NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.

Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Menukar Nyawa

Bagian tengah sekte masih hening.

Udara terasa berat, seolah semua orang menahan napas.

Pedang hijau itu masih berada di leher Wang Chen. Ujungnya diam, tidak bergetar sedikit pun. Jaraknya begitu dekat hingga kulit di leher Wang Chen sudah terasa dingin oleh aura bilahnya.

Wang Chen tidak berani bergerak.

Sedikit saja—

ia tahu apa yang akan terjadi.

Orang-orang di sekitarnya mulai menelan ludah. Beberapa mundur perlahan tanpa sadar, menjaga jarak dari dua sosok di tengah itu.

"Tunggu!"

Suara Tetua Sun memecah keheningan.

Nada suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat semua orang tersadar.

Yun Zhu menoleh sedikit.

Gerakannya tenang.

Namun pedangnya tidak bergeser sedikit pun.

"Kau, turunkan pedangmu!"

Perintah itu turun dengan tekanan.

Aura dari Tetua Sun ikut menguat, menekan dari atas.

Yun Zhu diam sejenak.

Tatapannya naik, menatap langsung ke arah Tetua Sun. Tidak ada rasa takut di sana.

Hanya dingin.

"Kenapa?" ucapnya.

Sederhana.

Namun nada suaranya membuat suasana semakin berat.

Tetua Jiang maju selangkah ke depan.

Jubahnya berkibar pelan saat ia bergerak.

"Kenapa apanya?!" suaranya meninggi. "Kau menindas murid yang lebih lemah!"

Yun Zhu tidak langsung menjawab.

Matanya kembali ke depan.

Menatap Wang Chen yang masih kaku di hadapannya.

Lalu—

"Dia juga menindasku. Lalu kenapa aku tidak boleh menindasnya?"

Kata-kata itu jatuh begitu saja.

Tanpa emosi.

Tanpa penekanan.

Namun justru karena itu—

terasa lebih berat.

Semua tetua terdiam.

Tidak ada yang langsung membalas.

Para murid di sekitar bahkan tidak berani berbisik. Mereka hanya bisa saling melirik, mencoba memastikan bahwa apa yang mereka lihat ini benar-benar nyata.

Yun Zhu.

Murid yang selama ini dianggap sampah.

Kini berdiri di sana.

Dengan kekuatan yang bahkan melampaui mereka.

Mata Tetua Sun menyipit.

Tatapannya semakin dalam.

Ia mengamati Yun Zhu dari atas ke bawah, mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi.

Di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar.

'Bocah ini, terakhir kali bertemu hanya Qi Refining tahap akhir. Bagaimana bisa tiba-tiba menerobos secepat ini," pikirnya.

Aura di tubuh Yun Zhu tidak goyah.

Stabil.

Bahkan terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja menerobos.

Itu bukan hal yang wajar.

Di bawah sana, Yun Zhu berdiri tanpa bergerak.

Tangannya masih menggenggam pedang.

Namun sikapnya tidak tegang.

Seolah seluruh situasi ini—

berada dalam kendalinya.

"Aku menginginkan tangannya."

Suara Yun Zhu jatuh datar.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.

Ujung pedang itu sedikit menekan ke kulit Wang Chen. Tidak sampai melukai, namun cukup membuat garis tipis kemerahan muncul.

Tubuh Wang Chen langsung gemetar hebat.

Kakinya melemas.

Dan tanpa ia sadari—

celananya mulai basah.

"Ka-kau, Senior lain tidak akan mengampunimu jika terjadi apa-apa padaku!"

Suaranya pecah. Nafasnya pendek-pendek, matanya bergerak liar mencari bantuan di sekitar.

Namun yang ia temukan hanyalah tatapan dingin Yun Zhu.

Tanpa simpati.

Tanpa ragu.

"Tidak perduli. Jika ingin bertarung maka lakukan saja!"

Begitu kalimat itu keluar—

udara berubah.

Tekanan berat tiba-tiba menimpa tubuh Wang Chen.

Seolah seluruh ruang di sekitarnya menekan ke arah dirinya.

Kakinya tidak mampu bertahan.

Bruk.

Ia jatuh berlutut ke tanah, kedua tangannya menahan tubuhnya yang gemetar.

"Ugh!"

Wajahnya memucat.

Nafasnya tercekat.

Yun Zhu hanya berdiri di depannya, sedikit menunduk, pedang masih diarahkan ke bawah, mengikuti posisi leher Wang Chen yang kini lebih rendah.

Di atas, Tetua Sun akhirnya bergerak.

Ia turun perlahan dari udara. Jubahnya berkibar ringan saat kakinya menyentuh tanah.

Langkahnya tenang.

Namun tekanannya terasa.

"Kau, aku akan memberimu sebuah teknik, tapi lepaskan dia."

Tangannya sedikit terangkat, seolah sudah siap mengeluarkan barang yang dimaksud.

Yun Zhu melirik sekilas.

Matanya menyapu tangan Tetua Sun, lalu kembali ke Wang Chen.

Diam sejenak.

Seolah menimbang.

"Tidak cukup. Tukar nyawanya dengan satu teknik dan satu senjata magis."

Kata-kata itu keluar tanpa ragu.

Beberapa murid di sekitar langsung menegang. Ada yang tanpa sadar mundur setengah langkah.

Tatapan mereka penuh ketidakpercayaan.

Ia... berani meminta lebih.

"Kau! Jangan tidak tahu malu!"

Tetua Meng melangkah maju, wajahnya sedikit memerah karena amarah. Lengan bajunya bergetar halus karena aliran Qi yang mulai naik.

