NovelToon NovelToon
Keluargaku Adalah Hama

Keluargaku Adalah Hama

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.

Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,

Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Aminah melangkah keluar rumah dengan cepat, dia masih bisa mendengar umpatan dan sumpah serapah ibunya kepadanya tadi, airmata nya menetes tanpa henti, hatinya terasa sangat sakit mendengar semua itu.

"Mereka tidak pernah mau tahu keadaanku tapi juara pertama jika berurusan dengan uangku, aku sudah lelah ya tuhan".

Sesampainya dikantor, dia duduk termenung sambil memakan makanannya yang terasa bagai duri menusuk .

Entah salah apa dirinya sampai keluarganya tidak pernah melihatnya dan selalu membedakan dirinya dengan ketiga adiknya itu terutama sikap sang ibu.

"Apa aku bukan anak ibu dan ayah, kenapa mereka memperlakukan aku seperti ini?". Cicitnya dalam hati.

Para teman yang melihat Aminah makan dengan tangisan itu akhirnya menghampiri dirinya karena khawatir.

"Kamu kenapa Mina?, kenapa kamu menangis sambil makan seperti itu?". Tanya mereka dengan penasaran.

Mereka duduk disamping Aminah menatap ibah kearah sahabatnya itu.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir". Jawabnya pelan.

Dia menghapus airmata yang mengalir deras di pipinya, orang lain saja sangat peduli padanya tapi keluarganya hanya membuat ya menjadi tambang uang dan tenaga yang bisa dikeruk dan dimanfaatkan kapan saja.

"Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama kami Mina, kamu tidak perlu menyimpan segalanya sendirian seperti ini, kami temanmu". Ucap Mereka mengelus pundak Aminah dengan penuh perhatian

Saat itu juga tangis Aminah pecah, dia merasa beban dipundaknya itu terlalu berat dan sekarang teman-temannya ingin membantunya.

"Apa aku anak durhaka jika aku juga memikirkan diriku juga?". Cicitnya pelan.

Mereka semua saling melirik seakan saling berkomunikasi lewat tatapan itu.

"Kamu bukan anak durhaka Mina, kamu sudah cukup berbakti tapi jangan sampai kamu juga mengorbankan dirimu sendiri".

Aminah langsung mengangkat wajahnya yang penuh airmata saat mendengar perkataan sahabatnya itu.

"Setiap orang punya batas, cukup berikan pada orangtuamu dan selebihnya biarkan mereka mengusahakannya sendiri, adik-adikmu bukan tanggung jawabmu sepenuhnya, itu adalah tanggung jawab orang tuamu, mereka tidak berhak memperlakukan kamu seperti itu, kamu juga manusia".

"Yang dikatakan Rina benar Mina, bukan cuma kamu anak kedua orangtuamu, mereka berdua juga punya penghasilan tidak mungkin tidak cukup jika kamu memberi hanya setengah gajimu, kamu juga manusia yang butuh pakaian, makanan dan dukungan untuk dirimu sendiri ".

Aminah kembali menunduk, sahabatnya benar kedua orangtuanya terlalu memanfaatkannya selama ini, tapi untuk dirinya bahkan makan pun tidak pernah kebagian kecuali sarapan dan bekal yang dia bawah dari rumah untuk makan siang karena dia yang memasak makanan itu tapi itupun selalu kena tegur ibunya seakan dia haram memakannya.

"Apakah aku harus pindah dari sana?". Tanyanya pelan nyaris tidak terdengar.

"Sebaiknya pindah lah, setidaknya selamatkan hati dan jiwa mu Mina, kamu bisa berbakti walau tidak tinggal disana, anak ibumu masih ada 3 disana kan, biarkan mereka sadar jika mereka juga anak-anak ayah dan ibumu agar bisa membantu ibumu".

"Jika kamu terus menerus menuruti dengan tekanan maka itu bukan berbakti tapi cari mati".

Mereka menepuk pundak Aminah memberi dukungan kemudian kembali ketempat mereka karena sebentar lagi jam masuk kerja, mereka takut kena tegur sang bos.

"Terima kasih, aku akan melakukannya".

Mereka mengangguk kemudian tersenyum memberi dukungan kepadanya .

