NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bathrobe punya Angga

Sampai di sebuah rumah sederhana, minimalis, rapi, aesthetic.

Itu semua adalah hasil kerjaan Adea setiap sore. Merawat bunga-bunga di halaman dengan cinta dan konsistensi. Petunia ungu di pot keramik, lavender yang mulai merambat di pagar, serta mawar merah yang tumbuh subur meski cuaca kadang tak menentu. Rumah itu kecil, tapi hangat. Dindingnya dicat putih gading, dengan aksen kayu di beberapa sudut.

Dan di rumah itu, mereka berdua tinggal.

Bukan saudara. Bukan pasangan. Tapi lebih dari sekadar teman.

Rumah itu dibeli Angga dari hasil kerjanya sendiri sebagai seorang seniman muda. Lukisan-lukisannya terjual di galeri kecil di Lombok, kadang juga ke luar pulau. Orang bilang bakatnya luar biasa. Adea hanya bilang, "Ya iyalah, dia kan dari kecil suka coret-coret tembok rumah gue."

Baru saja motor masuk gerbang, mereka langsung disambut seekor kucing abu gelap yang mengeong dramatis dari teras. Tubuhnya gembul, matanya bulat kuning, ekornya tegak lurus seperti panah.

"Cumiiii~!!" teriak Adea dari belakang, masih duduk di jok belakang.

Kucing yang dipanggil Cumi itu berlari kecil menuju motor, lalu duduk di depan ban depan seolah menuntut agar segera diakui keberadaannya.

Angga turun lebih dulu. Melepas helm, menggantungkannya di stang. Lalu ia berbalik dan melepas helm Adea dengan gerakan yang sudah terbiasa. Membuka kaca, menarik pelan, mengeluarkan rambut panjang gadis itu agar tidak tersangkut.

Adea merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi, seperti anak kecil yang minta digendong.

Tanpa ba-bi-bu, Angga langsung menarik tubuh gadis itu dan menggendongnya. Satu tangan di bawah pahanya, tangan lainnya di punggung. Ringan. Adea terlalu kecil untuk ukuran tubuh Angga yang atletis.

"Turunin!" teriak Adea sambil menepuk bahu Angga pelan. Kakinya bergoyang-goyang.

Angga seolah tidak mendengarkan. Ia membungkuk sedikit untuk meraih tubuh gembul Cumi. Kucing itu segera mengeong protes karena diangkat tanpa permisi. Lalu Angga memberikan kucing itu ke pangkuan Adea.

Adea langsung memeluk Cumi dengan posesif, seperti anak kecil yang memeluk boneka kesayangannya. Wajahnya mengubur di bulu abu-abu gelap Cumi.

"Cumi... kangen..." bisiknya.

Gadis itu lalu diam. Membiarkan Angga menggendongnya masuk ke dalam rumah.

---

Begitu sampai di dalam, Angga melewati ruang tamu yang dipenuhi rak buku dan tanaman gantung. Lalu masuk ke lorong sempit menuju kamar Adea.

Pintu kamar terbuka. Angga melepaskannya dengan hati-hati ke atas kasur. Kasur itu empuk, berselimutkan sprei berwarna krem dengan bantal-bantal lucu bertebaran.

"Gua tinggal yak. Lu cepetan mandi deh, trus kita makan."

Angga menepuk kepala Adea pelan. Lalu ia meninggalkan kamar, menutup pintu sedikit. Tidak rapat, tidak terbuka. Hanya cukup untuk memberi privasi tapi tetap bisa mendengar jika gadis itu memanggil.

Adea terdiam di atas kasur. Cumi sudah melompat dari pangkuannya dan rebahan di ujung kasur, menjulurkan kaki depannya ke depan dengan santuy.

Gadis itu memandang pintu yang setengah tertutup.

"Angga..." bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia berguling di kasur, menarik bantal ke wajahnya, dan diam sejenak sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi.

---

Adea baru saja selesai mandi ketika aroma gurih menyengat masuk ke hidungnya.

