Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Negoisasi yang gagal.
Di luar gedung yang masih ramai oleh kendaraan dan tamu yang mulai pulang, Zinnia berdiri di tempat agak sepi sambil memeluk tas tangannya. Tadi dia berjalan keluar dengan langkah cepat seolah marah besar dan langsung pergi, padahal nyatanya dia tidak ke mana-mana. Dia sengaja menunggu, dua orang yang sudah mengambil barang yang ia incar.
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka lebar. Keluar beberapa orang berpakaian hitam yang jelas-jelas bodyguard, membuka jalan untuk sosok lelaki yang berjalan santai di tengahnya. Itu Darren.
Begitu melihatnya, mata Zinnia berbinar. Tanpa ragu sedikitpun, dia melangkah mendekat lalu dengan entengnya menjangkau dan menarik pergelangan tangan Darren.
Gerakan tiba-tiba itu membuat para bodyguard langsung waspada, beberapa di antaranya langsung maju hendak menghalangi dan menarik gadis itu menjauh dari tuannya. Tapi sebelum mereka sempat menyentuh Zinnia, suara Darren terdengar tegas dan berwibawa.
" Lepaskan dia, biarkan dia bicara. " Perintah Darren tegas tak bisa dibantah.
Secepat kilat semua gerakan terhenti, para bodyguard langsung mundur memberi jalan, berdiri tegak di jarak aman tapi tetap waspada. Darren justru membalikkan tangannya, menarik tangan Zinnia hingga gadis itu berdiri makin dekat di hadapannya, jarak di antara mereka tinggal beberapa senti saja.
Dari dekat, kecantikan Zinnia terasa berkali-kali lipat lebih memukau. Wajah gadis itu terlihat jelas, hidung mancung dan bibir ranumnya semakin menambah pesonanya. Dan sepasang mata bulat berbinar yang kini menatapnya dengan pandangan tidak senang sedikitpun. Tapi Darren sudah menduga kedatangan gadis ini, wajahnya tetap santai, terpasang senyum tipis khasnya yang terlihat ramah padahal penuh kedok.
" Apa yang membuat tuan putri datang padaku? " Tanya Darren santai.
Zinnia mendengus kecil, tatapannya tetap tajam penuh kekesalan.
" Jangan pura-pura tak tahu, kamu sudah mengambil barang incaranku !! "
Suara lembut itu diucapkan dengan nada tegas, namun bagi Darren justru terdengar menggemaskan. Jantungnya yang selama ini selalu berdetak stabil dan tenang, kini berpacu lebih cepat tanpa kendali. Baru sadar jika dari dekat pesona gadis ini benar-benar tak ada obatnya, seolah udara di sekitarnya ikut berubah, membuat seluruh perasaannya kacau balau.
Darren tertawa. Kali ini bukan tawa palsu yang biasa dia pakai untuk menipu orang lain, tapi tawa yang keluar begitu saja, untuk menertawakan dirinya sendiri, karena baru kali ini merasakan sensasi aneh seperti ini saat berdiri di dekat seorang wanita.
" Tapi aku membayarnya, jadi barang itu adalah hak milikku. "
" Tetap saja itu membuatku kesal, bisakah kita bernegosiasi dengan kamu memberikan barangnya padaku dan aku akan membayarnya dengan harga pantas. " desak Zinnia, dia yakin uang pasti bisa menyelesaikan masalah ini.
Tapi Darren hanya menggeleng pelan, senyum di bibirnya makin melebar.
" Maaf tuan putri.. Tapi aku tidak butuh uang.. Aku suka dengan barang itu, dan tak akan aku berikan dengan mudah meski padamu.. !! kecuali... "
Dia berhenti bicara sejenak, menatap wajah Zinnia makin dalam dan intens. Tanpa sadar, jari telunjuk dan ibu jarinya terangkat, perlahan menyentuh kulit pipi gadis itu yang terasa begitu lembut dan halus, persis seperti yang dia bayangkan.
Sentuhan tak terduga itu membuat Zinnia sedikit membeku di tempat, matanya membelalak kaget.
" Kecuali apa? " tanyanya dengan nada sedikit bergetar, campuran kaget dan kesal.
" Kamu mau jadi pacar saya. "
Detik itu juga, senyum di bibir Zinnia lenyap total. Dia dengan cepat menghempaskan tangan Darren dari wajahnya, menatap lelaki itu seolah baru saja mendengar hal paling tidak masuk akal di dunia.
