NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kolam Keruh

Ruang makan yang biasanya berisik di pagi hari, kali ini sunyi. Aroma makanan yang menggoda sama sekali nggak menarik siapa pun untuk memulai percakapan ringan. Denting sendok jadi suara paling mendominasi. Sisanya, semua orang sibuk sendiri dengan sarapan masing-masing.

Ibu menyuapi Cia dalam diam. Mereka sesekali bertatapan. Tapi, nggak ada obrolan sama sekali, bahkan Ibu nggak mengingatkan apa saja barang-barang yang harus Cia bawa sekolah hari ini, seperti yang biasanya Ibu lakukan.

Tama nggak bersemangat sarapan. Tangannya cuma memainkan nasi di piring tanpa berniat memakannya. Tatapannya tertuju ke piring, seolah di sana ada motor modifikasi yang paling keren yang selalu jadi favoritnya. Ekspresinya murung. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang.

Aku menunduk. Ayam goreng di piringku sisa separuh. Perasaanku masih berantakan sejak semalam dan suasana ini justru menambah kesal.

Aku berdiri, mendorong kursi mundur, lalu membawa piring ke dapur. Ibu, Tama, dan Cia kompak memandangku. Tapi, aku nggak peduli.

Aku buang sisa makanan yang nggak habis. Piring kucuci bersih tanpa mengatakan apa pun. Nggak ada yang berusaha menyapa atau mengajakku berbicara. Aku pun nggak berminat mengatakan sesuatu saat ini.

Kulangkahkan kaki ke kamar dengan cepat. Kali ini, aku nggak membanting pintu, tapi menutupnya secara perlahan. Saat berdiri di depan cermin, aku melihat penampilanku. Celana putih dan kemeja biru tua ini jadi salah satu favoritku. Dengan rambut bergelombang yang sengaja kuurai, aku sedikit berhasil menyamarkan rasa kesal yang masih menumpuk. Ya, paling nggak, aku terlihat tetap segar dan rapi.

Aku berusaha tersenyum. Tapi, bibirku yang melengkung justru memunculkan kesan seram. Aku gagal terlihat baik-baik saja.

Aku memulas bibir dengan lipstik merah cerah. Tapi, tetap saja suasana hatiku tergambar jelas di wajahku yang suram.

Kuraih tas. Sebelum keluar kamar, aku menghela napas. Rasa kesal belum hilang sama sekali. Tapi, aku nggak mungkin keluar rumah dengan perasaan yang kacau. Seperti pengalamanku selama jadi karyawan, suasana hati di pagi hari akan berpengaruh dengan kinerjaku. Jadi, aku mencoba menenangkan diri agar langkahku menuju pabrik lebih ringan.

"Mbak," panggil Ayah dengan suara lemah saat aku melewati kamar Ayah.

Aku buru-buru menghampiri Ayah yang terbaring di kasur. "Kenapa, Yah? Ayah butuh apa?" tanyaku sambil memeriksa tubuh Ayah. Telapak tanganku menyentuh kening Ayah. "Ada yang sakit?"

Pertanyaan bodoh!

Walau suhu tubuhnya normal, nggak mungkin Ayah nggak merasakan sakit. Kankernya sudah menyerang banyak organ dalam yang penting. Kalau nggak mengeluh, bukan berarti tubuh Ayah sedang baik-baik saja. Ayah cuma nggak mau terlihat lemah di depan keluarganya, terutama di depanku.

"Mbak kenapa murung?" tanya Ayah sambil terus memandang wajahku.

Aku mencoba tersenyum sebaik mungkin. "Nggak, kok," bantahku. "Mbak nggak kenapa-kenapa."

Tangan kurus Ayah menyentuh pergelangan tanganku. Tenaganya terasa lemah menekan tanganku. "Mbak harus bahagia, ya!" pinta Ayah. Mata yang dulu tajam itu sekarang selalu terlihat sendu. Suara serak dan lemahnya terdengar menyedihkan.

Aku meraih tangan Ayah, lalu menggenggamnya. Kuusap punggung tangan yang terasa ringkih itu. Seketika, dadaku sesak. Aku nggak pernah sanggup melihat Ayah dalam kondisi lemah begini.

