Kisah cinta Dev dan Maya yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.
Saat mengetahui tentang perjodohan itu, keduanya sama-sama tidak mau dijodohkan karena mereka sudah memiliki kekasih masing-masing. Walau begitu Maya tetap berusaha menerima perjodohan itu.
Maya atau Vina adalah seorang mahasiswi jurusan keguruan atau PGSD,
Sedangkan Dev atau Vano, adalah mahasiswa fakultas ekonomi, jurusan Manajemen Bisnis.
Maya dan Dev, kuliah di universitas yang sama, tapi keduanya tidak tahu kalau orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka ternyata orang yang mereka sukai.
Bagaimana kisah selanjutnya? Penasaran?
Lanjut baca yuk👉🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom's chaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macan Hitam
Dirumah pak Indradi.
Praangg........Suara gelas pecah yang tiba-tiba saja jatuh dari tangan bu Ayu, ibunda Maya. Dia terkejut ketika gelas yang ia pegang tiba-tiba jatuh, dan pecah. Pecahan beling dari gelas itu berserakan dilantai ruang tamu keluarga pak Indradi.
"Kenapa ma? Mama baik-baik saja kan?" Tanya pak Surya.
"Mama baik-baik aja pah. Tapi mama nggak tahu, tiba-tiba perasaan mama kok nggak enak ya pah. Mama ingat Maya."
"Mungkin kamu kangen dia. Coba saja kamu telepon." Ucap pak Surya.
"Iya jeng, daripada penasaran mending jeng telepon aja Maya sekarang." Saran bu Dina.
Bu Ayu menelpon Maya.Telepon tersambung, tapi tidak diangkat. Lalu dia mencobanya lagi. Namun hasilnya sama, Maya tidak mengangkat telpon darinya.
"Nggak diangkat pah."
"Mungkin dia sedang bersama orang yang akan menjadi donatur di panti itu, makanya dia tidak mengangkat telepon kamu. Sudahlah, kalau kamu mengkhawatirkan dia, kamu do'akan saja, supaya dia baik -baik saja." Ucap pak Surya.
**********
Kembali ke hutan.
Maya berusaha menghilangkan rasa takutnya. Sekarang dia pasrah, kalau seandainya dia harus pergi dengan jalan diterkam macan hitam itu.
Macan itu mendekati Maya yang sedang duduk dibawah pohon besar. Sorot matanya seperti sebuah senter yang menyala di kegelapan. Maya kembali merasakan badannya gemetar, berhadapan langsung, dengan sang raja hutan.
Ditengah ketakutannya, Maya merasa heran dengan macan hitam didepannya ini. Dia mengira makhluk buas ini akan langsung menerkamnya saat ia mendekatinya. Tapi dia salah. Macan ini seperti memperhatikan Maya, dan tahu kalau Maya ketakutan.
Sang macan masih berdiri, dengan jarak kurang dari satu meter dihadapan Maya. Sorot tajam dari sang macan seperti mulai melemah. Lalu macan hitam itu pun pergi meninggalkan Maya.
Maya menghela nafas panjang, merasa lega karena sang penguasa rimba sudah pergi dari hadapannya. Walau ia merasa heran dengan apa yang baru saja terjadi, tapi ia bersyukur karena akhirnya ia lolos dari maut.
*Ditempat Perampok.
"Mereka kemana sih?.Buang air aja lama banget." Gerutu perampok laki-laki itu, lalu turun dari mobil, berniat menyusul mereka.
Laki-laki itu masuk ke semak-semak tempat Maya dan perampok perempuan tadi, dan ia terkejut, ketika melihat teman wanitanya tergeletak tak sadarkan diri.
Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Maya, yang dia yakin tawanannya itu kabur. Perampok laki-laki itu mengangkat tubuh perampok wanita dan berusaha menyadarkannya. "Hey..Rita, bangun lo.".Ucap laki-laki itu, sambil memukul pelan pipi temannya.
"Bangun lo...mana gadis itu?."Tanya dia.
Rita mengerjap kan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dia memegangi kepala yang masih terasa sakit, akibat hantaman batu.
"Dia kabur."Jawab Rita, saat kesadarannya kembali.
"Apa lo bilang?.Kabur?. Gimana sih lo, jagain satu cewek ingusan aja nggak bisa."
"Sudahlah, lagian dianya aja yang bego. Pake acara kabur-kabur segala. Emang mau pergi kemana?.Paling sekarang dia jadi makanan babi hutan." Jawab Rita.
"Lo yang bego. Lo tahu dia bisa jadi pohon duit buat kita. Kalau gue tahu dia bakal kabur, gue kerjain dulu tadi tuh cewek."ucap perampok pria itu.
"Kita udah dapetin mobilnya, lumayan kan kalau kita jual?. Lo jangan serakah. Apa lo nggak kasihan sama gue?. Lihat nih kepala gue sampe berdarah gara-gara tuh cewek. Sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum para penghuni hutan ini nyamperin kita." Ujar Rita, sambil berjalan menuju mobil.
***********
Di dalam Hutan.
