NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.

Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Yang Bicara

Minggu-minggu berikutnya berjalan seperti lagu yang diputar ulang—nyaman, familiar, tapi variasi kecil.

Andra dan Mei tidak pernah menyebutnya "pacaran." Tidak ada label, tidak ada pengakuan resmi hanya dua orang yang kini saling mencari di panti, chat setiap malam sampai salah satu tertidur, kadang—setelah hujan atau sebelum maghrib—duduk di bangku kayu tanpa perlu bicara banyak.

Tapi ada jarak yang masih ada tipis, hampir tak terlihat, — dinding kabut di pagi hari.

Mei tidak pernah mengajaknya ke rumahnya. Tidak pernah bicara tentang "orang rumah" lagi. Ketika Andra bertanya, "Akhir pekan mau kemana Mei ?" jawabnya selalu, "Di rumah, ada urusan."tidak pernah secara detail atau ajakan ke rumah.

Andra mencoba tidak memikirkannya, hubungan mereka masih baru. Mei pernah mengatakan dia punya "hal-hal yang rumit." Dan dia butuh waktu.

Tapi waktu berjalan begitu sakit dan rahasia— memang ada—terasa berat menghimpit.

Sabtu sore, Andra berdiri di depan gerbang kompleks perumahan tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia mendapatkan alamat secara tidak sengaja—sebuah pesan seharusnya untuk tukang ojek, tapi terkirim ke chat.

"Rumah Sakit Medika, Jl. Anggrek 12, kompleks Darmawangsa Residence."

Bukan rumah Mei tapi sesuatu dalam diri Andra berkata, ini dekat di lingkungannya.

Ia tidak berniat menyelidiki hanya... ingin tahu, mengerti dunia mana yang Mei tinggal ketika ia tidak di panti.

Kompleks perumahan besar, pagar tinggi, security ketat, mobil-mobil mahal berjejer di carport. Andra berjalan perlahan di trotoar luar, seperti pengamat tidak punya hak hidup untuk tinggal.

Tiba tiba matanya tercekat melihat gadis itu.

Mei—tapi bukan Mei yang ia kenal. Rambut diikat rapi, kemeja pastel, rok panjang hitam. Tas tangan branded Andra yakin harganya hampir setengah tahun gajinya. Ia berdiri di teras rumah besar, berbicara dengan seorang wanita paruh baya seperti yang ia lihat di panti.

Tapi kali ini, gadis berwajah innocent itu tidak tersenyum, wajahnya tegang, tangan di kepalkan samping tubuhnya. Sementara perempuan paruh baya ber-make tebal berbicara dengan gestur tajam, jarinya menunjuk-nunjuk, ibarat tukang parkir.

Mei yang biasanya tenang, tersenyum kecil di bangku kayu— kecil dan kalah.

Andra ingin masuk berdiri di sampingnya, tapi apa haknya ? Nanti malah dikira tukang siomay nyasar. Ia terdiam, seandainya bicara jujur "Ini teman saya, saya yang mengantar Mei pulang," apa saja yang bisa membuat bahu Mei tidak terlihat runtuh

Tapi...

Tapi ia tidak bergerak, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah seorang pria muda keluar—tinggi, rapi, setelan jas pas di tubuh atletisnya. Rambut disisir belakang dengan gel, tampan dengan cara mahal, terlatih, bukan seperti dirinya kadang minyak rambut pake air.

Pria itu menyapa wanita paruh baya dengan cium tangan. Lalu tersenyum ke arah Mei, seolah mengenal sejarah putri dinasti Ming.

Mei tidak tersenyum tapi tidak juga mundur.

Andra melihat dari kejauhan—terlalu jauh untuk mendengar, terlalu dekat untuk tidak melihat. Ia berbicara sambil menarik tangannya, tapi Mei menepis sopan masuk ke dalam mobil.

Dia pergi

Andra berdiri di trotoar dengan tangan kosong, penuh dengan pertanyaan tak terucap.

 

Malam itu, Mei chat seperti biasa.

[Mei: Mas sudah makan?]

Andra menatap layar. Ingin mengetik: Mas lihat kamu hari ini fi Darmawangsa dengan seorang pria itu. Siapa dia?

Tapi yang terkirim:

[Andra: Sudah, Mei ?]

[Mei: Baru saja diluar bersama... keluarga.]

Keluarga. Bukan "orang rumah." Bukan "teman." Tapi keluarga.

Andra menutup ponsel tidak membalas lagi, hatinya berkata tidak

--

Andra tetap ke panti karena itu sudah bagian hidupnya, dan gadis itu masih disana, duduk di bangku kayu, tersenyum ketika ia datang.

Tapi ada sesuatu yang berubah Andra tidak bisa namakan.

