Vivian yang kembali mengulang waktu begitu bahagia, serasa mendapatkan durian runtuh.
"Aku akan menjauh, bahkan takkan menampakkan diriku lagi dihadapanmu Alexander Smith" Ucap vivian penuh tekad
Tapi bagaimana jika takdir malah mendekatkannya dengan pria yang ingin dijauhinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Vivian telah sampai di depan rumah, padahal hari masih sore, itu karena kini Vivian telah memperkerjakan seorang manager untuk cafenya, meskipun itu berarti Vivian harus mengeluarkan biaya gaji tambahan, tapi baginya itu sepadan dengan bebannya yang akan mulai berkurang, karena Vivian tetap mengawasi jalannya Cafe.
Meski begitu Vivian tak beranjak keluar dari dalam mobilnya, masih kesal memikirkan kejadian saat makan siang di ruangan Alex.
"Ingin rasanya aku mencakar-cakar wajahnya yang menyebalkan itu, haaah tapi mana aku berani, kenapa dia sekarang jadi mesum begitu sih, suka sekali curi-curi kesempatan, Ah , aku kesal, kesal, kesallll"
"Tok, tok, tok"
Vivian terperanjat mendapati pintu mobilnya di ketuk dari luar, dan orang yang mengetuknya adalah Kak Kevin.
"Mudahan dia tak mendengar semua ucapanku tadi" Gumam Vivian, kemudian membuka pintu mobilnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu berbicara sendiri di dalam mobil, kamu gak ketempelan jin kan?" Tanya kak Kevin yang pulang bersama temannya.
" Ih kakak, masa cantik-cantik begini ketempelan jin sih, Aku hanya kesal tadi ada orang gila menyetir ugal-ugalan" Ucapnya mencari alasan.
"Benarkah? Tapi kamu tidak apa-apakan?" Tanya kak Kevin dengan raut wajah cemas.
"Untungnya aku baik-baik saja kak"
"Maafkan aku kak telah membohongimu" batin vivian merasa bersalah "Tapi aku juga tak bisa menceritakan hal ini padamu, rasanya akan sangat memalukan"
Di ruang keluarga, terlihat Papa Rudolf yang tengah asyik membaca koran, dengan kacamata bacanya.
"Kalian pulang bersama? Tanya Papa Rudolf yang melihat mereka masuk bersama ke dalam rumah.
"Tadi kami ketemu di luar pa, Bu Salma kue yang untuk Papa dan Kak Kevin tolong dikeluarin ya?"
"Baik non"
"Jadi tak ada kue untukku juga nih" Ucap Kak Putra protes namanya tidak disebut.
"Ha, ha,ha, habis Vivian kan tidak tau kalau kak Putra akan kemari. Tapi kalau kak Putra mau, boleh ikut makan kok, Tadi lumayan banyak kuenya Vivian simpankan, Yaudah ya Vivian pamit ke Kamar dulu dah papah".
Sepeninggal Vivian , tak lama Bu Salma datang membawa kue bingka dan tiga gelas es frambose.
"Kue apa yang di buat Vivian bu? Tumben jajanan lokal?" Ucap Kevin mencomot satu kue bingka dan langsung menggigitnya "Gila, sumpah kue ini enak sekali, lebih enak dari yang biasa beli diluaran, bakat anak itu gak kaleng-kaleng kalau soal memasak".
Karena penasaran Papi Rudol dan kak Putra mulai ikut memakan kuenya, dan mengangguk setuju dengan ucapan Kevin, rasanya memang lebih enak.
"Sirup ini juga non Vivian yang bikin"
Ketika mereka menyeruput, rasa segar aroma frambose menyapa lidah mereka, membuat mereka berdecak kagum dengan keahlian Vivian.
"Wah, yang jadi suami adikmu beruntung sekali, nih. Aku juga mau jadi suaminya kalau begini"
"Modelan playboy kayak kamu tidak boleh buat adikku, Terus pacarmu si Sasa mau dikemanain?"
"Kalau Vivian mau jadi istriku, bakal kuputusin"
"Terus si Naura, si Silvi gimana, ckck. Awas kamu ya ajakin pacaran adikku, siap-siap ku 'hek' " Ucap Kevin serius dengan gerakan tangan memotong leher.
"Hahaha, ih serem sekali sih beiparan sama kamu"
Pagi yang cerah di mension Alexander, Simone segera membukakan mobil, begitu melihat bosnya telah siap berangkat kerja, tapi ada yang berbeda pada bosnya yang di rasakan Simone saat ini.
"Ya, Ampun sebenarnya apa yang terjadi padanya, kemaren dia uring-uringan, dan sekarang dia tersenyum terus. Hei , apa itu kenapa dia tertawa sendiri, sepertinya dia ketempelan mahluk halus, kudengar di belakang gedung ada mba kunti penunggu pohon asam" Ekor mata Simone sekali-kali melirik bosnya yang duduk di barisan kursi penumpang bagian belakang lewat kaca spion, bulu kuduknya merinding sendiri memikirkannya.
