NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Pertolongan di Gang Sempit

​. Motor butut itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kayu yang terlihat sangat tua dan tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja. Clarissa dengan susah payah menahan tubuh Genta yang semakin berat dan lemas agar tidak terjatuh dari boncengan.

​. "Genta, kita sudah sampai! Bangun, Genta!" Clarissa menepuk-nepuk pipi Genta yang mulai pucat pasi.

​. Pintu kayu yang sudah lapuk itu berderit terbuka. Seorang pria tua dengan sorban lusuh dan jenggot putih panjang keluar dari kegelapan rumah. Matanya yang tajam langsung tertuju pada luka di bahu Genta yang mengeluarkan aroma hangus dan amis secara bersamaan.

​. "Bawa dia masuk, Nona. Jangan banyak bicara, waktu kita tidak banyak," ucap pria tua itu dengan suara tenang namun berwibawa.

​. Clarissa, dibantu oleh pria tua itu, memapah Genta masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sebatang lilin. Genta dibaringkan di atas dipan bambu. Pria tua itu segera mengambil segelas air putih dan membacakan sesuatu yang terdengar seperti doa-doa kuno.

​. "Siapa Anda? Kenapa Anda mau menolong kami?" tanya Clarissa dengan nada curiga namun penuh harap.

​. Pria tua itu tidak menjawab. Dia mencelupkan kain bersih ke dalam air dan mengusapkannya ke bahu Genta. Anehnya, begitu kain itu menyentuh luka Genta, asap hitam tipis mengepul keluar disertai suara mendesis, seolah-olah ada api yang sedang dipadamkan.

​. Genta mengerang keras, tubuhnya mengejang sejenak sebelum akhirnya perlahan-lahan mulai tenang. Napasnya yang tadi pendek dan dingin, kini mulai terasa lebih stabil dan hangat.

​. "Namaku Abah Mansur. Genta adalah murid nakal yang sudah lama tidak pulang. Tenanglah Nona, racun dari tenaga dalam orang berjubah itu sudah mulai luntur," ucap pria tua itu akhirnya sambil memandang Clarissa.

​. Clarissa terduduk lemas di lantai kayu, merasa lega sekaligus bingung. Siapa sebenarnya Genta? Mengapa dia memiliki guru yang terlihat begitu misterius di tempat terpencil seperti ini?

​. Cahaya lilin yang temaram bergoyang-goyang tertiup angin yang masuk dari celah jendela kayu. Genta perlahan membuka matanya, mengerang pelan sambil memegangi bahunya yang sudah dibalut kain putih bersih. Aroma minyak kayu putih dan rempah-rempah memenuhi ruangan itu.

​. "Waduh... aku di surga ya? Kok bidadarinya mirip Mbak Bos yang galak?" gumam Genta lirih saat melihat wajah Clarissa yang sembab tepat di depan matanya.

​. Clarissa yang tadinya cemas langsung mencubit pelan lengan Genta yang tidak terluka. "Genta! Kamu masih bisa bercanda setelah hampir mati tadi! Syukurlah kamu sudah sadar."

​. Genta meringis kesakitan tapi wajahnya tampak jauh lebih segar. Dia mencoba duduk dan langsung terkejut melihat sosok pria tua yang duduk bersila di sudut ruangan sambil memutar tasbih kayu hitamnya.

​. "Abah Mansur? Jadi saya benar-benar dibawa ke sini?" Genta menunduk hormat, raut wajah konyolnya seketika hilang berganti dengan rasa sungkan yang sangat dalam.

​. Abah Mansur hanya tersenyum tipis. "Genta... sudah berapa kali Abah bilang, jangan pernah sombong dengan sarungmu itu. Kekuatan doa itu untuk melindungi, bukan untuk pamer atraksi salto yang akhirnya malah bikin kamu celaka sendiri."

​. Belum sempat Genta menjelaskan lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sangat berat di atas atap rumah kayu itu. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi sangat dingin. Lilin yang menerangi ruangan mendadak padam tanpa ada angin yang meniupnya.

​. "Mereka sudah datang, Abah!" bisik Genta sambil menahan perih di bahunya. Dia segera meraih sarung kotak-kotaknya dan melilitkannya kembali ke pinggang dengan sangat kencang.

​. Abah Mansur tetap duduk bersila dengan tenang. Tasbih di tangannya berputar lebih cepat.

"Genta, jaga Nona ini di belakangku. Jangan biarkan satu bayangan pun menyentuhnya."

​. BRAAAKKK!

​. Pintu depan rumah hancur berkeping-keping. Dua orang berjubah hitam dengan mata yang menyala kemerahan masuk ke dalam ruangan. Di tangan mereka, kepulan asap hitam berbau belerang mulai terkumpul, siap dilepaskan sebagai serangan mematikan.

​. "Abah Mansur... sudah lama Anda bersembunyi di balik doa-doa itu. Serahkan Genta dan Nona ini, atau rumah tua ini akan menjadi kuburan kalian semua!" teriak salah satu orang berjubah itu dengan suara serak yang mengerikan.

​. Genta berdiri di depan Clarissa, melindungi wanita itu dengan tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. "Langkahilah dulu sarung saya ini, Mbah! Kalau berani, lawan saya satu lawan satu, jangan main keroyokan!"

​. Clarissa mencengkeram baju Genta dengan tangan gemetar. "Genta, kamu masih terluka! Jangan nekat!"

