NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANG MAFIA

PERNIKAHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:190.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.

Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.

Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ATURAN DALAM BAYANGAN

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Sisa hari itu berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah kepergian Dante, seorang wanita paruh baya dengan wajah datar namun gerak-gerik yang sigap menghampiri Elara. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Bianca, pengurus rumah tangga sekaligus orang kepercayaan Dante. Tanpa banyak bicara, Bianca memandu Elara menuju kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang.

Mereka berjalan melewati lorong-lorong panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan antik bernilai tinggi namun bernuansa gelap. Di sepanjang jalan, tidak ada satu pun staf rumah tangga yang berani menatap mata Elara. Semua berjalan tertunduk, seolah membawa beban berat di pundak mereka. Suasana di kediaman itu benar-benar berbeda dengan apa yang biasa Elara rasakan. Di rumah ayahnya, meskipun penuh tekanan bisnis, setidaknya masih ada tawa atau obrolan ringan sesekali. Namun di sini, keheningan terasa seperti aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar.

"Ini kamar Anda, Nona Elara," ujar Bianca sambil membuka pintu kayu besar berukiran indah. Ruangan itu luas, dihiasi perabotan bergaya klasik yang mewah, namun nuansa warnanya yang didominasi hitam, emas kusam, dan merah tua membuatnya terlihat kaku dan dingin. "Mulai besok pagi, saya akan datang jam enam pagi untuk membangunkan Anda. Ada beberapa aturan dasar yang harus Anda patuhi selama tinggal di sini."

Elara meletakkan tas tangannya di atas meja rias, lalu memutar badan menatap Bianca dengan tatapan tajam. "Aturan? Aku ini istri majikanmu, bukan tahanan. Kenapa aku harus diatur sedemikian rupa?"

Wajah Bianca tetap datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun oleh nada bicara Elara. "Maafkan saya, Nona. Tapi ini adalah aturan yang berlaku untuk semua orang di kediaman Tuan Valtieri, tanpa terkecuali. Sebagai calon istrinya, Anda harus tahu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang tidak diinginkan."

Bianca berdeham pelan, lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada datar dan cepat, seolah sudah hafal di luar kepala. "Pertama, Anda tidak boleh keluar dari kediaman ini tanpa izin tertulis dari Tuan Valtieri. Kedua, jika Tuan Valtieri sedang ada di rumah, Anda harus menemuinya di ruang makan saat makan pagi, siang, dan malam, kecuali jika beliau berhalangan. Ketiga, jangan pernah masuk ke ruang kerja Tuan Valtieri tanpa dipanggil. Itu adalah wilayah terlarang. Keempat, jika ada tamu yang datang, Anda harus bersikap sopan dan menjaga sikap sebagai nyonya rumah. Jangan terlalu banyak bertanya atau ikut campur urusan Tuan Valtieri. Dan yang terakhir, apa pun yang terjadi di dalam kediaman ini, apa pun yang Anda lihat atau dengar, tidak boleh keluar dari mulut Anda sedikit pun. Ingatlah itu baik-baik, Nona."

Darah Elara mendidih mendengar penjelasan itu. Rasanya ia bukan akan menjadi istri sah, melainkan tawanan yang diikat dengan aturan-aturan kaku. "Ini keterlaluan! Apakah aku ini binatang kurungan yang harus dikunci rapat di sini? Dante benar-benar tidak punya perasaan sedikit pun ya," ucapnya dengan nada meninggi.

"Mohon perhatiannya, Nona. Tuan Valtieri melakukan ini bukan tanpa alasan. Dunia tempat kami tinggal ini sangat berbahaya. Aturan-aturan ini dibuat demi keselamatan Anda juga," jawab Bianca tenang, meskipun samar terdengar nada peringatan di ujung kalimatnya. "Sekarang, jika tidak ada hal lain, saya permisi dulu. Besok pagi saya akan datang lagi. Istirahatlah, Nona. Besok adalah hari yang panjang."

