NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau Mengandung Anakku

Bab 32 – Kau Mengandung Anakku

“Itu… hasil tes kehamilan Alya.”

Suara Kael terdengar rendah, berat, dan untuk pertama kalinya… terdengar goyah dan tak pasti.

Seluruh aula besar itu membeku seketika. Waktu seakan berhenti berputar.

Alya menatap map di tangan Kael seolah itu adalah bom waktu yang siap meledak menghancurkan segalanya.

“Apa…?”

Ia melangkah cepat, merampas lembaran kertas itu dari tangan pria itu dengan gemetar.

Matanya membaca baris demi baris, hingga berhenti pada satu kata besar yang tercetak jelas.

POSITIF.

Tangannya langsung lemas dan gemetar hebat.

“Tidak mungkin… ini tidak benar…”

Kael berdiri kaku di tempatnya. Wajahnya pucat.

Sementara itu, ayahnya duduk santai menyandar di kursi utama dengan senyum tipis yang menang.

Suara bisik-bisik mulai terdengar keras memenuhi ruangan.

“Hamil?”

“Anak Kael?”

“Berarti pewaris utama keluarga Lorenzo?”

“Skandal besar!”

Wajah Alya memucat pasi.

“Aku… nggak mungkin hamil…”

Dari sudut ruangan, Serena menatapnya lalu mengangkat bahu santai.

“Kau pingsan dua kali minggu ini, muntah-muntah kemarin pagi, dan emosimu naik turun kayak roller coaster. Jujur saja… aku sudah curiga dari lama.”

Alya menoleh tajam ke arah temannya itu.

“KENAPA TAK ADA SATU PUN YANG BILANG PADAKU?!”

“Aku kan mau nunggu dramanya muncul secara alami,” jawab Serena santai.

Kael mengambil dua langkah mendekat.

“Alya.”

“Jangan dekat-dekat dulu!”

Alya mundur selangkah. Napasnya memburu tak karuhan.

Ini semua terlalu berat baginya. Masalah rahasia keluarga, sidang perebutan kekuasaan, dan sekarang…

Bayi?

“Aku belum siap…” bisiknya pelan dengan mata berkaca-kaca.

Kael melihat wajah pucat dan ketakutan itu, lalu perlahan menoleh ke arah semua orang di ruangan itu. Tatapannya berubah drastis menjadi mematikan dan sangat berbahaya.

“SEMUA DIAM!” bentaknya.

Suaranya menggelegar membuat dinding seakan bergetar. Ruangan langsung hening total. Tak ada yang berani bernapas keras.

Ia kembali menatap Alya, dan nada suaranya melunak drastis seolah berubah menjadi orang lain.

“Lihat aku, Sayang.”

Alya mencoba menenangkan napasnya yang tersengal.

“Aku nggak tahu harus gimana sekarang…”

“Kau tidak perlu tahu apa-apa sekarang.”

“Tapi ini kenyataan—”

“Kau tidak sendirian menghadapi ini.”

Kalimat sederhana itu menghantam hati Alya jauh lebih keras daripada teriakan mana pun.

Ia menatap Kael. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak terlihat seperti bos mafia yang kejam. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang sangat takut kehilangan orang yang disayanginya.

 

Paman Viktor tiba-tiba berdiri lagi sambil menunjuk-nunjuk.

“Ini membuktikan dugaanku benar! Dia mendekati Kael cuma demi mengikat pewaris keluarga! Dia perencana—”

Belum selesai bicara, Kael sudah menoleh pelan ke arahnya. Tatapan itu cukup membuat semua orang sadar: karier sosial pria tua ini sudah tamat malam ini.

“Ulangi kata-katamu.”

Viktor menelan ludah dengan susah payah, wajahnya pucat pasi.

“A-aku hanya bilang—”

BRAAKK!!!

Kael mengambil gelas kristal besar di meja dan melemparkannya sekuat tenaga tepat ke dinding tepat di samping kepala Viktor. Gelas itu hancur berkeping-keping.

Pria tua itu menjerit ketakutan dan langsung duduk kembali ke kursinya.

Kael bicara dengan nada datar namun sangat mengerikan.

“Kalau kau berani menyebut ibu dari anakku dengan nada merendahkan seperti itu lagi…”

Ia menyandarkan satu tangannya di atas meja, menatap tajam.

“…aku akan pastikan seluruh keluargamu lupa cara menulis nama belakang ‘Lorenzo’.”

