Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11.
"Ha ha ha ha haaa... !! sekali dapat cucu, aku langsung mendapat empat cucu! ha ha ha ha ha... !!"
Charlotte tertawa dengan kencang karena begitu senang.
Jack yang terkejut, tidak kalah lebih senang mendengar apa yang dikatakan Esther.
Ia telah di diagnosis mengalami kemandulan, sejak kecelakaan mobil di usia enam belas tahun.
Tidak ia sangka, ternyata benihnya yang lemah dapat membuahi rahim Esther, bukan hanya satu bayi, tapi empat bayi kembar.
Jack meraih tubuh Esther, dan membawanya masuk ke dalam dekapannya dengan erat.
Ia tersenyum senang, "Terimakasih, kamu telah memberiku sekaligus empat bayi!" ucapnya dengan nada yang gembira.
"Cepat! bawa kemari hadiah untuk menantuku, cepat!!" Charlotte menyuruh Butler untuk segera membawa hadiah.
"Cepat! bawa kemari semuanya!!" perintah Ethan, ikut heboh juga memerintah Butler membawa hadiah yang sudah mereka siapkan.
Esther yang masih berada dalam pelukan Jack, merasa semakin canggung dengan keadaan, yang ia dapatkan diluar perkiraannya.
Biasanya ia mendapat perlakuan tidak baik dari siapa saja, sejak kedua orang tuanya meninggal.
Ia merasa tidak percaya melihat keluarga kaya, yang seharusnya jijik dengan gadis desa sepertinya, ternyata begitu ramah dan sangat perhatian padanya.
Lima pengasuh wanita datang membawa kotak hadiah di atas nampan kayu, dan berbaris rapi memegang hadiah yang mereka bawa.
"Lihat, ini untukmu! empat batang emas, dua puluh empat karat, seberat dua kilogram semuanya!!" kata Charlotte tersenyum ramah.
Ia memperlihatkan satu kotak hadiah, dengan bangga pada salah satu, yang dipegang pengasuh kepada Esther.
"Ini!" Charlotte menunjuk hadiah yang kedua, "Akta vila di pinggir kota, tempat yang sangat strategis untuk berlibur, senilai seratus miliar!!"
Mata Esther berkedip melihat dua hadiah yang diberikan Nenek bayi-bayinya padanya.
"Ini!" Charlotte menunjuk hadiah yang ketiga, "Kunci mobil edisi terbatas, mobil senilai tiga ratus miliar!!"
"Hah?!" mata Esther kembali berkedip.
Ia tidak menyangka menjadi ibu muda terkaya dalam sekejap, karena mengandung bayi pria konglomerat.
"Ini!" Charlotte menunjuk hadiah yang keempat, "Sekotak perhiasan, senilai dua ratus miliar!!"
"Dan, yang ini!" Charlotte menunjuk hadiah kelima, "Kartu hitam tanpa batas, kamu bisa menggunakannya untuk membeli apa pun yang kamu inginkan!!"
"Iya-iya! betul!!" Ethan mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan apa kata istrinya.
"Cepat! bawa mendekat satu persatu hadiahnya, agar dilihat menantuku!!"
Charlotte menggerakkan tangannya, memberi kode kepada para pengasuh yang membawa hadiah tersebut.
Mereka satu persatu mendekat pada Esther, agar Esther dapat melihat hadiah-hadiah tersebut.
"Letakkan di meja itu semuanya!!" perintah Charlotte, setelah Esther melihat satu persatu hadiah, yang membuat Esther tidak dapat berkata-kata.
"Bagaimana? apakah kamu suka hadiahnya? atau mau hadiah lainnya?" tanya Jack melihat Esther diam saja.
"A.. apa itu tidak kemahalan? sepertinya aku tidak pantas mendapatkan hadiah itu!" jawab Esther.
"Itu tidak mahal! kamu berhak mendapatkannya, karena sudah memberi cucu kepada orang tuaku! hadiah itu ucapan terimakasih mereka padamu, karena kamu telah menjaga dengan baik bayi-bayi kita!"
Jack dengan lembut menjelaskan kepada Esther, kalau hadiah itu sepadan dengan garis keturunan yang diberikan Esther padanya.
"Tuan, Dokter sudah datang!!" terdengar suara Butler.
"Cepat! bawa kemari!!" Charlotte bergegas menyambut Dokter pribadi keluarga Sebastian tersebut.
Charlotte menarik tangan Dokter, hingga Dokter nyaris tersandung di tarik Charlotte dengan cepat ke tepi tempat tidur.
"Dokter! cepat periksa keadaan menantuku!!" katanya dengan nada cemas.
