Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan harinya tidak ada drama Rachel mengamuk atau marah-marah seperti biasa. Setelah tadi malam menerima transferan uang sejumlah 15 juta, Rachel mendadak tenang. Tidak ada lagi suara ketus dan sinis Rachel ketika menjawab pertanyaan Arlan atau saat dinasehati. Rachel lebih banyak mengangguk seolah dia akan patuh pada semua nasehat Arlan. Meski entah kedepannya Rachel bisa benar-benar patuh atau saat ini hanya pura-pura patuh saja.
Pagi ini Rachel sudah memulai aktivitas barunya. Mulai hari ini dan seterusnya selama Rachel membutuhkan uang, dia akan mengerjakan pekerjaan rumah dengan membersihkan apartemen. Tidak termasuk memasak karna Arlan yang akan melakukannya. Arlan tidak berani memberikan Rachel tugas memasak karna wanita itu pasti tidak tau apapun soal perdapuran. Arlan bahkan yakin jika Rachel tidak bisa menyalakan kompor karna sebelumnya hidup Rachel terlalu enak. Semua pekerjaan rumah dilakukan oleh asisten rumah tangga.
Arlan yang sedang sibuk membuat sarapan tiba-tiba di hampir oleh Rachel. Rambut Rachel diikat asal dan sedikit berantakan, belum lagi keringat yang memenuhi dahinya. Rachel baru selesai perang dengan vacum cleaner.
“Arlan, aku tidak tau caranya mengepel. Coba kamu contohkan dulu.” Ujarnya sembari menyodorkan alat pel pada Arlan.
Arlan tidak langsung mengambilnya, dia memperhatikan alat pelnya lebih dulu. “Bagian ini isi dulu dengan air dan campurkan cairan pembersih lantai. Kamu bisa mengambilnya di ruang laundry.” Titahnya.
Rachel mencebikkan bibir, apalagi saat melihat Arlan kembali fokus pada masakannya.
“Aku tidak tau pembersih lantai seperti apa dan perbandingannya berapa. Kamu saja yang mengisi.” Rachel meletakkan alat pel di samping Arlan, dia kemudian duduk dengan santai di kursi meja makan.
“Kamu kan bisa membaca, di botolnya ada tulisan yang mana pembersih lantai. Isi air sampai tanda batas, sisanya kamu isi dengan pembersih lantai.” Ujar Arlan tanpa menatap Rachel.
“Kamu benar-benar! Aku kan sudah menyuruhmu, masih saja memaksaku melakukannya.” Rachel menggerutu meski nada bicaranya tidak seketus biasanya.
“Jika sudah tidak butuh uang, kamu boleh berhenti mengerjakan pekerjaan rumah.” Ucap Arlan penuh penekanan.
Rachel berdecak, dia bangun dari duduknya sambil menghentakkan kaki dan mengambil kembali alat pelnya untuk di bawa ke ruang laundry.
“Awas saja kalau Daddy dan Mommy sudah menerimaku lagi, aku akan meminta cerai dan setelah itu akan membalas mu!” Cerutu Rachel sambil mengerjakan pekerjaannya. “Dia pikir dia siapa sampai berani menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini! Jika bukan karna uang, aku tidak sudi melakukannya!”
Selama mengepel, Rachel tidak berhenti mengomel dengan suara pelan agar tidak didengar oleh Arlan. Ini pertama kalinya dia mengepel, sebenarnya Rachel juga tidak yakin apakah caranya benar atau salah. Rachel hanya asal mengepel, bergerak kesana kemari dan memastikan semua lantainya sudah basah terkenal air.
Arlan selesai menata sarapan di atas meja makan. Dia kemudian pergi mencari Rachel dan mendapati wanita itu sedang berbaring di atas sofa dengan satu kaki yang dinaikkan ke sandaran sofa dan asik bermain ponsel. Dress rumahan yang dipakai Rachel sampai tersingkap ke perut dan memperlihatkan celan* dal*mnya yang berwarna maroon. Paha mulus Rachel yang seputih susu, membuat kain segitiga warna maroon itu tampak menyala.
Arlan mengalihkan pandangannya dan sempat memijat pelipisnya yang berdenyut. Cara berpakaian Rachel sama sekali tidak bisa melihat situasi.
“Sudah selesai mengepelnya?” Tanya Arlan.
“Hah?” Rachel menoleh dengan ekspresi bingung karna tidak mendengar jelas ucapan Arlan. Meski melihat Arlan ada di depannya, tapi Rachel seperti tidak berniat membetulkan posisi kakinya.
“Jika sudah selesai mengepel, kembalikan alat pelnya ke tempat semula. Sarapan juga sudah siap, kita sarapan dulu setelah itu pergi ke supermarket.” Tutur Arlan.