Dia sengaja mengambil lembur untuk menambah uang sakunya, dia juga meminta staf keuangan untuk mentransfer gajinya ke rekening baru yang tidak pernah diketahui oleh orangtuanya, rekening itu dia gunakan untuk menabung uang lemburan nya agar tidak dirampas oleh sang ibu.

Saat sampai dirumah, dia menatap datar keluarganya yang tengah makan bersama tanpa menunggu kehadirannya, dirinya mematung didepan pintu ruang tamu melihat semua yang ada di meja makan bahkan saking asyiknya mereka tidak menyadari kedatangannya.

"Enak makanannya yah Bu". Ucapnya dengan datar.

Mereka semua tersentak dan menoleh kearahnya dengan pucat. Mereka tidak menyangka jika Aminah akan melihat mereka makan seperti ini.

"Eh kamu sudah pulang, ayo sini makan sama-sama". Cicit sang ibu ketakutan tapi berusaha untuk terlihat biasa saja walau hatinya mulai waspada melihat raut wajah sang anak yang tak enak dipandang.

Begitu juga sang ayah dan ketiga adiknya itu, wajah mereka pucat seakan melihat hantu.

"Habiskan saja Bu, toh sudah tinggal sisa saja, jika ibu mengingat memiliki anak satu orang lagi pasti ibu akan memisahkan dan menyimpannya untukku". Jawabnya melangkahkan kakinya menuju kamarnya tanpa memperdulikan mereka.

Mereka semua langsung saling memandang melihat makanan didepan mereka yang memang tinggal tulang dan sisa untuk dihabiskan saja.

Sang ayah hanya bisa menghela nafas tidak enak sedangkan Sang ibu hanya mengepalkan tangannya karena merasa anak sulungnya itu kurang ajar kepadanya, sedangkan ketiga saudara Aminah yang lain hanya diam saja tanpa mau peduli dan meneruskan makan mereka.

"Ya Allah". Ucapnya sambil memegang dadanya .

Tubuhnya merosot didepan pintu kamarnya sambil memegang lututnya dan menenggelamkan wajahnya dengan perasaan hancur.

Sejak kecil dia dituntut untuk berbakti dan mengurus adik-adik nya tapi dia selalu terasingkan ditengah keluarganya sendiri, jika semua yang dia lakukan tidak sesuai keinginan ibunya maka dia tidak akan mendapatkan jatah makanan dan akan dipukul habis-habisan seolah dirinya hanya alat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Ya Allah ini sakit sekali, kenapa mereka melakukan semua ini padaku, apakah aku ini bukan bagian dari keluarga mereka?, kenapa yah Allah?". Rintihnya dengan airmata yang mengalir deras.

Keluarga Aminah yang berada diluar seakan tidak peduli, dan menghabiskan makan mereka tanpa sisa ,toh Aminah sudah melihatnya dan tak mau memakan sisa mereka.

"Sudahlah Bu, biarkan saja kak Aminah, toh dia juga tidak mau walau ibu sudah menawarkannya tadi". Ucap Lisa tanpa beban.

"Benar Bu, biarkan saja kak Aminah, tapi nanti suruh dia membereskan rumah, lihat saja rumah sangat berantakan". Ucap Maya dengan enteng.

Sedangkan sang ayah hanya diam saja tanpa mengatakan apapun, dia seakan membenarkan perkataan anak-anaknya yang lain tanpa memperdulikan anak sulungnya.

"Tapi nak, bagaimana kalau kakakmu marah pada kita dan tidak memberikan gajinya lagi, kalian mau uang jajan kalian berkurang?". Jawabnya gusar

Dia bahkan seakan tidak peduli keadaan Aminah yang terluka karena perbuatan mereka .

"Itu tidak mungkin terjadi Bu, kak Aminah kan selalu tunduk dan patuh pada ibu, cukup mainkan perasannya saja, dia pasti akan kembali tunduk walau dia memberontak". Jawab sang suami dengan biasa .

Dia memang selalu menganggap enteng perasaan anak-anaknya, baginya mereka melakukan segalanya karena itu sudah kewajibannya untuk membalas budi kepada orang tua karena melahirkan dan membesarkan serta membiayainya.

"Baiklah, kalian akan lihat bagaimana tambang kalian ini rubuh". Ucap Aminah saat mendengar perkataan seluruh keluarganya

1
Anime aikō-kā
Keluargaku Adalah Hama
Test Baru
kak kok belum up lagi 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!