NovelToon NovelToon
Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.

Status: tamat
Genre:Romantis / Sci-Fi / CEO Amnesia / Cinta Murni / Pihak Ketiga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:6.1M
Nilai: 5
Nama Author: Biru Samudera

Season 2, lanjutan dari: Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda. Disarankan untuk membaca season 1 lebih dulu.

Ini bukan kisah cinta biasa.

Andrew Roux, penerus Phoenix.Co, memilih menolak permintaan ayahnya untuk meneruskan perusahaan keluarga demi mencari gadis yang belum pernah ia temui sebelumnya. Apakah semua ingatan dan mimpi-mimpinya berkaitan dengan kehidupan masa lalunya?

Kehidupan Sakamoto Keiko, seorang putri mafia yang terjerat dalam perjodohan dengan putra rekan bisnis ayahnya mendadak berubah 180° derajat ketika Andrew Roux tiba-tiba muncul di hadapannya.


Takdir apa yang mempertemukan mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deja Vu?

Andrew masih bergelantungan dengan kepala di bawah sambil melakukan sit up ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Keningnya mengernyit. Seingatnya, tidak ada satu orang pun keluarga atau kenalannya yang mengetahui keberadaannya di kota Dinan, kecuali Clark, sahabatnya yang paling mengerti kegilaannya. Apakah pemuda sinting itu datang berkunjung?

“Tunggu sebentar!” teriak Andrew seraya berputar dan bertumpu pada titian, kemudian melompat dan mendarat di atas lantai.

Ia meraih handuk kecil untuk mengeringkan keringat di leher dan wajahnya sebelum berjalan menuju ruang depan. Lagi-lagi keningnya berkerut dalam ketika menyadari siapa yang berdiri di depan pintunya. Jelas orang itu bukan Clark, tapi si Tua Alfred, begitu Andrew memanggil pria yang sekarang sedang berdiri di terasnya. Pria tua itu adalah tangan kanan Marco Roux, ayahnya.

Alfred telah bekerja untuk Marco selama hampir seumur hidupnya. Da ikut mengurus Andrew sejak pemuda itu masih bayi. Pria tua dengan rambut keperakan yang tipis itu sepertinya menyadari Andrew sedang menatapnya melalui lubang kunci. Dia melambaikan tangan seraya menyeringai lebar.

Andrew memutar anak kunci dan menarik gagang pintu hingga sedikit terbuka.

“Alfred? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Andrew tanpa melebarkan celah di pintu.

Alfred membuka topinya dan menerobos masuk, mengabaikan tatapan tajam dari Andrew yang sedang menahan lengan di daun pintu untuk menghalanginya.

“Hemat tenagamu,” ujar Alfred seraya berjalan menuju ruang tamu.

Pria tua itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, memeriksa dengan tatapan menilai pada setiap perabot dan ornamen yang berada dalam bangunan bergaya Tudor itu. Kemudian, ketika pandangannya tertuju pada sebuah lukisan gadis bergaun putih dengan latar belakang langit senja yang menempel di dekat perapian, ia menoleh pada Andrew dengan mata memicing.

“Masih mendatangimu dalam mimpi?” tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Seingatnya, terakhir kali pemuda di hadapannya itu membuat pengakuan bahwa dia sudah tidak mengalami penglihatan-penglihatan aneh itu lagi.

Andrew mendengkus dan pergi ke pantry untuk mengambil air minum. “Bukan urusanmu,” gerutunya.

Kehadiran Alfred biasanya merupakan sebuah sinyal akan terjadinya sesuatu yang tidak ia sukai. Ayahnya pasti mengutus pria tua itu untuk melakukan sesuatu. Memaksanya kembali ke Paris, misalnya. Kota itu terlalu ramai dan bising. Andrew tidak suka kekacauan semacam itu. Apalagi dengan tekanan untuk melanjutkan usaha keluarga yang sudah dilakukan turun temurun. Benar-benar membosankan.

“Bagaimana kamu bisa menemukanku?” tanya Andrew dengan raut wajah kesal. Ia benar-benar merasa tidak bisa hidup dengan tenang.

Alfred terkekeh pelan sebelum menjawab, “Kamu sungguh berpikir bisa melarikan diri atau bersembunyi dari ayahmu, Anak Muda? Dia hanya sengaja membiarkanmu bersenang-senang sebentar.”

