❤Tahap Revisi❤
Andita Andriani adalah seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya demi perempuan lain. Empat tahun menjalin hubungan jarak jauh, Andita tidak menyangka akan menerima sebuah pengkhianatan.
Dirinya bertekad untuk membalas semua penghinaan dan pengkhinatan yang sudah diterimanya dari sang kekasih.
Disatu sisi, seorang CEO muda yang tampan dan sukses, juga sedang mengalami patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Zidan Pratama Wijaya, harus merelakan cinta pertamanya pada sang sahabat. Dan karena hal itu pula yang membuat Zidan berubah menjadi pribadi yang dingin dan sulit didekati.
Lalu bagaimanakah kisah perjalanan mereka?
Ikuti ceritanya yaa...
Jangan lupa berikan Like, Komen, Vote, dan Hadiah kalian untuk Author, supaya Author semangat nulisnya..
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatuElla11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Pagi-pagi sekali Andita sudah bangun dan berkutat didapur. Ia menyiapkan berbagai macam masakan untuk sarapan Ibu dan adiknya.
Rencananya hari ini juga Andita akan pergi kekantor dan kembali bekerja seperti biasa.
Meskipun dirinya masih sedikit trauma dengan kejadian yang menimpanya dua hari lalu, namun Andita berusaha keras untuk melupakan semua itu. Andita tidak ingin mengingatnya berlarut-larut.
Lagipula Andita juga harus mengembalikan jas yang dipinjamkan Zidan padanya. Sekaligus mengucapkan rasa terimakasihnya kepada atasannya itu.
Bagi Andita, Zidan seperti malaikat penolongnya. Jika lelaki itu tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada dirinya malam itu. Mungkin saat ini ia akan meratapi nasib karena kehilangan mahkotanya.
Bunyi klakson motor terdengar dari depan rumah Andita. Ternyata Ferdy yang datang. Ya, kemarin lelaki itu menawarkan diri untuk menjemput Andita agar bisa berangkat bersama.
Namun kali ini Ferdy tidak membawa mobil seperti biasanya. Lelaki itu sengaja memakai motor agar dia bisa lebih dekat dengan gadis yang disukainya itu.
"Ta!" Panggil Ferdy sambil melambaikan tangan.
Andita yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya menoleh pada Ferdy.
"Ya, tunggu sebentar Fer!" Sahut Andita.
"Baiklah Bu kalau begitu, saya pamit kekantor dulu. Teman saya sudah menjemput. Nanti jika Ibu saya membutuhkan sesuatu, Bu Ira jangan sungkan untuk menghubungi saya. Sekali lagi saya titip Ibu saya pada Bu Ira ya Bu!" Ucap Andita pada wanita paruh baya itu.
"Baik Andita. Kau tenang saja, tidak perlu khawatir. Bu Ira akan mengurus Ibumu dengan baik. Sudah sana berangkat, temanmu sudah menunggu. Hati-hati dijalan ya!" Pesan Bu Ira pada Andita.
"Terimakasih Bu. Saya pergi dulu."
Andita pun bergegas menghampiri Ferdy yang sudah menunggunya.
"Ibu itu siapa Ta?" Tanya Ferdy ketika Andita sudah berada dihadapannya.
"Oh, itu Bu Ira. Dia yang membantuku dan Nazwa untuk mengurus Ibu disaat kami sedang tidak ada dirumah." Jawab Andita.
"Kau mempercayakan Ibumu pada orang asing?"
"Bu Ira bukan orang asing. Beliau tetangga kami disini. Orangnya sangat baik. Bu Ira juga orang pertama yang menawarkan dirinya untuk membantu kami mengurus Ibu, ketika aku dan Nazwa harus pergi bekerja dan kuliah. Awalnya aku menolak bantuannya karena tidak ingin merepotkan, namun beliau memaksa. Akhirnya mau tidak mau aku menerima bantuannya." Jelas Andita panjang lebar sambil memakai helm.
Ferdy pun hanya ber-oh panjang. Namun pandangannya kini beralih pada paper bag yang dijinjing Andita.
"Lalu apa yang kau bawa itu?"
"Oh ini, jasnya Tuan Zidan."
"Jas Tuan Zidan?! Atasan kita?"
Andita mengangguk.
"Kenapa jasnya bisa ada padamu?" Ferdy semakin penasaran.
"Memangnya kemarin aku belum bercerita padamu ya jika Tuan Zidan yang menyelamatkanku dari para preman itu?"
Dengan cepat Ferdy menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kau tidak mengatakannya padaku. Kau hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang menolongmu, tapi kau tidak menyebutkan siapa orangnya." Jelas Ferdy.
Andita tergelak.
"Oh iya aku lupa mengatakannya karena kemarin kita terlalu sibuk membicarakan si lelaki brengsek itu."
Ferdy menganggukan kepalanya.
"Tapi kenapa Tuan Zidan bisa berada ditempat yang sama denganmu Ta?"
Sejenak Andita berpikir. Ia juga tidak tahu.
Apa jangan-jangan malam itu Tuan Zidan sedang berada direstoran yang sama denganku? Apa dia melihat semuanya? Batin Andita.
"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin hanya kebetulan dia lewat di dekat danau itu." Jawab Andita sambil mengedikkan bahu.
"Ayo kita berangkat Fer! Aku takut terlambat jika kita bicara terus!"
"Ah iya baiklah. Ayo kita berangkat!"
*******
Mobil Zidan baru saja sampai di depan lobby perusahaan. Dengan sigap Ken segera turun dari mobil lalu memutari mobil itu untuk membukakan pintu bagian belakang dimana tempat Zidan duduk.