Tak ada satu orang pun di ruangan itu yang berani bernapas.

Alya membeku mendengarnya.

Ibu dari anakku.

Ia belum pernah mendengar Kael mengklaim sesuatu dengan sejelas dan sekeras itu sebelumnya.

Ayah Kael tersenyum tipis melihat reaksi putranya.

“Menarik. Jadi kau mengakui anak itu?”

Kael menatap ayahnya tajam membara.

“Aku tidak sekejam dan sebusuk Anda.”

“Jaga nada bicaramu, Kael.”

“Dan Anda jaga jarak Anda dari mereka berdua.”

Suasana di ruangan itu menjadi sedingin es.

Ayah Kael berdiri perlahan dengan wibawa yang menakutkan.

“Kalau dia mengandung pewaris sah keluarga Lorenzo, maka anak itu adalah milik keluarga. Dia akan dibesarkan di sini, di bawah aturanku.”

Alya langsung menegang, rasa takut berubah menjadi amarah.

“AKU BUKAN INKUBATOR BAYI UNTUK KALIAN!”

Kael bergerak sangat cepat, berdiri tepat di depan tubuh Alya melindunginya seolah tameng manusia.

“Ulangi lagi perkataanmu.”

Ayahnya menatap putranya tanpa rasa takut sedikit pun.

“Aku bilang, anak itu akan tinggal di mansion ini dan dididik oleh keluarga.”

“Lewati mayatku dulu kalau mau ambil dia.”

“Itu bisa diatur dengan mudah.”

Beberapa pengawal di sudut ruangan mulai gelisah dan memegang gagang senjata mereka. Situasi sangat ricuh.

Serena berbisik pelan ke arah Riko,

“Aku kasih waktu lima menit sebelum terjadi pembunuhan di sini.”

Riko menggeleng pelan.

“Saya kasih tiga menit paling lama.”

 

Tiba-tiba Alya melangkah maju melewati bahu Kael.

“CUKUP!” teriaknya lantang.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Air mata mulai jatuh membasahi pipinya, tapi suaranya keluar dengan sangat kuat dan tegas.

“Kalian bicara soal anakku seolah-olah dia cuma barang warisan atau aset perusahaan! Kalian tidak peduli perasaanku!”

Ruangan kembali hening.

Secara refleks, tangan Alya turun dan memegang perutnya sendiri dengan lembut.

Gerakan kecil itu membuat Kael menatapnya lama, tatapannya penuh arti.

“Bahkan aku sendiri baru tahu kalau dia ada di sini…” Suaranya pecah menahan tangis. “…dan kalian sudah sibuk memperebutkannya seolah dia barang rampasan!”

Kael berbalik menghadap Alya. Wajah kerasnya melunak total melihat gadis itu menangis.

“Alya…”

Ia meraih tangan gadis itu perlahan. Kali ini Alya tidak menolak.

Kael menggenggam tangan itu erat-erat, lalu menoleh tajam ke arah seluruh hadirin.

“Sidang selesai sampai di sini.”

Ayahnya menyipitkan mata.

“Aku belum selesai bicara.”

“Aku sudah selesai mendengar omong kosong kalian.”

“Kau tidak bisa seenaknya membatalkan aturan keluarga!”

Kael tersenyum sinis dan dingin.

“Lihat aku baik-baik.”

Beberapa pengawal langsung menunduk takut. Paman Viktor gemetar hebat.

“Mulai detik ini juga, siapa pun yang berani bicara soal Alya atau anakku tanpa izin dariku…”

Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu orang di ruangan itu.

“…berarti dia bukan keluargaku lagi.”

Sunyi total. Mati bisu.

Ayah Kael menatap putranya dengan campuran rasa marah dan juga kekaguman.

“Jadi kau benar-benar memilih wanita ini?”

Kael menjawab tanpa ragu sedikit pun,

“Aku memilih masa depanku.”

Lalu ia menoleh lembut ke arah Alya.

“Dan itu ada di depan mataku sekarang.”

Jantung Alya rasanya mau pecah. Kenapa pria ini selalu bisa mengucapkan kalimat yang bikin jantung berdebar kencang seperti ini?

 

Kael langsung menggandeng tangan Alya dan berjalan keluar dari aula utama dengan langkah tegap. Tak ada satu orang pun yang berani bergerak untuk menghentikan mereka.

Serena berjalan santai di belakang sambil mengemil camilan entah dari mana ia dapatkan.

