Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?
Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.
Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.
Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Keesokan paginya, Dinda bangun dengan perasaan lega. Dan ia jauh lebih semangat dalam mengerjakan beberapa potong baju pelanggan.
"Mbak Nopa?? ini ada beberapa baju yang sudah Dinda potong, sisanya mungkin malam akan Dinda kerjain lagi," ujarnya seraya menyerahkan gulungan kain itu di atas meja jahit mbak Nopa.
" Oke, Dinda, oia.., kemarin ibu Kus kemari tanya kapan kamu ada ditempat??, beliau mau pesan baju untuk acara penting".
Dinda berpikir lalu meraih tab Johan di atas meja kerjanya.
" Hhmm.., oke mbak, nanti biar Dinda telfon langsung bu Kus, jadi Dinda aja yang samperin beliau, " jawabnya seraya melihat jam tangan lalu meraih beberapa hal-hal yang dirasa perlu dan memasukkan ke dalam tasnya.
Feli melihat dengan heran.
" Kamu mau kemana??"
" Oh, biasa Mbak mau jadi supir pribadi pengacara itu dulu, kudu datang cepat 15 menit biar gak kena damprat lagi sama pak Johan".
" Hati-hati yaa, " ucap Feli senyum dengan terkembang
" Siip mbak, titip toko.., kalau ada apa-apa jangan lupa hubungan Dinda segera".
Dan keduanya kompak mengacungkan jempol mereka tanda paham.
Dinda pun keluar dari butiknya seraya berjalan menuju mobil sedan mewah yang kini bertengger di depan butiknya.
Lalu tak lama laju sedan mobil mewah itu pun mulus sampai ke kantor pengacara Johan. Dinda tersenyum, akhirnya ia bisa sampai 15 menit lebih cepat sehingga Johan pun belum turun dari kantornya.
Dinda turun dari mobil dan memilih untuk menunggu di loby kantor Johan seraya mengobrol ringan dengan dua sekuriti. Hingga tanpa ia sadari Johan yang ternyata terlah turun melihatnya dari jauh. Sontak dua sequrity terkejut dengan kehadiran Bos mereka disana.
" Hhhmm kerja bagus!!" ucapnya pada Dinda dengan melihat jam tangan.
Dinda hanya bisa tertawa kaku.
Lalu ia berjalan keluar gedung itu yang di ikutin oleh Johan dari belakang. Dan keduanya pun masuk kedalam mobil.
" Ho..
" Hotel JW Marriot, " ucapnya cepat seraya perlahan menjalankan mobil itu.
Dan hal itu sukses membuat Johan tertawa kecil. Namun tak lama ia pun kembali melihat handphonenya dengan serius.
Mobil sedan itu pun tak begitu menemukan kendala untuk melaju ke Hotel JW Marriot. Siang yang lengang untuk ukuran jalan ibu kota. Namun semakin Dinda menyusuri jalan dinda tersadar.
" Sepertinya kita akan mencari jalan alternatif lain, " ujar Dinda serius seraya meraih handphonenya.
" Kenapa??"
" Jalan didepannya ditutup, karena sedari tadi tidak terlihat kendaraan mobil yang berlalu lalang," jelas Dinda serius.
Johan pun ikut serius menatap layar handphonenya lalu ia menelfon seseorang.
" Ya, sepertinya aku akan telat. hhmmm sekitar 15 menit"
Dinda terkaget dengan pembicaraan Johan dan orang di telfon itu.
"15 menit dari mana?? Hongkong??" ngadumelnya dengan suara berbisik lalu ia kembali sibuk melihat map google dihandphone.
Hinggq akhirnya ia menemukan rute terbaik. Lalu mobil itu pun berjalan kembali menuju hotel yang dituju. Hingga sampai roda mobil itu terhenti diparkiran hotel mewah itu.
" Kita terlambat 25 menit" ucapnya serius seraya turun dari mobil itu.
Dinda hanya berdecak tak percaya.
