Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
Alesia masih asyik mengunyah paha ayam kalkun panggang yang disajikan di atas nampan emas. Di dunia asalnya, makan enak begini cuma kalau Abah habis gajian dari melatih aparat. Sekarang, di depannya terhidang makanan bintang lima yang bisa ia santap sepuasnya tanpa harus memikirkan sisa saldo ATM.
"Buset dah, ini ayam empuk bener ya, Neng! Coba ada sambal korek sama pete bakar, makin mantap dah ini!" seru Alesia sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangan.
Lily yang berdiri di sudut kamar hanya bisa mengelus dada melihat etika makan junjungannya yang hancur lebur. "Yang Mulia... hamba mohon pelankan suara Anda. Dan tolong gunakan garpu perak itu. Kalau sampai terlihat kepala pelayan, Anda bisa dihukum belajar tata krama lagi!"
"Dih, ogah! Makan pakai tangan begini nikmatnya nambah seribu persen tahu! Lagian siapa sih yang mau ngintip? Kan pintunya udah lu kunci rapat tadi," sahut Alesia santai seraya mencomot buah anggur.
"Tap—"
BRAAAK!
Pintu kamar yang tadi dikunci rapat tiba-tiba didobrak paksa dari luar. Alesia yang hampir memasukkan anggur ke mulutnya sampai tersedak saking kagetnya.
"Uhuk! Uhuk! Buset dah! Ini pintu istana kaga ada engselnya apa gimana sih?! Hobinya didobrak mulu dari tadi!" omel Alesia seraya menepuk-nepuk dadanya.
Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala yang luar biasa megah melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, mengekor empat orang dayang yang langsung menatap Alesia dengan pandangan meremehkan. Wanita itu adalah Selir Rose, musuh bebuyutan permaisuri asli dan dalang di balik beberapa kegugurannya yang lalu.
"Oh, astaga... Lihatlah siapa yang baru saja bangun dari maut!" sindir Selir Rose dengan senyum palsu yang memuakkan. Ia menutup hidungnya dengan kipas bulu. "Dan astaga, Permaisuri, kenapa Anda makan seperti rakyat jelata yang kelaparan begitu? Sungguh memalukan nama keluarga kerajaan!"
Alesia menatap wanita di depannya dari bawah sampai atas. Wah, gundik yang ini sok kecakepan bener. Bedaknya tebel amat kayak tembok kelurahan, batin Alesia gemas.
"Lu siapa sih? Datang-datang kaga permisi, malah langsung nyap-nyap kayak burung beo!" semprot Alesia tanpa ragu.
Senyum palsu di wajah Selir Rose langsung luntur seketika. Ia menurunkan kipasnya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa?! Anda tidak mengenali saya, Yang Mulia? Saya Rose! Selir kesayangan Yang Mulia Raja! Apakah keguguran kali ini juga membuat otak Anda ikut rusak?!"
Lily langsung gemetaran di belakang Alesia. "Ma-maafkan Yang Mulia Permaisuri, Selir Rose. Beliau baru saja sadar dan—"
"Heh, Neng Lily! Kaga usah minta maaf sama uler kadut begini!" potong Alesia cepat. Ia bangkit dari duduknya, berkacak pinggang, dan menatap Rose dengan mata menyipit.
"Oh, jadi lu yang namanya mawar merah merona ini? Denger ya, Mba Rose. Lu emang cakep, tapi sayang mulut lu kaga ada saringannya! Lu kate otak gue rusak? Otak gue mah masih tokcer! Otak lu tuh yang geser karena kebanyakan pakai parfum kaga jelas!" balas Alesia ngegas.
Selir Rose melongo. Semua dayang pengiringnya juga ikut melongo. Permaisuri Alessia yang biasanya hanya bisa menangis diam saat disindir, kini mendadak membalas ucapannya dengan bahasa aneh yang sangat kasar.
"Berani sekali Anda bicara seperti itu pada saya! Biar Anda tahu ya, semalam Yang Mulia Raja tidur di kamar saya karena beliau sangat muak melihat rahim Anda yang tidak berguna itu!" ujar Rose mencoba memanasi Alesia.
Alesia justru tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu. "Hahaha! Ya bagus dong! Ambil dah tuh si Bambang kaku! Gue mah kaga rugi! Lu urusin dah tuh suami yang mukanya kaku kayak kanebo kering. Gue mah mending fokus makan enak di sini!"
"Ap... apa?! Anda menyebut Yang Mulia Raja apa tadi?!" Rose semakin syok mendengar panggilan tidak sopan dari mulut permaisuri.