Setelah Bianca keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Elara langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk namun terasa kaku di hatinya. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, merasakan air mata perih mulai menetes di sudut matanya. Bagaimana bisa hidupnya berubah drastis dalam waktu sesingkat itu? Dulu ia adalah mahasiswi arsitektur yang ceria dan penuh cita-cita, yang sibuk mengurus tugas kuliah dan proyek-proyek desain bangunan. Namun sekarang, ia harus menjadi istri seorang pemimpin mafia yang terkenal kejam, terkunci di dalam gedung megah namun dingin ini, terikat dengan aturan-aturan yang mengekang.

Malam itu, Elara sulit untuk memejamkan mata. Pikirannya terus berputar memikirkan nasibnya di masa depan. Ia teringat kembali wajah Dante yang dingin dan tajam, nada bicaranya yang penuh wibawa namun mengintimidasi. Ia bertanya-tanya, apakah di balik topeng dingin itu, benar-benar tidak ada sisi kemanusiaan sedikit pun? Atau apakah Dante memang terlahir sebagai sosok monster tanpa perasaan seperti yang dikabarkan orang-orang?

▪️▪️▪️▪️▪️

Keesokan paginya, tepat pukul enam pagi, Bianca mengetuk pintu kamar Elara dan masuk membawa nampan berisi sarapan ringan serta beberapa setelan pakaian. Elara bangun dengan mata sembab dan kepala terasa pening. Ia menatap pakaian-pakaian yang disodorkan Bianca. Itu adalah gaun-gaun elegan berwarna gelap, yang terlihat mahal namun kaku dan tertutup, sama seperti suasana rumah itu.

"Ini pakaian yang disiapkan untuk Anda hari ini. Nanti siang akan ada tim penata rias dan penjahit yang datang untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan besok. Dan pukul tujuh pagi, Tuan Valtieri sudah menunggu di ruang makan," ujar Bianca sambil menata pakaian itu di atas sofa.

Elara menghela napas panjang, berusaha menahan rasa kesal yang kembali naik. Ia bergegas mandi dan bersiap, lalu mengenakan salah satu gaun yang disiapkan untuknya. Gaun berwarna hitam legam dengan potongan yang sopan namun menonjolkan lekuk tubuhnya. Saat ia berjalan menuju ruang makan, ia merasakan tatapan-tatapan mata staf rumah tangga sedang mengawasinya dari kejauhan, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Sesampainya di ruang makan yang luas dan megah itu, Dante sudah duduk di kursi utama, sedang membaca koran sambil menyeruput kopi hitam di depannya. Ia mengenakan kemeja putih polos dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar serta bekas luka samar yang melintang di sana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, namun justru membuatnya terlihat semakin tampan dan berkarisma, meskipun wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi.

Mendengar langkah kaki Elara mendekat, Dante meletakkan korannya, lalu menatap Elara dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan yang menelanjangi. Elara merinding seketika di bawah tatapan itu. Ia berhenti di samping kursi yang tersedia di hadapan Dante, menundukkan kepala sedikit karena tidak berani menatap mata pria itu terlalu lama.

"Duduklah," ucap Dante singkat, lalu kembali menyantap sarapannya.

Elara duduk dengan ragu-ragu. Ia menyentuh roti gandum di piringnya, namun sama sekali tidak memiliki selera makan. Keheningan memenuhi ruangan itu untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring porselen.

"Kau terlihat cantik," ucap Dante tiba-tiba, memecah keheningan itu. Nada bicaranya datar, seolah sedang memuji sebuah barang koleksi, bukan calon istrinya.

Elara mendongak, menatap Dante dengan tatapan bingung sekaligus curiga. "Kau memujiku hanya karena aku memakai pakaian pilihanmu?"