“Aku suka sekali plot cerita begini.”

Alya yang masih setengah syok menoleh.

“Kamu bisa makan di saat begini?”

“Aku makan karena stres, sayang.”

Mereka masuk ke lorong pribadi di sayap timur mansion yang sepi.

Begitu pintu tertutup rapat, Alya langsung melepaskan tangan Kael.

“Aku hamil.”

“Ya.”

“AKU HAMIL!” teriaknya lagi melepaskan kepanikan.

“Ya, aku dengar.”

“AKU PANIK BANGET!”

Kael mengangguk santai.

“Itu wajar.”

Alya mulai mondar-mandir gelisah.

“Aku belum selesai marah sama kamu! Aku belum punya rumah sendiri! Aku belum liburan ke Bali! Aku belum—”

Tiba-tiba Kael menarik pinggang gadis itu dengan kuat hingga tubuh mereka bersentuhan.

Alya tersentak kaget.

“KAEL!”

Ia menatap lurus ke manik mata Alya.

“Bernapas. Tarik napas panjang.”

“AKU MAU BUNUH ORANG SEKARANG!”

“Nanti saja. Nanti kuberi izin.”

“AKU SERIUS!”

“Aku juga serius.”

Dengan sangat hati-hati, Kael meletakkan tangannya yang besar dan hangat tepat di atas perut rata Alya.

Gerakannya sangat berbeda dari biasanya. Sangat lembut. Hampir terlihat takut dan ragu menyentuh.

Alya membeku sempurna.

Kael menunduk menatap tangannya sendiri yang menempel di perut gadis itu, seolah tak percaya dengan kenyataan yang ada.

“Ada dia di sini…” suaranya bergetar pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya… Kael Lorenzo terlihat begitu rapuh dan manusiawi.

Alya menelan ludah susah payah.

“Kael…”

Pria itu mengangkat wajahnya. Tatapan mata gelap itu kini dipenuhi oleh sesuatu yang belum pernah Alya lihat sebelumnya.

Harapan. Cinta. Dan tekad yang membara.

“Aku akan melindungi kalian berdua dengan nyawaku sendiri.”

Jantung Alya berdebar kacau.

“Aku belum bilang aku mau tinggal sama kamu.”

“Kau bisa marah dan protes kapan saja nanti.”

“Aku juga belum tentu yakin ini anakmu lho!” seru Alya mencoba memberontak.

Kael mengangkat sebelah alisnya, menatap gadis itu dengan tatapan menantang.

“Kalau ada kandidat ayah lain yang berani mengaku, sebutkan namanya sekarang.”

Alya membuka mulut ingin menjawab… lalu menutupnya lagi karena sadar tidak ada orang lain.

“...menyebalkan sekali.”

“Terima kasih.”

Kael mendekatkan wajahnya lagi.

“Aku belum selesai bicara.”

“Apa lagi?”

Nada suara Kael turun menjadi rendah, serak, dan sangat berbahaya namun penuh rasa memiliki.

“Mulai hari ini dan seterusnya… tak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menyentuhmu sedikit saja tanpa izinku.”

Alya melotot kaget.

“ITU TERLALU POSESIF DAN BERLEBIHAN!”

“Benar.”

“SEGERA PERBAIKI!”

Kael berpikir sejenak selama dua detik, lalu mengangguk.

“Oke… tanpa persetujuanmu juga tidak boleh.”

Alya terdiam mendengarnya.

“Itu… lumayan lebih baik sih.”

“Bagus.”

Kael menyandarkan keningnya di kening Alya, menatapnya dalam.

“Karena kau dan dia… sekarang adalah milikku untuk kujaga dan kulindungi seumur hidup.”

Alya hampir pingsan lagi karena deg-degan.

Namun tepat saat suasana sedang sangat romantis dan haru itu—

WEEOOO! WEEOOO! WEEOOO!

Alarm bahaya di seluruh mansion berbunyi nyaring memecah keheningan!

Riko berlari secepat kilat dari ujung lorong dengan wajah pucat pasi dan panik luar biasa.

“TUAN Kael! Bahaya!”

Kael langsung berubah dingin dan sigap dalam sekejap, melindungi Alya di belakangnya.

“Apa yang terjadi?!”

Riko terengah-engah melaporkan dengan napas tersengal.

“Nona Mira… Ibu Nona Alya… menghilang dari kamarnya! Dia tidak ada di mana-mana!”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!