Amelia wanita cantik, baik, ceria dan penuh perhatian. Dia sangat menghargai Cinta, namun hatinya berkali-kali patah karena para mantan yang memberi harapan palsu.
Di sekolah Menengah Atas dia terjebak berbagai masalah saat bertemu dengan RIKI, lelaki Kasar dan Angkuh. Terkenal akan kenakalannya yang membuat Amel tak habis pikir dan berujung emosi. Akankah Amel bisa menghadapi lelaki itu?, Apa yang akan terjadi pada keduanya di saat-saat mereka tanpa sadar selalu bersama?.
yuk intip kisah mereka, Riki & Amel.
😍😍😘😘😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia desianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-Jalan
🥧🥧🥧🥧🥧🥧🥧🥧🥧🥧🥧🥧
.
.
.
Cahaya terang memancar dari balik tirai jendela kamar, mata ini merasa silau akan pancarannya sehingga aku pun bangun dari pembaringan. Dengan langkah malas aku mulai berjalan keluar kamar, tercium aroma masakan yang harum dari dapur dan aku berjalan ke sana ingin melihat apa yang dimasak Mama.
"Udah bangun?" tanya Mama.
Aku menuangkan air putih dan meneguknya. Pandanganku kini menuju pada seseorang yang berada di samping Mama.
"Kamu belom pulang?" tanya ku.
"Dia memohon untuk membantu mama, jarang sekali ada lelaki yang ahli masak, mama kagum liat nak Riki." jelas Mama merasa senang.
Cowok angkuh dan playboy itu memasak dengan senang di dapur, membuat keduanya menjadi sangat akrab seperti Ibu dan anak saja.
"Siapin meja nak." pinta Mama.
Aku pun mengambil meja kecil yang di pakai semalam dan meletakkannya di depan. Papa sudah berangkat ke toko, jadi hanya kami bertiga yang kini menghadap makanan di meja.
"Riki sudah bekerja keras di dapur, harus makan yang banyak." Mama memberinya daging yang banyak.
"Aku Ma?" pinta ku.
"Kamu bangun aja kesiangan, malu dong sama Riki." ejek mama.
"Mama?" rengek ku.
"Ini, habis makan kita pergi."
ujar Riki sembari memberikan beberapa daging di piring ku.
"Kemana?" tanya ku.
"Jalan-jalan lah." jawabnya.
"Pergi aja, tadi Riki udah minta izin ke Papa kamu. Refreshing gitu, jangan ngumpet aja di dalam rumah." terang Mama sembari tersenyum.
Sarapan pagi di hadiri daging dan telur, sayuran nya sedang absen karena Riki. Biasanya Mama hanya masak daging sapi di awal bulan. Dan lebih sering masak sayur mayur ataupun sekadar ikan goreng setiap harinya. Acara makan pun selesai, aku sudah bergegas bersiap mandi dan berganti pakaian. Dan Mama lagi-lagi membongkar koper kakak sepupu ku, mencari beberapa baju untuk diberikan pada si berandal.
"Mandi dulu sana nak, ini baju gantinya." ujar Mama.
Dia sangat penurut, setelah mandi ia merapikan rambutnya di kaca.
"Ini minyak rambut, biar tambah ganteng." pinta Mama.
Riki dengan senyum manisnya menuruti apa yang mama suruh, melihat sikap mama yang penuh kasih kepadanya, aku merasa terasingkan.
"Ma, apa dia menjadi anak lelaki mu sekarang?" batinku merasa jengkel.
Setelah ia merapikan rambut dan pakaiannya, mama dengan ekspresi kagum memeluk si berandal.
"Tampan sekali, anak laki-laki ku." ucap Mama.
Disambut hangat oleh Riki yang ikut memeluk mama.
Seakan jadi anak hilang yang baru ditemukan oleh orang tua.
"Terima kasih Ma." katanya dengan lembut.
"What?" batinku terkejut mendengar panggilan Riki ke Mama ku.
"Pergilah, hati-hati di jalan ya." pesan Mama yang mengiringi kami ke luar pagar.
Kami pun pergi.
Di tengah jalan, lampu merah memberhentikan kami.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
"Ada lah." jawabnya yang kini mulai mengegas motornya karena lampu hijau telah menyala.
.....
.
.
Jalan yang amat panjang dan sepi itu membuat ia mulai mengebut, aku hanya bisa memeluknya dengan erat.
Di parkiran stadion Jakabaring,
kami hanya saling diam dan aku mengiringinya berjalan. Hingga di suatu tempat ia berhenti dan duduk di bawah pohon tinggi yang rindang.
"Buka tasnya." perintahnya sembari memberikan tas yang lumayan berat.
"Apa sih yang dia bawa, berat banget!" batinku.
Saat ku buka, ternyata isinya adalah kotak makan dan beberapa minuman. Dia membentangkan karpet yang dia beli di jalan tadi, lalu aku membuka setiap kotak dan menyusunnya. Cemilan yang manis memenuhi karpet itu. Membuat aku tersenyum senang dan mulai mencicip beberapa. Saat aku sedang asyik menikmati cemilan itu, mata ku tertuju pada si berandal yang sedang menyenderkan tubuhnya di batang pohon itu sembari memejamkan matanya seakan menikmati suasana sejuk dari Pepohonan.
