Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: "TITIK DIAM YANG BERGEJALA" part 2
Mobil jeep putih yang dimodifikasi melaju dengan kecepatan sedang di atas jalan raya yang bergelombang. Udara di dalam kabin terasa nyaman, dengan AC yang bekerja optimal dan suara mesin yang tidak terlalu bising. Kursi belakang yang sudah diubah jadi tempat tidur empuk membuat Jay terlentang rileks, kepalanya bersandar pada bantal tebal sementara jari-jarinya sibuk menggerakkan kontroler game yang menyambung ke layar kecil yang dipasang di bagian atas kursi.
“Coba serang dari kiri Mas Jaya, jangan biarkan mereka kabur!” suara Malakos terdengar dari buku Sunyi yang Berisik - Season 2 yang terbuka sendiri di sebelah Jay—suaranya sedikit menggemuruh dan bergema di dalam kabin mobil, seolah ada bayangan yang berbisik bersama di baliknya. Tulisan di halamannya bergerak perlahan, melengkung dan merentang seperti ular yang sedang bergerak, dengan setiap huruf muncul perlahan-lahan dari celah antara kertas yang sedikit berdarah kebiruan—seolah tangan tak terlihat dengan kuku panjang sedang mengetik setiap kata yang keluar dari dimensi lain yang gelap dan sunyi.
Jay mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar kecilnya, nada suaranya terkesan acuh tak acuh. “Udah dong… tunggu aja ya Malakos, lagi fokus nih.” Dia menekan tombol dengan tepat, membuat karakter game melompat dan menghantam musuh dengan serangan akhir. Suara kemenangan langsung terdengar, membuat Jay tersenyum puas tanpa sedikit pun menoleh ke arah buku atau merespon lebih jauh. “Yeay! Berhasil lagi nih.”
Saat Jay hendak mengambil snack dari tas kecil di sebelahnya, matanya secara tidak sengaja tertuju ke luar jendela—seolah ada daya tarik yang tak terlihat menarik pandangannya ke sana. Mobil sudah memasuki jalur yang lebih kecil dan menurun, dengan pepohonan tinggi yang menjulang seperti gigi raksasa di kedua sisi jalan, rindangnya menutupi sebagian besar cahaya matahari. Di beberapa sudut desa kecil yang mereka lewati, terlihat pagar bambu dengan pola melingkar yang sama seperti di rumahnya—hanya saja ukurannya lebih kecil dan tampak sudah mulai terkikis oleh waktu, dengan pola yang melengkung memutar seolah ingin menyerap sesuatu dari udara. Cahaya redup yang keluar dari celah-celah pagar itu bergoyang perlahan, seolah ada napas dingin yang menghirup setiap pola yang ada.
“Wah, ada pagar bambu sama pola kayak rumah saya juga ya.” ujar Jay sambil menunjuk ke luar.
Rara yang sedang mengemudi mengangguk perlahan. “Betul Mas Jaya. Semua Titik Diam punya pagar bambu dengan pola yang sama—ini tandanya mereka saling terhubung seperti jaringan.”
Jay membuka buku Sunyi yang Berisik - Season 2 yang sudah menyala dengan sendirinya, cahaya kebiruan lembutnya menyebar seperti kabut tipis di udara. Tanpa disentuh, sampulnya terbuka perlahan dan halamannya mengeluarkan getaran yang sangat lembut—lalu tulisan baru muncul dengan sendirinya, seolah dituliskan oleh tangan tak kasat mata: "ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꒯꒐ꉣꋬꍌꋬꋪ꒐ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉣꄲ꒒ꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꂵꋬ. ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꇙꋬ꒒꒐ꋊꍌ ꓄ꏂꋪꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꒻ꋬꋪ꒐ꋊꍌꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꓄ꋬꀘ ꓄ꏂꋪꃳꋬ꓄ꋬꇙ."
“Wah, buku ini makin cerdas ya. Kayaknya lebih oke dari yang dulu.” Jay mengeluarkan snack jagung bakar dari tas dan mulai mengunyahnya. “Kalau semua Titik Diam punya pagar sama, kan lebih mudah dong kenalan? Kayaknya kita bisa jadi komunitas aja.”
