NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu yang Meninggalkan Takhtanya

​Pukul delapan pagi di kediaman keluarga Wijaya biasanya adalah waktu di mana aroma kopi robusta dan nasi goreng hangat memenuhi ruangan.

Tapi pagi ini, suasana rumah itu lebih mirip medan perang. Suara teriakan Ibu Ratna terdengar melengking dari arah dapur, beradu dengan suara pecahnya piring porselen.

​"Rania! Di mana kamu?! Sini cepat! Ini kompornya kenapa tidak mau menyala?!" Ibu Ratna memaki sambil memukuli pemantik kompor gas dengan spatula kayu. Wajahnya yang biasanya penuh bedak kini tampak kusam dan berminyak. Selama lima tahun, dia hanya tahu cara duduk manis dan mengkritik rasa masakan, tanpa pernah tahu bahwa Rania selalu bangun pukul empat subuh untuk memastikan semua peralatan berfungsi dengan baik.

​Di lantai atas, Tyas keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan dan wajah cemberut. "Mana handukku? Kenapa tidak ada di gantungan?! Rania! Kamu sengaja ya membuatku telat kuliah?!"

​Sementara itu, Rendra berdiri di depan cermin besar di kamarnya dengan raut wajah frustrasi. Kemeja putihnya tampak kusut di bagian punggung—hasil setrikaan Tyas yang dipaksakan—dan dasinya miring ke kiri karena ia tidak tahu cara membuat simpul yang sempurna. Biasanya, Rania akan berdiri di belakangnya, mengusap bahunya dengan lembut, dan merapikan segalanya hingga ia tampak seperti CEO paling berwibawa di kota ini.

​"Sialan! Ke mana sebenarnya wanita itu?!" umpat Rendra. Ia merogoh saku kemejanya, mencari ponselnya dengan gerakan kasar. Ia yakin Rania hanya sedang melakukan aksi mogok kerja murahan karena kejadian semalam. Paling-paling wanita itu sedang menginap di masjid rumah sakit atau di bangku taman.

​Rendra menekan tombol panggil. Ia sudah menyiapkan sederet makian dan ancaman untuk membuat Rania segera berlari pulang dan meminta maaf di bawah kakinya.

​Tuut... tuut...

​Panggilan itu diangkat pada nada ketiga.

​"Halo! Rania! Kamu sudah gila, ya?!" bentak Rendra tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya bersuara. "Lihat jam berapa ini! Ibu belum sarapan, rumah berantakan seperti kapal pecah, dan aku harus ada meeting penting satu jam lagi! Cepat pulang sekarang atau aku tidak akan memberimu uang sepeser pun untuk pengobatan anak penyakitan itu!"

​Hening. Tidak ada isak tangis yang biasanya terdengar. Tidak ada permintaan maaf yang gemetar. Hanya ada suara deru mesin rumah sakit yang samar di latar belakang.

​"Sudah selesai bicaranya?"

​Suara itu datar. Dingin. Dan sangat tenang. Rendra tertegun sejenak. Itu suara Rania, tapi tidak ada nada pengabdian di sana. Suara itu terdengar seperti embun beku yang menempel di kaca jendela.

​"Apa kamu bilang? Kamu berani menjawab begitu?!" Rendra semakin meradang.

​"Mas Rendra," potong Rania, ia menekankan kata 'Mas' dengan nada yang seolah-olah kata itu adalah kotoran yang menjijikkan.

"Mulai hari ini, silakan hubungi asisten rumah tangga yang baru. Ah, aku lupa, Ibu sudah memecat mereka semua, kan? Jadi, silakan nikmati setiap sudut rumah yang berantakan itu. Bukankah kalian selalu bilang kalau pekerjaanku di rumah itu gampang dan hanya bermain-main?"

​"Rania! Jangan kurang ajar! Kamu itu istriku—"

​"Istri?" Rania tertawa kecil, suara tawa yang singkat tapi sanggup menyayat ego Rendra.

"Sejak semalam saat kamu lebih memilih panggilan video dengan selingkuhanmu daripada nyawa anakmu sendiri, status itu sudah mati bagiku. Oh, dan satu lagi, Mas. Kamu punya meeting besar jam sembilan nanti dengan Danuarta Group, kan?"

