Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Menikah Dengan Marsel
"Mama, apa maksud dari perkataan mereka?"
Riko beralih meminta penjelasan pada Carla, mamanya yang juga hadir di sana.
"Sayang, sebaiknya pernikahan ini kita batalkan saja. Masih banyak perempuan lain yang masih mau menikah dengan mu."
Jawaban Carla di luar ekspektasi semua orang, apalagi keluarga Rayya yang terlihat tidak senang setelah mendengar perkataan tersebut.
"Nyonya Carla, jangan sembarangan mengambil keputusan. Punya hak apa kalian mempermalukan keluarga kami!"
Rio yang marah ikut berbicara menanggapi Carla.
Jika tidak ingin menikah, mengapa tidak mengatakan hal tersebut dari awal.
"Pah."
Sella menahan lengan Rio yang hendak mendekati wanita baya tersebut (Carla). Sella menggeleng meminta suaminya agar tenang dalam menghadapi situasi sekarang.
"Ma, sebenarnya ada apa?"
Mara selaku papa Riko juga bertanya pada sang istri, mengapa Alex seperti mengatakan ada sesuatu yang sebenarnya Carla istri nya sembunyikan.
"Mama tidak setuju dengan pernikahan ini," kata Carla.
"Ma! Mama kenapa sih. Jangan mengatakan hal tersebut. Bukannya mama sudah lama merestui kami, kenapa sekarang tidak setuju."
Riko tidak terima dengan perkataan Carla. Kenapa tiba-tiba Carla berbicara seperti ini.
"Tante, hari ini kami akan menikah. Tidak kah Tante melihat semua yang sudah kita atur dari jauh hari? Ya aku tahu salah meminta waktunya di percepat. Tapi mengapa setelah semuanya tinggal bagian terakhir tante malah seperti ini."
Rayya mencintai Riko, Ia berharap Carla menarik kembali kata-katanya barusan.
"Kami saling mencintai, Tante. Tinggal langkah terakhir untuk mewujudkan cinta kami. Kenapa Tante ing_"
DOR!
suara tembakan yang Marsel keluarkan menghentikan perkataan Rayya, Ia menembak jendela membuat kacanya hancur berkeping-keping.
Para keluarga yang awalnya hadir untuk menyaksikan pernikahan malah ketakutan dan berhamburan pergi dari acara itu saat nyawa mereka merasa terancam karena rupanya ada yang menembak di sana. Mereka semua pergi untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Setelah para tamu undangan pergi, tinggallah para anggota keluarga yang masih ada di sana, mereka melihat ke arah Marsel.
Pria dingin itu tampak menusuk Riko dengan tatapan nya karena tidak suka kata-kata Rayya yang mengaku cinta pada bedebah itu.
Rayya hanya miliknya dan tidak boleh mencintai pria lain, apalagi terang-terangan berucap seperti tadi.
"Alex, kenapa mereka hanya bertele-tele!"
Marah Marsel pada bawahannya Alex, bukan kah dari tadi ia memerintahkan agar Alex segera bertindak, kenapa malah membiarkan Carla berlama-lama.
"Maaf Tuan."
Alex mengaku salah karena ia mengira Carla akan langsung mengatakan semuanya. Seperti nya wanita itu tidak mau mengakui apa yang sudah dirinya sepakati dengan Marsel.
"Nona Rayya, anda hanya bisa menikah dengan Bos Marsel karena Carla sudah mengambil semua harga yang harus Bos bayar," kata Alex pada Rayya.
"Tidak mungkin! Ma, apa maksudnya ini?"
Riko bertanya pada Carla meminta penjelasan.
"Sayang, Kamu tidak usah melanjutkan pernikahan ini. Mama_"
DOR!
Seketika Carla terdiam dan pucat pasi saat peluru meleset tepat di atas kepalanya. Marsel tidak suka dengan Carla yang terus saja mengulur waktu.
"Apa kau tidak sayang lagi dengan nyawa rendahan mu itu?!" kata-kata dingin Marsel membuat Carla merinding. Ia menggeleng cepat dengan badan bergetar, entah punya nyawa berapa diri nya berani mencoba bermain-main dengan Marsel.
"Ampun.... Sa_ saya bicara, saya akan bicara."
Carla langsung berlutut dan memohon dengan rasa takut yang terlihat jelas di wajah nya, bicara nya sampai tergagap.
"Cepat!" gertak Alex.
Carla segera berbalik ke arah anaknya Riko.
"Kemarin Mama sudah mengambil uang dari Tuan Alex, dengan syarat Rayya tidak akan menikah dengan Riko dan harus menikah dengan Marsel."
Bugh!
"Pah!"
"Mah!" teriak Sella dan Rayya secara bersamaan, di ikuti Mara, Riko, serta kakak perempuan Riko.
Baru saja Carla ingin melanjutkan perkataannya, Rio sudah menendang wanita tidak tahu malu itu sampai tersungkur ke lantai.