Saat mobil melaju melewati beberapa desa kecil, Jay melihat beberapa rumah dengan pagar bambu yang sama—beberapa sudah mulai berkilau dengan cahaya merah muda yang khawatir, yang lain dengan cahaya hijau yang tenang. Dia buka halaman baru di buku itu, dan tulisan baru muncul: "ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꂵꏂꂵ꒐꒒꒐ꀘ꒐ ꉣꋬꍌꋬꋪ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉣꄲ꒒ꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꂵꋬ. ꅐꋬꋪꋊꋬ ꉔꋬꁝꋬꌦꋬ ꂵꏂꋊ꒤ꋊ꒻꒤ꀘꀘꋬꋊ ꀘꏂꋬ꒯ꋬꋬꋊ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ—ꂵꏂꋪꋬꁝ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꀘꁝꋬꅐꋬ꓄꒐ꋪ, ꁝ꒐꒻ꋬ꒤ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꓄ꏂꋊꋬꋊꍌ, ꃳ꒐ꋪ꒤ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꇙ꒐ꋬꉣ ꃳꏂꋪꍌꏂꋪꋬꀘ."
“Oh ternyata begitu ya… yang merah itu kayak Dinda ya?” tanya Jay sambil melihat ke arah Rara.
“Ya Mas Jaya. Titik Diam di Desa Cemara bernama Dinda. Dia baru mengetahui kalau dirinya bisa melihat makhluk gaib dan terlalu takut, jadi kekuatannya keluar dengan cara yang salah.” Rara menjawab sambil tetap fokus mengemudi.
Mobil akhirnya memasuki Desa Cemara—sesaat setelah masuk ke batas desa, mesin mobil sedikit bergetar sebelum kembali stabil. Udara menjadi semakin dingin secara tiba-tiba dan sepi menyelimuti seluruhnya—tidak ada suara anak-anak bermain atau orang yang berbicara seperti desa pada umumnya, hanya keheningan yang menusuk tulang. Semua rumah tampak kosong, pintu sebagian terbuka lebar melengkUng seperti rahang yang terbuka lebar meskipun tidak ada seorang pun di dalamnya. Udara terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara angin yang bertiup dengan nada meratap dan suara bisik yang sulit dijangkau dari setiap sudut desa—bisikan yang seolah mengucapkan nama-nama yang tidak jelas.
“Wah, suasana nya sunyi banget ya. Kayaknya semua orang sudah pergi aja.” bisik Jay sambil melihat ke sekeliling.
Rara mengangguk perlahan. “Ya Mas Jaya. Banyak warga yang pergi karena takut dengan apa yang terjadi di desa ini. Hanya sebagian kecil yang masih tinggal dan mereka juga jarang keluar rumah.”
Mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu kecil yang pintunya terbuka lebar. Udara di sekitar rumah terasa lebih dingin dari biasanya, dan suara bisik semakin jelas terdengar. Jay membuka buku Sunyi yang Berisik - Season 2, dan tulisan baru muncul dengan sendirinya: "꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꒯꒐ ꒯ꏂꇙꋬ ꉔꏂꂵꋬꋪꋬ ꃳꏂꋪꋊꋬꂵꋬ ꒯꒐ꋊ꒯ꋬ. ꒯꒐ꋬ ꃳ꒐ꇙꋬ ꂵꏂ꒒꒐ꁝꋬ꓄ ꂵꋬꁝ꒒꒤ꀘ ꍌꋬ꒐ꃳ ꓄ꋬꉣ꒐ ꀘꋬꋪꏂꋊꋬ ꓄ꏂꋪ꒒ꋬ꒒꒤ ꓄ꋬꀘ꒤꓄, ꇙꏂꁝ꒐ꋊꍌꍌꋬ ꂵꏂꋊꍌ꒤ꋊꋬꀘꋬꋊ ꀘꏂꀘ꒤ꋬ꓄ꋬꋊꌦꋬ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉔꋬꋪꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬ꒒ꋬꁝ"
“Bukannya namanya Lila tadi ya? Sekarang jadi Dinda?” tanya Jay dengan sedikit bingung.
Rara menggeleng perlahan. “Maaf Mas Jaya, saya salah bilang tadi. Namanya memang Dinda. Saya sedikit tergesa-gesa tadi.”
Jay mengangguk dan mulai turun dari mobil. Suara bisik dari dalam rumah semakin jelas terdengar. “Dengerin ya Malakos, suara bisiknya jelas banget nih.” bisik Jay sambil memegang buku itu erat-erat.
