Cinta di tolak dukun bertindak itulah sebutan buat Ninis. Penolakan dari laki-laki yang bernama Tirta membuat dia nekat bersekutu dengan jin agar bisa menolongnya untuk mendapatkan Tirta.
Sebagai tunangan Tirta, Sena berjuang mati-matiam gar bisa menyelamatkan Tirta dari pengaruh sihir yang Ninis kirim.
Mampukah Sena menyelamatkanya?
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa, Like, Coment, Vote, jangan lupa mawar dan kopinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Malam Jumat Kliwon
Mendengar suara teriakan minta tolong beberapa orang yang kebetulan lewat langsung berhenti, mereka mencari-cari asal suara teriakan tersebut.
"Ya Allah, anak siapa ini." ujar si Bapak, mondar-mandir kebingungan.
"Nak, bangun Nak. Tolong! Tolong!" si Bapak kembali berteriak minta tolong.
Si Bapak, menepuk-nepuk pipi anak tersebut berharap remaja itu mendengar suaranya dan mau membuka matanya. Nggak ada pergerakan dari anak tersebut beliau mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk membangunkannya, sebua botol minuman menjadi pusat perhatiannya beliau langsung mengambilnya menuangkan airnya ke tangannya lalu menyipratkan air itu ke wajah remaja tersebut, lagi dan lagi usahanya gagal. Anak itu belum juga membuka matanya membuat si Bapak semakin di landa kepanikan. Beliau kebingungan tidak tau harus berbuat apa lagi untuk membangunkan anak tersebut? Otaknya sudah buntu membuat dirinya tidak bisa berfikir lagi.
Berangkat dari rumah niatnya mau mencangkul sawa milik majikannya karema mau di lakukan proses penanaman jagung, tapi sesampainya di sawah si Bapak malah dikagetkan melihat ada anak laki-laki tergeletak dengan luka di wajah dan tubuhnya. Beliau membatalkan semuanya karena harus lebih dulu menolong anak laki-laki yang sedang terluka.
"Ya Alllah, kenapa enggak ada satu orang pun yang lewat sini!" ujarnya si Bapak semakin gelisah.
Karena keadaannya yang semakin mendesak akhirnya si Bapak mengangkat tubuh remaja tersebut berniat membawanya ke puskesmas terdekat menggunaka sepedanya, mengingat kondisi lumayan parah beliau tidak mungkin menunggu waktu lebih lama lagi.
Nafas si Bapak sudah mulai terengah-enggah apalagi harus melewati jalan yang sedikit licin membuatnya sedikit kesusahan untuk menuju ke tempat dimana sepedanya berada, beliau menghembuskan nafas lega setelah berhasil menggendong tubuh remaja tersebut ke sepedanya. Baru saja menggerakan kakinya mau menggoe sepedanya beliau melihat ada beberapa orang menghampirinya.
"Pak tolong saya pak!" teriak si Bapak melambaikan tangannya.
Orang-orang yang mendengar teriakan si Bapak langsung berlari menghampirinya mereka terkejut meliat kondisi Bapak yang berantakan sambil menggendong seorang anak remaja.
"Ya ampun, apa yang terjadi padanya? Ayo-ayo antar mereka ke puskesmas kasian anak itu sepertinya dia butuh pertolongan," ujar salah satu dari mereka mengambil alih anak tersebut dari gendongan si Bapak dan mendudukannya di atas motor miliknya.
"Pak saya ikut yah? Saya mau tau kondisinya," ucap si Bapak minta ikut.
"Boleh, kebetulan biar ada yang jagain dia di belakangnya, ayo pak," sahutnya.
Butuh waktu satu jam akhirnya mereka bertiga sampai di puskesmas si Bapak berteriak memanggil Dokter dan suster agar membatunya. Beberapa suster datang mendorong brangkar membaringkan anak tersebut dan membawanya ke ruang IGD. Sedangkan dirinya bersama orang yang menolongnya tadi menunggu di depan.
Klik!
Mendengar suara pintu terbuka keduanya menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari dalam, si Bapak buru-buru menanyakan kondisi anak remaja tersebut berharap kondisinya baik-baik saja.
"Dokter, gimana keadaanya? Dia baik-baik saja kan? Nggak ada luka serius kan?" tanyanya beruntun.
"Apa Bapak keluarga pasien?" Dokter itu balik bertanya melihat kedua laki-laki paru baya di depannya.
"Iya Dokter. Saya keluarganya." jawab, si Bapak terpaksa berbohong.
"Anak Bapak baik-baik saja. Dia hanya mengalami dehidrasi dan untuk luka-luka di tubuhnya sudah kami obati. Agar kondisi pasien cepet membaik sebaiknya pasien harus dirawat dulu untuk beberapa hari. Kalau Bapak setuju Bapak bisa ke bagian adminitrasi agar secepatnya di proses." jawab Dokter panjang lebar.