​. Abah Mansur berdiri perlahan, membuang nafas panjang. Dia menghentakkan tasbih kayunya ke lantai, dan seketika sebuah lingkaran cahaya putih muncul melindungi lantai ruangan itu. "Di rumah ini, kegelapan tidak punya tempat. Genta, gunakan jurus pemungkas yang Abah ajarkan waktu kamu masih kecil!"

​. Genta mengangguk mantap. Dia memegang ujung sarungnya, lalu memutarnya perlahan namun menghasilkan suara seperti deru angin puyuh. "Siap, Abah! Jurus Putaran Sarung Jagad! Rasakan ini, orang-orang sombong!"

​. Duel maut di dalam rumah kayu tua itu pun pecah. Genta harus bertarung dalam kondisi terluka demi melindungi Clarissa dan kehormatan gurunya. Sanggupkah Genta menahan serangan dua orang sakti itu sekaligus?

​. Clarissa yang bingung akhirnya memberanikan diri bertanya. "Abah, sebenarnya siapa Genta ini? Kenapa dia punya sarung yang bisa menahan cahaya merah tadi? Dan siapa orang-orang berjubah itu?"

​. Abah Mansur menghela napas panjang. Dia memandang sarung kotak-kotak Genta yang tergeletak di samping dipan. "Genta ini keturunan terakhir dari penjaga gerbang lama di perbatasan ini, Nona. Sarung itu bukan sarung biasa, tapi amanah untuk melindungi mereka yang tidak bersalah dari gangguan 'tangan hitam' yang ingin menguasai Sidoarjo."

​. Genta terdiam, dia teringat pesan ayahnya sebelum meninggal. Ternyata tugasnya menjaga Clarissa bukan sekadar pekerjaan bodyguard biasa, melainkan takdir yang sudah tertulis di kain sarungnya.

​. "Mbak Bos, maaf ya kalau selama ini saya cuma bilang saya ini preman sengklek. Sebenarnya... pekerjaan saya memang jauh lebih berbahaya dari sekadar dorong motor butut," ucap Genta sambil menatap Clarissa dengan pandangan yang sangat jujur.

​. Dua orang berjubah itu menerjang maju secara bersamaan. Tangan mereka yang mengeluarkan asap hitam mencoba mencengkeram leher Genta. Namun, Genta tidak gentar sedikit pun. Dengan satu tarikan napas panjang, dia memutar sarungnya membentuk lingkaran sempurna di atas kepala.

​. Wuuuussshhhh!

​. Angin yang dihasilkan oleh putaran sarung Genta bukan angin biasa. Ada aura hangat yang keluar dari kain kotak-kotak itu, perlahan-lahan menetralkan asap hitam milik musuh. "Jurus Putaran Sarung Jagad, Sikat!" teriak Genta sambil menghentakkan ujung sarungnya ke lantai.

​. BUMMM!

​. Getaran hebat terjadi di dalam ruangan kecil itu. Dua orang berjubah terlempar ke arah pintu yang hancur, menabrak pohon kamboja di halaman rumah dengan keras. Mereka mengerang kesakitan, seolah baru saja dihantam oleh ribuan ton air suci.

​. "Sial! Genta Arjuna ternyata sudah mewarisi ilmu Abah Mansur sepenuhnya!" seru salah satu dari mereka sambil memuntahkan cairan hitam dari mulutnya. Tanpa menunggu lama, mereka segera menghilang di balik kabut malam yang pekat, takut akan serangan susulan dari Abah Mansur.

​. Genta langsung ambruk bersandar di dipan bambu, napasnya tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran di dahinya. "Mbak Bos... gajiku harus naik dua kali lipat ya... musuh kali ini benar-benar bikin sarung kesayangan saya ini hampir robek."

​. Clarissa langsung memegang tangan Genta, matanya berkaca-kaca melihat perjuangan bodyguard konyolnya itu. "Genta, jangan pikirkan gaji dulu! Kamu hebat... benar-benar hebat."

​. Abah Mansur mendekat, meletakkan tangannya di atas kepala Genta. "Kamu sudah melakukannya dengan baik, Muridku. Tapi ingat, mereka tidak akan berhenti di sini. Tangan Hitam sudah tahu tempat ini. Besok sebelum matahari terbit, kalian harus pergi ke arah Jembatan Merah di Surabaya."

​. Clarissa menoleh ke arah Abah Mansur. "Ke Surabaya? Tapi kenapa ke sana, Abah?"

​. "Karena di sana, jawaban atas siapa dalang di balik semua ini akan terungkap. Pergilah, Genta. Lindungi Nona ini dengan nyawamu dan sarungmu itu," pesan Abah Mansur dengan nada yang sangat serius.

​. Malam semakin larut, namun Genta tahu bahwa istirahatnya tidak akan lama. Perjalanan panjang menuju Surabaya baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih besar sudah menunggu mereka di Kota Pahlawan.

​. . Terima kasih Gusti Allah, Bab 29 telah selesai hamba tuliskan. Semoga setiap kata di dalamnya membawa manfaat dan kebahagiaan bagi para pembaca. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dijauhkan dari segala kesulitan, dan dipertemukan kembali di bab selanjutnya dalam keadaan sehat walafiat. Amin.

​. Iki lur, pungkasan Bab 29 sing nggarai panas dadi siji! Genta mbek Mbak Bos kudu budhal nang Surabaya! Ojo lali Like, Komen, mbek Share terus yo rek, ben Genta kuat ngelawan musuh nang Jembatan Merah!

​. BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!