WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
“Aku tidak bisa kembali, aku terkurung di tempat ini! Meski bisa, aku tidak akan pernah kembali sebelum semua urusanku terselesaikan.” Sekedipan mata, Cempaka sudah menghilang dari tempat itu.
Setelah Cempaka pergi, Ibra yang berpawakan tenang itu. Kembali duduk ke kursinya. Ia selalu memperhatikan sekitar, pemuda yang tidak memiliki teman itu. Selalu menyendiri dengan buku-bukunya.
Bukan karena tidak ada yang mau berteman dengannya, tapi, ialah yang tidak pernah mau berbaur. Ia akan merasa tenang jika ia sendirian.
“Aku harus memperingatkan anak yang bernama Radit itu!” guman Ibra. “Percaya ataupun tidak. Itu urusannya, yang penting aku sudah memperingatkan!”
Ibra segera bangkit dari duduknya, dan pergi ke ruangan kelas no 3. Di mana ruangan kelas Radit, Sarah, Toni dan Farhan berada.
Setibanya di kelas itu, ia masuk dan mengamati sekelilingnya. Dan ternyata, Cempaka berada di sudut ruangan itu. Arwah penasaran itu selalu mengikuti Radit, dan tidak pernah pergi dalam waktu yang lama. Entah apa yang sebenarnya di inginkan Arwah Cempaka, Ibra pun belum mengetahuinya.
Ibra menatap sosok Cempaka, ia menggelengkan kepalanya. Cempaka menatap tajam pada Ibra yang juga menatap nya. Cempaka terlihat sangat tidak suka dengan Ibra yang mulai ikut campur dengan segala urusannya.
“Jauhi pemuda itu!” Ibra berbicara menggunakan kontak batin nya pada Cempaka.
“Semua yang aku lakukan, tidak ada hubungannya denganmu! Jangan ikut campur dengan urusanku. Atau aku akan membunuhmu seperti aku menghabisi gadis itu!” Balas Cempaka, ia mengancam Ibra. Tapi tampaknya, Ibra tidak takut sama sekali.
“Lupakan dendam mu, di sini bukanlah tempatmu. Cempaka!” Ibra mengingatkan dengan menyebut nama Cempaka.
Mendengar perkataan Ibra, Cempaka menjadi murka. Cempaka mengibaskan sebelah tangannya, membuat tubuh Ibra terdorong beberapa langkah dari posisinya. Ibra menjadi terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu.
Siswa siswi yang ada di dalam ruangan itu. Menatap heran pada Ibra yang berdiri di dalam kelas mereka, dan tiba-tiba mundur seperti orang yang hilang keseimbangan tubuh.
Melihat keterkejutan Ibra, Cempaka tersenyum mengejek. Arwah itu kembali mengibaskan sebelah tangannya, tapi saat ini. Ibra sudah siap, ia telah mengeluarkan ilmu batinnya untuk menahan serangan Arwah gentayangan itu.
Ibra tetap diam di tempatnya, membuat Cempaka menjadi semakin murka. Lalu, Arwah itu mengeluarkan kekuatan yang lebih besar lagi. Yaitu mengibaskan kedua tangannya.
Karena ilmu batin Ibra tidak cukup besar, akhirnya Ibra terjatuh di lantai itu. Dengan mulut yang mengeluarkan darah kental.
Seluruh penghuni kelas itu terkejut, termasuk Radit dan teman-teman nya. Di saat semua orang sibuk melihat keadaan Ibra yang tergeletak di lantai ruangan kelas itu. Radit maju dan segera menolongnya.
“Kamu kenapa?” tanya Radit. “Apa yang terjadi?”
Ibra menggeleng pelan, ia menyeka sudut bibirnya. Ibra segera menarik leher Radit dan membisikkan sesuatu. Setelah mendengar bisikan Ibra, raut wajah Radit berubah. Tapi tidak lama, dengan cepat ia mengangguk.
Ibra tersenyum ke arah Cempaka yang tidak terlihat oleh orang lain selain dirinya itu. Karena merasa terhina oleh senyuman Ibra, Cempaka pergi secepat mungkin dari ruangan kelas itu.
“Dia sudah pergi, kalau gitu. Saya pamit!” ujar Ibra dengan pelan.
“Uhuk.. Uhuk..!” Ibra terbatuk-batuk, Radit pun membantunya berdiri. Setelah itu, Ibra segera meninggalkan ruangan kelas itu dan kembali ke ruangannya.
Setelah Ibra pergi, Sarah, Toni dan Farhan mendekat dan bertanya pada Radit.
“Dit, orang itu tadi ngomong apaan? Kok bisik-bisik?” tanya Toni.
“I-i-iya.. Ka-ka-kami pe-pe-penasaran! Ta-ta-tadi kok, ti-ti-tiba-tiba di-di-dia jatuh te-te-terus mulutnya keluar darah!”
“Gak ngomong apa-apa. Udah lupain aja!” Radit segera kembali ke kursinya.
Tak lama kemudian, dosen yang mengajar mereka datang. Selama dosen menjelaskan materi, Radit sama sekali tidak mendengarkan. Ia larut dalam pemikirannya sendiri.
“Cempaka, gadis itu bukan manusia. Jauhi dia! Jika kau tidak percaya, cari identitasnya di kampus ini.”
“Apa maksud dari orang itu? Kenapa dia bilang, Cempaka bukan manusia. Kalau Cempaka bukan manusia! Lalu apa?” batin Radit terus bertanya-tanya.
“Tapi aku harus buktikan, aku harus vari tau identitas Cempaka!”
“Aku juga harus tanya lebih jelas lagi sama orang itu. Apa maksud dia ngomong kayak gitu. Dan dari mana dia tau, kalau Cempaka bukan manusia?”
.
.
.
BERSAMBUNG!
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu