NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 020

​Malam Minggu yang seharusnya menjadi momen kemenangan bagi Reygan, justru berubah menjadi neraka dingin di dalam kamar mewahnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah layar ponsel yang menampilkan grup chat sirkel lamanya. Di sana, teman-temannya masih mengirimkan candaan kasar tentang "proyek mobil baru", tapi bagi Reygan, setiap kata itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya.

Suasana kamarnya yang luas dan dipenuhi barang-barang branded mendadak terasa mencekik. Keheningan itu pecah ketika pintu kamarnya digebrak tanpa permisi.

​Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal berdiri di ambang pintu. Tatapannya tajam, sedingin es yang jauh lebih membekukan daripada tatapan Aksa. Itu adalah Dirgantara, ayahnya.

​"Papa dengar kamu dipermalukan di depan umum oleh anak Winata dan anak Erlangga itu?" Suara ayahnya berat, penuh kekecewaan yang tidak ditutup-tutupi.

​Reygan berdiri dengan kaku. "Itu cuma salah paham, Pa. Liana—"

​"Liana bukan masalahnya!" ayahnya memotong dengan keras. "Masalahnya adalah kamu kehilangan kendali atas Zivanna. Kamu tahu seberapa penting hubungan bisnis kita dengan Baskara Winata? Papa menjanjikanmu mobil itu bukan untuk main-main, tapi sebagai hadiah kalau kamu bisa memastikan investasi Winata tetap mengalir ke perusahaan kita lewat kedekatan kalian!"

​Reygan mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. "Jadi dari awal... Papa cuma peduli sama investasi itu? Bukan karena Papa mau aku dapet pasangan yang setara?"

​Dirgantara mendengus meremehkan. "Cinta itu omong kosong bagi orang seperti kita, Reygan. Kamu punya satu kesempatan lagi di hari Senin. Perbaiki semuanya, atau Papa akan mengirimmu ke sekolah asrama di luar negeri dan membatalkan semua fasilitasmu."

...BRAKK!...

​Pintu ditutup dengan bantingan keras, meninggalkan Reygan sendirian di tengah kemarahannya yang membara. Ia meraih sebuah vas bunga di atas nakas dan melemparnya ke arah cermin besar hingga hancur berkeping-keping.

...PRANG. ...

"Ziva..." bisiknya dengan suara gemetar. "Kenapa lo harus berubah? Kenapa lo nggak tetep jadi cewek bego yang selalu ada buat gue?"

Di Sisi Lain: Di Kediaman Winata

​Berbeda 180 derajat dengan Reygan, Ziva justru sedang menikmati malam Minggunya dengan sangat damai. Ia baru saja selesai mandi dan sekarang sedang rebahan di sofa ruang tengah, sementara Abang-nya sibuk mengupas mangga hasil panen dari pohon di belakang tadi sore.

​"Tumben lo nggak main HP, Ziv? Biasanya jempol lo udah kapalan balesin chat si Rey-Rey itu," goda Abi sambil menyodorkan sepotong mangga di ujung pisau.

​Ziva melahap mangga itu dengan santai. "Gue udah pensiun jadi admin fansclub Reygan, Bang. Sekarang gue menjabat sebagai ketua umum persatuan rebahan nasional."

​Abi tertawa. "Tapi serius, tadi teman abang yang lihat tadi sore si Aksa... dia beneran beda ya. Gue kira dia cuma patung pajangan sekolah, ternyata mainnya gila juga. Dan kata teman abang yang lihat, cara dia jagain lo pas si Reygan dateng..." Abian menggantung kalimatnya, melirik Ziva dengan tatapan penuh arti.

​"Kenapa? Lo mau bilang dia naksir gue?" Ziva memutar bola matanya. "Nggak mungkinlah. Cowok kayak Aksa mana mau sama cewek yang hobi tidurnya 18 jam sehari."

​"Yah, siapa tahu dia butuh bantal hidup," sahut Abi asal.

​Ponsel Ziva bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk.

...Ting!...

​[Liana]: Kak, maaf ganggu malam-malam. Tadi Reygan telepon aku lagi, dia nangis-nangis tapi suaranya kedengeran marah banget. Hati-hati ya Kak buat hari Senin nanti. Aku rasa dia bakal ngelakuin sesuatu yang nekat di sekolah.

