Sebelum membaca bantu follow akun Ig: @siutayi
Segala pengorbanan dan penantian daniah terhadap yoga setelah bertahun - tahun lamanya menunggu janji terhadap lelaki yang ia cintai.
Nyatanya itu hanya janji palsu, yang ada yoga melamar delima adik kandung daniah kepada kedua orang tua nya dan itu semua membuat Daniah marah besar dan membencinya. Apakah Daniah akan menemukan belahan jiwa yang tepat?? ataukah akan kembali kepelukan yoga??
Bagaimana kisah Daniah selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sementara itu ditempat lain, restoran yang terlihat begitu mewah Delima dan kedua orang tua nya juga yoga sedang duduk disana menunggu seseorang yang diundang. Karena ini adalah rencana yoga mempertemukan antara keluarga mereka sebelum delima dan yoga akan tunangan.
"Ck, kenapa lama sekali sih. Ma, seperti nya papa ngak bisa menunggu deh ini sudah hampir pukul 13.20 aku bisa telat miting nih." Ucap papa Teo menatap jam yang melihat pada pergelangan tangan kanannya.
"Tunggu dulu ajaa pa, apa tidak bisa dituda mitingnya?" Tanya mama Dina.
"Ck, papa tunggu setengah jam lagi kalau tidak sampai papa akan langsung kantor saja." Ketus papa Teo tanpa menatap istrinya.
"Nak yoga apakah masih lama lagi???" tanya mama Dina.
"Sebentar lagi aunty." Ucap yoga, matanya sibuk menatap kearah pintu restoran yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Selang beberapa detik terlihat dua orang paruh baya sedang berjalan kearah mereka dengan wanita paruh baya bergandengan pada lengan pria paruh baya yang sekiranya usianya 70 tahun.
(lumayanlah, aku ngak tahu usia segitu udah disebut paruh baya atau tidak?? Kenapa author bisa bodoh kayak gini yah🤣🤣🤣)
"Oh itu mereka." seru delima.
"Selamat siang semuanya." Sapa Pak Yanto, ayah dari yoga.
"Ayah kenapa lama sekali???" Tanya yoga, berlalu saling memeluk dan memeluk mama Yola juga (Mama yoga).
"Maaf nak, ayah kena kendala dijalan tadi."
Pak Yanto beralih memandang dua paruh baya yang kini berdiri dan akan berjabat tangan dengan kedua orang tua yoga.
"Saya mama dari delima, kekasih yoga." Sapa mama Dina.
"Dan ini suami saya." Ucap mama Dina. Karena papa Teo hanya tersenyum dan menjabat tangan kedua orang tua yoga secara bergantian. Sebetulnya ia malas sekali melakukan itu tapi karena ini demi menjaga kehormatan keluarga nya ia tidak mungkin melakukan tindakan yang mencemari nama baiknya nanti. Dia kan seorang CEO ternama disebuah perusahaan terbesar nomor 1 di Indonesia tetapi ia menyembunyikan nya.
"Panggil saja saya Yanto dan ini istri saya Yola." Ucap pak Yanto memperkenalkan setelah mereka duduk.
Makanan pun akhirnya datang, sembari memakan makanan nya mereka menyelipkan perbincangan masalah pertunangan yoga.
"Yah jadi tentang pertunangan ku dengan delima kan?? ayah tidak lupa kan??" tanya yoga mengingatkan. Sebetulnya sebelum yoga datang ke rumah calon mertuanya ia membicarakan ke kedua orang tua nya terlebih dahulu. Orang tua nya hanya mengiyakan nya saja terlebih lagi ia begitu sangat dekat dengan delima, karena delima sering berkunjung bermain kerumah orang tua yang yang berada di Jakarta Utara bermain bersama si kecil keponakan yoga termasuk putra dari putri pak Yanto dan mama Yola.
"Ayah ingat kok."
"Tentang pertunangan lebih baik diserahkan pada anak - anak saja kapan maunya dilaksanakan kami setuju - setuju saja selagi yoga orang baik sekali." Sahut mama Dina yang mendengar pembicaraan anak dan ayah itu.
"Baiklah terserah nya saja aku ikut saja." Jawab pak Yanto.
"Bagaimana yoga?? kapan kamu mau melangsungkan pertunangan kalian??" tanya pak Yanto pada putranya yoga.
"Aku sudah pikirkan dan membicarakan nya pada delima acaranya tinggal dua hari lagi." Ucap yoga, ia menggenggam erat jemari delima dan dibalas dengan senyuman.
"Apa ngak terlalu cepat nak???" Ucap mama Yola yang tiba - tiba bersuara.
"Jika harus cepat itu lebih baik ma. Keputusan yoga sudah yakin," Ucap yoga.
"Baiklah nanti uncle urusi tempat lokasi dan undangan pertunangan kalian, aku permisi dulu ada meeting dikantor sudah tidak ada waktu lagi." Pamit papa Teo bangkit dari kursinya dan pergi setelah istri nya menyalami tangannya.
Mama Dina hanya tersenyum mendengar bahwa suaminya yang akan mengurusi tentang pertunangan putrinya. Akhirnya ia mau membantu delima meski belum memaafkan nya.
****
Bersambung