Di ruang kerja, Alex belum menyentuh berkas-berkas kerjanya, dia masih terbayang-bayang wajah Vivian saat dia berhasil mengecup pipinya, sangat menggemaskan.
"Baru jam delapan tapi aku sudah ingin bertemu dengannya" Batin Alex mendesah, tak sabar agar hari berganti siang "Eh, tapi waktuku bertemu dengannya hanya di jam makan siang, kalau aku tidak selesai-selesai mengerjakan ini aku tidak bisa bersantai-santai dengannya, harus selesai sebelum dia datang"
Jam makan siangpun tiba, Vivian telah tiba di ruang kerja Alex , hari ini dia membuat Carbonade Valdostana dan White Peach Tart sebagai dessert.
"Kamu membuat masakan itali?"
"Ya, masakan daerah hanya kujanjikan dibuat pada hari kemarin. Kamu mau masakan daerah yang lain lagi?"
"Bolehkah?"
" Tentu saja, baiklah besok akan kubuatkan masakan dari daerah Sulawesi"
"Ok"
Ketika tengah asyik makan, sebuah notifikasi chat whattsapp muncul di handphone Vivian, membuatnya menyunggingkan sebuah senyum.
"Ada apa? Kenapa kau tersenyum-senyum?" Alex memicingkan mata penasaran
"Oh ini ada chat grup cafeku, hari ini ada yang off, dan dia memamerkan foto-foto pada kami di grup , kalau saat ini dia sedang ada di Taman Hiburan dengan pacarnya" Menunjukkan foto-foto tersebut pada Alex "Kau pernah ke sana?"
"Tidak, kau?"
"Benarkah? Aku juga tidak"
"Baiklah ayo kita pergi" Ucap Alex bersemangat dan langsung berdiri menarik Vivian keluar.
"Apa, maksudmu sekarang? bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Vivian bingung dan segera menyambar tasnya.
"Aku Bosnya, siapa mau protes"
Saat hendak keluar bertepatan dengan Simone yang akan masuk menyerahkan berkas.
"Bos mau ke mana?"
"Serahkan kunci mobil, kamu uruslah kerjaanku"
Bukannya menjawab , Alex malah meminta kunci, yang langsung di serahkan oleh Simone.
Tanpa sadar Alex terus berjalan ke arah lift dengan menggandeng tangan Vivian, membuat banyak mata karyawan menatap ke arah mereka, Vivian berusaha melepaskan pegangan tangannya, tapi Alex menggenggamnya dengan sangat erat.
"Alex, bisa kau lepaskan tanganku?" Tanya Vivian memohon, Alex melihat ke arah tangan mereka, lalu melihat wajah Vivian yang memerah malu dan melihat karyawannya yang sedang memperhatikannya.
"Tidak" Ucapnya acuh dan terus menariknya ke lift, sebuah senyum samar terbit di wajahnya.
Sesampai di Taman Hiburan suasana tidak begitu ramai karena merupakan hari kerja, yang paling bersemangat disini justru adalah Alex, beberapa kali Alex mengajak Vivian naik Rooler Coster hingga Vivian muntah-muntah dan tak tega mengajaknya kembali menaiki rooler cooster, dan memilih bermain wahana yang lain, hampir semua wahana permainan mereka coba hingga hari menjelang sore.
"Wah, lucu sekali" Ucap Vivian antusias melihat bando-bando lucu dan memasangkanya satu pada Alex yang bergambar Mickey Mouse, Alex yang ingin protes di pasangkan benda konyol di rambutnya, diurungkan melihat bando itu sepasang dengan bando minni mouse yang tersemat di kepala Vivian.
"Mau saya fotokan, anda berdua tampak serasi" Ucap penjual aksesoris itu antusias.
"Kami bukan..."
"Boleh tolong fotokan kami" Ucap Alex memotong kata -kata Vivian dan langsung menyerahkan handphonenya.
"Kok jauh-jauhan seperti foto mau demo" protes penjual aksesoris "Masnya , dirangkul dong mbanya"
"Begini?" Ucapnya langsung merangkul Vivian, melihat hal itu Vivian berusaha melepasnya "Pilih mana, di rangkul atau di cium".
Vivian melotot mendengar dua pilihan yang di sodorkan oleh Alex, jika bisa Vivian tak memilih dua-duanya. akhirnya Vivian pasrah memilih mereka di foto dengan Alex yang merangkulnya.
authooor.. up lah😭 banyak yang masih menantikan kelanjutan ceritanya. tetap semangat, jangan digantung ceritanya. lebih dari setahun aku menanti update dari mu. hingga saat ini aku masih menanti. rela komen panjang dan sekaligus berdoa untuk mu . up ya aku masih menanti😊😊