Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Hal Kecil Yang Tak Masuk Akal
POV Kanaya
Awalnya… aku pikir ini hanya perasaanku saja.
Perasaan yang mungkin terlalu sensitif.
Terlalu ingin diperhatikan…
oleh seseorang yang sejak awal memang tidak pernah benar-benar memberikannya.
Namun semakin hari
hal-hal kecil itu mulai terasa janggal.
Dan aku tidak bisa lagi mengabaikannya.
Fatan tidak pernah jauh dari ponselnya.
Itu bukan hal aneh sebenarnya.
Semua orang seperti itu.
Tapi yang membuatku mulai bertanya-tanya adalah,Ia tidak pernah membiarkanku menyentuhnya.
Bahkan tidak sengaja.
Suatu malam, aku hanya ingin meminjam ponselnya.
Ponselku mati.
Aku butuh menghubungi Ibu.
“Fatan, boleh pinjam ponselmu sebentar?”
Ia yang sedang duduk di sofa langsung menoleh.
Reaksinya… terlalu cepat.
“Untuk apa?”
Aku sedikit terdiam.
“Hanya mau telepon Ibu. Ponselku habis baterai.”
Ia menatapku beberapa detik.
Lalu bangkit, mengambil ponselnya,dan bukannya memberikannya padaku…
Ia justru membuka layar sendiri, mengetik sesuatu,
lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Nomornya?”
Aku menyebutkan nomor Ibu.
Ia yang menelpon.
Bukan aku.
Dan saat panggilan tersambung,
ia menyerahkan ponsel itu dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Seolah-olah ada sesuatu yang tidak boleh kulihat.
Saat itu… aku hanya diam.
Mungkin aku terlalu berpikir jauh, kataku pada diri sendiri.
Mungkin memang itu kebiasaannya.
Tapi sejak malam itu,Aku mulai memperhatikan.
Ia sering tersenyum sendiri saat membaca sesuatu di ponselnya.
Senyum yang tidak pernah ia berikan padaku.
Kadang… saat aku mendekat,
layarnya langsung mati.
Atau ia akan mengalihkan pembicaraan.
Hal kecil.
Sangat kecil.
Tapi cukup… untuk menanamkan satu rasa yang tidak nyaman di dadaku.
Kemudian aku menemukan tiket itu.
Aku sedang merapikan meja kerjanya.
Bukan karena ia memintaku.
Tapi karena aku ingin membantu.
Atau mungkin…
aku hanya ingin merasa dibutuhkan.
Di antara tumpukan dokumen,
aku melihat sebuah amplop kecil.
Putih.
Rapi.
Aku membukanya tanpa curiga.
Dan di sanalah aku melihatnya
Tiket pesawat.
Tujuan: Bali.
Tanggal: minggu depan.
Dua orang.
Bukan satu.
Aku menatapnya lama.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Bali?
Kami tidak pernah membicarakan liburan.
Bahkan untuk makan malam bersama saja…
rasanya sulit sekali diwujudkan.
Lalu ini?
Dengan siapa?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Dan untuk pertama kalinya,
Aku tidak punya jawaban yang bisa menenangkanku.
Aku mencoba tetap tenang.
Mungkin itu untuk urusan pekerjaan.
Mungkin ia pergi dengan rekan bisnis.
Mungkin??
Aku terus mencari kemungkinan.
Terus mencoba mempercayai.
Karena itu yang selama ini aku lakukan.
Mempercayai…
meski tidak pernah benar-benar diyakinkan.
Namun beberapa hari kemudian
Aku melihat sesuatu yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Aku sedang menggunakan laptopnya.
Ia memintaku mencetak beberapa dokumen.
Aku tidak sengaja membuka riwayat transaksi emailnya.
Dan di sana,Ada notifikasi transfer.
Jumlahnya tidak sedikit.
Puluhan juta.
Berulang.
Ke satu nama yang sama.
Aku membaca nama itu.
Dan dadaku langsung terasa kosong.
Nama yang… sangat aku kenal.
Namun otakku menolak untuk memprosesnya.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin…
Tanganku gemetar.
Aku menutup laptop itu cepat-cepat.
Seolah dengan begitu…
semua yang aku lihat akan ikut menghilang.
Sejak saat itu,
Aku tidak lagi merasa tenang di rumahku sendiri.
Semuanya terasa berubah.
Atau mungkin…
aku yang akhirnya mulai melihat dengan jelas.
Aku memperhatikannya lebih sering.
Cara ia berbicara.
Cara ia pergi.
Cara ia kembali.
Dan semuanya… mulai terasa asing.
Aku butuh seseorang.
Seseorang yang bisa mendengarku tanpa menghakimi.
