NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. PERTEMUAN TAK TERDUGA DIKOTA CINTA ( bag 2 )

Langkah Aslan terhenti beberapa meter dari tempat ia meninggalkan Alana dan neneknya. Ia berjalan mundur perlahan, seolah ada tali tak kasat mata yang menariknya kembali. Pikirannya berputar cepat, mencoba merangkai potongan-potongan suara yang baru saja ia dengar.

Tadi... saat wanita tua itu menenangkan cucunya, apa yang ia katakan?

"Alana, jangan marah-marah..."

Suara itu terdengar lagi di telinga Aslan, jelas dan tegas seolah baru saja diucapkan sedetik yang lalu. Mata Aslan membelalak, napasnya tertahan sejenak. Alana? Apakah ia mendengarnya dengan benar? Atau hanya imajinasinya saja yang bermain-main karena ia terlalu sering memikirkan nama itu belakangan ini?

Aslan menoleh cepat ke belakang, berharap bisa melihat mereka berdua lagi dan memastikan apa yang ia dengar. Namun, di antara kerumunan orang yang berjalan hilir mudik, sosok gadis bermata tajam dan wanita tua itu sudah tidak terlihat lagi. Mereka telah menghilang di balik deretan butik mewah, seolah-olah mereka hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kota Paris yang romantis ini.

Jantung Aslan berdegup kencang, kali ini bukan karena kaget, melainkan karena sebuah kesadaran yang tiba-tiba menyerang. Alana... Alana Hadinata? Gadis yang dijodohkan dengannya? Gadis yang seharusnya berada di Swiss untuk magang? Apakah mungkin gadis yang baru saja ia tabrak, gadis yang dimarahi oleh neneknya dengan sebutan "Alana", adalah orang yang sama?

Rasa penasaran yang membara bercampur dengan rasa tidak percaya membuat Aslan berdiri terpaku di tengah lorong pusat perbelanjaan itu. Ia ingin mengejarnya, ingin memastikan, tapi kerumunan orang sudah terlalu padat. Akhirnya, dengan pikiran yang kacau dan penuh tanda tanya, Aslan melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu, namun bayangan wajah gadis itu dan nama "Alana" terus menghantuinya.

 

Beberapa jam kemudian, di lantai teratas gedung pencakar langit Lenoir Group, Aslan duduk di ruang tunggu yang mewah di sebelah ruang kerja ayahnya. Ia seharusnya sedang memeriksa beberapa dokumen proyek yang diberikan oleh Marcell, namun matanya terus melayang, tidak fokus pada tulisan-tulisan di kertas itu.

Pikirannya terus-menerus kembali ke kejadian siang tadi. Ia teringat mata gadis itu yang indah namun tajam saat marah, teringat rambut hitamnya yang terurai lembut, dan teringat suara neneknya yang memanggil "Alana". Setiap kali nama itu terlintas di pikirannya, rasa penasaran Aslan semakin menjadi-jadi.

"Apakah mungkin dia benar-benar Alana?" gumam Aslan pelan, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. "Tapi bukankah dia seharusnya di Swiss? Kenapa dia bisa ada di Paris hari ini?"

Pintu ruang kerja Marcell terbuka, dan seorang sekretaris keluar sambil tersenyum ramah. "Tuan Aslan, Tuan Marcell mempersilakan Anda masuk."

Aslan menghela napas panjang, berusaha menyatukan pikirannya sejenak, lalu berdiri dan masuk ke dalam ruangan. Namun, selama pertemuan dengan ayahnya membahas rencana pembangunan kompleks perumahan baru, pikiran Aslan terus melayang kembali ke pusat perbelanjaan itu, ke wajah gadis yang ia tabrak, dan ke nama yang mungkin saja merupakan takdir yang sedang mencoba menyapa.

 

Malam harinya, kembali di apartemen utamanya Le Marais. rasa penasaran Aslan sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia duduk di depan meja kerjanya, ponselnya tergenggam erat di tangan. Dengan jari yang sedikit gemetar entah karena antisipasi atau kegembiraan, ia membuka kembali aplikasi media sosial dan mengetik nama yang sudah ia ketik sebelumnya. Alana Hadinata.

Akun yang sama dengan foto profil yang manis itu muncul lagi di layar. Namun, kali ini, Aslan tidak langsung menggulir ke bawah. Ia menatap foto profil itu dengan lekat-lekat, membandingkan wajah di layar dengan wajah gadis yang ia temui siang tadi.

Perlahan, Aslan menekan foto profil itu untuk memperbesarnya.

Waktu seakan berhenti. Napas Aslan tercekat di tenggorokan, dan ia merasa seolah-olah ada listrik yang menyambar tubuhnya. Mata itu... hidung itu... senyuman itu... Itu adalah wajah yang sama persis dengan wajah gadis yang baru saja ia tabrak di pusat perbelanjaan tadi siang! Meskipun di foto itu Alana tersenyum manis dan tidak sedang marah seperti saat di Paris, namun tidak ada keraguan sedikit pun di hati Aslan. Itu adalah dia! Gadis itu adalah Alana Hadinata!

"Ternyata benar..." bisik Aslan pelan, matanya terpaku pada layar ponsel. Ia merasa terpana, campuran antara kaget, lega, dan sesuatu yang lain yang ia belum bisa namakan. Jadi, gadis yang ia tabrak, gadis yang memarahinya dengan tatapan tajam itu, adalah calon istri yang dijodohkan orang tua mereka? Takdir benar-benar memiliki cara yang unik dan tak terduga untuk mempertemukan mereka.

Tanpa berpikir panjang, Aslan segera berdiri. Rasa penyesalan karena tidak menyapa lebih lama, karena tidak memastikan identitasnya saat itu, kini membanjirinya. Ia harus menemukannya lagi. Ia harus bicara dengannya. Ia harus menjelaskan, dan mungkin... ia ingin mengenal gadis itu lebih jauh, bukan lagi sebagai nama dalam perjodohan, tapi sebagai wanita yang nyata yang telah membuat jantungnya berdegup kencang hanya dengan satu tabrakan dan satu tatapan mata.

Aslan meraih jaketnya yang tergantung di belakang pintu, mengenakannya dengan tergesa-gesa. Ia tidak peduli bahwa malam sudah mulai larut, ia tidak rasa lelah ditubuhnya. pusat kota cukup dekat dengan apartemennya. Satu-satunya yang ada di pikirannya sekarang adalah kembali ke tempat itu, ke pusat perbelanjaan di dekat Place Vendome, berharap bisa menemukan Alana di sana lagi, berharap takdir akan memberikan mereka kesempatan kedua untuk bertemu, kali ini tanpa tabrakan dan tanpa kemarahan.

"Aku harus menemukannya," ucap Aslan tegas pada dirinya sendiri saat ia berlari menuruni tangga apartemennya. "Aku harus menemukannya, Alana."

Malam itu, di bawah langit Paris yang bertabur bintang, Aslan mengendarai mobilnya dengan cepat menuju pusat kota, hatinya penuh dengan harapan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Alana masih ada di sana, atau apakah ia sudah kembali ke Lyon atau bahkan ke Swiss. Tapi satu hal yang pasti: Aslan Noah de Lenoir tidak akan menyerah sebelum ia melihat wajah itu sekali lagi, dan kali ini, ia akan memastikan untuk tidak membiarkannya pergi begitu saja.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!