Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Langkah Pertama Sebelum Menjadi Legenda
Aku berjalan santai ke sekolah. Hari ini adalah hari Jumat, hari terakhir untuk latihan sebelum turnamen "Huh," aku menghela napas.
"Siapkan mental, siapkan tenaga, dan siapkan diri untuk pergi diam-diam!!" batinku sambil berjalan.
Langkahku kubuat semakin cepat, karena sebentar lagi jam pelajaran pertama akan dimulai.
Setelah beberapa menit berjalan akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah, di sana terlihat ada Pak Slamet yang sepertinya menungguku.
"Van!!" panggil Pak Slamet, beliau terlihat melipat kedua tangannya di dada.
"Iya," sahutku.
Aku berjalan menghampiri Pak Slamet "Ada apa, Pak?!" tanyaku.
"Apa kamu siap untuk besok?!" tanya Pak Slamet.
"Pasti," jawabku.
"Baik, Ivan. Hari ini adalah hari terakhir untuk latihan, dan juga hari ini akan ditentukan siapa kapten tim, formasi tim, dan yang lainnya!!" ujar Pak Slamet yang menjelaskan.
Aku diam sejenak, menunduk lalu menjawab "Siap, Pak!!" jawabku tegas.
"Yasudah, kamu segera masuk ke kelas!!" ujar Pak Slamet.
"Baik," jawab singkatku sebelum pergi ke kelas.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai di kelas. Aku duduk dan berpikir sejenak "Hmm... Kapten. Aku pengen jadi kapten, tapi!!" gumamku.
"Tapi apa?!" sahut Nadia yang tiba-tiba ada di sampingku.
Aku kaget dan refleks menoleh ke Nadia "Hah, kok kamu bisa di sini?!" tanyaku.
"Kamu lupa atau apa, kita kan emang duduk bareng!!" ujar Nadia.
"Oh iya, aku lupa. Hehehe!!" ujarku sambil tertawa pelan.
"Tapi apa?!" tanya Nadia lagi.
Aku menatap wajah Nadia, imut, cantik, polos, tapi selalu bertengkar dengan Elena "Tapi... Aku nggak bisa bertanggung jawab, jika aku memakai ban kapten itu!!" ujarku yang menjelaskan ke Nadia dengan sepenuh hati.
"Belum bisa, bukan nggak bisa!!" seru Nadia dengan wajah baiknya.
"Belum bisa?!" gumamku yang bingung.
Saat kami sedang senang mengobrol, tiba-tiba guru datang.
"Pagi, anak-anak!!" ujar Pak Iril yang baru datang.
"Pagi, Pak!!" jawab seisi kelas.
"Baik, semuanya hari ini kita akan belajar!!" seru Pak Iril.
Aku kemudian mengikuti jam pelajaran pertama sampai waktu istirahat tiba.
"Saatnya jam istirahat pertama, dimulai!!" suara keras dari speaker sekolah.
"Anak-anak, kita akhiri pelajaran ini. Semuanya bisa beristirahat," ujar Pak Iril sebelum pergi.
"Baik, Pak!!" jawab kami semua.
"Mau ke kantin?!" tanya Nadia dengan tiba-tiba.
"Em... Nggak usah, aku bisa sendiri!!" seruku.
Nadia lalu memasang wajah imut dan kecewa secara bersamaan "Oh, okey!!" jawab Nadia.
"Van, ke kantin yuk!!" ajak Andika.
"Oke," jawabku singkat.
Kami lalu berjalan ke kantin. Dalam perjalanan menuju kantin, kami berpapasan dengan Kak Reno.
"Van!!" seru Kak Reno.
Kami lalu menghentikan langkah untuk berbincang sebentar dengan Kak Reno.
"Iya, ada apa?!" tanyaku.
"Udah siap untuk turnamen?!" tanya Kak Reno.
"Pasti dong, Kak!!" jawabku singkat.
"Aku juga siap, Kak!!" sahut Andika.
"Yasudah. Semoga kita masuk ke starting eleven, ada sekitar 8 orang yang duduk di bangku cadangan. Semoga kita nggak duduk di sana juga," seru Kak Reno.
"Semoga," ujarku.
"Bukan semoga, tapi pasti kita bakal jadi starting!!" sahut Andika dengan percaya diri.
"Yasudah, aku pergi dulu!!" ujar Kak Reno sebelum pergi.
"Iya," sahutku.
"Van, kita lanjut ke kantin lagi!!" ujar Andika.
"Iya," sahutku.
Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju ke kantin sekolah. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di kantin.
"Van," panggil Azzam.
"Oy, Zam!!" sahutku.
"Ke sini, Van!!" seru Azzam sambil menggerakkan tangannya.
Kami lalu pergi ke tempat Azzam, kami duduk dan memulai obrolan kecil.
"Van, Dik. Nanti bakal diumumin siapa kapten tim kita, menurut kalian siapa yang bakal dapat ban kapten?!" tanya Azzam.