Ayah menggeleng pelan. Energinya seperti hampir habis, padahal Ayah baru saja bangun tidur. "Jangan terlalu membebani diri sendiri, ya, Mbak. Ayah memang nggak bisa bantuin Mbak lagi. Tapi, Ayah selalu doain Mbak."

Sesak di dadaku semakin kuat. Mataku panas. Aku memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.

"Ayah pengin Mbak cepet nikah biar ada yang bantuin Mbak. Kalau nikah, Mbak jadi punya tempat buat berbagi. Mbak bisa cerita semua kegelisahan Mbak yang selama ini disimpan sendirian. Mbak harus punya suami yang tanggung jawab, yang sayang sama Mbak." Ayah berbicara secara perlahan, seperti mobil tua di tengah kemacetan. Walau jalurnya mulai normal, mobil itu tetap nggak bisa bergerak cepat.

Aku tersenyum. Sayangnya, air mataku justru jatuh dengan lancang.

"Mbak harus nikah sama orang yang bisa sayang lebih dari sayangnya Ayah ke Mbak, ya." Mata Ayah berair dan merah.

Aku menepuk-nepuk pundak Ayah. "Ayah nggak perlu khawatirin apa-apa. Mbak baik-baik aja. Mbak juga bahagia, kok. Mbak bisa lebih bahagia kalau Ayah bisa sehat." Aku mengusap air mata. "Nanti mau dibawain apa pas Mbak pulang kerja?"

"Nggak usah, Mbak. Mbak beli yang Mbak pengin aja, buat Mbak. Jangan mikirin Ayah terus. Nanti, Ayah jadi makin merasa bersalah." Suara Ayah bergetar dan makin melambat.

Aku segera mengangguk. Bukan cuma ingin menghentikan perdebatan, aku nggak mau Ayah berpikiran jelek semakin banyak lagi. Kesehatan Ayah sudah jadi beban terberatnya. Aku nggak mungkin menambah masalah dan membuat kondisi Ayah semakin memburuk.

Sepanjang perjalanan ke pabrik Hantex, pikiranku kusut banget. Masalah sejak tadi malam berkolaborasi sempurna dengan semua harapan Ayah pagi ini. Aku bingung mengurai semua masalah ini yang bergelung seperti benang kusut.

Mana yang perlu aku selesaikan lebih dulu?

Selama jam kerja, aku nggak bisa fokus. Banyak pekerjaan yang terabaikan karena pikiranku terlalu penuh. Aku sampai harus bersembunyi di taman belakang, agak jauh dari kantin.

Di jam kerja, taman ini sepi. Aku cuma berpapasan dengan Mbak Yeni yang bertugas menyapu taman. Kami saling melempar senyum karena aku memang nggak berminat berinteraksi dengan siapa pun sekarang. Entah paham atau memang sedang banyak pekerjaan, Mbak Yeni berlalu begitu saja.

Aku duduk di salah satu bangku yang menghadap kolam. Entah sejak kapan kolam itu cuma berisi air dan lumut. Seingatku, selama menjadi karyawan Hantex, aku nggak pernah melihat kolam itu ada ikannya.

Sayang banget, padahal kolam itu bisa jadi salah satu pemandangan menyenangkan kalau ada yang merawatnya dengan baik. Tapi, masalah biaya menjadi kendala utama. Direksi nggak menganggap kolam itu penting. Jadi, mengabaikannya jadi salah satu cara penghematan biaya perawatan pabrik yang paling mudah.

Memandang kolam dengan air keruh yang tenang membuatku sedikit lebih damai. Kolam itu jadi terlihat seperti berisi semua masalahku yang melebur bersama air kecokelatan. Semua masalah berenang ke sana-kemari, lalu tenggelam tanpa pernah aku tahu akhirnya seperti apa.

Kedua kakiku menjulur. Punggungku bersandar pada bangku kayu yang keras. Aku menengadah. Di atas sana, awan putih tebal bergerombol berpayung langit biru jernih. Cahaya matahari menyilaukan. Aku memejamkan mata dan berusaha menikmati suasana hening ini.

Pepohonan di sini menjadikan udara terasa lebih segar. Dadaku cukup lega walau pikiranku nggak benar-benar tenang.

Apa aku sudah terlalu keras semalam? Tapi, aku nggak kuat menahan beban ini sendirian. Kenapa nggak ada yang coba memahami posisiku sekali saja, sih?