Dante mengangkat alisnya sedikit, lalu menaruh sendoknya. Ia menatap Elara dengan tatapan tajam. "Aku hanya menyatakan fakta. Tapi ingatlah satu hal, Elara. Kecantikanmu itu milikku sekarang. Dan kau harus selalu tampil sempurna sesuai dengan statusmu sebagai istriku. Aku tidak ingin orang-orang meremehkanku dengan membawa istri yang tidak terawat."

Kalimat itu menusuk hati Elara seperti pisau tajam. Jadi baginya, ia hanyalah sebuah aksesori yang harus tampil sempurna untuk menunjang gengsinya saja? "Apakah bagimu, aku ini hanya barang pajangan, Dante? Sesuatu yang bisa kau pamerkan dan kau atur sesuka hatimu?" tanya Elara dengan suara bergetar, berusaha menahan tangisnya agar tidak jatuh lagi di hadapan pria itu.

Wajah Dante semakin dingin. Ia bersandar di kursinya, menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan membuat kesimpulan sendiri. Kau tahu kenapa kita menikah, kan? Ini adalah perjanjian. Dan dalam perjanjian ini, ada hak dan kewajiban masing-masing. Tugasmu adalah menjadi istri yang patuh, tampil sempurna di hadapan publik, dan menjadi pasangan yang pantas bersanding denganku. Sedangkan tugasku adalah melindungimu dan keluargamu dari ancaman bahaya, serta memenuhi segala kebutuhanmu. Tidak lebih, tidak kurang."

Dante berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tegas. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah berpikir untuk mencoba melawanku atau berusaha kabur. Di luar sana, dunia ini jauh lebih kejam dan berbahaya dari pada di sini. Di sini, setidaknya kau aman. Tapi jika kau mencoba keluar dari batas yang sudah aku tentukan, maka aku tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi. Ingatlah itu baik-baik, Elara Sterling."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Dante berdiri tegak, lalu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh ke belakang lagi, seolah-olah keberadaan Elara tidak terlalu penting baginya.

Elara terdiam kaku di kursinya, merasakan tubuhnya gemetar hebat. Kata-kata Dante barusan seolah menjadi peringatan keras baginya, sekaligus menjadi pengingat pahit tentang posisinya saat ini. Ia sadar, perjuangannya untuk bertahan hidup di dunia gelap milik Dante ini baru saja benar-benar dimulai. Dan jalan yang harus ia tempuh ke depannya, pasti akan jauh lebih terjal dan berbahaya daripada apa yang ia bayangkan selama ini.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

1
Gretchen Paula
semangat ya 🤭
Gretchen Paula
setiap episodenya aku suka banget thor 😊
Victoria Genevieve
up lagi Thor ini kan libur 😄
Victoria Genevieve
Bayak baget cobaan Dante Thor 😒
si paling cute
lanjut🥺
si paling cute
ledakan apa itu thor
Flowers🪴
semangat ya Dante kamu pasti bisa melaluinya. Kebahagiaan akan berpihak kepadamu😍
Flowers🪴
Ada masalah lagi bang 🥺
Victoria Genevieve
semangat ye🙏
Ani.hendra: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Victoria Genevieve
👍👍👍👍👍👍👍👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
si paling cute
💪💪💪💪💪💪💪💪
si paling cute
Dante ujian hidup mu berat banget sih. tapi gak apa apa ada aku kok yang semangati🥺
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Flowers🪴
trus bilang lanjut 🤭
Ani.hendra: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Flowers🪴
Kasih 👍 dan 💪
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bunga Yona
semangat 👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bunga Yona
Harus happy ending ya thor😔
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Cheryl Emery
keren 🙏 update lagi ya 🤭
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Cheryl Emery
senang banget gue kalau sudah update, tapi bacanya terlalu singkat thor🤭 bisa nambah lagi gak 😍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gretchen Paula
👍👍👍👍👍👍👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gretchen Paula
Ya Elara, benar....kalau bukan kamu yang kasih dukungan siapa lagi. kasih semangat trs ya 😊
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!