"Sudah jelas sih, pasti Kak Reno atau Kak Tama!!" sahut Andika dengan spontan.
Aku menggaguk, karena itu mereka adalah kakak kelas yang paling berprestasi dibandingkan yang lainnya. Tapi aku tetap berpikir jika aku bisa mendapatkan ban kapten itu "Pasti, tapi mungkin aja aku yang dapet!!" ujarku sambil tertawa pelan dan menggaruk kepala.
Andika lalu saling pandang, dan tertawa dengan keras.
"Hah?!" Andika.
"Kapten?!" Azzam.
"Hahahhahaha. Nggak mungkin, Van!!" seru Azzam sambil tertawa.
"Iya. Hahahhahaha!!" sahut Andika yang ikut tertawa.
Aku hanya diam sambil melihat mereka tertawa "Bukan nggak mungkin, tapi belum!!" batinku.
"Saatnya jam pelajaran kedua, dimulai!!" suara dari speaker sekolah.
"Aku ke kelas dulu ya!!" ujarku sebelum pergi ke kelas.
"Iya," sahut Andika dan Azzam.
Aku lalu berjalan ke kelas. Di tengah perjalanan, aku terus berpikir "Apa timku bisa memenangkan turnamen?!" batinku.
Setelah beberapa menit berjalan, aku akhirnya sampai di kelasku. Aku lalu duduk, berselang beberapa detik akhirnya guru datang.
"Selamat siang semuanya!!" seru Bu Emma.
"Siang, Bu!!" jawab kami semua.
Kami lalu belajar bersama. Kami belajar sampai waktu pulang sekolah.
"Pengumuman-pengumuman. Terkhusus untuk murid yang ikut turnamen, silakan setelah bel pulang sekolah bisa langsung berkumpul di aula!!" suara Pak Slamet di speaker yang terdengar jelas.
"Waktunya pulang sekolah, sampai jumpa esok hari!!" suara dari speaker sekolah.
"Anak-anak, kita bisa pulang. Teruntuk yang ikut turnamen, bisa berkumpul dulu!!" ujar Bu Emma yang sedang mengajar.
"Baik, Bu!!" suara seisi kelas.
"Van, kita ke sana bareng yuk!!" usul Andika.
Aku menoleh ke Andika, lalu menganggukkan kepalaku. Kami lalu berjalan ke aula bersama-sama, setelah beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di aula tempat pertemuannya.
"Semuanya bisa langsung duduk!!" suara Pak Slamet yang terdengar tegas.
Kami lalu duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku duduk dan terpukau dengan tubuh Pak Slamet, tubuhnya kekar, dan tegap, walaupun beliau sudah berumur 45 tahun.
Pak Slamet membuka sebuah buku yang beliau pegang, kemudian beliau mulai membacanya.
"Untuk sebelas pemain yang langsung bermain di babak pertama adalah, Azzam, Andika, Michel, Teo, Ardi, Egy, Yahya, Alfian, Reno, dan Ivan, lalu untuk kapten timnya adalah Reno. Penendang bebas ada Ivan, penalti ada Egy, tendangan pojok kanan ada Ardi, tendangan pojok kiri ada Alfian. Bisa dimengerti?!" tanya Pak Slamet dengan tegas.
"Bisa!!" jawab kami semua.
Saat mendengar namaku disebut tadi, aku sangat senang karena menjadi starter dan juga penendang bebas. Ini adalah kali pertama aku akan bermain di pertandingan sepak bola resmi, walaupun hanya tingkat kecamatan "Akhirnya... Aku bisa unjuk diri!!" batinku.
"Jerseynya sudah dibuatkan, dan untuk nomor punggung juga sudah ditentukan. Jersey akan dibagikan sebelum pertandingan kita!!" seru Pak Slamet.
"Baik!!" jawab kami.
"Sekarang, kita latihan terakhir ya!!" ujar Pak Slamet.
"Siap, Pak!!" jawab kami.
"Kalian langsung ke lapangan," teriak Pak Slamet.
"Siap, Pak!!"
Kami lalu pergi ke lapangan untuk latihan terakhir sebelum pertandingan. Setibanya di lapangan, Pak Slamet memberikan informasi tambahan terkait pertandingan.
"Pritt!!!" suara peluit milik Pak Slamet.
"Semuanya kumpul terlebih dahulu!!" teriak Pak Slamet.
"Untuk pertandingan, akan dibuat dengan sistem kualifikasi. Jika, satu tim kalah artinya tim itu keluar dari turnamen. Jadi, jika kalian ingin memenangkan piala... Artinya apa?!" teriak Pak Slamet.
"Harus menang!!" ujar kami semua.
"Oke, sekarang kalian bisa latihan!!" ujar Pak Slamet.
Kami lalu latihan bermain bola, latihan terakhir, pemanasan terakhir, dan harapan baru.
Ivan lalu mengikuti latihan terakhirnya sebelum pertandingan pertamanya, bagaimana dia di latihan, bagaimana juga tim sekolahnya. Apa mereka bisa menang?
Bersambung...