NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Krrrt! Krrrrrttt!!! Krrrrrrrrrrrttttt!!!!!

Suara gesekan logam melawan kayu itu bukan sekadar bunyi pekerjaan. Di telinga mereka, suara itu terdengar seperti jeritan makhluk hidup yang sedang disiksa.

Sulaiman mengerahkan seluruh tenaganya menekan gergaji ke batang pohon raksasa itu. Namun, perlawanan yang ia rasakan aneh. Kayu itu tidak terasa keras dan kering seperti yang ia duga. Justru terasa kenyal, basah, dan berdenyut di bawah tekanan rantai besi.

"Aneh sekali permukaan kayu ini!" geram Sulaiman, keringat mulai membasahi dahinya meski udara di sana terasa sedingin gunung.

"Bang! Lihat!" teriak Randi, suaranya pecah karena ngeri. Tangannya menunjuk ke celah sayatan yang mulai terbuka.

Dari luka yang dibuat gergaji itu, bukan serbuk kayu yang keluar.

Melainkan cairan.

Cairan kental berwarna merah gelap, pekat dan lengket, menetes perlahan lalu memancur deras seperti air yang menyemprot. Baunya menyengat, sama persis dengan bau yang mereka cium sebelumnya. Bau besi berkarat. Bau darah.

Itu darah. Darah yang sangat nyata. Hangat. Dan berbau kehidupan.

"Ya Tuhan... ini apa?" Herman mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Gergaji di tangannya hampir terlepas. "Pohon ini... pohon ini berdarah, Bos!"

Sulaiman sendiri terpaku. Matanya terbelalak menatap cairan merah itu membasahi tangannya, membasahi bodi mesin oranye yang kini terlihat mengerikan berlumuran warna merah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena tenaga, tapi karena ketakutan primal yang menggerogoti akal sehatnya. Selama puluhan tahun menebang pohon, belum pernah ia melihat hal seperti ini.

"Omong kosong..!!!" Bentak Sulaiman, berusaha meneguhkan diri. Ia tahu, jika pemimpin menunjukkan rasa takut, anak buahnya akan hancur. "Ini getah! Cuma getah pohon langka yang warnanya merah! Jangan jadi penakut!"

Tapi suaranya sendiri terdengar goyah. Getah pohon tidak berbau amis. Getah pohon tidak terasa hangat saat menyentuh kulit.

"Kita lanjutkan! Sudah terlalu dalam untuk berhenti!" perintahnya dengan tegas, meski tangannya gemetar. Ia kembali menekan mesin itu.

Wrrrrrrrr!!!!!

Suara gergaji berubah. Kini terdengar seperti suara yang merobek daging. Srek! Srek!

Pohon itu sepertinya merasakan sakit. Angin yang tadi hanya berdesir, tiba-tiba berubah menjadi hembusan kuat yang menderu kencang. Daun-daun bergesekan menghasilkan suara gemuruh yang menyerupai ribuan orang yang sedang berbisik serempak.

"Pergi... pergi... pergi..."

"Kalian dengar itu?" tanya Deri, matanya panik mencari sumber suara.

"Dengar apa? Kerja! Cepat potong!" teriak Sulaiman.

Sayatan semakin dalam. Pohon raksasa itu mulai mengeluarkan bunyi gemeretak yang mengerikan. Bukan bunyi kayu yang patah, melainkan bunyi tulang besar yang bergesekan. Krak... krak... krak...

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Bukan gempa bumi, tapi getaran seperti detak jantung raksasa. Dum... dum... dum... Berirama bersama detak jantung mereka sendiri.

Dan kemudian, pohon itu tumbang.

Bukan jatuh ke samping seperti pohon pada umumnya. Pohon itu ambles ke bawah, seolah ditelan oleh tanah yang tiba-tiba menjadi lunak, meninggalkan sebuah lubang besar yang gelap dan basah di tempat ia berdiri. Asap tebal berbau belerang dan darah mengepul dari dalam lubang menganga itu.

Keempat pria yang berdiri di sana terdiam, napas mereka tersengal-sengal memandang hasil kerja mereka yang mengerikan. Hutan di sekitar mereka kini benar-benar sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga. Hanya keheningan total yang mencekam.

"Kita ambil batangnya saja, cepat," kata Sulaiman, suaranya terdengar lemah. Ia melangkah maju, ingin melihat potongan kayu yang bernilai mahal itu.

Namun saat ia menunduk melihat ke dalam lubang tempat pohon itu tadi berdiri, darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir.

Kaki Sulaiman terasa lemas. Lututnya gemetar hebat. Ia ingin berteriak, tapi reputasinya menegur.

Di dasar lubang itu, di antara akar-akar yang menjalar liar dan berlumuran darah merah, tidak ada batang kayu.

Yang ada hanyalah sebuah rongga besar yang menyerupai mulut raksasa yang menganga. Dan di dinding rongga itu... terlihat bentuk-bentuk yang tidak wajar. Tulang-belulang. Bukan tulang hewan.

Tulang manusia...!

Bertumpuk, berserakan, bercampur tumpang tindih dengan pakaian-pakaian lusuh dan peralatan yang sudah berkarat. Seolah-olah pohon itu bukan tumbuh dari tanah, tapi tumbuh di atas kuburan massal. Atau lebih parah lagi... seolah pohon itu memakan mereka.

"Bo... Bo... Bos..." suara Randi terdengar seperti rengekan anak kecil. "Lihat... lihat di atas..."

Sulaiman perlahan mengangkat kepalanya.

Langit yang tadinya tertutup dedaunan kini tampak aneh. Awan-awan berputar membentuk pusaran gelap, seakan ada badai yang turun tepat di atas kepala mereka. Tapi yang lebih mengerikan, adalah bayangan di atas mereka.

Dari celah-celah pepohonan yang tinggi, ribuan mata tampak menyala, berwarna merah, menatap mereka dengan tatapan dingin namun penuh kebencian. Mereka ada di mana-mana. Di dahan, di balik batang, di antara daun-daun.

"Kita harus keluar dari sini!" teriak Herman, panik benar-benar menguasai dirinya. "Ini sial! Ini tempat terkutuk!"

Mereka berbalik ingin lari, tapi suasana dan kondisi hutan sangat jauh berbeda.

Jalan yang tadi mereka lewati, jalan setapak yang jelas terlihat, kini hilang.

Hilang begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!