Angin sepoi yang membuat rambutnya berantakan dan sinar matahari menembus dedaunan yang menyinari membuatnya terlihat mempesona. Aku tak bisa berhenti menatapnya, membuat hati ku terasa geli seakan sesuatu sedang menggelitik. Ia membuka matanya perlahan dan melihat ku dengan senyuman yang sangat manis. Membuat ku mengalihkan pandangan dan mencoba tuk bertahan dari detakan jantung yang seakan ingin melompat keluar.
"Kenapa ngajak aku kesini?" tanya ku penasaran.
"Kamu mau tau kenapa aku ngajak kamu ke tempat romantis begini?"
"Kenapa?" aku menatap matanya menunggu jawaban.
"Karena pacarku nggak bisa kesini, jadi ajak kamu aja lah, nggak asik kalau sendirian." ucapnya dengan santai.
"Apa!"
Apa yang ku harapkan dari si playboy, jelas dia punya pacar dan selalu berganti pacar setiap minggu nya. Jangan sampai aku terlena akan ketampanannya dan melupakan keberandalannya itu!!!.
Sadar lah Amel, jangan sampai kamu beneran jatuh cinta kepadanya, karena beberapa masa lalu cukup untuk membuatmu belajar.
Aku terus makan tanpa henti karena hatiku sedikit kesal, tiba-tiba dia menarik tanganku dan membawa ku ke tempat lain.
"Makanannya gimana?" tanyaku.
"Biarin. Ayo!"
Dia menyuruhku menunggu, aku pun duduk di tepi jalan yang sepi.
"Mau apa lagi itu orang!" batinku.
Dari kejauhan aku melihatnya sedang mengendarai sepeda ke arah ku. Dan aku pun tersenyum geli melihat warna sepeda yang ia gunakan, pink bergambar barbie. Dia kini berhenti tepat di depanku.
"Naik!"
Aku pun naik, dan duduk di belakang. Belum sepenuhnya aku duduk dia sudah mengayunkan sepedanya dengan ngebut, membuat aku tak memiliki ke seimbangan.
"Pegangan!"
Aku pun memegang baju nya dengan erat, tapi ia merintih kesakitan.
"Peluk!"
"Nggak mau!" jerit ku.
Dia pun berhenti, dan menoleh ke arah ku dengan tatapan tajam.
"Apa!" tanyaku.
"Jangan pegangan disitu, sakit!"
"Oh, ya maaf!" ucapku tersadar karena tanpa sadar menarik celananya.
Dia pun mulai mengayunkan sepedanya kembali dan aku berpegang di baju nya. Ia menarik tanganku membuatku lagi-lagi memeluknya. Perasaan yang membuatku berdebar tak henti ia lakukan padaku. Tiap kali ku coba menyingkirkan perasaan ini, ia selalu mengembalikannya. Membuat hatiku menjadi tak menentu.
Dia membawa ku berkeliling, di sekeliling terdapat beberapa bunga yang indah, dan pepohonan yang menyejukkan. Dia berhenti tepat di atas jembatan. Dan menoleh ke arah ku. Aku hanya bisa berpura-pura melihat pemandangan.
"Mel, mau nggak jadi pacar ku?"
"Apa?"
"Aku nggak akan cari yang lain lagi, kalau kamu mau jadi pacarku."
"Jangan bercanda!. Aku nggak mau!"
Ia pun mengayunkan sepedanya kembali, dan membawa ku ke dalam stadion sepak bola. Dia membawa camera dan menarik ku ke tengah lapangan.
"Aku fotoin!"
Dia memotret ku tanpa henti, padahal aku belom siap bergaya.
"Nanti dulu!" pekik ku sembari merampas camera nya.
Aku menghapus foto jelek ku yang belom siap. Setelah ku hapus semuanya, aku melihat Riki yang berbaring sembari memejamkan matanya di bawah, seakan di mana saja dia bisa menikmati suasananya. Aku pun mencoba menjaili dengan memotretnya sangat banyak.
Berusaha membalas dendam, tapi ketika ku lihat foto yang ku potret tadi, aku menjadi kesal. Bukannya terlihat jelek, malah dia terlihat sangat tampan. Menjadi ganteng itu memang anugrah maha kuasa. Aku pun memukul dada nya dan ia merasa kesakitan.
Ia mulai mengejar ku, aku hanya bisa berlari menghindari. Alhasil kami kejar-kejaran tanpa henti, membuat aku dan dia tertawa bersama, hingga aku tertangkap olehnya. Ia mencubit kedua pipi ku dengan kuat sampai memerah.
Kini aku dengan serius memotretnya dan dia dengan serius memotret aku. Kami berdua pun berfoto bersama. Setelah itu kami pun pulang, karena tanpa sadar hari sudah sore. Ia mengantar ku sampai ke rumah dan ia memberikan mama ku banyak roti varian rasa, yang ia beli saat di jalan pulang tadi, ia pun pamit pergi.
Malam pun tiba. Di atas meja belajar, aku menaruh foto di dalam bingkai kosong. Dan ku pajang di meja ku. Foto ku dan si berandal, hari yang menyenangkan untuk ku. Tidak ku sangka bisa melalui hari liburan ini bersamanya, orang yang selalu membuat aku kesal dan marah. Terkadang juga membuat aku berdebar.
.....
semangat ya Up ceritanya
semangat up karya nya ya 🔥