Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.11
Arsyila sedang dilema dengan perasaannya. Disisi lain ia mencoba untuk melupakan Gus Ilham. Namun, disisi lainnya ia sulit untuk menghapus rasa cintanya. Tetapi ia sadar, sejauh apa pun ia berjuang, ia tak mungkin bisa bersatu dengan Gus Ilham.
‘Mungkin sudah saatnya aku melupakannya,’ batin Arsyila sambil tersenyum menutupi kesedihannya.
Bugh
“Aduh,” pekik Arsyila sambil memegangi kepalanya. Ia menatap ke sekitar, mencari seseorang yang sudah berani melempar botol ke kepalanya. “Hey, siapa disana?” Arsyila menatap ke belakang tetapi tidak melihat siapa pun.
“Dor ....” Adam mengagetkan Arsyila dari arah sampingnya.
“Astagfirullah’aladzim.” Asyila memegangi dadanya. “Bisa nggak sih jangan buat orang kesal.” Arsyila menatap Adam tajam.
“Cup cup ... jangan marah dong, sayang. Aku kan cuma becanda saja.”
“Sayang sayang, sudah aku katakan jangan panggil aku seperti itu,” ucap Arsyila.
“Makin cantik saja kalau lagi marah gini.” Adam hendak memegang pucuk kepala Arsyila, tetapi ia menepis tangannya.
“Jangan pegang-pegang!” tegurnya.
“Maaf, sayang.”
“Lebih baik kamu pergi deh. Nanti kalau ada yang melihat kita berdua bisa jadi salah paham,” usirnya.
“Kamu tenang saja, sayang. Tidak akan ada yang bisa memergoki kita. Bukankah kamu masih ingat jika aku ini penyelinap yang handal.”
Adam mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Ia menatap ke sekitar mencari tempat persembunyian. Lalu ia menarik tangan Arsyila sambil menaruh telunjuknya di mulut mengisyaratkan untuk diam.
Kini Arsyila bersembunyi di dekat tong sampah sambil berjongkok. Sedangkan Adam naik ke atas tembok pembatas lalu melompat. Arsyila mendengar langkah kaki seseorang yang semakin dekat.
“Aneh, tadi ada suara orang mengobrol tapi ternyata tidak ada siapa pun,” gumam seorang santri putri bagian keamanan yang kebetulan tadi lewat sana.
Arsyila keluar dari tempat persembunyiannya setelah melihat kepergian orang itu. Lalu ia menatap ke arah tembok pembatas antara asrama santri putra. Ia melihat Adam yang kini sudah kembali naik ke atas sambil menautkan kedua tangannya berbentuk hati.
“Hey, apa yang kamu lakukan disana?” terdengar suara seseorang dari arah belakang Adam.
“Mampus, ketahuan juga.” Adam menepuk keningnya lalu ia bergegas turun.
Arsyila hanya senyum-senyum melihat Adam yang sepertinya ketahuan menyelinap. Lalu ia kembali ke asrama. Ia tak mau kena hukuman jika berlama-lama disana.
Adam mendapatkan hukuman karena ketahuan menyelinap ke area asrama putri. Ia diminta untuk membersihkan kamar mandi di asrama putra. Rupanya Adam menyuruh santri lain untuk melakukan hukumannya itu, sedangkan ia memberinya uang sebagai upah.
“Jika begini kan enak,” gumam Adam lalu berniat pergi ke kantin untuk nongkrong.
Walaupun sekarang sudah tinggal di pesantren tetapi kelakuan Adam masih tetap sama. Ia susah di atur, apalagi menyangkut mematuhi peraturan pesantren. Saking pintarnya, ia mampu mengelabuhi senior sehingga ia jarang kena hukuman.
“Adam, apa yang kamu lakukan disini! Bukankah harusnya kamu menjalani hukuman.” Gus Ilham menghampiri Adam.
“Dari mana kakak tahu kalau aku di hukum? Em lagian aku sudah bayar orang untuk mengerjakan hukuman itu,” ucap Adam dengan santainya.
Gus Ilham menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu di titipkan disini biar sikapmu berubah, tapi kenapa kamu tetap semaunya sendiri?”
“Mending aku dong yang semaunya sendiri tapi berusaha mengejar cintaku, dari pada kakak tuh udah ngajak taaruf Arsyila malah nerima perjodohan sama wanita lain,” ucap Adam menyindir.