"Udah ah, kaga usah banyak bacot lu di kamar gue. Sekarang mending lu keluar dah sebelum emosi gue naik!" usir Alesia seraya mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.
Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan para dayangnya, Selir Rose menjadi gelap mata. Ia maju beberapa langkah dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat untuk menampar wajah Alesia.
"Rasakan ini, wanita tidak bergu—"
HUP!
Belum sempat telapak tangan Rose mendarat di pipi mulus Alesia, pergelangan tangan lentiknya sudah dicengkeram kuat oleh Alesia di udara.
Alesia menyeringai dingin. "Wah, maen fisik nih ceritanya? Lu kaga tahu ya kalau bapak gue itu pawang ular kobra di Depok?!"
"Lepaskan! Sakit! Berani sekali Anda menyentuh saya!" jerit Selir Rose kesakitan saat Alesia meremas pergelangan tangannya makin kuat.
"Ini belum seberapa, Mba Mawar!"
Alesia menarik tangan Rose ke depan, memutar tubuhnya sedikit, dan menggunakan pinggulnya untuk menjegal kaki Selir Rose dengan teknik bantingan silat 'Cikrak Sampah'.
BRUK!
Hanya dalam satu detik, tubuh ramping Selir Rose sudah terbanting keras ke lantai marmer yang dingin dengan posisi telentang konyol.
"AAAAAKH! Pinggangku!" jerit Rose histeris. Kipas bulu indahnya patah menjadi dua, dan tatanan rambutnya yang tinggi langsung acak-acakan menyerupai sarang burung.
"SELIR ROSE!" jerit keempat dayang pengiringnya serentak. Mereka langsung panik mengerubungi selir tersebut.
"Yang Mulia! Anda... Anda banting dia?!" Lily sampai menutup matanya karena terlalu syok dengan aksi barbar ratunya.
Alesia merapikan baju tidurnya dengan santai. Ia berkacak pinggang di depan Selir Rose yang masih mengaduh kesakitan di lantai. "Makanya, kalau kaga jago gelut kaga usah sok jagoan nantangin anak Abah! Itu baru pemanasan ya. Kalau lu berani usik gue lagi, atau berani racunin makanan gue lagi, bakal gue patahin tuh tulang punggung lu sampai kaga bisa goyang lagi! Paham lu?!"
"Anda... Anda gila! Saya akan laporkan ini pada Yang Mulia Raja! Anda melakukan kekerasan fisik pada saya!" ancam Selir Rose dengan air mata yang mulai bercucuran karena menahan nyeri di pinggangnya.
"Laporin aja sono! Paling ntar lakinya pusing sendiri denger aduan lu yang menye-menye itu! Buruan angkat kaki gundik lu dari kamar gue, sebelum gue keluarin jurus tendangan tanpa bayangan nih!" seru Alesia seraya memasang kuda-kuda silat andalannya.
Melihat Alesia yang tampak sangat siap untuk menghajar mereka lagi, para dayang Selir Rose langsung buru-buru memapah majikan mereka yang sudah menangis sesenggukan itu keluar dari kamar dengan sangat tergesa-gesa.
Setelah pintu kamar tertutup kembali (kali ini tidak didobrak, tapi dibanting dari luar oleh dayang yang ketakutan), Alesia langsung menghela napas lega dan kembali duduk di kasur.
"Hah! Beres juga satu hama. Neng Lily, ambilin air putih dong! Seret nih habis banting orang!" pinta Alesia dengan santai seolah baru saja melakukan aktivitas biasa.
Lily mengambilkan segelas air dengan tangan yang masih gemetaran hebat. "Yang Mulia... Anda benar-benar nekat. Selir Rose adalah keponakan dari Perdana Menteri yang sangat berkuasa. Jika Yang Mulia Raja marah karena aduan ini, posisi Anda benar-benar bisa terancam!"
"Halah, kaga usah takut, Neng! Selama ada jurus silat Abah di badan gue, kaga bakal ada yang bisa nyentuh kita sembarangan. Lagian si Mangnus kaku itu juga kayaknya lagi sibuk ngecek dupa beracun yang gue kasih tahu tadi," jawab Alesia percaya diri seraya meneguk air putihnya sampai habis.
Tepat setelah Alesia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki yang berat dan tegas kembali terdengar dari arah lorong luar kamar. Pintu kamar tersebut terbuka lagi dengan perlahan.
Berdiri di sana adalah Raja Magnus, sendirian tanpa pengawal, dengan ekspresi wajah yang sangat sulit diartikan.
Alesia langsung memutar bola matanya malas. Buset dah. Baru juga diomongin, kanebo keringnya beneran dateng lagi! batin Alesia gemas.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii