Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PREDATOR DAN PERISAINYA
Jam di dinding ruangan mewah itu menunjuk tepat pukul 06.30 pagi. Di Lantai 42 Arkananta Tower, gedung pencakar langit yang seolah menusuk langit Jakarta, aktivitas sudah berjalan seperti mesin yang diminyaki dengan sempurna. Tidak ada celah untuk keterlambatan, tidak ada ruang untuk kesalahan. Di sini, waktu adalah uang, dan kesalahan berarti kehancuran.
Di balik meja kerja raksasa berbahan kayu mahoni hitam yang dipoles hingga memantulkan bayangan, duduklah Devan Arkananta. Usianya baru menginjak 29 tahun, namun namanya sudah cukup untuk membuat para pengusaha tua renta gemetar ketakutan saat disebut. Wajahnya tajam dengan rahang yang tegas, kulitnya bersih, dan matanya—sepasang mata elang yang dingin dan tak pernah berbohong—seolah mampu menembus kedalaman pikiran siapa pun yang berani berdiri di hadapannya. Bagi dunia luar, dia adalah definisi sempurna dari kesuksesan: kaya, berkuasa, dan tak tersentuh. Namun bagi mereka yang bekerja di dekatnya, Devan adalah predator puncak, raja yang kejam, dan iblis yang menyamar menjadi manusia.
“Laporan keuangan kuartal ketiga sudah disusun, tanda tangan kontrak kerja sama dengan Grup Pratama sudah dipersiapkan, dan jadwal pertemuan dengan delegasi Eropa jam sepuluh pagi sudah dikonfirmasi ulang tiga kali,” suara wanita itu terdengar tenang, datar, dan sangat presisi, memotong keheningan ruangan yang penuh tekanan.
Alana. Usia 25 tahun. Sekretaris pribadi Devan selama dua tahun terakhir ini. Bagi banyak orang, dia adalah wanita paling beruntung sekaligus paling sial di ibu kota. Beruntung karena memiliki akses langsung ke salah satu orang terkaya di negeri ini, sial karena harus melayani tuan yang sukar diprediksi, perfeksionis, dan terkenal tak punya belas kasihan. Dengan penampilan yang rapi, rambut yang disanggul sempurna, dan tatapan yang selalu waspada namun tenang, Alana adalah kebalikan mutlak dari bosnya yang meledak-ledak. Dia adalah air yang mendinginkan api, penyeimbang yang membuat seluruh kerajaan bisnis Devan tetap tegak berdiri.
Devan tidak menoleh sedikit pun. Tangannya yang besar dan terawat bergerak cepat, menandatangani tumpukan dokumen setebal buku telepon dengan gerakan efisien dan tanpa emosi sama sekali.
“Rapat direksi yang dijadwalkan jam dua belas siang digeser ke jam dua siang. Batalkan makan siang dengan Komisaris Besar Haryo, ganti dengan pertemuan mendadak dengan tim akuisisi. Saya ingin tahu posisi tanah di kawasan Timur sebelum minggu ini berakhir,” perintahnya, suaranya rendah, berat, dan mutlak.
Alana tidak terkejut sedikit pun. Dia sudah hafal pola kerja pria ini. Fleksibilitas adalah mitos; bagi Devan, segala sesuatu harus berputar mengelilingi keinginannya.
“Sudah saya lakukan sejak lima menit yang lalu, Pak. Saya sudah memberitahu semua pihak terkait dan menyesuaikan jadwal elektronik Anda,” jawabnya tanpa ragu, tangannya tergerak untuk menyerahkan secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
Campuran spesifik: dua sendok gula aren, sedikit susu evaporasi, diseduh tepat empat menit. Takaran yang tidak diketahui siapa pun selain Alana.
Devan akhirnya mengangkat wajah. Sudut bibirnya sedikit terangkat, bukan sebagai tanda senyum ramah, melainkan ekspresi kepuasan yang tipis namun nyata. Di sini letak kehebatan Alana. Dia mampu membaca pikiran Devan bahkan sebelum kata-kata itu terucap. Dia adalah perisai, penyangga, dan sekaligus boneka yang selalu patuh—atau begitulah yang selama ini Devan pikirkan.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang samar, namun terasa begitu jelas bagi Alana yang telah menghabiskan ribuan jam mengamati pria ini. Saat dia meletakkan cangkir di sisi kiri meja, matanya menangkap tangan Devan yang sedikit gemetar. Sang CEO yang biasanya stabil seperti batu karang itu, napasnya terdengar lebih berat, lebih pendek, dan dadanya turun naik dengan ritme yang tidak beraturan.
