Adeline Zinnia Graham, memilih kuliah di Munich demi mengikuti kekasihnya. Namun, suatu peristiwa membuat Adeline memutuskan berpisah.
Hari hari Adeline kembali diisi dengan kehadiran seorang Reyn Elden Frederick yang merupakan dosen sekaligus anak sahabat ayahnya.
Perlahan tapi pasti, benih cinta itu muncul dan pernikahan keduanya pun terjadi. Kehidupan keduanya sangat bahagia hingga dikaruniai seorang anak. Namun, kehancuran dalam kehidupan Adeline dimulai dari sana, ketika ia harus kehilangan orang yang ia sayangi dan juga kehilangan kepercayaan dirinya.
Mampukah Reyn dan Adeline mempertahankan rumah tangga mereka? atau perpisahan adalah jalan yang terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENIKAHLAH DENGANKU
Saat Reyn masuk ke dalam kamar tidur Adeline, gadis itu sudah ada di atas sofa sambil menatap ke arah jendela. Ia menerawang jauh, bahkan tak menyadari saat Reyn masuk.
"Kita makan siang dulu," ajak Reyn.
Adeline yang tadi sibuk dengan pikirannya sendiri pun tersadar. Ia melihat ke arah Reyn kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?"
"Apa Aunty marah?" tanya Adeline. Rasanya ia tak bisa bertemu dengan Queen setelah Queen mengetahui kebenaran.
"Menurutmu?" Reyn justru bertanya balik.
Adeline melipat kedua kaki kemudian memeluk dengan kedua tangannya. Ia menyembunyikan wajahnya dan tanpa terasa bulir air sudah mengalir. Reyn bisa melihat tubuh Adeline mulai bergetar dan terdengar isakan.
"Hei, mengapa kamu menangis lagi?" tanya Reyn.
"Aunty pasti marah padaku? Ia pasti akan memberitahukan semua pada Daddy dan Mommy," jawab Adeline dengan terbata.
"Mommy tak marah padamu, ia hanya kecewa. Kedua orang tua mu juga pasti sama. Mereka tak akan marah, tapi mereka akan kecewa. Karena apa? Karena mereka percaya padamu."
Adeline mengangkat kepalanya dan menatap Reyn, "Kak, aku tak ingin kedua orang tuaku sampai tahu. Aku tak ingin mereka kecewa. Aku yang memaksa untuk berkuliah di sini. Tujuan awalku memang salah, tapi aku ingin menyelesaikannya dengan baik," ucap Adeline.
"Aku setuju dengan keputusanmu. Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu?"
Adeline menganggukkan kepalanya dan mengikuti Reyn keluar dari kamar. Ia selalu berjalan di dekat Reyn dengan sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Jangan khawatir, di sini tak ada orang jahat," ucap Reyn pelan dan ada senyuman di wajahnya, membuat Adeline merasa lebih tenang.
"Halo, sayang," sapa Queen saat melihat Reyn sudah turun bersama dengan Adeline.
"Di mana Rafa, Mom? Bukankah tadi ia ada?"
"Rafa sedang pergi ke rumah Marco. Mereka ada janji bermain basket bersama," jawab Queen.
"Bukankah sebuah pantangan baginya pergi ke rumah Marco, Mom?" tanya Reyn sedikit tertawa.
"Mirelle sedang ada acara berkemah bersama teman teman sekolahnya dan mereka akan menginap selama semalam," ucap Queen lagi.
"Pantas," ujar Reyn tertawa.
Adeline melihat ke arah Reyn yang tertawa. Kini tak ada lagi Reyn pemarah di hatinya karena saat ini ia hanya merasa aman jika berada di dekat pria itu.
"Sayang, duduklah," ajak Queen pada Adeline.
"Aunty ... Maaf," pinta Adeline.
Queen tersenyum dan mengusap bahu Adeline, "Aunty akan berusaha mengerti. Usiamu saat ini adalah usia di mana keinginan hatimu masih menggebu gebu. Jadi, Aunty akan menganggap ini sebagai salah satu pengalaman hidup untukmu."
Adeline langsung memeluk Queen, "thank you, Aunty."
Adeline merasa tenang karena tak merasa dihakimi. Ia merasa kedua orang tuanya telah menempatkannya di keluarga yang tepat saat ia berada jauh dari mereka.
"Ayo kita makan dulu."
Mereka bertiga pun makan siang bersama. Malam harinya, Queen membicarakan masalah Adeline pada Ethan. Ethan juga kaget dengan apa yang terjadi pada Adeline, namun ia bersyukur bahwa Reyn bisa menyelamatkan Adeline tepat waktu.