Suara Malakos terdengar dari buku—suaranya terdengar jauh dan bergema seperti berasal dari dalam lorong yang sangat dalam, dengan jeda panjang di antara setiap kata: “Ya… mereka sedang sangat khawatir… dan takut….” Setiap ucapannya disertai dengan getaran lembut pada buku, dan bayangan bayangan tipis mulai muncul di permukaan kertas seperti wajah yang menangis.
Rara keluar dari mobil dan berdiri di sisi Jay, matanya mengamati sekeliling desa. “Hati-hati Mas Jaya. Dinda sedang coba mengusir makhluk-makhluk itu dengan kekuatan yang dia punya tapi malah membuat celah semakin lebar.”
Jay mengangguk dan mulai berjalan perlahan ke arah rumah itu. Saat mendekat, dia melihat seorang anak kecil perempuan dengan rambut pirang kusut duduk di lantai depan rumah, menangis sambil memegang boneka yang sudah lusuh. Setiap kali dia menangis, cahaya merah muda muncul dari tangannya dan menyebar ke sekelilingnya.
“Itu kan Dinda ya?” tanya Jay sambil berhenti beberapa langkah dari anak itu.
Rara mengangguk. “Ya Mas Jaya. Dia takut karena tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Makhluk-makhluk yang muncul membuatnya semakin panik.”
Jay mengeluarkan beberapa bungkus snack jagung bakar dari tasnya. “Kalau takut ya coba tenang dulu dong. Makan snack aja dulu, bisa bikin lebih tenang lho.” ujarnya dengan nada lembut sambil mengulurkan tangan menyodorkan snack.
Anak itu mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata, melihat Jay dengan tatapan cemas. Dia diam sejenak sebelum akhirnya meraih snack dari tangan Jay dengan hati-hati. “Nama kamu siapa?” tanya anak itu dengan suara sedikit bergetar.
“Nama saya Jay. Kamu Dinda ya? Tenang aja ya, nanti kita cari cara biar kamu tidak takut lagi.” Jay duduk perlahan di tanah, tidak mau membuat anak itu semakin takut.
Di saat yang sama, buku di tangan Jay kembali menyala dan tulisan baru muncul:"ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꒯꒐ꉣꋬꍌꋬꋪ꒐ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉣꄲ꒒ꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꂵꋬ. ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꇙꋬ꒒꒐ꋊꍌ ꓄ꏂꋪꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꒻ꋬꋪ꒐ꋊꍌꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꓄ꋬꀘ ꓄ꏂꋪꃳꋬ꓄ꋬꇙ."
Jay melihat buku itu dengan sedikit terkejut lalu tersenyum. “Wah, buku ini benar-benar tau segalanya ya…bahkan lebih dari yang saya pikirkan.”
Dinda masih memegang boneka lusuh di pelukannya, sambil menatap Jay dan buku yang ada di tangannya. Cahaya merah muda dari tangannya semakin terang, membuat beberapa makhluk transparan mulai muncul di sekitar rumah—mereka tampak lemah dan kelelahan.
“Makhluk-makhluk itu bukan jahat kan?” tanya Jay sambil menatap ke arah buku yang kini mulai menyala dengan cahaya ungu muda.
“Mereka cuma butuh tempat tinggal dan tidak ingin membuat orang lain takut,” suara Malakos terdengar dari dalam buku. “Hanya saja Dinda tidak mengerti itu.”
Rara mendekat ke arah mereka berdua, suara bisik dari sekitar rumah semakin jelas terdengar. “Mereka tidak jahat, Mas Jaya. Hanya saja kebingungan dan butuh bantuan.”
Jay mengangguk perlahan, lalu memberikan snack pada Dinda yang kini sudah mulai mengendus aroma snack. “Tenang aja ya Dinda, kita ada sini buat bantu kamu.”
Buku Sunyi yang Berisik - Season 2 di tangannya kembali menyala, dengan tulisan baru yang muncul: "꒯꒐ꋊ꒯ꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꇙꏂꋊ꒯꒐ꋪ꒐—ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꇙꋬ꒒꒐ꋊꍌ ꓄ꏂꋪꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꒻ꋬꋪ꒐ꋊꍌꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꓄ꋬꀘ ꓄ꏂꋪꃳꋬ꓄ꋬꇙ."
“Sudah jelas dong kita bisa bantu kamu,” lanjut Jay dengan suara lembut sambil menatap Dinda yang kini mulai mengangkat wajahnya.”