NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Perjalanan menuju rumah Reihan terasa panjang meski sebenarnya hanya menempuh waktu kurang dari satu jam. Deru mesin mobil jadi satu-satunya suara yang menemani kami. Aku memeluk tas kecilku erat, menatap keluar jendela, berusaha mengalihkan perasaan yang bercampur aduk.

Hingga akhirnya mobil itu memasuki sebuah kawasan perumahan yang cukup elit. Rumah-rumah besar berjajar rapi, dengan pagar tinggi dan taman kecil di depannya. Aku menelan ludah ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah megah bercat putih gading dengan halaman yang rapi dan teduh. Besar rumah ini dua kali lipat dengan rumahku.

“Sudah sampai,” ucap Reihan singkat, mematikan mesin mobil.

Aku hanya mengangguk pelan, jantungku berdetak lebih cepat. Ini pertama kalinya aku benar-benar akan tinggal satu rumah dengannya. Rumah suamiku. Rumah yang bahkan terasa terlalu besar untuk kutinggali.

Reihan turun lebih dulu, mengambil koper kecilku dari bagasi. Aku menyusul turun, mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Pagar besi otomatis menutup sendiri setelah mobil masuk. Ada deretan pohon kamboja di sisi kanan, memberi kesan sejuk, sementara di teras depan ada ayunan kayu sederhana.

" Kamu mau berdiri terus disana"

“Masuk,” ujar Reihan datar sambil berjalan ke arah pintu utama.

" Ehh iya" jawabku dengan kikuk.

Aku mengikutinya dengan langkah pelan. Begitu pintu dibuka, aroma segar ruangan baru langsung menyambutku. Ruang tamu terlihat luas, dengan sofa abu-abu elegan, karpet bulu lembut, dan rak buku tinggi di sudut ruangan. Tidak ada dekorasi berlebihan, semua tertata rapi dan sederhana—seperti pemiliknya.

“Kamarmu di lantai atas, sebelah kiri,” tambahnya, sambil menunjuk arah tangga. “Kalo butuh apa-apa, bilang aja.”

" Mama sama papa sudah pergi dari tadi, jadwal penerbangannya dipercepat"

Pantas saja rumah ini terlihat sepi

“Kamarmu di lantai atas, sebelah kiri,” tambahnya, sambil menunjuk arah tangga.

"Disampingnya kamarku, kita tidak satu kamar Kalo butuh apa-apa, bilang aja.”

Aku hanya mengangguk pelan. Begitu sampai di kamar yang dimaksud, aku membuka pintu dan tertegun. Ruangannya cukup luas, dengan ranjang berukuran queen bed, lemari kayu, meja rias sederhana, dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Sprei putih rapi terhampar di atas ranjang. Ini sih lebih besar dari kamarku dirumah.

Aku menutup pintu perlahan, lalu menjatuhkan tubuhku ke ranjang. Menatap langit-langit putih bersih itu, air mataku menetes begitu saja. Aku merasa… kosong. Entah kenapa aku merasa telah berbuat dosa besar, membohongi keluargaku dan juga orang lain.

Suara ketukan pintu membuatku buru-buru menyeka air mata.

“Alya,” suara Reihan terdengar dari luar.

“I-iya, Mas,” jawabku tergagap, aku segera bangkit membuka pintu. Sejak semalam aku mulai memanggilnya dengan sebutan mas sesuai dengan perintahnya dan jika dikampus anggap saja tidak terjadi apa-apa.

Reihan menatapku sekilas, lalu bersandar sebentar di ambang pintu. “Siang ini aku harus ke kantor. Kamu bisa istirahat.”

“Oke, Mas.”

Ia mengangguk singkat. “Kalau butuh sesuatu, telpon aja"

Aku hanya bisa mengangguk lagi, menunduk menatap jemariku sendiri. Setelah itu, ia keluar, menutup pintu dengan tenang.

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Aku menarik napas panjang, lalu rebahan di ranjang sambil menatap langit-langit. Rasanya masih sulit percaya bahwa aku benar-benar ada di rumah ini, tinggal bersama Reihan. Semua terasa baru, asing. Mataku mulai berat, rasanya ngantuk sekali

.

.

