NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Arka terbangun dengan perasaan ganjil yang tidak bisa dia jelaskan.

Langit-langit kamar itu sama seperti yang selalu dia lihat setiap pagi. Retak rambut di pojok kanan yang sudah ada sejak pertama kali dia kos di sini tiga tahun lalu. Kipas angin di atas berputar pelan dengan suara berdecit yang sudah begitu familiar sampai dia tidak pernah lagi terganggu mendengarnya. Udara hangat dan lembap menyelimuti tubuhnya, sangat berbeda dengan dingin menusuk tulang yang masih membekas dalam ingatannya.

Itu cuma mimpi, pikirnya sambil mengucek mata. Mimpi yang sangat nyata.

Dia hendak memejamkan mata lagi ketika suara dari televisi di ruang tamu masuk ke telinganya. Biasanya dia tidak peduli dengan berita pagi, tapi kali ini ada sesuatu yang membuatnya menegang.

*“Para ilmuwan dari Badan Antariksa Eropa dan NASA melaporkan penurunan aktivitas matahari yang tidak biasa dalam sepekan terakhir. Fenomena ini disebut-sebut sebagai awal dari Grand Solar Minimum\, yang pernah terjadi pada abad ke-17 dan menyebabkan musim dingin berkepanjangan di Eropa. Namun\, para peneliti menegaskan bahwa penurunan kali ini diprediksi akan lebih ekstrem\, dengan potensi penurunan radiasi matahari hingga lima hingga tujuh persen.”*

Arka duduk. Bukan bangun perlahan seperti biasanya, tapi duduk tegak dengan jantung berdebar tidak karuan.

“Pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap mengikuti arahan dari BMKG. Sementara itu, stok pangan dan energi mulai dipantau secara ketat. Beberapa negara di Eropa telah mengaktifkan rencana darurat menghadapi potensi krisis energi musim dingin ini.”

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arka meraih ponsel dari meja samping tempat tidur. Layar menyala dengan terang.

JAKARTA, 1 DESEMBER 2025

08:23

Dia membuka kalender. Desember 2025. Membuka aplikasi berita. Judul utamanya sama dengan yang baru saja dia dengar dari televisi. Membuka chat dengan Sari. Ada pesan masuk semalam yang belum dia baca.

“Ark, besok kita ketemu yuk. Aku kangen. Udah seminggu kita nggak ngobrol serius.”

Arka menatap layar ponselnya. Jari-jarinya membeku di atas keyboard virtual. Dia tidak tahu harus membalas apa karena kepalanya masih terasa seperti dipenuhi kabut tebal.

Ini bukan mimpi. Aku benar-benar kembali.

Dia duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel masih tergenggam. Perlahan-lahan, ingatan itu kembali mengalir. Bukan sekadar potongan-potongan, tapi utuh, lengkap, seperti film yang diputar ulang di dalam kepalanya.

Dia ingat bagaimana dia merangkak di atas salju setinggi lutut setelah tertimpa balok beton di ruko Blok M. Setiap gesekan lutut di permukaan es terasa begitu nyata sampai sekarang. Dia ingat bagaimana dia menyeret karung beras yang tinggal setengah itu sejauh dua kilometer karena dia pikir Sari dan yang lain sedang menunggunya pulang.

Dia ingat teh jahe hangat yang disiapkan Sari. Aroma jahe yang menyengat itu dulu membuatnya merasa hangat dan dicintai. Sekarang aroma itu terasa seperti bau kematian.

Dia ingat bagaimana racun itu bekerja perlahan setelah dia meneguk teh itu sampai habis. Dingin yang menjalar dari perut ke seluruh tubuh. Otot-otot yang tiba-tiba melemah tanpa bisa dikendalikan. Dan Sari yang hanya berdiri di sampingnya, menunduk, tidak berani menatap matanya.

Dia ingat Andre dan Toni yang muncul entah dari mana. Andre membawa tali, tapi dia tidak pernah tahu untuk apa tali itu. Toni memegang pistol, pistol yang Arka sendiri temukan di pos ronda tiga bulan sebelumnya dan disimpan untuk melindungi mereka semua.

Dia ingat Sari yang memegang tangan Toni. Sari yang berkata, “Jangan di kepala, Ton. Jangan... biar aku yang...” Dan setelah peluru kedua menembus jantungnya, Sari berbisik, “Aku sayang kamu.”

Arka menutup mata. Di balik kelopak matanya, dia masih bisa melihat langit-langit apartemen lantai 12 yang dia perkuat dengan triplek dan sterofoam. Dia masih bisa merasakan karpet abu-abu yang dia ambil dari toko karpet di Blok M dua bulan sebelumnya, karpet yang sekarang menyerap darahnya.

Dia ingat Andre dan Toni yang mengambil jaketnya sebelum tubuhnya benar-benar dingin. Suara mereka yang saling berebut jatah makanan. Dan kemudian tubuhnya diangkat, dilempar ke luar jendela, jatuh di atas tumpukan salju yang kian menebal.

Arka membuka mata.

Matanya tidak basah. Tidak ada air mata yang keluar. Yang ada hanya kehampaan aneh yang perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang dingin. Bukan dingin seperti di zaman es, tapi dingin yang membekukan perasaan dari dalam.

Dia melihat ke sekeliling kamar. Kamar kos sederhana dengan tembok cat putih mulai mengelupas di beberapa bagian. Lemari pakaian kayu dengan cermin yang retak di sudut kiri, cermin yang selalu dia gunakan setiap pagi tanpa pernah berpikir untuk menggantinya. Meja belajar yang lebih sering digunakan untuk meletakkan ponsel dan charger daripada untuk belajar. Laptop bekas yang mati sendiri kalau kepanasan.