" Tidak mau !! dan jangan sembarangan menyentuh wajah saya, itu tidak sopan !! "
Penolakan tegas itu beserta tatapan marah itu, semuanya bukannya membuat Darren sakit hati atau marah, malah justru membangkitkan rasa suka dan ketertarikannya berkali-kali lipat. Selama ini semua orang mau melakukan apa saja demi dia, menuruti semua kemauannya, tapi gadis di hadapannya ini? Menolak mentah-mentah seolah dia cuma orang biasa saja. Dan justru itulah yang membuatnya makin tergila-gila.
" Baiklah aku tak akan menyentuh wajahmu.. Tapi.. Aku bisa menyentuh bagian yang lain, seperti... Ini. " Ucap Darren dengan usilnya kemudian menarik pinggang gadis di hadapannya itu, membawanya semakin dekat dengan tubuh tinggi atletisnya.
Zinnia makin kaget, mata cantiknya terbuka semakin lebar. Dan melihat reaksinya yang sedemikian rupa itu membuat Darren makin usil.
" Kamu cantik sekali saat terkejut.. Matamu begitu indah Zinnia.. Seakan terkandung sihir di dalamnya. " Bisik Darren pelan dengan suara lebih rendah dari sebelumnya di dekat telinga gadis cantik itu.
" Lepaskan !! " pinta Zinnia sambil mencoba mendorong Darren yang bahkan tak bergerak sedikitpun dengan dorongannya itu.
" Boleh aku coba sesuatu? " tanya Darren tiba-tiba, disertai senyuman nakal khasnya. Zinnia mulai merasakan firasat buruk, pasti akan terjadi sesuatu yang di luar dugaannya.
" Jangan coba-coba, aku bukan tikus percobaan. " Balas Zinnia kesal. Ucapannya justru membuat Darren tertawa.
" Haha.. Kamu selain cantik ternyata lucu juga. Baiklah kalau tidak mau dicoba-coba, lebih baik dipraktekkan saja langsung ya.. " Goda Darren semakin menjadi.
" Apa maks... " belum sempat Zinnia bicara, Darren sudah lebih dulu mencium pipi bulatnya. Seketika membuat Zinnia membeku di tempat.
Semua bodyguard menyaksikan adegan itu, tapi tak satupun ada yang berani angkat bicara. Mereka hanya menunduk patuh menunggu perintah dari tuan mereka.
Ciuman itu lembut mendarat di pipi kanan Zinnia yang langsung memerah sampai ke leher. Darren belum menghentikan aksi nekatnya, kali ini sedikit lebih berani dengan menggigit pelan telinga gadis in hadapannya itu.
Zinnia langsung berteriak agak histeris sambil berusaha mendorong Darren menjauh.
" Arghhht !! Hentikan !! "
Seketika Darren mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi senyum nakalnya tak pernah hilang dari wajahnya.
" Baiklah tuan putri aku menyerah.. Maaf ya.. Kamu pasti kaget dengan sikap tak sopanku. Ku harap ini bukan pertemuan terakhir kita. Aku akan menantikan pertemuan selanjutnya, Tuan Putri Zinnia Nora Cavendish." Ucap Darren tanpa merasa sedikitpun bersalah.
Zinnia tampak menahan amarahnya, tapi tidak mampu ia keluarkan karena banyaknya pasang mata yang melihat ke arah mereka. Ia kesal, ia malu tapi tak berdaya di depan playboy kelas kakap itu, bukan karena meleleh dengan sikapnya tapi karena tempat itu terlalu ramai baginya.
" Baiklah sampai di sini dulu ya obrolan kita, saya permisi dulu. Semoga harimu indah.. Sampai berjumpa kembali, tuan Putri.." Ujar Darren sambil mencium punggung tangan Zinnia untuk beberapa saat, mengabaikan rasa kesal gadis itu.
Tanpa memberi kesempatan Zinnia untuk bicara lagi, Darren berbalik badan dan berjalan pergi diapit para bodyguardnya, meninggalkan gadis itu berdiri terpaku di tempat.
Zinnia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, matanya melotot memandang punggung lelaki itu yang makin menjauh. Kesal! Sangat kesal! Cara Darren pergi dan bertindak seenaknya saja, seolah dia tak berharga apa-apa, seolah dia bukan orang yang selalu dituruti kemauannya oleh semua orang.
Tapi lebih dari itu, dia sadar... dia tak punya alasan lagi, dan tak punya cara lagi untuk menghentikan lelaki itu atau meminta barang yang ia inginkan diberikan padanya dengan mudah. Dan Untuk pertama kalinya, dia merasa kalah dan tak berdaya.
***