Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pencarian Rey..
Petir menggelegar, saling bertaut-tautan. Angin kencang membawa rintik hujan, berubah menjadi deras. Terpaan air hujan membuat beberapa orang yang ingin masuk ke dalam lobi apartemen berusaha untuk menghindar, termasuk diantaranya Rey.
Setelah berhasil melewati metal detektor, Reyhan bergegas mendekati seorang sekuriti perempuan yang berjaga di dekat pintu lobi.
"Permisi! Apa tahu dimana rumah makan khas Jawa Barat disekitar sini?" sapa Rey dengan sopan.
"Rumah makan? Setahu saya tidak ada di komplek apartemen ini, Pak. Barangkali bapak salah masuk apartemen. Disini itu ada apartemen Mutiara Citra dan Mutiara Garden. Bentuknya memang sama persis. Di sebelah itu Mutiara Garden, kalau yang disini, Mutiara Citra, Pak!"
"Betul kok alamat saya ini! Letaknya memang disini! Aduh maaf, maksud saya itu.. Ruko adanya di sebelah mana?"
"Bapak cari ruko? Kalau ruko itu adanya di belakang gedung ini. Sini saya kasih tau..," lewat jemari tangannya dia beri isyarat, "Bapak keluar dulu. Terus ambil ke arah kanan, dan disana ada trotoar. Ikuti saja terus! Pokoknya ruko itu adanya di belakang yah, Pak!" Reyhan membawa langkahnya menuju pintu keluar lobi.
Hujan lebat masih tetap tak berhenti. Sesampainya di badan jalan, Rey susuri jalanan yang berbahan dasar bata blok itu dengan penuh kewaspadaan. Pemandangan saat itu lengang. Pohon palem berbaris lurus dengan rapih. Baru beberapa meter berjalan, dia temukan gedung apartemen Mutiara Garden yang sangat mirip, baik bentuk unit maupun warnanya. Sejak itu Rey terpanah dengan sebuah kamera CCTV yang terpasang di tiap sudut balkon.
"Ada kamera? Berarti..," refleks Rey keluar jalur trotoar, mendongak, menatap tiap unit searah turunnya hujan, "Loh! Kenapa yang disini gak di pasang juga? Febri harus tahu ini!" tandasnya penuh antusias.
Tanpa berhenti terlalu lama, Rey kembali melangkah sesuai tujuan semula. Bajunya basah kuyup tertimpa derasnya hujan. Tak lama kemudian, dari arah berlawanan seorang karyawan apartemen dalam keadaan setengah berlari, berpapasan dengannya. Sepasang tangan menggenggam sapu serta tempat sampah yang berukuran tak terlalu besar.
"Permisi! Tahu dimana ruko ibu Nurhayati? Rumah makan masakan khas Jawa Barat?"
"Siapa Nurhayati? Oo.. Si Mbak Nur? Itu mah kagak jauh lagi. Noh di depan sono! Ruko nomor empat ye! Tapi kayaknya, dia itu udah pindah tuh. Coba aje kesana!" jawabnya ceplas-ceplos dengan kental logat Betawi.
"Pindah? Saya coba cek dulu deh. Terimakasih yah, Mas!" balas Rey, sambil terus tetap berjalan.
Tak jauh dari tempat bertanya, barisan ruko sudah berdiri kokoh dihadapannya. Rey mulai berhitung, sesuai nomor yang diberikan. Sebelum sampai pada nomor itu, nampak keberadaan tiga orang lelaki berotot, sibuk memindahkan sejumlah barang dari dalam ruko masuk ke dalam sebuah mini truk. Gerakannya gesit dan lincah.
"Pak, tahu di mana ruko ibu Nurhayati? Bisa saya bertemu dengannya?"
"Ini rukonya, Pak! Orangnya sudah pindah. Kira-kira seminggu yang lalu!" sambar seorang diantara mereka.
"Pindah kemana, Pak? Apa semua barang-barang ini punya ibu Nurhayati?"
"Iya, Pak! Ini nanti semua kita bawa ke Sumedang."
"Boleh saya minta nomornya, Pak?"
"Memang bapak siapa nya ibu Nur?" Rey terdiam sejenak, berpikir mencari jawaban yang terasa pas, "Saya yang ingin menyewa ruko itu, Pak."
"Sebentar!" lelaki itu mengambil handphone dari balik kantong celana jeans yang sudah kusam, lekas mencari nomor yang diminta, "Nah, ini nomornya! Kemarin kata Mba Nur, hari ini dia mau datang pamitan sama orang-orang disini. Tapi gak tahu saya jam berapa. Telepon dulu aja, Pak! Atau kalau mau lebih lengkap, bisa tanya sama sekuriti di dalam sana," Rey melirik singkat, membaca nomor sambil menyimpannya.
"Saya telepon dulu yah, Pak. Terimakasih." tutur Rey, bergegas melakukan panggilan ke nomor tersebut. Seketika nomor Mba Nur menjawab.
"Halo, ibu Nurhayati! Saya Reyhan, Bu." tanya Rey mengawali panggilannya. Gangguan sinyal ditambah deras suara hujan, tak memudahkan Rey bicara dalam volume suara yang normal.
"Iya, halo! Siapa ini?"
"Rehyan! Suami Kristalia Calysta, Bu! Apa ibu punya waktu untuk ketemu dengan saya?"
"Oh, suami Kristal yah! Sekarang saya masih di Sumedang. Belum tahu kapan ke Jakarta lagi. Tapi saya pasti kesana, karena harus pamitan sama orang-orang di apartemen!"
"Kalau begitu bisa saya minta alamatnya, Bu? Biar nanti saya yang akan kesana!"
"Boleh! Nanti saya SMS alamatnya, Pak." panggilan disudahi Mba Nur. Berahkirnya panggilan membuat Rey teringat akan petunjuk yang ditemukannya. Dia lekas menekan nomor Febri.
"Feb! Aku berhasil mendapat petunjuk baru!"
"Apa yang kamu dapatkan, Rey?"
"Aku sudah tahu alamat dan nomor Nurhayati! Dan yang jauh lebih penting, aku melihat ada kamera CCTV yang terpasang di setiap balkon!"
"Kamera CCTV? Tidak mungkin itu, Rey. Kalau memang itu benar, sudah dari kemarin pihak kepolisian menyita rekamannnya. Kamera CCTV itu hanya terpasang di koridor tiap lantai, bukan di area balkon."
"Yah! Aku tahu itu, tetapi ini sangat berbeda! Kamera yang kumaksud itu terpasang di apartemen yang lain! Kamu tahu kan apartemen Mutiara Garden, Feb?"
"Aku sudah tahu itu! Apartemen itu memang sama persis dengan apartemen Mutiara Citra. Tapi tunggu dulu, maksud kamu setiap balkon disana terpasang kamera CCTV?"
"Tepat sekali! Tetapi aku belum melihat secara lebih mendetil. Apakah kamera itu menyorot ke arah apartemen Mutiara Citra, atau hanya terfokus disekitar area balkon saja?"
"Kalau begitu kamu kejar rekaman itu, Rey! Aku juga punya berita baru. Hari ini hasil tes laboratorium sudah bisa kuperoleh. Jadi bisa kita ajukan, sebelum pembacaan nota pembelaan!!"
"Wah, kabar baik itu! Feb, tahan sebentar! Ada pesan masuk. Sepertinya Mba Nur sudah mengirimkan alamatnya!"
"Mohon maaf, Pak. Satu minggu atau dua minggu ini saya ada rencana ke Medan, disana ada keluarga jauh saya yang baru lahiran cucu pertama. Tetapi kalau mungkin hadir sidang setelah kepulangan saya, mudah-mudahan saya bisa hadir, ini alamat saya, di JL. Buahdua Hariang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Patokannya masjid Agung. Nanti belok kanan, rumahnya pas ditikungan, ada disebelah konter pulsa."
"Tidak apa-apa. Terimakasih yah, Bu Nur." Rey balas pesan itu, kemudian menyambung kembali komunikasi dengan Febri.
"Feb.. Bu Nur tidak bisa bersaksi dipersidangan nanti! Dia sedang ada acara dengan keluarganya," kata Rey dengan nada bicaranya yang sendu.
"Kamu tidak perlu fokus ke satu orang saksi. Kita masih punya dua nama lagi yang harus segera kita cari tahu! Sekaligus coba kamu gali lebih dalam tentang rekaman kamera CCTV di balkon itu!"
"Setelah ini, aku akan mencari informasi mengenai Id! Feb, apa bisa aku masuk ke tempat kejadian? Termasuk ke dalam apartemen Kristal?"
"Jangan! Tidak usah kamu lakuin itu, Rey. Kalau sampai kamu ketahuan, sanksinya akan sangat berat!"
"Sudah dulu! Aku harus menghubungi Darrius dulu." tandas Rey menyudahi pembicaraan, "Benar kata kamu, Feb, terkadang setiap kejadian tidak pernah bisa kita mengerti dengan akal sehat. Tetapi bagiku, semua kejadian selalu ada pelajaran yang bisa kita manfaatkan. Maafkan aku, Feb! Terpaksa aku tidak menuruti perkataanmu kali ini," tandas Rey dalam hati.
Permisi! Tahu dimana ruko ibu Nurhayati? Rumah makan masakan khas Jawa Barat?"
"Siapa Nurhayati? Oo.. Si Mbak Nur? Itu mah kagak jauh lagi. Noh di depan sono! Ruko nomor empat ya! Tapi kayaknya, orangnya sudah pindah tuh. Coba saja kesana!" jawabnya ceplas-ceplos dengan kental logat Jakarta.
"Pindah? Saya coba cek dulu deh. Terimakasih yah, Mas!" balas Rey, sambil terus tetap berjalan.
Tak jauh dari tempat bertanya, barisan ruko sudah berdiri kokoh dihadapannya. Rey mulai berhitung, sesuai nomor yang diberikan. Sebelum sampai pada nomor itu, nampak keberadaan tiga orang lelaki berotot, sibuk memindahkan sejumlah barang dari dalam ruko masuk ke dalam sebuah mini truk. Gerakannya gesit dan lincah.
"Pak, tahu di mana ruko ibu Nurhayati? Bisa saya bertemu dengannya?"
"Ini rukonya, Pak! Orangnya sudah pindah. Kira-kira seminggu yang lalu!" sambar seorang diantara mereka.
"Pindah kemana, Pak? Apa semua barang-barang ini punya ibu Nurhayati?"
"Iya, Pak! Ini nanti semua kita bawa ke Sumedang."
"Boleh saya minta nomornya, Pak?"
"Memang bapak siapa nya ibu Nur?" Rey terdiam sejenak, berpikir mencari jawaban yang terasa pas, "Saya yang ingin menyewa ruko itu, Pak."
"Sebentar!" lelaki itu mengambil handphone dari balik kantong celana jeans yang sudah kusam, lekas mencari nomor yang diminta, "Nah, ini nomornya! Kemarin kata ibu Nur, hari ini dia mau datang pamitan sama orang-orang disini. Tapi gak tahu saya jam berapa. Telepon dulu aja, Pak! Atau kalau mau lebih lengkap, bisa tanya sama sekuriti di dalam sana," Rey melirik singkat, membaca nomor sambil menyimpannya.
"Saya telepon dulu yah, Pak. Terimakasih." tutur Rey, bergegas melakukan panggilan ke nomor tersebut. Seketika nomor Mba Nur menjawab.
"Halo, ibu Nurhayati! Saya Reyhan, Bu." tanya Rey mengawali panggilannya. Gangguan sinyal ditambah deras suara hujan, tak memudahkan Rey bicara dalam volume suara yang normal.
"Iya, halo! Siapa ini?"
"Reyhan! Suami Kristalia Calysta, Bu! Apa ibu punya waktu untuk ketemu dengan saya?"