Ini bukanlah Devan yang dia kenal. Ini adalah Devan yang lain.
“Pak, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Alana pelan, suaranya turun satu oktaf, seolah takut memecahkan kaca yang sedang retak. Dia tahu dia melanggar batas. Di sini, dia hanya karyawan. Tidak ada tempat untuk bertanya soal kesehatan atau perasaan.
Devan mendengus kasar, menepis pertanyaan itu dengan gerakan kepala yang tajam. Tatapannya kembali tajam dan dingin, berusaha menutupi apa yang baru saja terlihat.
“Jangan bermimpi kau bisa menganalisis saya, Alana. Kerjakan tugasmu dan jangan ikut campur urusan pribadi atasanmu,” ketusnya. Kata-kata yang tajam, namun ada sedikit getaran di ujung kalimatnya yang membuat hati Alana mencelos.
Alana menundukkan pandangannya, menyembunyikan tatapan pahitnya. Dia tahu betul. Di balik bayang-bayang kekuasaan yang mengerikan ini, di balik jutaan aset dan pengaruh yang luas, ada sesuatu yang retak. Ada luka yang tak pernah kering. Dan Alana, entah karena takdir atau kesialan, adalah satu-satunya saksi retakan itu.
Sore itu, langit Jakarta yang biasanya penuh polusi dan debu, tiba-tiba berubah menjadi kelabu pekat. Badai besar datang tanpa peringatan, petir menyambar berkali-kali seolah ingin membelah langit menjadi dua, dan guntur bergemuruh menggetarkan kaca tebal ruangan kantor itu. Cahaya matahari yang samar pun tertutup, membuat ruangan yang biasanya terang benderang itu menjadi redup dan suram.
Dan di saat itulah, kejadian yang selama ini Alana simpan rapat-rapat kembali terjadi.
Devan tiba-tiba berdiri kasar dari kursi putarnya. Tubuhnya yang tinggi besar itu terhuyung sedikit. Matanya yang biasanya tajam kini membelalak lebar, menatap ruang kosong di sudut ruangan, seolah sedang melihat hantu yang paling dia takuti. Wajah pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi dahi dan lehernya yang kekar. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan cepat, persis seperti orang yang sedang tenggelam meski dia berdiri di lantai yang kering.
Serangan panik.
Trauma lama yang selalu dia pendam, terkait kematian ayahnya yang tragis sepuluh tahun lalu, kembali menerkamnya. Rasa takut ditinggalkan, rasa takut dikhianati, dan bayangan wajah ayahnya yang mati, semuanya bercampur menjadi satu pusaran kekacauan di dalam kepala Devan.
“Ayah... tidak... jangan pergi... jangan tinggalkan aku...” gumamnya lemah, suaranya pecah dan sama sekali berbeda dari suara arogan yang biasa terdengar memenuhi ruangan ini.
Kaki kekarnya tak lagi sanggup menopang beban tubuhnya maupun beban masa lalunya. Devan jatuh berlutut di atas karpet bulu domba yang mahal itu, tangannya mencengkeram dada kirinya seolah ada tangan raksasa yang sedang mencekik napas dan jantungnya. Dia gemetar hebat, dikurung dalam ketakutan yang hanya dia yang bisa rasakan.
Di luar, petir kembali menyambar, membuat lampu ruangan itu berkedip-kedip. Di saat yang paling gelap itu, pintu ruangan terbuka. Tanpa ragu sedetik pun, Alana berlari masuk dan mengunci pintu itu kembali dari dalam. Dia tahu, tidak boleh ada siapa pun yang melihat ini. Melihat Devan Arkananta yang tak berdaya, yang hancur, dan yang rapuh seperti anak kecil yang tersesat. Jika hal ini sampai keluar, seluruh kerajaan yang dia bangun dengan keringat dan darah ini akan runtuh dalam semalam.