Seseorang yang mengenalku… sebelum semua ini terjadi.
Dan satu nama langsung muncul di pikiranku
Amira.
Amira adalah sahabatku.
Lebih dari sahabat.
Ia adalah rumah.
Tempat aku pulang… saat dunia tidak baik-baik saja.
Kami tumbuh bersama.
Bermimpi bersama.
Dan aku masih ingat jelas,betapa ia sangat ingin menjadi pramugari sejak kecil.
Ia ingin melihat dunia.
Ingin terbang tinggi.
Ingin bebas.
Dan sekarang
Ia benar-benar menjadi itu.
Seorang pramugari.
Sibuk.
Sering bepergian.
Dan… semakin jarang pulang.
Kami jarang bertemu sekarang.
Namun tidak pernah benar-benar jauh.
Setidaknya… aku selalu percaya begitu.
Aku duduk di kamar malam itu.
Ponsel di tanganku terasa berat.
Aku ragu.
Haruskah aku menceritakan semuanya?
Atau aku hanya sedang berlebihan?
Namun pada akhirnya
Aku mengetik pesan.
“Mir… kamu lagi di mana?”
Butuh beberapa menit sebelum balasan datang.
“Di Jakarta. Besok flight lagi. Kenapa, Nay?”
Aku menatap layar lama.
Jari-jariku gemetar.
Aku ingin kuat.
Aku selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Tapi malam ini
aku lelah.
“Aku butuh kamu.”
Balasan datang lebih cepat kali ini.
“Ada apa? Kamu kenapa?”
Air mataku akhirnya jatuh.
Satu tetes.
Lalu yang lain.
Tanpa bisa aku tahan.
“Aku… bingung.”
“Aku merasa ada yang berubah dari Fatan.”
“Aku menemukan sesuatu… tapi aku takut salah paham.”
Aku berhenti mengetik.
Menarik napas.
Lalu melanjutkan.
“Mir… kalau suatu hari kamu tahu orang yang kamu percaya… ternyata menyembunyikan sesuatu…”
“Apa yang harus kamu lakukan?”
Hening.
Tidak ada balasan beberapa saat.
Dan selama itu
aku merasa seperti sedang berdiri di tepi sesuatu yang tidak aku kenal.
Akhirnya ponselku bergetar.
“Kamu jangan langsung berpikir yang buruk, Nay.”
“Tapi juga jangan pura-pura tidak melihat.”
“Kalau kamu merasa ada yang salah… biasanya memang ada.”
Aku menutup mata.
Air mataku jatuh lagi.
“Aku takut, Mir…”
“Takut kalau semua yang aku pikirkan… benar.”
Balasan itu datang perlahan.
Namun terasa sangat dekat.
“Kalau itu benar…”
“Aku di sini.”
“Selalu,Nay,jangan hanya diam kamu bisa tanyakan langsung pada suamimu,jika apa yang kamu pikirkan salah bagaimana??”
Aku tersenyum.
Di tengah semua kekacauan ini
setidaknya aku masih punya dia.
Sahabat yang tidak pernah meninggalkanku.
Sahabat yang selalu ada.
Aku tidak tahu,aku harus menanyakan langsung padanya dan aku akan terima apapun jawabannya nanti
Dan Aku tidak tahu sejak kapan…
aku mulai mengumpulkan keberanian.
Mungkin sejak hari aku melihat tiket itu.
Atau sejak angka-angka dalam transfer itu menampar kesadaranku.
Atau mungkin… sejak aku menyadari bahwa diamku tidak lagi melindungiku.
Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Fatan duduk di ruang tengah.
Seperti biasa.
Dengan ponselnya.
Selalu ponselnya.
Aku berdiri beberapa langkah darinya.
Menatap punggungnya.
Ada banyak hal yang ingin aku katakan.
Namun semuanya seperti tersangkut di tenggorokanku.
Tapi kali ini… aku tidak mundur.
“Fatan…”
Suaraku pelan.
Ia menoleh.
Singkat.
“Iya?”
Jawabannya datar.
Seolah aku hanya bagian dari rutinitas.
Aku menarik napas.
Dalam.
Berat.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya menatapku sekilas… lalu kembali ke ponselnya.
“Cepat saja. Aku lelah.”
Kalimat itu… biasa.
Namun entah kenapa terasa seperti jarak yang semakin lebar.
“Aku menemukan tiket ke Bali.”
Tangannya berhenti.
Hanya sebentar.
Namun aku melihatnya.
Aku selalu melihatnya.
“Apa itu urusan pekerjaan?” lanjutku pelan.
“Atau… sesuatu yang lain?”
Ia meletakkan ponselnya.