"Oh, suami Kristal yah! Sekarang saya masih di Sumedang. Belum tahu kapan ke Jakarta lagi. Tapi saya pasti kesana, karena harus pamitan sama orang-orang di apartemen!"
"Kalau begitu bisa saya minta alamatnya, Bu? Biar nanti saya yang akan kesana!"
"Boleh! Nanti saya SMS alamatnya, Pak." panggilan disudahi Nur. Tanda panggilan itu membuat Rey teringat akan petunjuk yang ditemukannya. Dia lekas menekan nomor Febri.
"Feb! Aku berhasil mendapat petunjuk baru!"
"Apa yang kamu dapatkan, Rey?"
"Aku sudah tahu alamat dan nomor Nurhayati! Dan yang jauh lebih penting, aku melihat ada kamera CCTV yang terpasang di setiap balkon!"
"Kamera CCTV? Tidak mungkin itu, Rey. Kalau memang itu benar, sudah dari kemarin pihak kepolisian menyita rekamannnya. Kamera CCTV itu hanya terpasang di koridor tiap lantai, bukan di area balkon."
"Yah! Aku tahu itu, tetapi ini sangat berbeda! Kamera yang kumaksud itu terpasang di apartemen yang lain! Kamu tahu kan apartemen Mutiara Garden, Feb?"
"Aku sudah tahu itu! Apartemen itu memang sama persis dengan apartemen Mutiara Citra. Tapi tunggu dulu, maksud kamu setiap balkon disana terpasang kamera CCTV?"
"Tepat sekali! Tetapi aku belum melihat secara lebih mendetil. Apakah kamera itu menyorot ke arah apartemen Mutiara Citra, atau hanya terfokus disekitar area balkon saja?"
"Kalau begitu kamu kejar rekaman itu, Rey! Aku juga punya berita baru. Hari ini hasil tes laboratorium sudah kuperoleh. Jadi bisa kita ajukan, sebelum pembacaan nota pembelaan!!"
"Wah, kabar baik itu! Feb, tahan sebentar! Ada pesan masuk. Sepertinya Mba Nur sudah mengirimkan alamatnya!"
"Mohon maaf, Pak. Satu minggu atau dua minggu ini saya ada rencana ke Medan, disana ada keluarga jauh saya yang baru lahiran cucu pertama. Tetapi kalau mungkin hadir sidang setelah kepulangan saya, mudah-mudahan saya bisa hadir, ini alamat saya, di Jalan. Buah dua Hariang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Patokannya masjid Agung. Nanti belok kanan, rumahnya pas ditikungan, ada disebelah konter pulsa."
"Tidak apa-apa. Terimakasih yah, Bu Nur." Rey balas pesan itu, kemudian menyambung kembali komunikasi dengan Febri.
"Feb.. Bu Nur tidak bisa bersaksi dipersidangan nanti! Dia sedang ada acara dengan keluarganya," kata Rey dengan nada bicaranya yang sendu.
"Kamu tidak perlu fokus ke satu orang saksi. Kita masih punya dua nama lagi yang harus segera kita cari tahu! Sekaligus coba kamu gali lebih dalam tentang rekaman kamera CCTV di balkon itu!"
"Setelah ini, aku akan mencari informasi mengenai Id! Feb, apa bisa aku masuk ke tempat kejadian? Termasuk ke dalam apartemen Kristal?"
"Jangan! Tidak usah kamu lakuin itu, Rey. Kalau sampai kamu ketahuan, sanksinya akan sangat berat!"
"Sudah dulu! Aku harus menghubungi Darrius dulu." tandas Rey menyudahi pembicaraan, "Benar kata kamu, Feb, terkadang setiap kejadian tidak pernah bisa kita mengerti dengan akal sehat. Tetapi bagiku, semua kejadian selalu ada pelajaran yang bisa kita manfaatkan. Maafkan aku, Feb! Terpaksa aku tidak menuruti perkataanmu kali ini," tandas Rey dalam hati.