"Siapa yang memberi anda perintah untuk melakukan itu, hah?!"
Rio ingin kembali menghajar wanita itu, tidak peduli dia perempuan atau laki-laki. Rayya adalah putri nya, siapa Carla sampai berani menjual putri nya, apalagi pada Marsel.
"Om, hentikan om. Jangan pukul Mama saya lagi."
Riko yang melihat pergerakan Rio segera mencegah, kini amarah Rio beralih pada Riko yang rupanya membela perbuatan Carla.
"Rayya adalah putri ku. Rupanya kau juga memang ingin melukai putri ku. Pernikahan ini batal! Jangan coba mendekati Rayya lagi!"
Rio berapi-api, rupanya ia hampir membawa Rayya ke dalam neraka jika menikahkan anaknya dengan Riko.
"Aku tidak tahu masalah ini, Om. Rayya dan aku saling cinta, jangan seperti ini," pinta Riko.
"Kalau begitu jangan mempersulit Rayya dengan masalah kalian."
Untung lah Sella segera menenangkan suaminya sehingga suara pria itu bisa sedikit di kondisikan.
Kini Rayya bahkan sudah ia bawa menjauh dari Riko.
"Oke. Kami akan kembalikan uangnya."
Riko beralih melihat Clara.
"Ma, cepat kembalikan uang yang Mama ambil," kata Riko pada Carla.
Wanita itu hanya menggeleng pelan dan berkata.
"Uangnya sudah habis,"
Mereka terkejut, Mara sang suami juga geram dengan perbuatan istri nya itu.
Tubuh Riko serasa tak bertulang mendengar ucapan Carla itu. Dengan bibir bergetar Ia kembali bertanya pada Carla Mamanya.
"Berapa, Ma? Kita ganti sekarang," kata Riko berusaha tenang di tengah keterkejutan nya yang teramat kaget dengan keadaan sekarang.
Riko takut karena ini Rayya malah enggan untuk bersama nya lagi, apalagi Rio sudah terang-terangan membatalkan pernikahan mereka yang hampir selesai.
"Lima miliar," semua orang kaget dengan jumlah yang telah Carla ambil, apalagi kata nya uang sebanyak itu telah habis dalam waktu sehari.
Seketika Riko tersungkur ke bawah dengan air mata yang ikut jatuh.
"Ma.... Tega-teganya Mama melakukan ini padaku. Kenapa, Ma?" tanya Riko tak berdaya.
Carla tidak menjawab dan hanya tertunduk atas kesalahannya. Mereka tidak punya uang sebanyak itu untuk mengembalikan uang yang sudah Carla ambil.
Terlihat Alex mengangkat pergelangan tangannya dan melihat waktu di sana.
"Sudah lebih dari sehari, jumlah nya sudah menjadi dua kali lipat," katanya sesuai dengan kesepakatan yang sudah Clara tanda tangani kemarin.
Riko frustasi dengan keadaan ini, sedangkan Rayya dari tadi hanya diam termenung. Ia menyesal mengapa mencintai Riko. Walau Ia melihat kesungguhan cinta pria itu, tapi Rayya juga tidak menyangka Carla tega melakukan ini padanya.
Melihat Riko yang tidak berdaya, ingin sekali Rayya memeluk dan menenangkan pria itu, tapi karena Carla yang ternyata sekeji itu padanya, Rayya terasa berat untuk melakukan nya.
"Tante, mengapa aku kau jual?" cicitnya pelan dengan wajah sedih namun tidak tahu harus melakukan apa.
"Kami tidak mau tahu, kalian harus melepaskan putri ku dari perbuatan yang sudah Bu Carla lakukan," kata Rio pada mereka.
"Tapi kami tidak punya uang sebanyak itu. Mah, sebenarnya mama bawa kemana uang sebanyak itu?"
Mara kembali bersuara.
"Mama kalah taruhan, uang nya sudah habis. Biarkan saja Rayya menikah dengan Tuan Marsel, toh tidak rugi juga mereka. Mau di bayar pun nggak bakal bisa."
Plak!
Mara tidak tahan dengan kata-kata Carla, tangan nya melayang memberikan tamparan pada istrinya. Jika begitu, bukan kah mereka tetap harus mengembalikan uang yang sudah Carla ambil?
"Kalian harus bayar, biar polisi yang memaksa kalian untuk bayar, jangan bawa-bawa keluarga kami."
Indah yang tadinya diam akhirnya bertindak, bahkan ia menelpon polisi untuk membawa keluarga Riko.
Keluarga Riko pun di seret pergi oleh petugas, tapi ternyata Marsel masih tetap ada di sana, matanya tidak lepas menatap Rayya yang masih terlihat sedih dalam dekapan Sella. Marsel tersenyum tipis melihat kemenangan nya dan berjalan mendekati Rayya.
"Rayyaku, ayo kita pergi."
Marsel mengulurkan tangan agar Rayya meraihnya.