“Rubah tua itu benar-benar tidak mau melepaskanku, ya?” gerutu Andrew kemudian mendongak dan meminum air dalam gelasnya.

“Siapa yang kau sebut rubah tua?! Anak kurang ajar!”

“Puffft!”

Air dalam mulut Andrew menyembur ketika mendengar suara bariton yang sangat dikenalnya itu. Ia menyeka air yang menetes di dagu dan dadanya. Dengan gugup ia meletakkan gelas ke atas meja, lalu menoleh ke pintu.

“Ayah?!” serunya dengan mata melotot. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu datang sendiri untuk mencarinya. Kalau sampai seperti ini, berarti ada sesuatu yang sangat serius akan terjadi.

“Kenapa tidak bilang kalau ayahku juga datang? Kamu sengaja ingin menjebakku, ya?” tuduh Andrew sambil menatap Alfred dengan mata menyipit. Kalau tahu akan sekacau ini, ia lebih memilih untuk melarikan diri lewat jendela ketika mendengar suara ketukan di pintu tadi.

“Memangnya kenapa kalau aku juga datang? Kamu ingin kabur lewat jendela? Atau cerobong asap?” tanya Marco Roux dengan sarkastik, membuat Andrew mendadak bungkam.

Sama seperti Alfred tadi, Marco pun mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan tatapan menilai. Namun, ketika irisnya yang kelabu menemukan potret seorang gadis di dekat perapian, ia bersikap seolah-olah tidak melihatnya dan memilih untuk mengalihkan pandangan.

“Aku memberikanmu kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman dan semua akses yang memudahkan hidupmu. Tapi lihat ... kamu malah lebih suka bersembunyi di tempat terpencil ini seperti tikus got!” gerutunya tanpa berusaha menutupi rasa tidak sukanya.

Andrew mendengkus dan memutar bola matanya dengan kesal. Perdebatan tanpa ujung bersama ayahnya akan segera dimulai.

“Anda sama sekali tidak memberi kemudahan dalam kehidupanku, Mr. Roux. Anda hanya ingin terus mengurung dan mengekangku, memaksaku melakukan apa yang Anda inginkan ... sesuatu yang jelas-jelas aku tidak suka,” tukas Andrew sambil bersedekap. Ia membalas tatapan ayahnya yang tajam tanpa berkedip sedikit pun.

“Kamu semakin kurang ajar! Berani membantahku!” kecam Marco setelah berhasil mengendalikan dirinya.

“Ayah ....” Andrew mendesah pelan dan menyugar rambutnya. “Aku sama sekali tidak ingin membantahmu, tapi cobalah mengerti ... aku sama sekali tidak tertarik untuk meneruskan perusahaan milik keluarga. Aku menyukai seni dan—“

“Marquess of Alrico baru saja menemuiku kemarin,” sela Marco tanpa memedulikan raut wajah putranya yang menggelap, “Kamu ingat Cecille? Putri bungsu sang Marquess ... dia sudah setuju untuk bertunangan denganmu. Kamu tahu, dengan pernikahan kalian nantinya, Phoenix.Co akan mampu melebarkan sayapnya ke seluruh Eropa. Hasil kerja kerasku dan kakekmu akan diakui oleh dunia. Apakah alasan itu tidak cukup untuk membuatmu menjadi anak yang patuh dan membuatku bangga?”

“Usiaku baru 21 tahun, Ayah. Aku tidak tertarik untuk menikah di usia muda,” jawab Andrew pelan, mati-matian berusahan menahan gejolak amarah yang menggelegak dalam dadanya.

Entah mengapa, semua ini terasa seperti deja vu. Adegan yang terjadi sekarang seolah pernah ia alami sebelumnya. Mungkinkah di kehidupan sebelumnya? Kesalahan yang berakibat fatal ....

Insting Andrew memberontak dengan liar. Sepertinya waktu itu ia melakukan kesalahan dengan menerima perjodohan sialan itu, tapi sekarang ... ia akan melawan dan menolak semua ini dengan sekuat tenaga.

Marco menatap putranya dengan tatapan mengintimidasi. Ia bersandar di sofa sambil berpangku kaki, memikirkan kalimat ancaman yang mungkin akan membuat putranya luluh.