"Kita harus membawanya ke psikiater, sayang," ucap Ethan.
"Psikiater? Apa itu perlu?" tanya Queen.
"Kalau mendengar ceritamu, ku rasa ia harus pergi, sayang. Ia bahkan tak berani mendekati Rafael. Itu sudah suatu tanda bahwa ada sesuatu yang membuat dirinya trauma. Kalau ia tetap dekat dengan Reyn, mungkin itu karena Reyn lah yang ia anggap penyelamatnya, tempat yang aman untuknya," ucap Ethan.
"Baiklah, besok aku akan bicara dengannya."
"Kalau begitu, sekarang aku ingin masuk ke tempat aman milikmu ...," ucap Ethan dengan wajah yang menggoda Queen. Queen tahu apa yang diinginkan suaminya itu. Kelelahan yang dirasakan oleh Ethan biasanya akan hilang jika ia melepaskan semuanya di atas tempat tidur.
*****
Keesokan harinya, Adeline pergi ke universitas bersama dengan Reyn. Tak ada drama penolakan atau pun sikap keras kepala yang sebelumnya ia keluarkan.
"Kak, terima kasih," ucap Adeline sebelum ia turun dari mobil.
"Tunggulah, aku akan menemanimu ke kelas," ucap Reyn.
"Jangan, Kak. Nanti mereka akan membicarakan yang tidak tidak tentang kakak. Apalagi waktu itu, kakak pernah marah marah padaku."
"Untuk apa kamu mempedulikan mereka? Tugasmu dan tujuanmu datang ke universitas ini adalah untuk belajar. Tunjukkan pada mereka dan bungkam mereka dengan prestasimu, maka mereka tak akan pernah membicarakan hal buruk tentangmu," ucap Reyn.
"Terima kasih, Kak."
Reyn mengusap pucuk kepala Adeline. Ia telah menganggap Adeline seperti adiknya sendiri, Xin. Sementara itu, Adeline justru merasakan hal yang berbeda dari perlakuan Reyn.
Sejak hari itu, Adeline begitu dekat dengan Reyn. Ia selalu meminta Reyn menemaninya kuliah jika pria itu tak ada jadwal kuliah atau pun jadwal mengajar dan Reyn selalu mengabulkan permintaan Adeline.
Tak ada yang berani membicarakan keduanya karena Adeline memang mengikuti semua materi perkuliahan dengan baik, bahkan mata kuliah yang diajarkan oleh Reyn pun ia ambil di semester berikutnya setelah ia mengalami kegagalan.
Hingga empat tahun berlalu, Adeline berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang baik, meskipun bukan menjadi lulusan terbaik. Ia juga rutin menemui psikiater dan ditemani oleh Reyn ataupun Queen. Adeline tak ingin kedua orang tuanya mengetahui dan ia sangat berterima kasih pada Keluarga Frederick yang telah membantunya.
Hari ini, Adeline berhasil mengenakan pakaian toga. Ia begitu bangga dengan pencapaiannya saat ini. Kedua orang tuanya pun terlihat tersenyum melihatnya.
"Congratulation, Lin! You did it!" ucap Reyn memberi selamat.
Adeline berjalan mendekati Reyn, kemudian memeluk pria itu, "semua ini berkat dirimu juga, kak. Aku tak akan sampai di titik ini jika tak ada dirimu."
Reyn tersenyum dan hal itu selalu membuat jantung Adeline berdetak cepat. Hampir empat tahun ia berada di dekat Reyn, membuatnya bisa merasakan bagaimana sifat sesungguhnya dari seorang Reynzo Elden Frederick. Meskipun memiliki sikat tegas di luar, ia adalah sosok yang lembut dan penyayang.
Adeline tahu bahwa Reyn hanya menganggapnya sebagai seorang adik, sama seperti Xin. Namun, ia tak bisa menghilangkan begitu saja rasa yang tumbuh dan disirami setiap hari selama hampir empat tahun ini.
Kedua keluarga kini tengah berkumpul di taman Universitas untuk melakukan sesi foto bersama. Ethan dan Queen turut hadir di sana karena mereka sudah menganggap Adeline seperti putri mereka.
Tiba tiba, Reyn berlutut di hadapan Adeline dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan beludru sebagai pelapis luarnya. Ia membuka kotak tersebut dan terlihat sebuah cincin yang terlihat sederhana, namun sangat cantik sekali.
"Adeline Zinnia Graham, menikahlah denganku."
🧡 🧡 🧡