.

.

Aku terbangun jam sudah menunjukkan pukul eman lewat . Aku segera bangkit dari ranjang, mengambil koperku yang belum sempat aku keluarkan, setelah itu aku menyusun pakaianku di lemari dan beberapa skincare dan alat make up ku letakkan diatas meja.

Setelah membersihkan diri terlebih dahulu,Aku memutuskan untuk turun ke bawah menuju dapur.Dapurnya luas dan modern, dengan kabinet putih bersih, kulkas besar, serta meja makan kecil di sudut.

Aku membuka kulkas perlahan. Ada beberapa bahan makanan: telur, susu, dan beberapa minuman kaleng. Tidak terlalu banyak. Sepertinya Reihan jarang memasak. Pikirku

" Kulkas sebesar ini ngga ada isinya"

"Mana laper banget lagi, dari tadi siang belum makan"

Aku mengambil dua butir telur lalu mencoloknya.

Aku memakannya langsung disini juga ngga nasi atau beras yang mau dimasak. " Buat pengganjal aja"

Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar dari bawah, mungkin itu Reihan

Tak lama kemudian terlihat Reihan memasuki rumah.

Wajahnya tampak sedikit lelah.

“Kamu udah makan?” tanyanya singkat ketika melihatku.

“Belum…” jawabku ragu, telur tadi mana bisa buat kenyang. " Tadi aku atau masak tapi ngga ada bahan makan"

" Kenapa ngga pesan online aja"

" Aku ngga bawa uang, dompetku ketinggalan dikos"

" Rumah ini jarang aku tempati, saat mama sama papa pulang aja baru saya disini, selebihnya saya tinggal di apartemen"

" Kenapa?"

"Dari apartemen lebih dekat ke kantor dan ke kampus"

"Ohhh" sejujurnya aku belum tahu pekerjaannya yang kutahu dia hanya seorang dosen.

"Kamu mau makan apa biar saya pesenin" tanyanya

"Apa aja yang penting ada nasinya".

Aku kembali duduk di sofa sedangkan Reihan ke kamarnya untuk mandi. Sekitar tiga puluh menit kurir pengantar makanan datang.

Aku segera membuka pintu menuju pagar rumah. "Ini udah di bayar kan mas?"

"Udah mbak"

"Ohh kalo gitu makasih yaa mas"

Aku kembali masuk kedalam rumah meletakkan makanan itu di atas meja makan, mengambil piring untuk memindahkan makanan itu dari tempatnya.

" Makanannya sudah datang"

" Ehh udah mas"

Kembali hening tidak ada percakapan diantara kami. Ya Tuhan suasana seperti ini yang aku ngga mau, canggung banget. Aku buru-buru menghabiskan makananku.

"Aku menatapnya sedikit ragu-ragu. " Mas besok aku mau pergi sama Nia dan Lala bolehkan mas"

"Pergi saja, aku tidak akan melarangmu"

Huff aku bernapas lega mengira dia akan melarang ku tapi dia mungkin juga ingat point utama dalam surat perjanjian itu 'tidak boleh ikut campur urusan satu sama'

"Emm sama besok aku mau belanja buat isi kulkas mas"

" Jam berapa, biar saya ikut"

"Ehh ngga usah mas, saya bisa sendiri kok"

"Kabari saya besok kalo kamu mau pergi, dan ini untuk nafkah dari saya bulan ini" ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya.

Mataku membola ini kan black card. "Ehh ini kebanyakan mas, lagi pula uang saya di ATM masih cukup kok "

"Ambil saja walaupun pernikahan kita hanya sebatas kontrak tapi di mata agama kita sudah sah jadi sudah kewajibanku untuk mebafkahimu"

"Dan saya tidak mau di cap sebagai suami pelit" ucapnya seraya berlalu dari hadapanku.

'tuh kan nyebelin banget, ehh tapi lumayanlah ngga perlu nabung lagi biaya untuk satu tahun kedepan cukup ih'

.

.

.

.

.

^^^Selamat sore semua^^^

^^^Apa kabar nihh ^^^

^^^Tetap semangat yaa ^^^

^^^Jangan lupa vote dan komen apalagi kalo ada typo^^^

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!