Zidan segera keluar dari mobil ketika pintu sudah dibuka oleh Ken. Ia langsung berjalan masuk kedalam gedung.
Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan tiba-tiba Zidan berhenti ketika ekor matanya menangkap sesuatu dari arah samping kirinya.
Zidan pun refleks menengok, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Andita yang baru saja tiba dikantor dengan dibonceng oleh seorang pria.
Pria yang sama dengan yang dilihat Zidan kemarin ketika Zidan akan menjenguk Andita. Pria itu kini sedang membantu Andita melepaskan helm yang dipakainya.
Andita dan pria itu terlihat asyik bercengkrama. Sesekali mereka berdua melepas tawa seolah-olah tidak mempunyai beban hidup.
Seketika dada Zidan kembali bergemuruh. Ada hawa panas yang menjalar kedalam hatinya.
Tanpa disadari Zidan mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras seketika, sorot matanya tajam menghunus kearah Andita dan lelaki itu. Apalagi ketika lelaki itu menyentuh dan merapihkan rambut Andita.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Ken. Dirinya yang setia berdiri dibelakang Zidan sedari tadi memperhatikan ekspresi tuannya yang berubah ketika melihat Andita datang bersama dengan seorang lelaki.
"Siapa lelaki itu Ken?"
"Maksud anda lelaki yang sedang berdiri diparkiran bersama gadis itu Tuan?"
"Ya. Siapa dia? Apa dia bekerja perusahaanku juga?"
"Ya Tuan. Lelaki itu bekerja diperusahaan anda. Namanya Ferdy dan gadis yang berdiri disampingnya bernama Andita."
"Aku sudah tahu nama gadis yang bersamanya."
Ken sedikit terkejut. Bagaimana bisa Tuannya mengatakan kalau dia sudah tahu nama gadis itu sebelum dirinya memberitahunya.
Pasalnya yang Ken tahu, Tuannya bukanlah orang yang terlalu peduli dengan nama-nama karyawannya apalagi karyawan baru yang masuk kedalam perusahaannya.
Pikiran Ken mulai menebak-nebak. Ia curiga jika tuannya sudah memiliki perasaan lain terhadap gadis bernama Andita itu. Semua terlihat jelas dari perubahan raut wajah Zidan saat menatap Andita.
"Apa lelaki itu satu tim dengannya?" Tanya Zidan memecah pemikiran Ken.
"Ya Tuan, mereka satu tim yang bekerja dibagian divisi penjualan properti."
Mata Zidan masih menatap tajam pada Andita dan Ferdy dari kejauhan.
"Apa anda ingin saya melakukan sesuatu Tuan?!" Ken bertanya seolah mengerti apa yang diinginkan tuannya.
"Hah?! Memang apa yang aku inginkan?!"
"Jika anda mau, saya bisa memindahkan lelaki itu dibagian divisi lain Tuan."
"Tidak perlu."
Zidan pun melanjutkan langkahnya masuk kedalam gedung ketika melihat Andita dan Ferdy mulai berjalan kearahnya.
******
Zidan nampak tidak fokus dalam bekerja. Bayangan Andita dan Ferdy yang sedang bercengkrama dan tertawa bersama memenuhi isi kepalanya.
Sebenarnya perasaan apa yang sedang dia rasakan? Perasaan cemburukah? Tapi Andita bukanlah kekasihnya. Apa sebenarnya tanpa dirinya sadari dia sudah jatuh cinta pada gadis itu?
"Huhh!" Zidan membuang nafas kasar. Dia menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya sambil sesekali menyeka wajahnya yang terlihat gusar.
Disaat Zidan sedang menetralkan gejolak dihatinya, tiba-tiba terdengar pintu ruangan diketuk dari luar.
"Masuk!" Titah Zidan.
Pintu terbuka. Ken muncul dari balik pintu dan berjalan ke arah Zidan.
"Maaf Tuan jika saya mengganggu anda."
"Ada apa?"
"Andita ingin bertemu dengan anda."
Deg...
.
Bersambung...
ternyata marahnya berkelanjutan karena lagi San*e ya Dita?🤔🫣
Bilang atau rayu suamimu dong..
kan lucu jadinya.. mirip ayam betina suka nyerang tanpa sebab kalau lagi birahi 😁🤣🤣🫣
pada kemana?
jajan bakso ya?😁🫣
sebelum nikah saja Dita sudah dikawal bodyguard bayangan untuk mengetahui pergerakannya.
kok sudah nikah, malah nggak ada pengamanan sama sekali walaupun dari jauh
kamu harus bisa buktikan omongan keluarga Dirga bahwa fokus kamu cuma uang bukan janji itu adalah benar
wajar dong dia mencari keuntungan ganda..
ibu sehat, sisa uang ada.. malah dapat suntikan dana dari camer yg nggak setuju.
kaya dan bebas dari tanggung jawab.
janji dan hutang Budi urusan belakangan ya Dita🤣🤣🤣
menang 2x kamu..
kalau terpojok tinggal keluarkan jurus andalan..
status sosial, tidak ada restu dan tidak ada cinta..
buktikan kalau kamu muna sejati
jadikan status sosial sebagai alasan 👍
toh uang juga sudah diterima..
jangan pikirin perasaan orang lain, pikirkan perasaanmu saja dan juga kepentinganmu..
ibumu sudah sehat, saatnya ngelunjak
baru kali ini baca novel yang mana sekeluarga hobinya menjegal kaki orang 😁
mereka keluarga pebisnis apa keluarga pemain sepak bola antar kampung?🤣🤣🤣