​Ziva menatap pesan itu lama. Alih-alih merasa takut, ia justru merasa kasihan. Kasihan pada Zivanna yang asli yang pernah mencintai orang se-labil Reygan, dan kasihan pada Reygan yang tidak pernah tahu cara menghargai ketulusan hingga semuanya terlambat.

​Ziva mengetik balasan singkat.

​[Ziva]: Makasih infonya, Li. Lo juga tidur ya, jangan dipikirin. Dia cuma lagi tantrum karena mainannya ilang. See you on Monday.

​Pukul sebelas malam, saat Ziva sudah hampir terlelap, sebuah pesan terakhir muncul di layarnya.

[Aksa]: Udah tidur?

​Ziva mengerjap, rasa kantuknya menguap seketika.

[Ziva]: Hampir. Kenapa? Lo kangen martabak Bang Abi?

[Aksa]: Enggak. Cuma mau bilang, besok Senin jangan pake hoodie. Cuaca bakal panas.

​Ziva mengerutkan kening. Pesan macam apa ini? Tapi kemudian ia sadar, Aksa sedang mencoba memberitahunya dengan cara yang sangat halus untuk tidak menyembunyikan wajahnya lagi.

[Ziva]: Iya, Tiang Listrik. Paham. Selamat tidur.

[Aksa]: Hm. Selamat tidur, Ziva.

​Di kamarnya yang gelap, Ziva tersenyum kecil. Ia menarik selimutnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Sementara Ziva mulai terlelap dengan senyum tipis, suasana di kediaman Erlangga justru jauh dari kata sunyi. Rumah minimalis modern yang didominasi kaca dan pencahayaan temaram itu tampak tenang di luar, namun di ruang makan, sebuah "sidang" kecil baru saja dimulai.

Aksa baru saja turun ke dapur untuk mengambil air mineral dingin ketika langkahnya terhenti. Di meja makan, sang Mami—Saras Erlangga—sedang duduk cantik sambil menyesap teh kamomilnya, ditemani sebuah tablet yang menampilkan foto-foto base sekolah yang viral.

"Belum tidur, Aksa?" suara Mami Saras terdengar lembut, namun ada nada jahil yang sangat kental di sana.

"Baru mau, Mi," sahut Aksa datar, mencoba melewati meja makan secepat mungkin.

"Tunggu dulu," Mami Saras mengangkat tangannya, menghentikan langkah Aksa. Beliau memutar layar tabletnya ke arah sang putra. "Mami nggak tahu kalau lapangan basket komplek Winata itu lebih bagus daripada lapangan di rumah sendiri. Sampai anak Mami yang paling anti panas-panasan ini rela tanding di sana."

Aksa terdiam. Ia menatap foto dirinya yang sedang duduk di rumput di samping Ziva. Sudut matanya berkedut. *Kenan beneran butuh dikasih pelajaran besok,* batinnya.

"Cuma tanding, Mi. Abian yang ngajak," jawab Aksa singkat, mencoba tetap ekspresif layaknya robot.

"Oh, sama Abian ya? Tapi kok di foto ini matanya cuma liatin adiknya Abian? Namanya... Ziva, kan?" Mami Saras tersenyum penuh arti. Beliau meletakkan cangkir tehnya. "Zivanna Clarissa Winata. Dulu Mami inget dia itu anak yang... yah, agak 'ramai'. Tapi di foto ini, dia kelihatan tenang banget. Beda yang digosip sama orang-orang."

Aksa mengambil botol airnya, menegaknya perlahan untuk menghindari interogasi lebih lanjut.

"Mami denger dari teman-teman arisan, katanya Ziva sekarang berubah drastis. Nggak pernah pake riasan tebal lagi, malah denger-denger dia jadi juara kelas di jam Matematika kemarin," lanjut Saras, matanya berbinar. "Pantesan anak Mami yang biasanya 'dingin' ini mendadak jadi 'hangat' kalau ada di deket dia."

"Mami jangan dengerin gosip," Aksa menutup botolnya dengan bunyi klik yang mantap.

"Ini bukan gosip, Aksa. Ini insting Mami," Saras berdiri, berjalan mendekati putra semata wayangnya itu, lalu merapikan tatanan rambut Aksa yang sedikit berantakan.

"Tadi mami liat kamu senyum-senyum sendiri sambil pegang HP di balkon. Sejak kapan Aksa Erlangga peduli sama ramalan cuaca hari Senin?"

Aksa membeku. Ternyata Mami-nya benar-benar memperhatikan gerak-geriknya sampai ke urusan pesan singkat soal hoodie.

"Dia cuma... temen yang butuh sedikit 'pengingat'," gumam Aksa pelan, telinganya mendadak terasa sedikit panas.

"Pengingat ya? Oke," Saras menepuk bahu Aksa. "Tapi inget ya, kalau hari Senin nanti ada 'badai' di sekolah, pastiin kamu ada di sana buat jadi payungnya. Mami suka cara kamu jagain dia. Baskara itu orang baik, adiknya Abian pasti juga anak yang baik."

Aksa tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil sebagai tanda pamit dan segera naik ke kamarnya. Di dalam kamar, Aksa bersandar di balik pintu, membuang napas panjang yang tertahan sejak tadi.

Ia berjalan menuju meja sketsanya. Di sana, di samping pensil-pensil yang tertata rapi, terdapat buku catatan Biologi milik Ziva yang tertinggal di tasnya saat mereka di perpus tadi siang. Aksa membukanya, melihat tulisan tangan Ziva yang ringkas dan padat.

Ada satu halaman yang berisi coretan kecil Ziva di pojok kertas: sebuah gambar tiang listrik yang diberi wajah kaku. Di bawahnya tertulis: Tiang Listrik Sombong.

Aksa menarik sudut bibirnya. Ia mengambil pensil sketsanya, lalu di bawah tulisan itu, ia menambahkan coretan kecil dengan tangan yang sangat lihai: sebuah gambar bantal empuk yang diberi mahkota kecil.

"Senin ya..." bisiknya pada keheningan kamar.

...Skip. ...

Pagi harinya, suasana SMA Pelita Bangsa sudah terasa berat sejak gerbang dibuka. Berita tentang "Taruhan Reygan" yang dibongkar Liana di perpustakaan kemarin ternyata sudah bocor secara anonim di grup angkatan.

Reygan datang lebih awal. Ia berdiri di tengah lapangan saat jam apel pagi hampir dimulai. Wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan amarah yang putus asa. Ia membawa sebuah pengeras suara kecil milik ruang OSIS yang entah bagaimana bisa ia bawa keluar.

"PERHATIAN SEMUANYA!" suara Reygan menggema, membuat semua murid yang sedang berjalan menuju kelas berhenti mendadak.

Di parkiran, mobil Pak Jajang baru saja berhenti. Ziva turun, dan ia langsung disambut oleh tatapan ngeri dari Manda dan Tika yang berlari menghampirinya.

"Ziv! Jangan ke tengah lapangan! Si Reygan gila! Dia mau bikin pengumuman aneh soal lo!" teriak Manda panik.

Ziva berhenti sejenak. Ia tidak memakai hoodie. Ia mengenakan seragamnya dengan sangat rapi, rambutnya dikuncir kuda sempurna, memperlihatkan wajahnya yang tenang dan tegas.

"Biarkan aja, Man," sahut Ziva datar. "Gue pengen liat, seberapa rendah dia bisa jatuh demi sebuah mobil baru."

Baru saja Ziva hendak melangkah, sebuah motor sport hitam menderu masuk ke parkiran, membelah kerumunan murid dengan kecepatan yang membuat semua orang menyingkir. Aksa turun dari motornya tanpa melepas helm terlebih dahulu, seolah ia sudah tahu bahwa hari ini adalah hari di mana "payung" yang Mami-nya katakan semalam harus benar-benar dibuka.

Aksa melepas helm, menatap Ziva yang berdiri tak jauh darinya. Tanpa kata, ia berjalan mendekat, berdiri di samping Ziva dengan tangan di saku celana, siap menghadapi badai bersama-sama.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!