Aku teringat dengan kata-kata Ayah. Aku duduk tegap dan tersenyum miring. Kata-kata Ayah lebih mirip lelucon yang nggak masuk akal, tapi berhasil membuatku geli.

Mana mungkin ada pria yang akan memahami semua beban di pundakku ini? Mana ada orang sinting yang mau menikahi perempuan dengan banyak masalah ini?

Lagi pula, apa aku masih boleh bermimpi tentang pernikahan dan keluarga yang bahagia?

Ah! Nggak mungkin!

Sepertinya, aku sendiri yang sudah gila. Tentu nggak ada yang mau jadi suami dari perempuan tua sepertiku.

"Bu Prita."

Aku menoleh ke kiri. Raditya berdiri nggak jauh dari bangku tempatku duduk. Di kedua tangannya ada dua gelas kertas.

Raditya mendekat, lalu menyodorkan gelas di tangan kanan. "Matchalatte." Dia tersenyum lebar yang terlihat tulus dan hangat.

Aku menerima pemberian Raditya. Hangat dari gelas agak mengagetkanku. Aku menghirup isi gelas, lalu menyesap perlahan. Manis samar dan pekat yang menyentak mulutkku menyenangkan. Aku tersenyum. "Makasih," kataku.

Raditya duduk di sampingku. Dengan dua tangan menopang tubuh besarnya dan kopi hitam dalam genggaman, dia memandang lurus ke kolam. "Saya baru tahu Bu Prita suka duduk menyendiri di sini. Ternyata tempat ini nggak terlalu buruk. Tenang walau pemandangan airnya nggak cantik."

Aku tertawa. "Kamu terlalu cepat menilai penampilan luar. Walau airnya keruh, ketenangannya nular. Air jernih perlu perawatan khusus dan ribet. Kalau ada ikan, airnya pasti berisik karena ikan-ikan itu terus bergerak. Jadi, nggak masalah kecantikannya di bawah standar asal tetap bermanfaat bagi orang lain."

Raditya memandangku. Kedua alisnya terangkat. Di matanya ada binar takjub yang nyata. "Wah! Nggak salah saya ngefans sama Bu Prita. Bu Prita selalu punya pandangan yang nggak biasa."

Aku menggeleng malas. Aku mulai terbiasa menerima semua pujian Raditya yang nggak pernah ada habisnya.

"Malam ini, Bu Prita ada acara?" tanya Raditya setelah meminum kopinya.

Aku menyilangkan kaki. Dahiku berkerut memikirkan rencana sepulang kerja. Harusnya, nggak ada rencana penting selain segera pulang dan melihat kondisi Ayah. Tapi, aku nggak mau jujur karena rasanya aneh. Aku dan Raditya nggak cukup dekat untuk saling bertukar jadwal kegiatan.

"Kalau nggak ada rencana, saya mau ajak Bu Prita makan. Kita sudah kenal hampir enam bulan. Tapi, saya merasa kita masih terlalu asing." Raditya memandangku dengan senyum khasnya.

Ini bukan ajakannya yang pertama. Kami juga mulai akrab layaknya rekan kerja. Tapi, aku belum punya alasan untuk menerima ajakan makan malam bersama Raditya ini.

"Saya tahu restoran Korea yang baru buka. Chefnya asli Korea. Sebelum viral dan ramai, gimana kalau kita cobain?" Raditya terus menawarkan, seolah dialah tim marketing restoran itu.

Aku mengangguk. Tapi, tetap saja, aku nggak tertarik.

"Saya yang traktir. Kita makan menu best seller mereka sepuasnya. Kita baru aja gajian kemarin, Bu. Jadi, nggak apalah sekali-sekali memanjakan diri dengan makanan enak." Seperti biasa, Raditya nggak pernah kehabisan ide.

Aku memandangnya. Tawarannya ini mulai terdengar menarik, apalagi aku baru saja mengeluarkan gajiku untuk hal yang nggak terduga semalam. Nggak ada salahnya aku mencoba berteman lebih akrab dengan Raditya, kan?

"Pak Raditya yang traktir?" Aku memastikan sebelum menerima ajakannya.

Senyum Raditya makin lebar. Matanya berbinar cerah. Cahaya matahari membuatnya jadi makin bersinar. "Bill on me!" sahutnya tegas.

"Baiklah." Aku memandang lurus ke kolam yang keruh. "Kita makan malam bareng nanti."

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!