Namun—

Yun Zhu tidak menoleh.

Seolah suara itu tidak berarti apa-apa baginya.

Di sisi lain, Tetua Ning tetap diam.

Ia berdiri dengan anggun, satu tangannya menyentuh ujung lengan bajunya yang berkibar pelan. Tatapannya tertuju pada Yun Zhu.

Tenang.

Lembut.

Namun terlalu dalam untuk ditebak.

Tetua Sun menarik napas pelan.

Matanya kembali menyipit.

Ia menatap Yun Zhu lebih lama kali ini.

Mencoba membaca.

Mencoba memastikan.

Lalu—

"Baiklah."

Keputusan itu keluar.

Tanpa ragu.

Ia mengangkat tangannya, cahaya samar berkedip.

Sebuah gulungan teknik muncul di telapak tangannya, diikuti oleh sebuah perisai berwarna abu yang memancarkan aura kokoh.

Ia melangkah satu langkah lebih dekat.

Tangannya maju.

Menyerahkan keduanya.

Yun Zhu tidak langsung mengambil.

Tatapannya sempat bertemu dengan mata Tetua Sun.

Hanya sesaat.

Lalu tangannya terangkat.

Ia menerima keduanya dengan tenang. Gulungan itu ia genggam, sementara perisai langsung ia masukkan ke cincin penyimpanan dengan kilatan cahaya singkat.

Begitu selesai—

pedangnya bergerak.

Menarik kembali.

Menjauh dari leher Wang Chen.

Tekanan di udara menghilang seketika.

Wang Chen terjatuh sepenuhnya ke tanah, terengah-engah, tangannya mencengkeram dada.

Namun—

tatapan Yun Zhu masih ada di sana.

Dingin.

Dalam.

Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

'Awas saja jika kau bertemu denganku di tempat yang sepi.'

Tanpa berkata apa-apa—

Yun Zhu berbalik.

Jubahnya berayun ringan mengikuti gerakan tubuhnya.

Kakinya sedikit menekan tanah—

lalu ia melesat.

Tubuhnya terangkat ke udara, melintasi bagian tengah sekte dengan kecepatan tinggi, meninggalkan hembusan angin yang membuat pakaian para murid berkibar.

Dalam beberapa detik—

ia menghilang dari pandangan.

Di bawah, suasana masih sunyi.

Tetua Sun menghela napas pelan. Tangannya turun perlahan ke samping tubuhnya.

Tetua Meng segera mendekat, langkahnya agak cepat, jelas masih menahan emosi.

"Kenapa kau menurutinya?! Dia benar-benar keterlaluan."

Alisnya berkerut, tangannya mengepal ringan di samping tubuhnya.

Tetua Sun menoleh.

Tatapannya lebih serius sekarang.

"Dari tingkahnya, kelihatannya ada orang yang melindunginya. Dan orang itu... lebih kuat dari kita."

Ucapan itu jatuh berat.

Tetua Meng terdiam.

Tetua Jiang yang berada di sampingnya juga ikut menegang. Keduanya saling melirik, jelas mencoba memahami kemungkinan itu.

Sementara itu, Tetua Ning akhirnya bergerak.

Ia melangkah pelan mendekat. Rambutnya bergoyang lembut tertiup angin, ujung jarinya menyapu ringan helai yang jatuh di bahunya.

"Bocah itu... orang yang menarik. Dia tau kapan harus bertindak, dan kapan harus mundur."

Suaranya lembut.

Namun jelas terdengar oleh mereka semua.

Tatapannya masih mengarah ke tempat Yun Zhu menghilang tadi.

"Kita hanya bisa berharap kalau ia tidak menganggap kita musuh."

Angin kembali berhembus.

Namun kali ini—

tidak ada yang merasa tenang.

1
Huo Ling'er
LANJUTTT~
Huo Ling'er
akhirnya dia naik golden coree🔥🔥🔥🔥🔥
Huo Ling'er
/Determined//Determined/
Fajar Fathur rizky
di tunggu bantai tuan muda Qin dan klan Qin juga thor
Cecilia: klan qin keluarga besar weh, mc blum ada dendam ma keluarga mereka, jdi ngapain
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang dengan cara paling kejam thor terutama wangchen bikin sekte itu ketakutan
Chen Xi
nextt~/Determined//Determined/
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Cantik, pingin lihat versi mominya/Doge/
Cecilia: eithhh
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, saking cantiknya sampai deskripsinya sepanjang ini😌
Cecilia: beda bangun kalau deskripsiin cwo🗿
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang dengan cara paling kejam termasuk wangchen
Cecilia: sip, sedang ditulis🔥🔥
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor istri mcnya berapa
Cecilia: dua yg paling disayangi, satu tianqiong, satunya udh muncul cuma blum interaksi. sisanya cuma tambahan aja
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
habis klan wang bantai juga klan Qin thor ambil sumber daya mereka
Huo Ling'er
upp
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
kayak milih suami aja🤣
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Saatnya memerah sapi, eh, keuntungan maksudnya /Pray//Doge/
Cecilia: yep, tpi lama sih
total 5 replies
Nadia Annazwa
/Determined//Determined//Determined/
Nadia Annazwa
alamakkk bahaya nihh
Chen Xi
nextt~
Fajar Fathur rizky
thor cepat naikin ranah kultivasi mcnya habis itu bantai klan wang
Cecilia: udh kutulis kok, tinggal up aja, nunggu waktunya
total 1 replies
Chen Xi
nexttt/Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!