Perlahan.
Lalu menatapku.
Tatapannya… berbeda.
Untuk sesaat
aku melihat sesuatu di sana.
Terkejut.
“Kenapa kamu membuka barangku?”
Pertanyaan itu tidak menjawab apa pun.
Namun cukup untuk membuat dadaku menegang.
“Aku tidak sengaja menemukannya,” jawabku jujur.
“Aku hanya ingin tahu…”
Suaraku mulai melemah.
“…kenapa ada dua tiket.”
Hening.
Panjang.
Menyesakkan.
Aku melanjutkan.
Sebelum keberanianku hilang.
“Dan… transfer itu.”
Matanya langsung berubah.
“Transfer ke satu nama yang sama… berulang kali.”
Tanganku mulai dingin.
“Aku hanya ingin mengerti, Fatan.”
Aku menatapnya.
Lurus.
Tanpa menghindar.
“Karena semua ini… tidak lagi terasa seperti hal kecil.”
Ia terdiam.
Benar-benar diam.
Dan untuk beberapa detik
aku berharap.
Bahwa kali ini… ia akan jujur.
Namun harapan itu… terlalu mahal.
“Apa semua itu penting untukmu?”
Suara Fatan akhirnya terdengar.
Dingin.
Datar.
Seolah pertanyaanku… tidak layak untuk dijawab.
Aku tertegun.
“Apa?”
“Tidak semua hal harus kamu ketahui, Kanaya,” lanjutnya.
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Seperti seseorang yang sudah menyiapkan jawabannya.
“Itu hanya hal kecil.”
Hal kecil.
Kata itu… menghantamku lebih keras dari apa pun.
Aku menatapnya.
Tidak percaya.
“Hal kecil?” ulangku pelan.
Suaraku hampir tidak terdengar.
“Ya,” jawabnya singkat.
“Aku punya banyak urusan. Tidak semuanya perlu aku jelaskan.”
Dadaku terasa kosong.
Seperti sesuatu di dalamku… runtuh tanpa suara.
“Aku ini… siapa, Fatan?”
Pertanyaan itu keluar tanpa rencana.
Tanpa persiapan.
Namun terlalu jujur untuk ditarik kembali.
Ia tidak langsung menjawab.
Dan diamnya… sudah cukup menjadi jawaban.
“Aku istrimu,” lanjutku.
Suaraku bergetar.
Namun aku tidak menangis.
Belum.
“Apakah mengetahui ke mana suamiku pergi… dan kepada siapa ia memberikan uang… itu termasuk hal kecil juga?”
Ia menghela napas.
Seolah aku… yang membuat semuanya rumit.
“Kamu terlalu membesar-besarkan.”
Aku tersenyum.
Tipis.
Namun rasanya… pahit.
“Aku bahkan belum mulai membesarkan apa pun,” kataku pelan.
“Aku hanya bertanya.”
Ia berdiri.
Menjauh dariku.
Seperti biasanya.
“Kalau kamu percaya padaku, kamu tidak akan bertanya seperti ini.”
Kalimat itu
menusuk.
Aku mengangguk pelan.
“Dan kalau kamu jujur padaku…”
suaraku nyaris pecah,
“aku tidak perlu bertanya.”
Hening.
Untuk pertama kalinya
tidak ada yang berusaha menang.
Tidak ada yang berusaha menjelaskan.
Hanya ada… jarak.
Yang semakin nyata.
Ia tidak menjawab lagi.
Tidak menyangkal.
Tidak juga mengakui.
Ia hanya… pergi.
Seperti biasa.
Dan aku…
masih berdiri di tempat yang sama.
Dengan pertanyaan yang semakin banyak.
Dengan jawaban yang tidak pernah datang.
Aku akhirnya duduk.
Perlahan.
Tubuhku terasa ringan.
Namun dadaku… terlalu berat.
“Hal kecil…”
Aku mengulang kata itu dalam hati.
Berulang.
Seolah mencoba memahaminya.
Apakah rasa curiga ini… hal kecil?
Apakah kegelisahan ini… hal kecil?
Apakah perasaan bahwa aku perlahan kehilangan suamiku… juga hal kecil?
Aku tertawa pelan.
Tanpa suara.
Mungkin benar.
Mungkin bagi Fatan
semua ini memang kecil.
Karena yang besar…
tidak pernah ia berikan padaku sejak awal.
Malam itu
aku tidak menangis.
Aku hanya duduk.
Menatap kosong ke depan.
Dan untuk pertama kalinya
aku tidak merasa marah.
Tidak juga sedih.
Aku hanya… merasa jauh.
Sangat jauh.
Dari pria yang seharusnya menjadi rumahku..
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?