​Jantung Rendra berdegup kencang. Bagaimana Rania bisa tahu jadwalnya dengan sedetail itu?

"Dari mana kamu tahu—"

​"Aku yang menyusun seluruh proposalnya, Mas. Aku yang melakukan riset pasarnya setiap malam saat kamu mendengkur di sampingku. Dan aku juga yang memegang kunci enkripsi untuk file presentasi di laptopmu. Kamu cari sampai kiamat pun, file itu tidak akan bisa dibuka tanpa kode dariku."

​Wajah Rendra seketika memucat. Ia segera membuka laptop di hadapannya. Benar saja, sebuah kotak dialog muncul di layar: “Encrypted Access Required.”

​"Rania! Apa yang kamu lakukan?! Itu proyek puluhan miliar! Kamu mau menghancurkan karierku?!" teriak Rendra panik. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.

​"Aku tidak menghancurkanmu, Mas. Aku hanya ... berhenti membantumu," jawab Rania tenang.

"Mari kita lihat, seberapa hebat seorang Rendra Wijaya jika tidak ada istri bawang yang mendukungnya di balik layar. Selamat berjuang dengan kebodohanmu sendiri."

​"Tunggu! Rania! Berikan kodenya! Aku akan kasih uang berapa pun yang kamu mau! Abid butuh rumah sakit terbaik, kan? Aku akan bayar!"

Rendra mulai memohon, nada bicaranya berubah dari serigala menjadi anjing yang terjepit.

​Di ujung telepon, Rania melirik ke arah Abid yang kini sudah tertidur pulas di ruang VIP Rumah Sakit Internasional—sebuah kemewahan yang diberikan oleh Elang tanpa syarat.

Di sampingnya, Elang Danuarta berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Rania menarik napas panjang, menghirup udara kebebasan yang belum pernah ia rasakan selama lima tahun terakhir.

​"Uangmu tidak lagi laku bagiku, Rendra. Simpan saja untuk membayar pengacara, karena dalam waktu dekat, surat cerai dan gugatan hak asuh anak akan sampai di mejamu. Dan jangan kaget jika perusahaan yang kamu banggakan itu mulai runtuh satu per satu ... karena fondasinya baru saja pergi meninggalkanmu."

​Klik.

​Rania mematikan sambungan telepon itu. Ia menatap layar ponselnya sejenak sebelum melepaskan kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua. Sebuah simbol bahwa masa lalunya sebagai pelayan keluarga Wijaya telah berakhir.

​"Sudah selesai?" tanya Elang dengan suara beratnya.

​Rania menatap Elang, matanya kini berkilat dengan kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan.

"Baru dimulai, Elang. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya berada di posisi paling bawah, di tempat yang selalu dia sebut sebagai 'tempatku'."

​Elang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang diperlihatkan kepada siapa pun. "Bagus. Karena aku sudah menyiapkan panggung untukmu di Danuarta Group. Hari ini, kamu bukan lagi asisten bayangan. Hari ini, kamu adalah Konsultan Utama yang akan menolak proposal Rendra Wijaya secara langsung."

​Rania berdiri, merapikan pakaian sederhana tapi rapi yang dipinjamkan, asisten Elang. Ia melihat bayangan dirinya di kaca jendela rumah sakit.

Tidak ada lagi wanita layu yang berbau bawang. Yang ada adalah seorang wanita yang siap membalaskan setiap tetes air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Sementara itu, di rumah besar keluarga Wijaya, Rendra terduduk lemas di lantai kamarnya. Laptop di depannya masih menampilkan kotak dialog enkripsi yang seolah menertawakannya. Di bawah, suara Ibu Ratna dan Tyas yang bertengkar semakin keras, menambah suasana kacau di rumah yang kini terasa seperti penjara tanpa penjaga itu.

​Rendra mulai menyadari satu hal yang mengerikan: Selama ini dia tidak menikahi seorang pembantu. Dia telah mengusir otaknya, jantungnya, dan satu-satunya alasan mengapa dia bisa sukses.

​Dan penyesalan itu, baru saja dimulai.

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!