Menantu? bukankah penciuman Tuan muda Jack sensitif, dan juga mandul? bagaimana mungkin dia bisa dekat dengan wanita? bisik Dokter tidak percaya, melirik Esther diam-diam.
Eh! Nona ini kelihatannya muda sekali! apakah Tuan muda Jack, suka dengan wanita muda? bisik Dokter itu lagi, terkejut melihat paras wajah Esther.
Ia menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya, karena tidak berani untuk menanyakannya kepada Jack.
"Bagaimana, Dok?!" tanya Charlotte tidak sabaran.
Hah?! Nona ini sedang hamil?! kembali Dokter itu terkejut, setelah memeriksa Esther.
Semua mata memandang kearahnya, untuk mendengar hasil pemeriksaannya.
"Menantu Nyonya baik-baik saja! fisiknya sangat sehat, dan juga janin dalam perutnya sehat, tidak mengalami sesuatu!" jawab Dokter.
Semua bernafas dengan lega begitu mendengar jawaban Dokter.
Mereka sempat sangat khawatir dengan kondisi Esther, yang sempat mereka cemaskan.
"Terimakasih, Dok!" jawab Jack tersenyum lega, "Butler, antar Dokter!"
"Baik, Tuan!" jawab Butler Li, "Silahkan, Dok!"
Begitu Dokter pergi, Charlotte menarik tangan suaminya untuk keluar dari dalam kamar Jack.
"Ayo, kita pergi! biarkan menantu kita beristirahat!"
"Oh, iya! benar!" Ethan mendengarkan istrinya, lalu membiarkan saja tangannya ditarik Charlotte meninggalkan kamar Jack.
Tinggallah Jack dan Esther di dalam kamar.
Jack membenarkan letak bantal, agar Esther dapat duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Minumlah!" Jack memberikan gelas susu kepada Esther.
"Terimakasih!" ucap Esther menerima gelas dari tangan Jack.
Jack tersenyum melihat cara Esther menghabiskan susu dalam gelas tersebut, sepertinya Esther sangat kehausan sekali, sampai susu itu habis diminum Esther.
Sementara Esther merasa sangat terharu sekali, baru kali ini merasakan minum susu hangat.
"Butler!!" panggil Jack.
Pintu kamar terbuka, "Iya, Tuan!" jawab Butler.
"Ambilkan lagi susu hangat satu gelas!"
"Baik, Tuan!"
Pintu kamar kembali tertutup.
Jack mengambil roti isi yang dipesannya tadi, dan memberinya pada Esther.
Dengan ragu tangan Esther meraih roti isi itu, dan menggigitnya perlahan.
Kembali ia merasa sangat terharu, dan tanpa sadar ia menangis.
Roti isi itu sangat lezat sekali.
Sejak ia tinggal dengan Bibinya, ia tidak pernah makan teratur, dan mencicipi makanan selezat roti isi tersebut.
"Kenapa? apakah ada yang sakit?" tanya Jack terkejut melihat Esther yang menangis.
Esther menggelengkan kepalanya, dan terus saja mengunyah roti isinya.
Akhirnya Jack menyadari, kenapa Esther bisa menangis mencicipi roti isi buatan Koki Mansion Sebastian.
"Apakah mereka tidak pernah memberimu makan?!" tanya Jack.
Jack seketika geram tanpa perlu mendengar jawaban Esther.
Ia mengelus kepala Esther, "Sekarang kamu sudah tidak lagi dikeluarga jahat itu! mulai sekarang kamu hanya perlu merawat bayi-bayi kita!"
"Baik, setelah aku melahirkan bayi anda, apakah Tuan mau menolongku?"
"Tentu saja! apa yang kamu inginkan, yang harus kulakukan?" tanya Jack lembut.
"Aku ingin meninggalkan ibukota, agar tidak pernah bertemu lagi dengan keluarga Bibiku!" jawab Esther dengan tatapan penuh harapan.
Raut wajah Jack seketika dingin mendengar jawaban Esther, yang sama sekali diluar pemikirannya.
Melihat Jack yang terdiam, Esther merasa cemas, karena Jack sepertinya tidak ingin menolongnya.
"Tuan!" panggil Esther.
"Apakah kamu begitu ingin sekali pergi?!" tanya Jack dengan nada yang terdengar dingin.
"Aku ingin menjauh dari keluarga Bibiku, aku tidak ingin mereka mengurung ku kembali, dan menjual ku pada Tuan yang telah memiliki dua istri itu!" jawab Esther dengan nada yang begitu cemas.
Tangan Jack terkepal dengan erat mendengar jawaban Esther.
Bersambung.........
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