Setelah kepergian macan hitam itu, Maya bangkit dari duduknya. Ia akan terus berusaha keluar dari hutan, dan mencari rumah warga. Maya tahu sebentar lagi malam akan tiba. Dia memperkirakan mungkin sekarang sudah pukul tiga atau empat sore. Dia tidak mau kalau harus melewati malam didalam hutan yang gelap itu.
Maya mulai berjalan menyusuri arah cahaya matahari. Baru beberapa langkah kakinya berjalan, Ia kembali dikejutkan dengan sosok macan hitam yang tiba-tiba ada di hadapannya. Maya kembali gemetar karena takut.Tapi macan itu tidak melakukan apapun padanya. Dia tidak menyakiti Maya, malah sebaliknya, ia seperti menunjukkan jalan kepadanya
Entah ini perasaannya atau mungkin halusinasinya, tapi Maya merasa macan itu menyuruhnya untuk mengikutinya.
Seperti terhipnotis, Maya mengikuti Macan itu.
Cukup jauh macan itu membawa Maya, hingga akhirnya ia sampai di tempat yang cukup terang. Percaya atau tidak, tapi macan itu benar-benar telah menunjukan jalan keluar padanya. Maya mengucapkan terima kasihnya kepada macan itu, walau ia sudah tidak melihatnya.
Maya bisa melihat ada beberapa rumah warga, diseberang tempat ia berdiri sekarang.
Hanya saja, Maya tidak tahu bagaimana cara untuk sampai kesana, karena sekarang ia berdiri di atas tebing yang cukup tinggi.
Walau ragu dan takut, Maya berjalan menuruni tebing, dengan sangat hati-hati. Ia bertekad harus sampai di tempat yang ada rumah warga sebelum gelap.
Saat ini Maya sudah berada di tengah-tengah tebing itu. Dia berusaha menuruni tebing, dengan berpegangan, karena takut jatuh. Namun sayangnya, saat dia berpegangan pada dinding tebing yang licin, tiba-tiba saja tangannya terlepas, hingga ia jatuh terlempar ke dasar tebing, dan kepalanya terbentur.
"awwww........pekik Maya, saat merasakan sakit di kepala dan seluruh tubuhnya saat ia terjatuh, ke dasar tebing. Badannya terasa remuk, dan sangat sakit. Sungguh rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ditambah rasa sakit di kepalanya yang terlihat mengeluarkan darah.
Tidak hanya dikepala, darah segar juga mengalir, dari hidung dan sudut bibirnya. Maya merasa kalau malaikat maut benar-benar akan menjemputnya. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangannya mulai kabur, dan rasa sakit yang dirasakannya semakin menjadi.
Maya tergeletak lemah tak berdaya, tapi ia tidak pingsan. Ia masih sadar, dan bisa mendengar suara aliran sungai yang ada beberapa meter dari tempatnya terjatuh.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Maya seperti mendengar suara langkah kaki.
Mungkin itu malaikat maut yang akan menjemput ku. Batin Maya.
"Kita pulang sekarang, sudah sore." Ajak seorang pria tua.
"Sebentar kek, saya mau cuci tangan dulu."Jawab seorang lelaki yang sudah menemaninya, menanam benih tanaman. Ia melangkahkan kakinya menuju sungai, dan mulai mencuci tangannya yang kotor.
Samar-samar Maya bisa mendengar suara mereka. Ia yakin ada orang didekatnya sekarang.
"To... looong......"to....looonng.". Ucap Maya lirih, sembari menahan sakit. Laki-laki itu, menghentikan aktifitasnya, ketika ia merasa mendengar suara orang yang meminta tolong.
Dia mengedarkan pandangannya ke semua arah, namun ia tidak melihat siapapun, dan suara itu juga tidak terdengar kembali. Mungkin cuma perasaanku saja. Gumamnya dalam hati
Laki-laki itu sudah selesai mencuci tangannya. Dia berdiri, lalu suara itu kembali terdengar dan kali ini dia mendengar dengan cukup jelas.
Lelaki itu kembali mengedarkan pandangannya, berusaha mencari sumber suara.
"Kamu nyariin apa nak?." Tanya sang kakek
"Saya seperti mendengar suara orang minta tolong, kek."Jawabnya
"Ah masa, kakek nggak denger apa-apa." Sahut si kakek
"To....long!!
"Tuh kan kek, kakek dengar?." Tanya pria itu, lalu kembali ke tempat ia mencuci tangannya.
Dan pandangannya berhenti di sebuah batu besar didepannya.
Ia yakin suara itu berasal dari sana. Dia menghampiri batu itu, dan benar saja dia menemukan seorang gadis tergeletak dengan wajah yang berlumuran darah, dan tertutupi rambut. "Astagfirullah, kek lihat ini." Ucap lelaki itu dengan wajah terkejut.
Dia lalu mengangkat Maya, dan menggendongnya, ala bridal style.
Apakah ini malaikat mautku?
Kenapa wajahnya mirip sekali dengan dia?.Sepertinya aku benar-benar akan mati, Karena sekarang aku seperti melihat dia. Batin Maya, lalu dia pun pingsan.
.
.
.
Bersambung🌞