"Mas kurang tidur?" tanyanya suatu sore, menatap.

"Biasa, Mei kerjaan." Andra menatap jauh ke depan.

Gadis itu tidak percaya alisnya berkerut sedikit tapi ia tidak menekan hanya mengangguk, kembali ke bukunya.

Mereka duduk berdampingan,

"Mei," ia akhirnya berbicara, "Kamu pernah mengatakan ada hal- rumit yang kamu hadapi.

Gadis itu membeku, buku di tangannya tidak bergerak."Iya."

"Masih ada?"

Ia menutup buku perlahan seperti mencari waktu. "Mas, aku tidak bisa menceritakan semuanya sekarang, bukan Mei tidak percaya sama Mas, tapi karena situasi. Mas dan aku ku bisa saja berubah oleh keadaan tapi, aku belum siap."

"Berubah bagaimana?"

"Aku akan kehilangan semua ini," katanya rintih dengan mata berkaca kaca. "Panti, anak-anak yang aku sayang, mas."

" Mei..

" Mas ..suatu saat aku bisa saja di paksa meninggalkan semua ini. Dan aku tidak tahu cara melarikan diri dari semuanya."

'Pulang ke mana? Kabur dari apa? Siapa pria di mobil itu?bisiknya pelan dinding kaca, jarak tipis, dan pintu ditutup sebelum terbuka, "Aku tidak berharap itu, Mei."

Mei tersenyum penuh arti?"Terima kasih, Mas."

--

Malam itu, Andra tidak bisa tidur. Mei tidak mengirim pesan, dan ia juga tidak.

Ia berdiri di balkon kecil apartemennya, menatap kota tidak pernah tidur. Pikirannya melayang, di mana ia sekarang? Di rumah besar itu? Di dalam mobil bersama pria tampan ?

Ponsel bergetar Dari Rei.

"Dre, lu masih bangun?"

"Iya."

"Gue di kafe dekat kantor. Mau join? Ada yang mau gue ceritain."

Andra seharusnya menolak, tapi kesendirian membuatnya setuju.

Kafe sepi hanya Rei di sudut dua cangkir kopi dan ekspresi terlalu serius untuk wajah biasanya jenaka.

"Gue denger sesuatu," Ia memulai, tanpa basa-basi. "Tentang lu. Dan cewek yang lu deketin."

 "Apa?"

"Meisyah. Itu namanya, kan? gue udah kenal lama."

Andra tidak menjawab, tubuhnya menegang.

"Dre, gue nggak mau ikut campur urusan pribadi Lo, tapi... gue kenal keluarganya dari sohib. Mei itu anak orang kaya, anak konglomerat, keluarganya punya perusahaan besar, properti di mana-mana. Dan dia—" Ia berhenti, melihat reaksi Andra, "—dia dijodohin sama anak konglomerat lain. Pernikahan yang udah direncanain sejak mereka kecil."

Andra terhenyak, kepalanya pusing berkunang kunang, dunianya perlahan berhenti.

"Nama laki laki itu Fero, gue pernah lihat dia berjalan dengan Mei, ganteng, kaya, perfect. Keluarga akan merencanakan pernikahan mereka tahun depan."

Andra tercenung, tubuhnya menggigil, baru saja ia merasakan ketenangan dia sudah pergi, "Kenapa lu bilang ini ke gue?

"Karena gue lihat lu, Dre." Rei menatapnya lurus. " Akhir akhir ini Lu banyak berubah."

" Berubah apaan ? "

" Apa urusan lu ke panti ? Lu bukan pengurus, bukan pula volunteer terdaftar. Pasti ada seseorang yang membuat Lu jatuh hati."

" Anak anak."

" Lu bohong, Mei."

" Gue salah Rei ?"

" Jelas... Lu mencintai putri kerajaan sementara status Lu gak jelas, bukan pangeran, bukan pegawai istana, tapi pemuda tersesat dalam cinta yang salah."

" Setiap orang berhak punya hati."

"Tapi hati yang sepadan. Lu tahu perbedaannya kan ?"

Laki laki itu panik, " Tuhan menciptakan semua sama."

" Itu firman Tuhan, bukan kalimat manusia, tidak akan ada yang sama dan sesuai."

" Lu mengecilkan perjuangan gue, Rei."

" Sebelum terlambat, sebelum lu menangis meratapi.

"Gue harus pergi." Andra berdiri menggeser kursi,

" Mau kemana lu? "

" Gue harus bertemu dengan nya."

"Dre—"

" Gue perlu berpikir."

Udara malam Jakarta terasa sesak, penuh knalpot dan pertanyaan yang tidak terjawab.

Di trotoar, Andra berhenti mengeluarkan ponsel mengetik dengan jari gemetar.

[Andra: Mei. Kita perlu bicara.]

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!