" Laaah,,siapa suruh bilang 15 menit?? dasar orang aneh!!" celetuknya bete. Dan Dinda pun turun seraya merenggankan punggungnya. Lalu ia melihat kesekelilin hotel.
Lalu Dinda masuk kembali kedalam mobil mewah itu seraya meraih tasnya dan ia pun mengeluarkan handphonenya. Ia menelfon pelanggan VIPnya ibu Kus.
Dan terjadi obrolan singkat antara keduanya.
" Hah?? jadi ibu di JW Marriot juga yaa, kebetulan sekali Dinda juga sedang berada di JW Marriot"
" Waah, benarkah??"
" Iyya Bu, gimana kalo Dinda samperin ibu??"
" Oke bisa, tapi beri waktu saya untuk keluar dari rapat sekitar 45 menit lagi"
" Baik Ibu, Dinda tunggu di lobby hotel" ucapnya senang dan mengakhiri telfon tersebut.
🍃🍃🍃🍃
Didalam lobby hotel Dinda duduk dengan santai di sofa hotel dan menikmati suasana hotel yang mewah. Dan waktu menunggu itu berjalan hingga 1 jam. Namun perlahan tanpa Dinda sadar seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan ramah.
" Nak Dinda??,"sapanya yang mengejutkan Dinda yang sempat melamun.
" Eh, ibu!!, " sambutnya yang terkejut melihat ibu Kus kini berada di hadapannya.
" Maaf yaa lama"
" Ah gak papa kok Bu, " ujarnya santai dan ramah.
" Kamu kok jarang ada ditoko sih Din??" tanya bu Kus penasaran.
" Ah, iyya Bu, belakangan ada job tambahan"
" Oohh begitu.., ibu sampai susah loh ini mau jahit baju dimana kalo gak ketemu sama kamu??"
Dinda hanya bisa tersenyum simpul menanggapi perkataan ibu Kus.
" Jadi ibu mau jahit baju untuk acara apa??" untuk kembali ke inti pertemuan.
" Ah iyya, ini masih sempat gak ya kamu jahit baju blouse simpel dengan kerah victoria kayak gini!!," ibu Kus seraya menunjukkan foto dari handphonenya kepada Dinda.
Dinda melihat dengan seksama foto di handphone bu Kus.
" Agak ke tunik gak sih ini bu??"
" Hhmm iyya ibu mau gitu agak tunik, malu kalo udah tua bajunya pendek-pendek," sahut ibu Kus pelan.
Dinda kembali melihat foto di handphonenya bu Kus. Ia paham lalu mengambil sketsa gambarnya dan mulai ia memodif rancang baju yang seperti ibu Kus maksud. Lalu hasil gambar itu ia serahkan pada ibu Kus.
" Gimana Bu?? cocok gak desainnya begini??"
Bu Kus tersenyum puas.
" Ya, saya suka"
Dinda pun lega.
" Ibu butuh kapan??"
" Agak cepat sih Din, minggu depan harus siap"
" Hah??" ujarnya kaget.
" Takut gak terkejar nie Bu, " sahut Dinda ragu.
" Aduuuh jangan dong Din, ibu perlu banget baju ini untuk hadiri acara tahunan".
" Iyya maaf Ibu, karena.." ucap Dinda tergantung.
" Ikh..,kamu gitu banget, bisa yaa???" rayu ibu Kus memelas.
" Ibu tuh susah banget ganti-ganti tempat jahit, cuma sama kamu yang klop banget, " jelasnya lagi.
Dinda akhirnya menyerah, karena ia pun jadi teringat mamanya yang mirip sekali dengan ibu Kus.
" Baik laah ibu, " ujarnya pelan.
" ini kainnya mau apa bu??"
" Nah itu terserah kamu deh Din, ibu percaya sama pilihan kamu yang selalu buat ibu puas," ujarnya jujur karena hasil jahitan Dinda dan pilihan bahannya yang benar-benar mewah.
