Kinan Maharani 23 tahun adalah sosok ibu idaman bagi para suami, dia sangat pandai mengurus anak-anaknya tanpa bantuan orang lain. Akan tetapi, satu kesalahan terbesar Kinan, dia melupakan akan peran istri yang ternyata juga penting dalam rumah tangga.
Muhammad Raka 27 tahun, sebenarnya adalah seorang laki-laki baik dan penyayang. Namun, melihat istrinya yang selalu fokus mengurus dua anaknya sehingga dirinya tak lagi mendapatkan perhatian, selalu saja diabaikan seakan peran nya sebagai seorang suami tak penting dalam hidup Kinan sejak kedua anak kembarnya lahir. Sebagai seorang laki-laki normal, Raka membutuhkan belaian manja dari istrinya walaupun itu hanya sebentar saja. Tapi Kinan tak pernah lagi memberikan kewajiban nya karena selalu anak yang menjadi mayoritas istrinya tersebut.
Merasa bosan dan jenuh, tak lagi mendapatkan hak kewajiban seorang istri untuk melayani dirinya. Raka mengambil jalan pintas yaitu mendua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menasehati Kinan
" Kamu bercanda, kan?" Rasanya sungguh tidak mungkin, Nita tidak percaya dia menganggap jika ucapan Kinan hanyalah candaan saja.
" Tidak, kami berdua memang aidah lama tidak melakukan hubungan itu lagi sejak si kembar lahir. Sebenarnya Mas Raka sering merengek meminta jatahnya, tapi aku yang menolaknya karena gak mau jauh dari anak-anak, takut mereka terbangun. Dan yang paling malas, aku sangat lelah walaupun si kembar tidur nyenyak tapi rasa ingin melayaninya itu tidak berselera sama sekali. Makanya itu aku menolaknya terus," jawab Kinan panjang lebar.
Lagi-lagi Nita mengangga tak percaya, baru pertama kali dia mendengar seorang istri berani menolak permintaan suaminya. Bukan hanya takut dosa, tetapi tentu melukai perasaan suaminya juga.
" Kamu gak terkena bebyblues kan?" Tanya Nita.
" Nggak, aku baik-baik aja. Kenapa?" Tanya balik Kinan, dia heran sendiri melihat tampang sahabatnya yang seperti syok.
" I-ini benar-benar sudah gila, Ki! Aku mendengar kalau kamu pisah ranjang aja aaku kaget, dan sekarang kamu bilang tidak melayani lagi suami kamu, apa gak gila namanya? Kamu ngerasa gak sih jika kamu itu sudah sangat keterlaluan?"
Nita terpaksa mengatakan hal kasar, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa hancur perasaan Raka saat itu. Nita tahu betul, mengingat akan nafsu suaminya yang sering uring-uringan disaat libur seminggu akibat palang merah hadir disetiap bulannya dan pada saat masa nifas datang ketika habis melahirkan Zee, suaminya uring-uringan, terkadang dia membantu untuk meredakan nafsu suaminya dengan berbagai cara selain dimasukkan itupun terkadang masih merasa kurang puas. Lah jika dibandingkan dengan Raka yang harus menunggu berbulan-bulan, tentu kesabaran itu akan habis, wajar saja jika dia memilih menikah lagi karena ulah istrinya sendiri. Nita menjadi sangat kasihan pada laki-laki itu.
" Kok kamu ngomong nya begitu? Lagian apa nya yanh keterlaluan? Aku begini karena sibuk mengurus anak-anaknya, masa cuma masalah seperti ini saja sudah sangat keterlaluan?" Kata Kinan tidak terima.
Nita menggeleng tak percaya.
" Kamu sadar gak sih jika penolakan kamu yang sering kamu lakukan itu sudah sangat melukai perasaan suami kamu? Mungkin Raka masih bisa sabar jika menunggu 2-3 bulan, tapi jika sampai berbulan-bulan? Apa itu tidak keterlaluan namanya?"
" Dan jika kamu merasa capek mengurus anak-anak, kenapa gak make jasa beny sitter aja kayak aku? Dengan adanya mereka kita bisa leluasa merawat diri kita sendiri, dan yang paling penting adalah suami!" Lanjut Nita menasehati.
" Aku gak bisa mempercayai anak-anak aku sama orang lain, Nita. Kalau di apa-apain gimana? Kalau di siksa, di pukul? Aku sebagai ibunya gak akan membiarkan hal itu terjadi," jawab Kinan membela diri.