Ini miliknya. Ini hidupnya sebelum semuanya hancur. Hidup seorang pemuda malas yang tidak pernah ambil pusing dengan masa depan.

Tapi masa depan itu sudah datang. Dia sudah mengalaminya. Dan dia tidak akan membiarkan semuanya terjadi lagi.

Arka menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, tapi perlahan-lahan napasnya mulai teratur. Pikirannya mulai jernih.

Aku diberi kesempatan kedua. Tidak banyak orang yang mendapat ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.

Dia membuka aplikasi bank di ponselnya. Saldo yang tertera di layar membuatnya sedikit mengernyit.

Delapan juta empat ratus lima puluh ribu rupiah.

Tidak cukup. Tidak akan pernah cukup.

Tapi dia punya aset. Motor matic yang dia beli dua tahun lalu dengan uang hasil kerja paruh waktu. Apartemen kecil warisan orang tua di Jakarta Timur, tempat yang jarang dia kunjungi karena lebih memilih kos dekat kampus. Tanah di desa yang dulu dibeli almarhum ayahnya entah untuk apa. Kebun sawit di Kalimantan yang selama ini hanya dikelola oleh pamannya dan dia tidak pernah ambil pusing.

Semua aset itu akan dia jaminkan. Semua akan dia ubah menjadi uang, lalu menjadi material. Baja. Beton. Kaca anti peluru. Makanan. Obat-obatan. Senjata.

Karena dalam enam bulan, uang hanya akan menjadi kertas tak berguna. Dan dalam satu tahun, dia tidak akan menjadi korban lagi.

Arka bangkit dari tempat tidur. Badannya masih terasa berat, kebiasaan malas yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun masih membelenggu. Tapi dia sudah mati sekali karena kemalasan. Dia sudah mati karena terlalu malas untuk mempersiapkan masa depan, terlalu malas untuk melihat ancaman yang datang dari orang-orang terdekatnya. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Dia berjalan ke jendela, membuka tirai kain tipis yang sudah lusuh di pinggirnya, lalu membuka jendela lebar-lebar.

Udara hangat dan lembap langsung menyambutnya. Bau knalpot dari jalan raya yang tidak pernah sepi. Bau nasi goreng dari warung ibu-ibu di ujung gang yang baru saja memulai dagangan. Suara klakson dari mobil dan motor yang saling bersahutan. Suara burung gereja yang bertengger di kabel listrik seberang. Suara anak-anak yang mulai berdatangan ke lapangan kecil di belakang kos-kosan.

Dunia masih hidup. Masih normal. Belum tahu apa yang akan datang.

Arka menutup mata. Menghirup udara hangat itu dalam-dalam. Menikmati kehangatan yang dalam beberapa bulan lagi akan lenyap selamanya.

Ini terakhir kalinya aku menikmati ini.

Ketika dia membuka mata, dia tidak lagi merasa malas. Tidak lagi merasa berat. Yang ada hanya keputusan yang sudah bulat. Bukan semangat berapi-api seperti pahlawan di film, bukan amarah yang membara seperti protagonis cerita balas dendam. Tapi keputusan yang dingin dan tenang, seperti es yang perlahan-lahan membekukan air yang mengalir.

Arka berpaling dari jendela. Matanya jatuh pada sajadah biru yang tergulung rapi di sudut ruangan, sajadah yang dulu jarang dia gunakan karena lebih memilih tidur daripada shalat subuh. Dia mengambilnya, membentangkannya, lalu menghadap kiblat dengan gerakan yang sudah lama tidak dia lakukan.

Arka shalat.

Bukan karena tiba-tiba menjadi saleh. Bukan karena takut akan sesuatu. Tapi karena di antara semua kebisingan di kepalanya, di antara ingatan tentang kematian, rencana balas dendam, perhitungan aset dan saham dan baja setebal empat meter, ini adalah satu-satunya hal yang masih terasa benar.

Setelah salam, dia masih duduk di sajadah. Tidak segera bangun. Tidak segera bergerak.

“Ya Allah,” bisiknya dengan suara serak di pagi yang hangat. “Aku nggak tahu apa yang Engkau rencanakan. Tapi aku diberi kesempatan kedua. Dan aku nggak akan menyia-nyiakannya.”

Dia diam sebentar, menunduk.

“Tapi aku juga nggak akan jadi korban lagi. Kalau aku harus jadi kejam, maafkan aku.”

Arka berdiri. Dia mengambil jaket tipis dari sandaran kursi, jaket biru tua yang biasa dia pakai ke kampus dulu, bukan jaket tebal untuk musim dingin. Belum saatnya untuk itu.

Dia melangkah ke pintu dan membukanya.

Di luar, gang sempit dengan pagar besi yang mulai berkarat di beberapa bagian. Bu Sum, tetangga sebelah yang selalu menyapa setiap pagi, sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Selang plastik biru meliuk-liuk di antara pot-pot bunga yang ditata rapi di teras.

“Lho, Mas Arka? Pagi-pagi sudah bangun? Biasanya kan jam segini masih tidur.” Bu Sum tersenyum sambil mematikan kran air.

Arka tersenyum balas. “Nggak bisa tidur, Bu.”

“Mungkin kepikiran sesuatu. Pacar ya? Sari, itu?” Bu Sum mengerjap dengan nada bergurau.

“Iya, Bu. Sedikit.”

“Wajar, Mas. Anak muda. Tapi jangan kebanyakan mikir. Nanti stres.”

“Iya, Bu.”

Bu Sum kembali menyiram tanamannya. Arka berjalan keluar gang. Di langit, matahari bersinar terang tanpa halangan awan. Biru bersih yang tidak akan dia lihat lagi setelah beberapa bulan ke depan.

Enam bulan lagi, langit ini akan abu-abu selamanya

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!