Dinda kembali mengangguk paham. Setelah dirasa cukup Dinda hendak mengeluarkan meteran untuk menujur bu Kus.
" Mau di ukur ulang atau pakai ukukran yang sudah ada bu??"
" Ukur ulang aja deh Dinda, ibu rasa ibu udah mulai gendutan, " ujarnya yang sedikit malu.
Dinda hanya bisa tersenyum simpul lalu mulai menukur tubuh ibu Kus.
Dan semua kegiatan itu pun selesai dengan ibu Kus. Keduanya pun terlibat obrolan ringan.
" Haduuh tadi itu kalo gak di sanggah sama anak itu, mungkin lebih bertele-tele lagi rapatnya"
Dinda tak mengerti dan ia hanya bisa tersenyum seolah mengiyakan.
" Eh kamu kesini sama siapa??"
" Ah, sama temen Bu," sahut Dinda tersenyum.
" Ooh, " namun tiba-tiba ibu Kus bangun lalu segeramenyapa seseorang yang ia kenal.
" Nak Johan??, " panggilnya kepada seorang pria muda yang tengah berjalan beriringan dengan beberapa rekannya.
Hingga seketika Dinda terlihat kaget.
"mati dah gue!!, " gumam didalam hati. Ia bahkan tak berani bangun untuk melihat Johan yang kini berada dihadapannya.
" Kamu udah mau balik Johan??"
" Iyya Bu, " jawabnya ramah.
" Tadi makasih banyak loh, untung kamu datang tepat waktu, kalo gak para tua-tua bangka itu akan terus berkoar-koar gak jelas"
Johan hanya tersenyum simpul.
" Eh, kenalin ini Dinda kenalan ibu. Dinda ini Johan, dia pengacara tenar loh Din," puji ibu Kus senang. Sehingga membuat Dinda jadi serba salah.
" ya Tuhan, ini gue harus gimana??," pekiknya membatin seraya bangun dengan kikuk dan melihat wajah datar Johan.
" Ya Bu, saya kenalan," sahut Johan datar.
" Ooya?? kok bisa??," celetuk ibu Kus yang kaget seraya melihat keduannya.
Dinda hanya bisa tersenyum kikuk.
" Dia supir saya!!," ucapnya tenang.
Jegerrrr..
Dinda tak percaya seorang pria berpendidikan ini bisa berbicara sejujur itu.
" Sumpah!! itu mulut mau gue jahit SEKARANG!!" pekiknya kesal dalam hati.
Bu Kus jadi melihat aneh ke Dinda.
" Heheheha...,ada ceritanya kok Bu, " ujar Dinda dengan mengeratkan giginya yang tak tau harus bagaimana menghadapi pandangan Bu Kus pada dirinya.
Lalu Bu Kus pun tiba-tiba tertawa senang. Dan dengan sengaja memukul pundak Dinda yang bingung.
" Owalah dunia kok makin aneh-aneh aja yaa, kamu juga Din pinter banget milih kerja tambahan sampek jadi supir nak Johan. Memang sekarang harus gitu Dinda, kudu getol didekati biar dapet hatinya, " ujar ibu Kus yang nyeplos tanpa melihat sekeliling dan wajah datar Johan namun dingin mendengar perkataan yang entah kemana arah maksudnya.
Dinda tak percaya jika ibu Kus bisa begitu jauh mendeskripsikan kerja tambahannya yang menjadi supir Johan.
" Ya udah ibu balik dulu yaa, kalian baik-baik dan pastinya ibu tunggu kabar baik dari kalian" ujar ibu Kus yang berlalu meninggalkan keduanya yang terlihat tak nyaman.
Mata Johan mengintimidasi Dinda yang seolah-olah berbuat salah.
" Balik kemobil" ujarnya dingin.
Dinda pun reflek mengangguk seraya membereskan semua yang telah berserak di sofa. Lalu berlari kecil mengikuti Johan dari belakang.
Dinda melihat punggung Johan dengan wajah kesalnya.
sukses
semangat
mksh