Minyak bawang. Kecap. Cabai. Dan sesuatu yang dioseng dengan api besar.

Ia tersenyum bahagia. Matanya berbinar. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari keluar dari kamar. Masih dengan handuk di kepala. Dengan langkah kecil cepat yang membuat lantai kayu berderit.

Cumi yang sedang rebahan santuy di kasur langsung bangkit. Telinganya tegak. Begitu melihat Adea berlari, kucing itu segera mengeong dan mengikuti dari belakang dengan kecepatan luar biasa untuk ukuran tubuh gembulnya.

"MEEEOOONG!" teriak Cumi.

---

Adea tiba di dapur.

Dan di sana, di balik asap tipis dan minyak yang mendesis, berdiri tubuh tegap Angga di depan kompor. Pria itu sedang sibuk mengaduk wajan dengan satu tangan, tangan lainnya memegang spatula. Wajahnya serius, fokus pada masakan di hadapannya.

Ia tidak menyadari kedatangan Adea.

Sampai gadis itu duduk di meja makan dan menangkup kedua pipinya yang chubby dengan kedua telapak tangan. Siku di atas meja. Kepala sedikit miring. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke bathrobe tebal berwarna krem yang ia kenakan.

Bathrobe itu kebesaran. Milik Angga.

"Wanginya sedaaap," ucap Adea dengan mata setengah terpejam.

Angga menoleh.

Dan ia membeku.

Gadis itu hanya mengenakan bathrobe tebal (milik Amgga), dengan rambut panjang basah yang menjuntai ke bahu. Ujung bathrobe hampir menyentuh lutut, tapi masih terlihat betis mungilnya. Wajahnya segar selesai mandi, kulitnya bersih tanpa riasan, dan senyumnya...

Senyum itu selalu membuat Angga kehilangan kata-kata.

Angga menghela napas panjang.

Panjang.

Sekali lagi.

Kebiasaan gadis ini tidak pernah berubah. Sejak dulu, sejak mereka masih kecil, Adea tidak pernah peduli dengan penampilan. Ia nyaman seperti ini. Dan Angga jadi khawatir bukan untuk dirinya, tapi untuk Adea.

Kalau suatu saat ada tamu yang datang ke rumah ini dan mendapati gadis itu dalam keadaan seperti ini...

Angga menggeleng pelan. Ia kembali membalikkan badannya ke kompor, mengaduk oseng-oseng ayam pedas yang sudah mulai matang.

"Dea," panggilnya datar.

"Hm?"

"Lain kali pake baju dulu sebelum ke dapur."

"Tapi kan cuma lu doang yang di rumah," balas Adea polos.

Angga tidak menjawab.

Tapi di balik punggungnya, telinganya memerah. Adea tidak bisa melihatnya. Cumi melihatnya, tapi kucing itu tidak peduli. Cumi malah naik ke meja makan dengan lincah, lalu mendekati Adea.

"Meeong," suara Cumi lembut sekarang.

Dia menggesekkan tubuh gembulnya ke pipi Adea. Bulu-bulunya yang halus membuat Adea tertawa kecil.

"Cumi laper ya? Sebentar ya, Ayah lagi masak," ucap Adea sambil mengelus kepala kucing itu.

Ayah.

Adea memanggil Angga dengan sebutan Ayah di depan Cumi.

Entah sejak kapan. Entah kenapa. Tapi itu sudah menjadi kebiasaan. Cumi adalah anak mereka.

Setidaknya itulah yang Adea yakini. Dan Angga... Angga tidak pernah membantah.

Di depan kompor, Angga tersenyum kecil. Hanya tersenyum. Tidak ada yang melihat.

"Siapin piring, Dea. Udah mateng," ucapnya akhirnya.

"Yess, komandan!"

Adea bangkit dari kursi, Cumi ikut melompat turun. Dan untuk sesaat, dapur kecil itu dipenuhi oleh tawa Adea, dengusan Cumi, dan keheningan hangat dari Angga yang tidak pernah cukup berani mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!