“Ke supermarket? Untuk apa?”
“Belanja mingguan, stok bahan makanan sudah habis.”
“Aku tidak mau ikut, kamu saja yang belanja.” Tegas Rachel. Seumur-umur dia belum pernah pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan rumah.
“Ingat perjanjiannya, selain membersihkan apartemen, kamu juga harus ikut kemanapun aku mengajakmu pergi.” Arlan langsung mengingatkan Rachel dengan perjanjian yang sudah mereka sepakati tadi malam.
Rachel mendengus kesal, tapi dia tidak bisa membantah lagi karna faktanya memang kesepakatan mereka seperti itu.
“Iya! Iya! Aku mau mandi dulu.” Rachel turun dari sofa tanpa memperhatikan dress bagian bawahnya tersingkap kemana-mana. Arlan hanya bisa menarik nafas dalam setiap kali melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
“Kenapa?” Teguran Rachel menyadarkan Arlan dan membuat pria itu segera mengalihkan pandangannya.
“Lain kali pakai hotpants jika memakai dress.” Arlan berlalu setelah mengingatkan Rachel agar memakai celana pendek untuk menutupi kain segitiga milikinya.
Rachel menunduk dan reflek merapikan bagian bawah dressnya. “Baru melihat paha ku saja sudah panik, padahal malam itu,,,” Rachel tidak meneruskan ucapannya, pipinya tiba-tiba memanas. “Sialan! Itu benar-benar memalukan.” Umpatnya pelan.
“Semua ini gara-gara Bulan, dia pasti menukar gelas ku.” Rachel masih saja menyalahkan Bulan atas apa yang menimpanya malam itu, padahal jelas-jelas dia yang membawa minuman bercampur obat perangsang dan menaruhnya di meja Bulan.
...*****...
Arlan sedang mengemudikan mobilnya menuju supermarket yang ditempuh sekitar 10 menit dari apartemennya. Rachel tampak duduk tenang di samping Arlan sambil memainkan ponsel. Saat berhenti di lampu merah, Rachel tiba-tiba menurunkan kaca jendelanya dan memaki seorang pria.
“Berani-beraninya kamu pergi dengan wanita lain menggunakan sepatu dan jaket dariku!” Teriaknya.
Seorang pria dan wanita yang sedang diatas motor gede itu sontak kaget dengan aksi Rachel yang meneriakinya.
“Sayang, siapa dia?” Tanya wanita yang memeluk erat kekasihnya.
“Bukan siapa-siapa, dia hanya tergila-gila padaku tapi aku menolak cintanya.” Jawabnya tegas.
“Robby sial*n!! Sejak kapan aku tergila-gila pada laki-laki miskin sepertimu! Kamu yang selalu mendekatiku agar bisa belanja barang mahal tanpa mengeluarkan uang.” Seru Rachel emosi.
Arlan meraih tangan Rachel dan mencoba untuk menghentikan kemarahannya karna mereka ada ditempat umum, mereka menjadi tontonan orang-orang yang sedang menunggu lampu merah.
“Rachel sudah, tutup kacanya.” Bujuk Arlan. Kepala Rachel sampai keluar jendela, jadi Arlan tidak bisa berbuat banyak untuk menutup kaca jendelanya.
“Diam! Aku harus memberi pelajaran pada laki-laki yang hanya memanfaatkan orang!” Serunya sembari menepis tangan Arlan.
“Asal kamu tau ya, Robby ini tidak punya apa-apa. Aku bahkan tidak yakin motor ini miliknya. Uang 5 juta saja tidak ada di rekeningnya. Lihat saja, kamu hanya akan dimanfaatkan oleh Robby!” Rachel mencoba memprovokasi wanita yang sedang bersama Robby. Setelah Robby mengabaikan dan tidak mau membatunya, Rachel tidak akan diam saja melihat Robby bisa bersenang-senang dengan wanita lain.
“Robby, apa benar yang dia katakan? Kemarin aku juga memintaku membelikan jam tangan.” Tegur wanita itu yang mulai termakan omongan Rachel.
Sementara itu Rachel langsung tertawa puas. “Robby,, Robby,, dasar tidak punya malu!” Serunya kemudian menutup kaca jendela mobil dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Rachel, apa kamu sadar tindakan mu akan membuat laki-laki itu dendam karna sakit hati? Itu akan membahayakan untukmu.” Tegur Arlan tak habis pikir. Robby dihina habis-habisan dan dipermalukan di depan umum, sudah pasti membuatnya sakit hati.
“Seharusnya si bodoh itu yang sadar! Cepat jalan, lampunya sudah hijau.”
Rachel tampak santai memainkan ponselnya lagi seolah-olah tidak pernah terjadi keributan sebelumnya.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