kau maksud? " tanya Adel, Ia menjatuhkan bokongnya di ranjang empuk milik Lucas.
" Malam ini aku akan tidur di ranjang, tidak ada penolakan tidak ada perdebatan " lanjut Lucas dengan nada tegas.
Adel terdiam sesaat, lalu menatapnya tidak percaya.
" lalu aku tidak di mana? " tanya Adel.
Lucas melepaskan jm tangannya dan menaruh di meja kerjanya.
" Itu bukan urusan ku, jika kau tidak ingin tidur seranjang dengan ku, makan tidurlah dimanapun kamu mau " ucap Lucas dengan wajah datar dan suara dingin.
" Oke, fine " jawab Adel dengan percaya diri, dengan dagu yang sedikit terangkat.
mereka saling menatap untuk beberapa detik, hingga sebuah ketukan mengalihkan pandangan mereka berdua.
TOK... TOK...
" Siapa " tanya Lucas, tanpa membuka pintunya.
" Saya tuan bibi ratna " jawab sang bibi.
" Masuk " ucap Lucas.
Tak lama suara pintu kamar terbuka, terlihat bibi pelayan tadi datang dengan secangkir kopi hitam di tangannya, dengan hati-hati Ia membawanya ke arah Lucas dan meletakkan nya di meja kerja.
" Kopi yang anda minta tuan " ucap bibi Ratna.
"mm... " Gumam Lucas, Ia duduk di kursi besarnya mengambil berkas-berkas di laci meja kerjanya.
" Tolong bantu aku mengemasi barang-barang ku untuk di bawa dinas " pinta Lucas tanpa menoleh.
" Baik tuan " jawab bibi Ratna sang pelayan.
Sebelum Ia mengeluarkan koper dari lemari, Ia mendekati Adel yang duduk di ranjang.
" Nona mau minum apa? " tanya bibi Ratna dengan senyum kaku di bibir nya.
Adel mendongak, melihat bibi Ratna dengan tatapan dingin namun masih ada sedikit kelembutan di dalamnya.
" Tolong air putih dingin " pinta Adel.
" baik nona, tolong tunggu sebentar " ucap bibi Ratna, Ia kembali ke dapur untuk mengambilkan Adel segelas air putih dingin.
Beberapa menit kemudian\_\_\_
pintu kamar kembali terbuka, terlihat bibi Ratna membawa segelas air untuk Adel, Ia membawanya dengan hati-hati menjaganya agar tidak goyang.
" Nona, airnya " ucap bibi Ratna, Ia memberikan nya pada Adel.
" Terima kasih " ucap Adel, ia menerima air itu lalu meneguknya pelan.
Bibi Ratna tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, Ia mengeluarkan koper dari lemari, bibi Ratna pun mulai mengemasi barang-barang Lucas.
Sementara itu Lucas tetap duduk di kursinya fokus pada berkas-berkas di tangannya, sesekali Ia menyeruput kopi hitamnya, mengabaikan dua orang yang ada di ruangan itu juga.
seakan-akan mereka tidak ada di sana, kamar itu terasa sunyi dan dingin, membuat bibi Ratna merasa canggung sendiri.
" Tuan Lucas akan pergi lama" tanya bibi Ratna, dengan hati-hati mencoba mencairkan suasana.
" tergantung pekerjaan " jawab Lucas.
" Tuan saya sudah selesai mengemasi nya" ucap bibi Ratna, Ia berdiri.
" Iya, tolong simpan di depan pintu " ucap Lucas tanpa menoleh.
" baik tuan " jawab bibi Ratna, setelah menaruh koper itu sesuai perintah, bibi Ratna melangkah mendekat beberapa jarak di depan meja kerja Lucas.
" apa ada lagi yang anda butuhkan tuan " tanya bibi Ratna.
" Tidak " jawab singkat Lucas.
" Biak, kalau begitu saya permisi " ucap bibi Ratna, Ia pun undur diri dan kembali ke dapur untuk mengurus pekerjaannya yang lain.
Keheningan terjadi lagi di antara mereka, setelah kepergian bibi Ratna tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, hanya ada ketegangan dan keheningan.
Adel memilih untuk memainkan ponsel pintarnya, sedangkan Lucas masih sibuk dengan pekerjaannya.
\\\~~~
Pukul 17:45 Lucas berdiri dan meregangkan otot-otot nya yang terasa pegal, Ia melihat adel yang tertidur di ranjang.
Ia pun membiarkan nya, Lucas mengambil handuk dan pakaian ganti, ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lelah.
setelah beberapa menit Ia keluar dari kamar mandi, dengan rambut yang sedikit basah dan pakaian yang terlihat santai.
Dengan setelah baju tidur berwarna gelap, Ia berjalan menuju meja kerjanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
TOK... TOK...
Lucas menoleh, Ia pun segera membuka pintu kamar nya.
" Mama " ucapnya pelan.
" Makan malam sudah di siapkan, ajak istrimu turun " ucap nyonya risma, suara dingin seakan menyimpan rasa yang tidak bisa di jelaskan terhadap Lucas.
" Iya " jawabnya singkat.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.