Namun, pada akhirnya ia hanya bisa menghela napas pelan dan berkata, “Aku menikahi ibumu pada saat berusia dua puluh tahun. Kamu lahir dua tahun kemudian. Saat itu, bisnis keluarga yang diwariskan oleh kakekmu berkembang lima kali lipat. Tapi sekarang ... kamu bahkan tidak tertarik sedikit pun pada apa yang sudah aku bangun dengan susah payah.”

Andrew mengacak rambutnya dengan kasar ketika melihat raut wajah ayahnya yang berubah sendu dan seolah kehilangan harapan. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras. Ia tidak pernah bisa melihat ayahnya sedih atau kecewa. Salah satu alasan mengapa ia selalu melarikan diri dari pria itu adalah karena ia tidak sanggup melihat ekspresi kesedihan ayahnya ketika mendengar penolakan darinya berkali-kali.

“Beri aku waktu sepuluh tahun, oke?” tawar Andrew, “Izinkan aku melakukan apa yang aku inginkan. Nanti, jika setelah sepuluh tahun aku masih belum bisa membuktikan bahwa aku mampu sukses dengan kemampuanku sendiri, maka aku akan pulang dan menuruti semua keinginan Ayah. Deal?”

Mendung di wajah Marco perlahan sirna, berganti dengan seringai penuh kepuasan dan kemenangan. Ia menoleh pada Alfred dan bertanya, “Kamu merekam itu semua, Buddy? Ha ... ha ... ha ... sudah kukatakan, aku akan memenangkannya!”

Andrew menatap ayahnya dan Alfred bergantian. Lalu, ketika ia melihat Alfred merogoh dompetnya dan mengeluarkan lembaran Euro dengan sedikit tidak rela, pemuda itu sadar ia baru saja masuk ke dalam perangkap ayahnya sendiri!

“Kalian menjadikan aku sebagai taruhan?” desisnya dengan penuh rasa tidak percaya.

Alfred mengangkat bahunya dan berkata, “Sorry, Boy ....”

Meski begitu, ekspresinya benar-benar terlihat datar dan acuh tak acuh. Sementara Marco Roux masih terbahak karena berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Satu kali saja aku mengetahui bahwa kalian berdua melacak keberadaanku atau memantau apa yang aku lakukan, maka perjanjian ini batal!” seru Andrew dengan kesal sebelum berjalan menuju kamar dan membanting pintu sekuat tenaga.

Lagi-lagi ia dikelabui oleh ayahnya! Benar-benar sial!

***

Terima kasih banyak utk kalian semua yg sudah mampir🥰😍😘

1
Fiora Vyan
kak bii gak mau buat novel lain kah . part anak Hiro_ Cecil mungkin ??? seru tuh mafia cantik mata biru yg terobsesi sama cowok . aku suka karya mu cewek ny gak lembek menye. yg cuma bisa nangis
Fiora Vyan
masih rindu Kinara Alex . ya biarpun sudah di obati tapi tetep pputm di pikiran
Fiora Vyan
balik lagi baca pputm ngingetin ucapan Alex
Fiora Vyan
masih gak rela akhir Kinara
Fiora Vyan
aaaaa ....... so sweet /Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper/ akhirnya Keiko ingat Kinara lee
Fiora Vyan
dag Dig dug👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Fiora Vyan
/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Fiora Vyan
huh hah huh hah huh/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Fiora Vyan
makasih kak masih mikirin pembaca . kalau di tamatin seadanya aku pasti kecewa . apalagi gak ada novel lain yg aku suka . cuma kak biru .
Fiora Vyan
janganlah capek kakbirunya bikin cerita apalagi
Fiora Vyan
dia ingat kebodohannya waktu Alex menjadikan dia umpan untuk nangkep nathan
Fiora Vyan
nakal ya kak biruu.,./Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/
Fiora Vyan
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Fiora Vyan
setiap kata" baby" bawan sedih terus Ingan perjalan novel Alex - kinara
Fiora Vyan
cuma dua nevel yg aku baca novel kak biru sama Cherry blossom
Fiora Vyan: yg lain lewat
total 1 replies
Marhaban ya Nur17
kinara Lee anaknya tiplet y
Marhaban ya Nur17
yaahhh ahirnya sadar
Marhaban ya Nur17
udh cile insaf jan jd ulet keket deh
Marhaban ya Nur17
tuh kan bener bapaknya yg lebih heboh wkkwkw
Marhaban ya Nur17
gmn klo bapaknya Andrew tau wkwkwk pasti lebih heboh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!