Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 11
"Bagaimana Egor? uang itu sampai ke keluarganya?" tanya Ava pada pria yang mendatangi rumah Karina.
"Sudah Tuan, aku berikan pada adik nona Karina." Pria itu membungkuk sesaat.
"Baiklah, kalau begitu segera kita ke bandara."
Ava berdiri lalu melangkahkan kakinya di ikuti Egor dari belakang.
Sepanjang perjalanan, Ava teringat kejadian tempo hari. Ia menejamkan mata tatkala mengingat wajah ketakutan Karina, jerit kesakitan Karina saat peluru milik Ava menyerempet kedua bola mata Karina.
"Maafkan aku, bukan sengaja kumelukaimu."
"Tiiiiiiiiiiiiiiiittt!!!
Suara klakson dan rem mendadak yang Egor lakukan membuat Ava terkejut dan membuka matanya.
" Apa yang terjadi?" tanya Ava menatap ke arah Egor yang tiba tiba saja berhenti mendadak lalu keluar dari pintu mobil. Karena penasaran, Ava ikut keluar untuk memastikan apa yang terjadi.
"Nyonya, apakah anda baik baik saja?" tanya Egor membantu mengangkat tubuh Karina dan Mbok Minah yang terjatuh dan hampir saja di tabrak oleh mobil milik Ava.
"Maaf tuan, kami tidak sengaja." Sahut Mbok Minah. "Bu, Ibu baik baik saja?" tanya Mbok Minah pada Karina.
"Wanita itu.." ucap Ava dalam hati memperhatikan wajah Karina.
"Mbok, kakiku sakit." Karina memegang lututnya sendiri.
"Biar aku bawa kau ke rumah sakit." Ava memegang tangan Karina.
"Tidak mas, terima kasih."
"Bagaimana kalau kuantarkan kau pulang?" tawar Ava.
"Boleh kalau mas tidak keberatan."
"Baiklah, mari."
Ava membantu Karina masuk ke dalam mobil duduk di belakang bersamanya. Sementara Minah duduk di depan.
"Kakimu masih sakit?" tanya Ava memperhatikan wajah Karina.
"Tidak apa apa, nanti di rumah bisa di obati," jawab Karina menoleh ke arah suara dan tersenyum.
"Ya Tuhan, aku sudah menghancurkan hidup seorang wanita," gumam Ava dalam hati.
"Mas mau kemana dan asal dari mana? sepertinya mas bukan berasal dari Indonesia?" tanya Karina, karena logat bahasa yang di gunakan Ava berbeda.
"Namaku Alfarezi, kau bisa panggil Ava saja, aku berasal dari Taiwan."
"Wah, jauh sekali. Mas sedang berlibur ya."
Ava hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Karina. Kembali mereka terdiam dengan pikiran masing masing, tak ada lagi perbincangan hingga sampai di halaman rumah Pramudya. Ava keluar dari pintu mobil membantu Karina keluar dari dalam mobil, di ikuti mbok minah.
"Terima kasih mas."
Ava membungkuk hormat meski Karina tidak bisa melihatnya. Lalu ia kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah Pramudya.
"Siapa pria itu?" tanya Pramudya pada Karina.
"Mas, kau sudah pulang? tanya Karina balik.
" Aku tanya, siapa pria yang mengantarkanmu pulang!" bentak Pramudya.
"Oh itu, aku tidak tahu mas." Karina menceritakan pada Pramudya mengapa ia bisa di antar pulang oleh Ava.
"Sekarang masuk ke kamarmu. Lain kali, kalau ada pria yang mencoba mengantarkanmu pulang, jangan pernah kau terima. Kau paham?!"
"Iya mas," sahut Karina.
"Cepat masuk!"
Mbok Minah membantu Karina berjalan memasuki kamar pribadinya.
"Berani sekali pria itu mengantarkan Karina pulang." Pramudya merasa kesal jika ada pria yang dekat dengan Karina, tapi dia sendiri memperlakukan Karina dengan sangat buruk.
Zahra yang memperhatikan raut wajah Pramudya dari balik pintu, mendesah gusar. "Mas Pram ternyata bisa cemburu kalau melihat Karina bersama pria lain."
Zahra kembali menutup pintu dan berpura pura tidak tahu, saat melihat Pramudya berjalan menuju kamar Karina.