Alana berlutut tepat di hadapan pria yang ditakuti se-Jakarta itu. Dia tidak takut. Meski tubuh Devan menggetar hebat, meski aura ketakutannya begitu kuat hingga membuat siapa pun mau lari menjauh, Alana tetap diam di sana. Dia menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya yang hangat dan lembut, memaksakan pria itu menatap matanya.
“Tarik napas, Pak. Ikuti irama napas saya. Tarik... dan hembus. Lihat saya, Pak. Lihat mata saya. Di sini aman. Ayah tidak ada di sini. Tidak ada yang menyakiti Anda. Tidak ada yang akan meninggalkan Anda. Semuanya sudah berlalu,” bisik Alana lembut namun tegas, nada bicaranya menenangkan dan penuh keyakinan.
Dia mengulang kalimat itu berulang kali, menjadi satu-satunya penanda kenyataan di tengah kekacauan pikiran Devan. Dia membiarkan bahu dan lengannya dicengkeram kuat oleh tangan Devan, sampai kulitnya memutih dan terasa nyeri. Dia tidak melepaskan diri, bahkan saat Devan mencengkeramnya semakin erat seolah dia adalah pelampung satu-satunya di tengah lautan badai. Alana membiarkan pria itu bersandar sepenuhnya padanya, membiarkan berat tubuhnya jatuh ke pelukannya saat dunia Devan terasa runtuh dan hilang arah.
Beberapa menit terasa seperti selamanya. Di luar, badai masih mengamuk, tapi di dalam ruangan itu, perlahan ketenangan mulai kembali. Perlahan, napas Devan menjadi teratur kembali. Genggaman tangannya melonggar, dan dia perlahan membuka matanya.
Untuk sesaat, tatapan dingin dan tajam itu hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah tatapan yang penuh ketakutan, kebingungan, dan ketergantungan mutlak. Tatapan seorang anak kecil yang sendirian dan butuh perlindungan. Tatapan yang membuat hati Alana teriris-iris namun sekaligus terasa hangat karena dia dipilih untuk melihat sisi ini.
Namun, kesadaran penuh perlahan kembali merayap masuk ke dalam pupil hitam Devan. Dia tersentak kaget, seolah baru sadar dia sedang berada di posisi yang paling memalukan dan rentan. Dengan cepat dia melepaskan pelukan itu, bangkit berdiri dengan terhuyung, lalu memunggunginya secepat kilat. Tangannya gemetar saat merapikan jas dan dasinya yang sudah kusut masai, berusaha menutupi jejak kelemahan yang baru saja terlihat.
“Keluar,” perintahnya dingin. Suaranya kembali keras, kembali seperti baja yang tajam, meski masih terdengar sedikit serak. “Keluar sekarang.”
Alana tidak bergerak pergi dulu. Dia menatap punggung lebar yang berusaha tampak kokoh itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tahu betapa besar harga diri pria ini, dan betapa menyiksanya perasaan saat kelemahan terungkap.
Dia mengangguk pelan, menyembunyikan rasa sakit yang menggerogoti hatinya sendiri.
“Tentu, Pak. Saya mengerti. Dan ingat satu hal ini... bagi dunia luar, Tuan Devan Arkananta tidak punya kelemahan. Dia tidak pernah sakit, dia tidak pernah takut, dan dia tidak pernah hancur. Apa yang terjadi di sini, mati di sini. Bersama saya.”
Alana melangkah mundur, menuju pintu raksasa itu. Sebelum menutupnya, dia sempat mendengar gumaman halus yang hampir tak terdengar dari balik punggung itu.
“Terima kasih, Alana.”
Pintu tertutup rapat. Di balik pintu itu, Alana tahu, ada seorang raja yang sendirian dan kesepian. Raja yang membangun tembok setebal beton di sekeliling hatinya agar tidak lagi terluka. Dan dia, Alana, adalah satu-satunya orang yang memegang kunci penjara tempat pria itu mengurung dirinya sendiri. Di sini, di lantai 42, batas antara atasan dan bawahan, antara pria dan wanita, mulai menipis, dan benih-benih sesuatu yang rumit, berbahaya, namun juga indah, mulai tertanam kuat.