Gus Ilham cukup tertegun mendengar perkataan Adam yang memang benar adanya. Ia seolah memberikan harapan kepada Arsyila tetapi tidak ada kejelasan. Adam yang melihat perubahan di wajah Gus Ilham membuatnya tersenyum kecut. Ia tahu jika Gus Ilham tidak bisa memilih salah satunya.
“Aku harap kakak tidak akan menyesal.” Adam menepuk pelan bahu Gus Ilham, lalu ia beranjak pergi dari sana.
...
...
Siang ini aula pesantren sudah tampak ramai. Abah Ahmad menggelar pengajian akbar dan seorang Ustadz kondang yang mengisi acara. Ia adalah Gus Ulin Nuha. Para santri putri tampak serius menatap wajah Ustadz tampan yang sedang ceramah di depan sana. Namun tiba-tiba tatapan semua orang teralihkan saat melihat seorang wanita bercadar yang baru datang dan langsung duduk bergabung bersama pengurus pesantren.
“Siapa itu, Fa? Kok aku baru melihatnya. Terus kok dia duduk di depan sana?” tanya Arsyila kepada Fatimah yang duduk di sampingnya.
“Kalau nggak salah lihat sih sepertinya Ning Aisyah, hanya saja sekarang dia sudah bercadar. Padahal sebelum ke Mesir, Ning Aisyah belum bercadar,” jelas Fatimah.
“Siapa itu Ning Aisyah?” tanya Arsyila yang merasa penasaran.
“Anaknya Abah Ahmad,” jawabnya.
Deg
Arsyila merasakan jantungnya berdetak tak beraturan. Ternyata wanita itu sudah datang. Wanita yang di jodohkan dengan Gus Ilham. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Mampukah dirinya menyaksikan lelaki yang di cintainya menikah dengan wanita lain?
“Cil, kamu kenapa?” Fatimah melihat raut wajah sahabatnya berubah.
“Aku tidak apa-apa kok,” ucapnya.
Fatimah menepuk keningnya. Ia baru sadar jika perubahan raut wajah sahabatnya itu karena ucapannya.
“Maafkan aku, Cil. Aku sudah buat kamu bad mood,” ucap Fatimah.
“Bukan salahmu, Fa. Lagian cepat atau lambat Gus Ilham memang akan menikah dengan Ning Aisyah. Aku sadar siapa diriku ini.” Arsyila mencoba tersenyum. Namun, Fatimah tahu jika senyum sahabatnya itu di paksakan.
Mereka kembali fokus mendengarkan ceramah. Arsyila mencoba untuk berdamai dengan hatinya. Cinta memang tak harus memiliki. Apalagi cinta dari wanita ternoda seperti dirinya.
“Asyik juga ya dengerin ceramahnya. Lebih baik kamu coba melupakan Gus Ilham. Siapa tahu nanti penggantinya yang seperti Gus Ulin,” ucap Fatimah kepada sahabatnya.
“Ah khayalanmu terlalu tinggi, Fa. Yang seperti Gus Ilham juga tidak pantas bersanding denganku, bagaimana jika Gus Ulin? Melebihi langit dan bumi.”
“Kalau gitu yang seperti Adam,” sahutnya.
Arsyila melotot mendengar nama lelaki yang paling ngeselin dari mulut sahabatnya. “Apa maksudmu? Pakai bawa-bawa nama Adam segala?”
“Aku tahu loh kalau Adam mencoba mendekatimu.”
“Awas saja kalau kamu nyebarin gosip itu!” ancam Arsyila.
“Tenang, aku bukan penyebar gosip seperti duo racun.” Fatimah mengusap pelan punggung sahabatnya.
Acara pengajian kali ini terbilang meriah. Bukan hanya para santri saja yang hadir menyaksikan. Namun, banyak masyarakat sekitar yang ikut menyaksikan pengajian dari Ustadz kondang itu. Hingga pukul lima sore pengajian tersebut baru selesai. Para santri putri mulai membersihkan aula pesantren setelah melihat para tamu meninggalkan tempat. Sedangkan dari perwakilan santri putra hanya ada beberapa. Mereka membantu mengangkat alat-alat yang berat seperti kursi dan meja yang ada di depan panggung, yang tadi di duduki oleh para pengurus pesantren dan tamu agung.
“Cil, lihat tuh! Bukankah itu Adam? Tumben dia mau ikutan beres-beres.” Fatimah berucap dengan sedikit berbisik kepada Arsyila.
“Biarkan saja, mungkin dia sudah capek jadi bad boy pesantren, jadinya mendadak rajin,” ucap Arsyila tanpa menengok ke arah yang di tunjuk oleh Fatimah.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.