Si Bapak mengangguk kecil mendengar penuturan Dokter, jujur dirinya bingung harus membayar pake apa? Uang hasil buru sebagai petani saja hanya cukup buat makan sehari-hari gimana mau bayar puskesmas batinya.
Dokter menepuk pundak si Bapak membuat lamunannya buyar, Dokter itu tersenyum dan berpamitan karena harus memeriksa pasien lain.
Orang yang mengantarkan si Bapak juga ikut berpamitan pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan sejak tadi bosnya terus menelpon rasanya tidak enak kalau tidak menjawabnya. Sebelum orang itu pergi si Bapak meminta tolong agar orang itu memberi tau istrinya kalau hari ini dirinya nggak ke sawa melainkan sedang ada di puskesmas.
"Terimakasih, Bapak sudah menolong saya dan mengantar kami ke puskesmas kalau tidak ada Bapa, saya tidak tau harus apa," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Pak. Kebetulan saya lewat jadi tidak ada salahnya menolong orang yang lagi membutuhkan bantuan, kalau gitu saya permisi dulu." orang itu meninggalkan si Bapak sendirian.
****
Malam jumat kliwon. Malam yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Di sebua Gua tua yang minim penerangan beberapa sesajen sudah tersusun rapi. Diantaranya ada bunga warna warni 7 rupa, kemenyan, 7 rupa berbagai macam pisang dan yang lainnya. Di depannya ada seorang gadis dengan mata terpejam masih terikat di kelilingi mahkluk tak kasat mata, sedangkan sosok kake tua lagi menyiapkan air kembang di sebelahnya sudah ada seorang perempuan memakai kemben.
"Guru, kapan ritual ini dimulai? Aku sudah tidak sabar mendapatkan Bang Tirta?" tanyanya.
"Sabarlah dulu. Sebentar lagi saya akan memulai ritualnya, ingat setelah ini kamu harus menuruti semua perintah saya. Kalau sekali saja kamu menentangnya maka kamu dan keluarga mu akan menerima akibatnya." sahut kake tua.
"Ya. Aku akan selalu menurut apa saja yang guru katakan dan aku tidak akan pernah membantahnya. Yang terpenting guru harus bisa membuat Bang Tirta menjadi milik ku." Ninis menjawab dengan yakin sama sekali enggak ada keraguan di setiap ucapannya.
"Baiklah saya pegang ucapan mu, Ninis." sosok kake tua tersebut berdiri menghampiri gadis yang masih pingsan dan duduk bersilah di depan sesajen.
Sosok kake tua tersebut tersenyum mengerikan melihat gadis cantik yang akan di jadikan tumbal penyembahannya. Kake tua mulai menyalakan api dan menaburkan kemenyan di dalamnya mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra karena sebentar lagi akan memulai ritualnya.
Ninis tersenyum kegirangan saat si kake tua mulai menjalankan ritualnya perempuan itu tersenyum sinis melihat Sakinah yang masih pingsan, demi untuk mendapatkan Tirta, Ninis sampai tega menjadikan Sakinah sebagai tumbal untuk sosok si makhluk hitam peliharaan kake tua yang mau menolongnya.
Heum...
Kedua mata Sakinah mengerjap. Kepalanya masih terasa berat setelah mengalami pingsan selama dua hari. Sakinah mencoba menyesuaikan pandangannya dari lampu obor yang menyorotinya dari atas, gadis itu mendelikan matanya sadar dirinya bukan lagi ada di rumah melainkan di sebuah gua.
"Ibu! Ageng!" teriak Sakinah memanggil, Ibu dan juga adiknya.
Haha! Haha!
Kake tua tersebut tertawa menggelegar bangun dari semedinya mendekati Sakinah. Si kake tua mencengkram dagu Sakinah mengendus aroma tubuhnya, Kake tua itu menghirup dalam tubuh Sakinah merasakan bau darah segar di dalam tubuh gadis itu.
Tubuh Sakinah gemeteran saat di dekati Kake tua dengan tampang menyeramkan. Dia menggigil ketakutan sekujur tubuhnya merinding saat si Kake tua tersebut malah mengendus tubuhnya.
"Siapa kamu! Jangan mendekat pergilah! Lepaskan saya!" teriak Sakinah ketakutan wajah pucatnya sudah di banjiri keringat.
"Tubuh mu harum sekali cah ayu. Aku suka bau aroma tubuh mu ini. Tuan ku pasti senang mendapatkan darah segar ini." ujarnya terbahak-bahak.
Ninis tersenyum menyeringai melihat Sakinah sudah sadarkan diri karena inilah waktu yang dirinya nantikan. Ninis begitu bahagia karena dengan sadarnya Sakinah ritual penyembahan akan semakin cepat di lakukan pikirnya.
"Guru, gadis itu sudah sadar jadi ayo percepat saja ritual kita segera tumbalkan gadis itu sama sosok hitam itu." ujar Ninis menyeringai.
Deg..
********