" Dan satu hal lagi, jika mereka bukannya mengasuh anak tapi malah sibuk mengoda majikannya, lalu bagaimana? Lebih baik mencegah kan dari pada mengobati!"
Kinan berpikir demikian, itulah yang dia takutkan selama ini jika ada yang bekerja dirumahnya wanita masih muda dan cantik. Dia takut hal itu terjadi, maka sebab itulah mengapa mbak Ira yang sudah paru baya saja tidak di izinkan untuk menginap dirumahnya.
" Jangan samakan mereka dengan masa lalu orang tua kamu dulu Kinan. Tidak semuanya seperti itu," kata Nita tegas.
Ya, alasan Kinan tidak ingin ada pembantu dirumah karena dahulu para pembantu dirumah orang tuanya sering mengoda ayahnya. Sedangkan beby sitter yang di tugaskan menjaga dirinya malah selalu melakukan kekerasan, terkadang tidak di beri makan atau mendapatkan pukulan. Kinan agak trauma jika anak-anaknya di jaga oleh beby sitter, dia takut akan terjadi lagi, pengalaman yang dia alami tentu sangat menyakitkan.
" Kalau terjadi bagiamana? Kita tidak tahu isi hati mereka Nita."
" Terus kamu mau membiarkan suami kamu menganggur begitu saja? Tugas kita setelah melahirkan bukan hanya mengurus anak saja Kinan, tetapi melayani suami itu jiga tak kalah pentingnya. Jika bukan sang istri yang melayani suami, lalu kepada siapa suami menyalurkan hasratnya, apa mereka harus menikah lagi?" Kata Nita emosi.
Kinan takut menyewa ART akan mengoda suaminya, sedangkan dia sendiri tidak mau melayani suaminya. Sungguh aneh pemikir sahabatnya ini.
Mendengar ucapan Nita, Kinan terdiam. Tentu dia tidak tahu akan menjawab apa.
" Lihat aku, Ki. Aku setelah melahirkan masih bisa merawat diri, mempercantik diri untuk suami supaya suami semakin sayang dan cinta sama aku. Aku pun harus pintar-pintar, mencari cara bagaimana membuat suami salalu puas dengan pelayanan ku ketika di ranjang. Supaya apa? Supaya suami tidak tergoda pada rayuan pelakor, supaya suami tidak melirik wanita lain karena yang dia ingat selalu istrinya."
Nita menjeda ucapannya sejenak untuk bernafas.
" Tentang anak-anak, tentu kita tetap menjaganya. Membimbing mereka, dan selalu mengawasinya, walaupun ada dua mbak yang menjaga Zee, tetapi aku masih tetap mengawasi anak aku, Ki. Aku juga tidak ingin hal tersebut terjadi, aku juga ingin anak aku tubuh di tangan aku. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita menempatkan mereka untuk membantu kita, meringankan pekerjaan kita sehingga kita memiliki waktu bersama suami."
Kinan terdiam, dalam hatinya mulai gelisah.
" Kesabaran ada batasnya, Ki. Jika suatu saat nanti Raka berpaling dengan wanita lain yang bisa ada waktu untuknya, jangan menyesal, dan jangan salahkan pelakor. Karena disini kamu yang salah," kata Nita menggenggam tangan Kinan mencoba menyadarkan kesalahannya.
" Cobalah renungkan perkataan ku, Ki. Aku gak mau kamu menyesal suatu saat nanti."
Walaupun itu sudah terlambat, lanjut Nita namun hanya dalam hatinya.
" Cobalah untuk merenungkan semua kesalahan kamu padanya yang mungkin tidak kamu sengaja. Jangan hanya fokus sama anak-anak saja, Raka juga sangat membutuhkan kamu."
Kinan lagi-lagi hanya terdiam, bayangan-bayangan dimana dia selalu marah-marah pada Raka, selalu mengabaikan Raka dan menolak Raka terlintas dalam benaknya. Tiba-tiba air matanya mengalir, mungkin Kinan menyadari kesalahannya selama ini akibat terlalu fokus mengurus anak-anaknya sehingga melakukan kesalahan besar pada suaminya sendiri. Yang di katakan Nita ada benarnya, jika bukan pada dirinya lalu pada siapa lagi suaminya itu meminta jatah.
Satu hal yang dia lupakan, bahwa pelakor lebih kejam ketimbang rentenir.
klo istri ad slh n kurang bkn jd alesan selingkih
Biarpun awalnya Kinan bersalah mengabaikan Raka, harusnya Raka ga seperti itu.